
Ane sangat kesal sehingga membuat Ane mengeluarkan suara teriakan yang sangat keras dan sangat kencang, bahkan mungkin teriakan Ane bisa merusak gendang telinga orang yang mendengar.
Dewo sangat syok dan kaget mendengar suara teriakan Ane, yang Dewo rasa berasal dari kamarnya, sehingga sedetik kemudian Dewo langsung menoleh ke arah belakang, lalu Dewo tak menemukan penampakan Ane di belakangnya.
Dewo semakin yakin bahwa Ane memang sudah tidak ada di kamar mandi, hal itu membuat Dewo kesal dan geram, bahkan Dewo juga menyalahkan diri sendiri, karena Dewo tidak melihat dulu sebelum berbicara apakah Ane masih ada di kamar mandi atau sudah pergi dari kamar mandi.
Menurut Dewo suaranya tadi menjadi mubazir, gara gara Ane tak mendengar suara Dewo, bagaimana bisa mendengar kalau jaraknya lumayan jauh dari kamar mandi, di tambah suara Dewo yang sedang sedang saja tanpa teriakan sama sekali.
"Gue kirain mama gue masih ada di sini, kenapa mama gue cepat banget perginya sudah menghilang dari sini, lagian ngapain mama gue teriak teriak kayak tadi, bukannya tadi menyuruh gue buat mencuci tangan, sekarang malah di suruh cepat mencuci tangan, aneh banget deh, lebih baik gue selesaikan cuci tangan gue secepatnya, sebelum mama gue mengeluarkan teriakan lagi, soalnya gue takut teriakan mama gue bakalan menggangu kecoa dan semut yang lagi tidur" batin Dewo sambil melanjutkan mencuci kedua tangannya dan membersihkan sabun yang menempel di kedua tangannya.
Setelah kedua tangannya Dewo bersih, tanpa ragu dan tanpa komando, Dewo langsung mematikan kran air tersebut, lalu Dewo mengambil handuk yang di gantung di sebelah kran air, setelah itu Dewo mengeringkan kedua tangannya dengan handuk yang menempel di tangannya.
__ADS_1
Setelah kedua tangannya Dewo sudah kering, kini Dewo meletakkan handuk tersebut ke tempat semula, lalu Dewo mulai melangkahkan kedua kakinya berjalan ke arah pintu kamar mandi, kini tujuan Dewo adalah ke kamarnya.
Dewo yakin pasti Ane sudah mengambil alias memunguti pakaian dan celana yang di pilihkan Ane tadi, Dewo mempercepat langkah kakinya, bukan karena ingin cepat sampai ke kamar, namun Dewo ingin tahu apa yang Ane lakukan sekarang, bahasa gaulnya Dewo penasaran dan kepo dengan kegiatan yang di lakukan Ane di kamarnya Dewo.
Ane yang telah mengeluarkan suara teriakannya, kini berjalan ke arah almari pakaian miliknya Dewo, entah apa yang ada di pikiran Ane, namun kini Ane mengeluarkan senyum lebar di wajahnya.
"Lebih baik aku sekarang cari pakaian dan celana yang akan di kenakan oleh Dewo, supaya kalau Dewo ngga mau pakai pakaian dan celana yang aku pilihkan tadi, aku sudah punya cadangan pakaian dan celana yang akan aku berikan ke Dewo buat pergi ke poli THT, soalnya aku yakin pasti Dewo tidak akan mau memakai pakaian dan celana yang aku pilihkan tadi, apalagi tadi pakaian dan celana yang aku pilihkan ada di atas lantai, pasti akan ada drama yang akan di buat oleh Dewo, sebaiknya aku sedia payung sebelum hujan, koq jadi bahas hujan, maksudnya sebaiknya aku sedia pakaian dan celana cadangan sebelum Dewo menolak pakaian dan celana yang aku pilihkan tadi" batin Ane tak pernah melunturkan senyum lebar di wajahnya.
Kini kedua tangannya Ane tanpa ragu membuka almari pakaian miliknya Dewo, setelah almari terbuka kini kedua tangannya Ane langsung memegang salah satu pakaian yang ada di almari, namun berkali kali Ane memegang tapi Ane belum bisa menentukan pilihan pakaian apa yang akan di ambil buat di pilihkan buat Dewo untuk di bawa ke poli THT.
Bahkan kedua matanya Ane juga hampir lepas dari tempatnya, gara gara Ane melototkan kedua matanya ke arah berbagai pakaian yang ada di almari miliknya Dewo, namun tetap saja Ane belum menemukan pakaian yang akan di pilihkan buat Dewo, membuat Ane pusing ratusan milyar keliling.
__ADS_1
Sungguh Ane sangat bingung menentukan pakaian yang akan di kenakan Dewo, sehingga Ane memutar otaknya, lebih tepatnya Ane memaksa otaknya supaya berpikir keras, melebihi kerasnya baja.
"Aku harus pilih pakaian yang mana yang kira kira cocok buat di pakai Dewo, karena semua pakaian ini sangat keren semua, jadi makin bingung buat memilih pakaian yang cocok buat di pakai Dewo ke poli THT, aku harus cari akal supaya aku bisa menemukan pakaian dan celana yang cocok buat di kenakan Dewo ke poli THT, supaya Dewo ngga bisa berkutik lagi dan ngga mencari alasan saat akan pergi ke poli THT bahasa gaulnya Dewo mati kutu, kalau aku belum menemukan pakaian dan celana yang cocok, pasti Dewo akan mencari berbagai alasan supaya ngga jadi ke poli THT" batin Ane memikirkan segala kemungkinan apa yang akan Dewo lakukan kalau Ane belum menemukan pakaian dan celana yang akan di gunakan buat Dewo ke poli THT.
Setelah menunggu selama beberapa menit, kini Ane telah menemukan ide briliant supaya Ane bisa menemukan pakaian dan celana yang akan di gunakan Dewo ke poli THT, sehingga kini senyum lebar terpancar dari wajahnya Ane, lalu Ane menatap ke arah pakaian yang berjejer rapi di almari satu persatu.
"Sepertinya aku punya ide supaya aku bisa menemukan pakaian dan celana yang cocok, yang akan Dewo gunakan ke poli THT, sebaiknya aku lakukan misi yang ada di otaknya aku sekarang juga, supaya aku bisa beristirahat sebentar, kalau kelamaan takutnya aku belum istirahat, tapi aku sama Dewo sudah tancap gas ke poli THT" batin Ane sambil setia tersenyum lebar sambil kedua matanya mengarah ke pakaikan yang ada di almari pakaian miliknya Dewo.
Kini kedua tangannya Ane terulur ke pakaian yang ada di almari pakaian miliknya Dewo, lalu tanpa ragu Ane mengambil pakaian tersebut, setelah pakaian berada di tangannya Ane tanpa komando, Ane langsung melemparkan pakaian itu ke atas lantai kamarnya Dewo.
Ane mengambil pakaian yang ada di almari pakaian miliknya Dewo, lalu Ane mengambil pakaian itu, setelah itu Ane membuang pakaian yang ada di tangannya ke atas lantai kamarnya Dewo.
Hal itu Ane lakukan berulang kali sampai semua pakaian yang ada di almari pakaian miliknya Dewo habis, bukan habis di makan tapi habis di lempar ke lantai kamarnya Dewo, sehingga kini hanya semua celana yang masih ada di almari pakaian miliknya Dewo.
__ADS_1