
Setelah Ane memutar otaknya selama beberapa puluh jam, kelamaan dong maksudnya setelah Ane memutar otaknya selama beberapa puluh menit, kini Ane sudah mendapatkan ide lebih tepatnya kini Ane sudah mendapatkan tempat dimana keberadaan Dewo sekarang.
Sehingga kini tanpa sadar Ane menerbitkan senyuman lebar di wajahnya, entah apa yang menyebabkan Ane tersenyum lebar seperti itu hanya Ane yang tahu, karena semut dan kecoa yang lewat juga tidak tahu apa penyebab Ane mengumbar senyum lebar seperti itu.
Ane kini melangkahkan kedua kakinya dari ruang makan, langkah Ane kini tertuju ke arah kamar Dewo, entah mengapa Ane sangat yakin kalau Dewo ada di kamarnya, sehingga tanpa komando dan tanpa aba aba Ane melangkahkan kedua kakinya menuju kamar Dewo dengan langkah cepat.
"Aku yakin pasti saat ini Dewo sekarang ada di kamarnya, soalnya kalau ngga salah waktu Dewo masih di supermarket atau sudah ada di rumah, katanya Dewo mau tidur untuk mengistirahatkan badannya, sehingga aku yakin saat ini Dewo pasti sedang tidur enak enakan di ranjang, tapi tunggu dulu kayaknya Dewo ngga bakalan tidur di ranjang, soalnya ranjang Dewo sudah aku isi dengan pakaian dan celana yang akan Dewo gunakan ke poli THT, jadi mungkin Dewo tidurnya di sofa, tapi kalau Dewo sampai ketiduran di sofa gimana, padahal aku sama Dewo berniat ke poli THT sekarang juga" batin Ane sambil tetap melangkah menuju ke kamar Dewo, walaupun jujur saja hatinya Ane gelisah dan cemas memikirkan Dewo yang tidur di sofa.
Namun rasa gelisah dan cemas yang ada di hatinya Ane, mendadak sirna dan hilang bak di telan bumi, sehingga kini Ane mengumbar senyum lebar di wajahnya, Ane mengumbar senyum seperti itu karena Ane berpikir kalau Dewo pasti sudah mengetahui kalau ada pakaian dan celana di ranjang, otomatis Ane mengira Dewo akan memakai pakaian dan celana yang ada di ranjang miliknya Dewo.
__ADS_1
"Aku tadi meletakkan pakaian dan celana ke ranjangnya Dewo, jadi aku yakin Dewo sudah pasti menemukan pakaian dan celana yang aku pilihkan tadi, bisa saja Dewo sudah memakai pakaian dan celana yang aku pilihkan sebelum Dewo tidur di ranjangnya, aku sangat yakin kalau Dewo tidak akan mau tidur di sofa, pasti Dewo akan memilih tidur di ranjang, tapi berhubung di ranjang ada pakaian dan celana yang aku pilihkan, bisa saja Dewo memakai pakaian dan celana yang aku pilihkan terlebih dahulu baru Dewo tidur di ranjangnya" batin Ane tak bosan bosannya masih setia menunjukkan senyum lebar di wajahnya, tanpa sadar Ane juga mempercepat langkah kakinya supaya cepat sampai ke kamarnya Dewo.
Setelah Ane berkelana selama beberapa menit, kini Ane telah sampai di depan pintu kamar miliknya Dewo, tanpa ragu Ane langsung membuka pintu kamar miliknya Dewo, setelah pintu terbuka lebar tanpa ragu Ane berjalan masuk ke kamarnya Dewo.
Betapa kagetnya Ane melihat adegan yang ada di depannya, sungguh Ane kesal dengan adegan tersebut, adegan dimana Ane melihat Dewo tidur di atas ranjangnya, sementara pakaian dan celana yang tadi di pilihkan oleh Ane malah tergeletak di lantai berserakan.
