Terpaksa Menikah Karena Perjodohan

Terpaksa Menikah Karena Perjodohan
Ngga Mau Pergi Sama Papa


__ADS_3

Diran yang telah mengendarai mobil miliknya selama kurang lebih 45 menit, 10 detik kini sudah sampai di halaman rumah megahnya.



Tanpa komando Diran langsung menginjak rem bukan menginjak tikus, setelah Diran menginjak rem membuat mobilnya Diran berhenti tepat di halaman rumah miliknya.



Kini Diran sibuk dengan kegiatannya sebelum turun dari mobil, Diran sibuk memperhatikan wajahnya dari kaca spion, memang kadang Diran pasti akan menatap ke arah spion untuk melihat pantulan wajahnya.



Diran sangat bahagia karena kini sebentar lagi dia akan tahu apa penyebab Ane sang istri berteriak, setelah beberapa menit bercermin, kini Diran langsung membuka sabuk pengaman yang menempel di tubuhnya.



Setelah sabuk pengaman di tubuhnya Diran lepas, kini Diran langsung membuka pintu mobil, tanpa komando Diran keluar dari mobil setelah pintu mobil terbuka lebar, setelah Diran berdiri di samping mobil, kini tangannya Diran langsung menutup pintu mobil dengan rapat.


"Sebaiknya aku jalan cepat saja supaya aku cepat mengetahui apa penyebab istri aku berteriak, aku jadi takut jangan jangan tadi suara teriakan istri aku gara gara istri aku di tusuk senjata mendadak, aku harus buang buang pikiran kotor ini ke tempat sampah, lebih baik aku berpikir secara jernih melebihi jernihnya sirup jeruk, kenapa jadi bahas sirup jeruk kan ngga jernih lebih jernih air pegunungan dong" batin Diran sambil masih berdiam diri di samping mobil miliknya.


Sedetik kemudian Diran mengajak kedua kakinya untuk berkelana ke dalam rumah, tentunya dengan langkah yang terbilang cepat.



Setelah Diran melangkah selama beberapa menit, kini Diran sudah sampai di depan pintu rumah megahnya, sehingga kini Diran bersiap untuk memutar gagang pintu, namun saat Diran baru akan memegang gagang pintu tersebut, tiba tiba pintu rumah Diran terbuka.



Diran sangat syok dan kaget melihat apa yang ada di depannya, bahkan Diran sampai diam mematung dan membeku di tempat.

__ADS_1



Sementara orang yang ada di depannya emosi karena Diran masih diam mematung, tanpa menggeser posisi tubuhnya Diran satu centi, karena emosi yang menggebu gebu membuat orang yang ada di depannya angkat kaki, maksudnya angkat suara.


"Papa ngapain masih di situ ? mama mau lewat jadi papa minggir dulu jangan di situ" teriak Ane sekencang kencangnya dan sekeras kerasnya.


Diran yang mendengar teriakan Ane buru buru membuyarkan semua lamunannya, Diran kini tersadar dari lamunannya lalu menatap lekat ke arah Ane.



Sementara Dewo yang kaget mendengar suara teriakan Ane, langsung mengeluarkan jurus kagetnya yaitu menutup satu telinganya dengan satu tangannya, karena satu tangannya Dewo sedang di gandeng oleh Ane.



Sedetik kemudian tatapan nyalang Diran di tujukan ke Dewo sang anak, lalu Diran bersuara.


"Dewo ngapain kamu gandengan tangan sama mama kamu, keterlaluan sekali kamu, jangan jadi anak durhaka, dan kamu jangan berniat untuk merebut mama dari papa soalnya" perkataan Diran belum selesai sudah di potong oleh Ane.


Diran membelalakkan kedua matanya sangat lebar dengan mulut menganga, sungguh Diran syok mendengar jawaban enteng yang keluar dari mulutnya Ane tanpa rasa bersalah sedikitpun.



