Terpaksa Menikah Karena Perjodohan

Terpaksa Menikah Karena Perjodohan
Mau Tidur Di Kamar Aku


__ADS_3

Ane masih memikirkan cara supaya bisa menemukan warna tas yang cocok, kini otaknya mencari jalan keluar untuk memecahkan masalah Ane, tangannya Ane masih memegang salah satu tas yang ada di almari tas miliknya.



Ane yang telah berpikir selama beberapa menit, kini Ane telah menemukan jawabannya, sehingga Ane menerbitkan senyuman lebar di wajahnya, sungguh Ane merasa bahagia sekali.



Jujur Ane merasa ide briliant yang ada di otaknya di jamin bisa menyelesaikan masalahnya, sehingga Ane tak pernah memudarkan senyuman lebar di wajahnya.



Wajahnya Ane sekarang seperti menggambarkan seseorang yang memenangkan hadiah jackpot, atau seseorang yang menang undian tanpa terduga sama sekali.


"Aku bahagia sekali karena aku sudah punya ide briliant cara menemukan tas yang cocok buat aku bawa ke poli THT, dari pada pusing memikirkan warna yang sama dengan pakaian aku, padahal ratusan warna tas aku itu sama dengan warna pakaian aku, lebih baik aku gunakan cara ini di jamin berhasil menemukan tas yang cocok" batin Ane tanpa melunturkan senyum lebar di wajahnya.


Ane sekilas, menatap ke arah salah satu tas yang ada di almari tas miliknya, lalu tanpa komando dan tanpa aba aba tiba tiba saja Ane menutup kedua matanya dengan tangan yang masih memegang salah satu tas di almari pakaian miliknya.



Setelah kedua matanya Ane terpejam, tiba tiba saja tangannya Ane bergerak ke salah satu tas yang lain dalam posisi Ane masih memejamkan kedua matanya.


__ADS_1


Setelah beberapa detik tangannya Ane berselancar dengan keadaan kedua matanya Ane tertutup alias terpejam, kini Ane memegang salah satu tas yang ada di tangannya, lalu tanpa ba-bi-bu Ane mengambil tas tersebut dalam posisi masih menutup kedua matanya.



Setelah Ane mengambil tas yang ada almari tas miliknya, Ane membuka kedua matanya, lalu kedua matanya Ane menatap ke arah tas yang ada di tangannya, melihat tas yang ada di tangannya, membuat Ane menambahkan porsi senyum lebar di wajahnya.


"Wah ternyata gampang banget cara menentukan tas yang cocok, saat kondisi bingung ada banyak tas di almari tas aku, dan terbukti hasilnya juga memuaskan, karena tas yang aku ambil dengan cara itu sesuai selera aku, dan warnanya juga menarik serta modelnya keren banget" batin Ane masih menetap lekat ke arah tas yang ada di tangannya dengan senyum lebar yang sejak tadi menghiasi wajahnya.


Namun senyuman lebar Ane luntur seketika saat Ane berpikir absurd, Ane berpikir apakah kalau sedang dalam keadaan bimbang dan gelisah alias galau gara gara dua pilihan cara memilihnya juga dengan cara menutup mata, lalu meraba kedua orang tersebut.


"Aku jadi berpikir apa kalau di antara dua pilihan, dua duanya sama sama baik dan ganteng serta tampan, apa cara menentukan pilihan sebagai calon suami dengan cara menutup kedua matanya seperti yang aku lakukan, lalu orang itu meraba wajah kedua pria itu secara acak seperti aku tadi, aku belum pernah mengalami galau jadi belum tahu rasanya, maklum aku dulu sangat di cintai oleh suami aku, sehingga aku belum pernah merasakan di antar dua pilihan" batin Ane sambil tersenyum tipis membayangkan cara yang Ane lakukan saat memilih tas tadi dengan cara yang orang lakukan saat di hadapkan dengan dua pilihan namun dengan cara yang Ane lakukan.


"Tapi tunggu dulu kalau bingung menentukan dua pilihan untuk di jadikan calon suami menggunakan cara aku, takutnya kedua pria itu malah memperkosa wanita itu, atau uang lebih parahnya lagi kalau kedua pria itu kabur meninggalkan wanita itu sendirian, serem banget pasti apalagi kalau saat wanita itu memejamkan kedua matanya saat malah hari" batin Ane bergidik ngeri membayangkan hal tersebut.



Ane menutup almari tas miliknya dengan tangannya, lalu setelah almari tas tersebut tertutup rapat, membuat Ane melangkahkan kedua kakinya sambil memegang tas di tangannya.



Karena Ane telah memakai sepatu di kedua kakinya, membuat Ane tak perlu repot repot memilih sepatu yang akan di pakai, sehingga kini Ane melenggang pergi menuju ke pintu kamar miliknya.


__ADS_1


Tujuannya Ane sekarang adalah berjalan ke arah kamarnya Dewo, sehingga Ane tetap menuntun kedua kakinya ke arah pintu kamarnya, Ane tetap memegang tas di tangannya.


"Lebih baik aku ke kamarnya Dewo, aku ingin tahu hasil pekerjaan Dewo apa sudah beres apa belum, aku yakin Dewo akan takut dengan ancaman aku sehingga menyebabkan Dewo pasti akan menuruti perintah aku, tapi aku juga takut kalau Dewo tak becus mengerjakan tugas yang aku perintahkan, contohnya aku tadi menyuruh Dewo mengepel lantai dapur, saat aku cek kenapa dapur jadi seperti terkena tsunami yang banyak air tergenang di lantai dapur, bikin pusing tujuh keliling tuh Dewo" batin Ane sambil memijit pelipisnya dengan tangan yang tak memegang tas.


Sementara kedua kakinya Ane masih asyik menjelajahi lantai kamarnya, sungguh Ane di buat pusing oleh tingkahnya Dewo, rasanya Ane ingin pingsan di tempat tidur kalau memikirkan tingkah Dewo.



Setelah Ane berjalan selama beberapa puluh jam, kelamaan dong maksudnya setelah Ane berjalan selama beberapa puluh menit, kini Ane telah sampai di depan pintu kamarnya Ane.



Tanpa komando dan tanpa aba aba Ane langsung menyelonong keluar dari kamarnya, tanpa menutup pintu kamarnya, Ane langsung bergegas berjalan dengan langkah cepat ke arah kamarnya Dewo.



Ane seperti panik tapi bukan panik dengan keadaan Dewo sekarang, namun Ane panik kalau kamarnya Dewo akan berantakan dan akan seperti kapal pecah gara gara ulahnya Dewo.



Memikirkan hal tersebut membuat Ane semakin ketakutan, sungguh Ane berpikir kalau kamarnya Dewo sekarang berantakan, Ane dapat menyimpulkan seperti itu, karena saat Ane menyuruh Dewo mengepel lantai dapur juga lantai dapur malah seperti kena tsunami, dan banyak tergenang air di lantai dapur.


"Aku harus cepat sampai ke kamarnya Dewo, aku takut kalau Dewo akan membuat kamarnya banjir alias tsunami, seperti yang Dewo buat saat di dapur, kalau Dewo buat banjir di dapur ngga masalah karena Dewo tidak tidur di dapur, tapi kalau Dewo membuat banjir di kamar nanti Dewo tidur dimana, jangan jangan Dewo mau tidur di kamar aku, pokoknya aku ngga mau berbagi kamar dengan Dewo, aku sudah berbagi kamar dengan suami aku, jadi aku ngga mau berbagi kamar dengan Dewo" batin Ane sambil mempercepat langkah kakinya menuju ke kamarnya Dewo.

__ADS_1


__ADS_2