
Dewo menutup kedua telinganya rapat rapat dengan kedua tangannya, bahkan saking rapatnya telinga Dewo tidak bisa di masuki oleh gajah, jerapah, atau semut sekalipun, sungguh Dewo melakukan itu semua gara gara suara teriakan Ane yang sangat keras dan sangat kencang seperti kaleng rombeng.
Ane yang melihat tingkah Dewo yaitu menutup kedua telinganya sambil berpose tidur di ranjang empuk miliknya Dewo, membuat hatinya Ane tersulut emosi, dan hatinya Ane kesal dengan kelakukan Dewo.
Kini kedua matanya Ane menatap nyalang ke arah Dewo, namun Dewo tak mengetahui tatapan membunuh yang di keluarkan oleh Ane, mungkin karena Dewo sibuk menutup kedua telinganya supaya tidak mendengar jerit hati Ane, lebih tepatnya supaya Dewo tak mendengar suara teriakan Ane yang seperti kaleng rombeng.
"Dewo ngapain kamu tutup kedua telinganya kamu dengan tangan kamu, oh mama tahu pasti kamu bakalan bilang ke mama ngga dengar suara mama karena kamu menutup kedua telinganya mama, padahal alasan sebenarnya itu kamu ngga dengar suara mama karena kamu terkena penyakit tuli dan budeg, tapi pakai drama segala kalau kamu ngga dengar suara mama karena kamu menutup kedua telinganya kamu pakai tangan kamu" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang hampir saja menghancurkan isi dunia ini, sementara Dewo yang sudah menutupi kedua telinganya dengan kedua tangannya masih mendengar suara teriakan Ane yang menggema di telinga Dewo.
Dewo bahkan sampai bingung sendiri karena masih mendengar suara teriakan Ane, padahal Dewo sudah berusaha keras menutup kedua telinganya supaya tidak mendengar teriakan Ane, namun hasilnya Dewo tetap mendengar suara teriakan dari Ane.
Apakah suara teriakan Ane yang sangat keras dan sangat kencang hingga membuat Dewo mendengar teriakan Ane, walau Dewo sudah menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya, atau malah justru kedua tangannya Dewo yang tidak menutup terlalu rapat kedua telinganya Dewo sehingga membuat Dewo masih bisa mendengar suara teriakan Ane.
__ADS_1
Dewo berpikir berkali kali bahkan sampai memutar otaknya, untuk berpikir kenapa Dewo masih bisa mendengar suara teriakan Ane padahal Dewo sudah menggunakan jurus supaya tidak mendengar teriakan Ane, memikirkan hal itu membuat Dewo pusing ratusan milyar keliling.
"Gue heran banget padahal gue sudah menutup kedua telinga gue dengan kedua tangannya gue, tapi kenapa gue masih tetap mendengar mama gue berteriak, lebih tepatnya gue masih bisa mendengar teriakan dari mama gue, sebenarnya mama gue yang berteriak sangat keras dan kencang, sehingga membuat gue bisa mendengar suara teriakan mama gue, atau kedua telinganya gue yang ngga di tutup dengan rapat dengan kedua tangannya gue, sehingga gue masih bisa mendengar teriakan mama gue'' batin Dewo sambil menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya dengan posisi masih sama seperti semula, yaitu Dewo berbaring di atas ranjang empuk miliknya.
Ane menatap ke arah Dewo dengan perasaan kesal dan tersulut emosi, bagaimana tidak Dewo malah memancing emosinya dengan cara menutup kedua telinganya, dan Ane sangat yakin kalau Dewo tadi pasti tidak mendengar teriakan dari Ane, ternyata pikiran Ane salah besar, karena justru Dewo sangat mendengar teriakan Ane, walau Dewo sudah menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya, bahkan gendang telinga Dewo hampir saja pecah mendengar suara teriakan Ane yang sangat menggangu telinga.
''Aku sangat yakin pasti tadi saat aku berteriak teriak sekarang keras kerasnya dan sekencang kencangnya pasti Dewo tidak mendengar suara merdu aku, lagian Dewo ngapain pakai tutup telinga segala, oh pasti untuk menutupi penyakit yang Dewo alami, yaitu Dewo menderita penyakit tuli dan budeg, dalam pikiran aku pasti Dewo nanti berpura pura tidak mendengar suara teriakan aku, lebih baik aku cari cara supaya Dewo mendengar teriakan aku'' batin Ane sambil menatap ke arah Ane.
Sepertinya Ane sudah menemukan cara supaya Dewo mendengar suaranya, sehingga Ane tanpa sadar mengeluarkan senyum lebar di wajahnya, entah apa yang membuat Ane tersenyum lebar seperti itu, hanya Ane yang tahu karena kecoa dan semut yang lewat juga tidak tahu isi otak dan isi kepala Ane.
''Sepertinya aku sudah punya cara buat menyadarkan Dewo, kenapa jadi menyadarkan kayak orang pingsan saja, padahal Dewo ngga pingsan sama sekali, lebih tepatnya mungkin aku sudah tahu cara supaya Dewo mendengar suara merdunya aku, sebaiknya aku lakukan cara itu sekarang, dan aku jamin kalau aku gunakan cara ini pasti Dewo akan mendengar suara emas aku, dan mendengar suara merdu aku" batin Ane sambil berjalan mendekat ke arah Dewo.
Kini Dewo masih sibuk dan asyik dengan dunianya sendiri, lebih tepatnya Dewo sibuk menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya, bahkan Dewo kini memejamkan kedua matanya, bertujuan supaya Dewo bisa meredam emosi yang meluap dan membakar dirinya.
__ADS_1
Jujur Dewo sangat emosi dan kesal gara gara suara teriakan Ane, hampir saja Dewo menjawab semua omongan Ane, namun Dewo urungkan semua itu, karena Dewo takut kalau Dewo menjawab perkataan Ane malah membuat Ane berisik dan bertanya tanya terus ke Dewo.
Kini Ane sudah berada di dekat Dewo, namun Dewo yang sedang memejamkan kedua matanya tak menyadari kehadiran Ane, lalu Ane tanpa ragu dan tanpa komando langsung mengulurkan tangannya untuk memegang kedua tangannya Dewo, lebih tepatnya Ane menarik secara paksa kedua tangannya Dewo dari kedua telinganya Dewo.
Dewo yang memang tidak ada persiapan sama sekali membuat kedua tangannya Dewo gampang sekali di geser dari kedua telinganya Dewo, setelah Dewo merasa ada yang menarik paksa kedua tangannya membuat Dewo membuka kedua matanya.
Dewo tercengang sekali karena Ane ada di hadapannya, kini Dewo hanya bisa mematung tanpa bisa berkata kata di depan Ane, sungguh Dewo semakin emosi melihat tingkah Ane.
Kedua tangannya Ane masih memegang kedua tangannya Dewo, tak lupa Ane juga menatap nyalang ke arah Dewo, sungguh Ane kesal dengan kelakukan Dewo, lalu Ane berteriak sekeras kerasnya dan sekencang kencangnya.
"Dewo kenapa pakaian dan celana yang mama siapkan di atas ranjang kamu, malah kamu lempar ke lantai, buruan kamu pungut pakaian dan celana kamu, terus kamu pakai karena kita berdua akan ke poli THT buat memeriksakan telinga kamu yang budeg dan tuli" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang, tanpa menunggu jawaban dari Dewo, buru buru Ane melepas kedua tangannya Dewo, lalu Ane berjalan ke arah kamar mandi, sedangkan Dewo langsung menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya, hampir saja telinganya Dewo rusak mendengar teriakan Ane.
__ADS_1