Sungguh Ane geram sekali dengan kelakuan Dewo, sehingga tanpa menunggu terlalu lama kini Ane langsung berjalan dengan langkah cepat ke ranjang miliknya Dewo, hatinya Ane tersulut emosi hingga sampai di ubun ubun.
"Aku kira Dewo bakal tidur di ranjang setelah memakai pakaian dan celana yang aku pilihkan, ternyata dugaan aku salah karena Dewo malah seakan membuang pakaian dan celana yang aku pilihkan, keterlaluan sekali Dewo, aku harus membangunkan Dewo bagaimanapun caranya, soalnya aku ngga mau rencana aku gagal cuma gara gara Dewo tidur, apalagi rencana aku itu sangat penting, pokoknya rencana aku ke poli THT untuk mengobati penyakit tuli dan budeg yang di alami Dewo harus tetap di laksanakan" batin Ane sambil tetap berjalan melangkah menuju ke ranjang miliknya Dewo.
__ADS_1
Sepanjang perjalannya emosi Ane berkobar kobar seperti laksana api yang menyala saat ada kayu di bakar dengan minyak tanah atau bensin, bisa di bayangkan bagaimana reaksi api tersebut, itulah reaksi Ane saat ini emosi Ane seperti api yang berkobar.
Ane berjalan ke arah Dewo dengan langkah cepat, setelah beberapa menit Ane melangkah kini Ane sudah ada di sebelah ranjang miliknya Dewo, dari situ semakin terdengar jelas dengkuran halus yang di keluarkan dari bibirnya Dewo.
Mendengar suara dengkuran halus tersebut membuat Ane semakin emosi, tanpa ragu Ane mencubit pinggangnya Dewo, dengan tujuan supaya Dewo terbangun dari tidurnya, namun sepertinya usahanya Ane membangunkan Dewo dengan cara seperti itu tidak mempan, karena Dewo masih tidur dengan nyenyak, bahkan dengkuran halus masih tetap keluar dari bibirnya Dewo.
Ane yang melihat reaksi Dewo tetap tidur nyenyak, padahal Ane sudah mencubit pinggang Dewo membuat Ane heran sekaligus bingung, dalam hatinya Ane berpikir kenapa Dewo yang sudah di cubit oleh tangannya Ane masih tetap tidur dengan nyenyak.
"Aku sudah mencubit pinggang Dewo tapi kenapa reaksi Dewo masih tidur dengan nyenyak, bahkan aku masih bisa mendengar dengkuran halus yang keluar dari bibirnya Dewo, itu artinya Dewo belum terbangun dari tidurnya alias Dewo masih tidur dengan nyenyak, aku harus lakukan apalagi supaya Dewo terbangun dari tidur, aku harus cari cara lain supaya Dewo tetap terbangun dari tidur, sehingga aku dan Dewo tetap jadi berangkat ke poli THT sekarang juga" batin Ane sambil memutar otaknya dengan sangat keras, melebihi kerasnya baja.
__ADS_1
Sedetik kemudian senyum licik terbit dari Ane, sepertinya Ane sudah mendapatkan ide briliant supaya Dewo bisa terbangun dari tidurnya, entah mengapa Ane sangat bahagia mendapat ide briliant seperti itu.
"Aku tahu cara membangunkan Dewo supaya ngga tidur terus, mungkin penyebab Dewo belum terbangun dari tidurnya karena aku mencubit pinggangnya Dewo secara lirih, seandainya tadi aku mencubit pinggangnya Dewo dengan keras, pasti Dewo sudah terbangun dari tidurnya, lebih baik aku sekarang mencubit pinggang Dewo dengan sekeras kerasnya dan sekencang kencangnya, supaya Dewo terbangun dari tidurnya" batin Ane sambil tak henti hentinya mengeluarkan senyum licik di wajahnya, sementara Dewo masih asyik dan sibuk dengan dunianya sendiri, alias Dewo masih tidur dengan nyenyak tak terusik dengan kehadiran Ane yang ada di sebelahnya Dewo.