Berbagai pikiran negatif muncul begitu saja di otaknya Diran, kini Diran berpikir kalau Ane akan mengajak Dewo ke hotel lalu mereka berdua melakukan hal yang tak pantas di lakukan seseorang ibu dan anak.



Dalam hatinya Diran berpikir apakah Ane sudah tidak mencintai Diran lagi, dan Ane terpesona dengan ketampanan Dewo karena masih muda, dengan cepat Diran menggelengkan kepalanya samar untuk menghilangkan berbagai pikiran jelek di otaknya.


"Mama kenapa mengandeng Dewo ? dan mama sebenarnya mau mengajak Dewo kemana ?" pertanyaan bertubi tubi itu muncul dari mulutnya Diran, sementara Ane yang mendapat pertanyaan dari sang suami langsung menerbitkan senyum lebar di wajahnya.

__ADS_1


Hal itu menarik perhatian dari Diran, entah mengapa Diran semakin berpikir hal hal negatif, apalagi setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Ane tersenyum lebar setelah mendengar pertanyaan Diran.



Otaknya Diran berkelana ke hal negatif, bahkan otaknya Diran mengira Ane jatuh cinta kepada Dewo, makanya sampai Ane tersenyum lebar seperti itu saat akan pergi dengan Dewo.


"Papa tolong aku, sebenarnya aku ngantuk dan pengin tidur, tapi mama maksa aku buat ikut ke suatu tempat, lebih baik papa saja sama mama yang pergi ke suatu tempat sekalian pacaran" suara itu bukan berasal dari Ane namun dari Dewo.


Ane yang tadi menebar senyum lebar di wajahnya, tiba tiba saja langsung melunturkan senyum lebar yang terpatri di wajahnya setelah mendengar omongan Dewo.



Diran yang tadi sibuk dengan dunianya sendiri alias sibuk dengan lamunannya, tiba tiba langsung membuyarkan semua lamunannya setelah Diran mendengar suara Dewo merasuki telinganya.


"Dewo kamu apa apaan sih, pokoknya ngga ada tawar menawar bukankah kamu tadi sudah mau mama ajak ke suatu tempat, kenapa sekarang malah menyuruh papa kamu yang pergi ke suatu tempat sama mama" ketus Ane setengah berteriak.


Dewo dan Diran kompak langsung menatap ke arah Ane, sementara Ane kini sibuk menatap nyalang ke arah Dewo, sungguh Dewo ingin sekali menghajar wajah Dewo sampai babak belur.



Namun Ane mengurungkan niatnya karena Ane ingat dia dan Dewo akan ke poli THT, otomatis akan banyak pasang mata yang memandang ke arah Dewo dan Ane.



Ane juga tidak mau di tuduh melakukan kekerasan dalam anak dan mama, Ane sudah membayangkan kalau Ane membuat babak belur ke Dewo, pasti Ane akan di sematkan sebagai wanita yang melakukan kekerasan kepada anaknya.


"Mama lebih baik pergi sama papa saja sekalian kita berdua pacaran soalnya kan kita berdua sudah jarang pacaran" suara Diran menerpa indra pendengaran dari Ane dan Dewo membuat Ane dan Dewo kompak menatap ke arah Diran.


Dewo yang mendengar perkataan sang papa membuat kedua matanya Dewo berbinar bahagia, berbeda hal dengan apa yang di rasakan oleh Ane, karena kini Ane menatap nyalang ke arah Dewo lalu berkata, lebih tepatnya lalu Ane berteriak.

__ADS_1


"Papa mama ngga mau pergi sama papa, kita berdua sudah tua jadi ngga usah pacaran, kalau papa mau nyuruh pacaran mending papa menyuruh Dewo saja yang pacaran" bentak Ane dengan suara sangat lantang.


Mendengar omongan Ane membuat Dewo memutar bola matanya malas, sementara Diran langsung berpikir hal negatif, bahkan kadar otaknya Diran berpikir kalau Ane mengajak Dewo ke suatu tempat untuk pacaran.


__ADS_2