
Dewo yang telah berjalan selama beberapa menit, kini Dewo sudah sampai di depan pakaian dan celana yang terdampar di lantai, sehingga tanpa menunggu terlalu lama dan tanpa banyak drama Dewo langsung berjongkok di depan salah satu pakaian tersebut.
Dewo nampak berpikir sambil menatap ke arah pakaian yang melambai di lantai, entah apa yang Dewo pikirkan hanya Dewo yang tahu.
Sedetik kemudian Dewo mengeluarkan senyum lebar di wajahnya, sehingga dengan semangat yang tertanam di tubuhnya, tanpa ba-bi-bu Dewo langsung mengambil salah satu pakaian yang ada di lantai, lantai Dewo melemparkan ke almari pakaian miliknya tanpa menatap ke pakaian miliknya.
Setelah pakaian terlempar membuat Dewo mengambil pakaian yang tergeletak di lantai, lalu Dewo melemparkan pakaian yang ada di tangannya ke almari pakaian miliknya tanpa menatap ke pakaian miliknya, begitu seterusnya Dewo lakukan berkali kali.
"Lebih baik gue asal lempar saja semua pakaian gue dan semua celana gue yang ada di lantai, biar gue cepat menyelesaikan perintah mama gue, supaya nama gue tetap di cantumkan di kartu keluarga, lagian mama gue ada ada saja mainnya ancam melulu, bikin kesal deh, pokoknya gue asal lempar saja ke almari, baru setelah gue pulang dari poli THT gue bereskan lagi kalau gue ngga mengantuk, kalau gue mengantuk mending gue tidur" batin Dewo sambil melakukan hal yang sama persis yang telah dia lakukan tadi.
Berkali kali Dewo melakukan hal lempar melempar, beruntung Dewo melakukan lempar melempar pakaian sehingga tidak akan pecah, coba bayangkan kalau Dewo melakukan lempar melempar piring atau gelas, di jamin semua piring dan gelas akan jatuh pecah ke lantai dan pecahan piring gelas akan berserakan di lantai.
Bukan hanya itu saja pasti Ane juga akan marah dengan mode ceramah dua puluh empat jam nonstop, tanpa jeda iklan dan tanpa henti.
__ADS_1
Ane masih melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu, namun di tengah jalan Ane malah membelokkan tujuannya, kini Ane melangkah menuju ke kamarnya sendiri tidak jadi ke ruang tamu.
Ane masih memancarkan senyum lebar di wajahnya, entah apa yang ada di pikirannya sehingga Ane tak bisa melunturkan senyum lebar di wajahnya.
"Aku yakin pasti Dewo akan melakukan hal yang aku perintahkan, apalagi aku gunakan ancaman kalau Dewo tidak melakukan semua perintah aku, Dewo ngga akan di masukkan ke kartu keluarga, emang enak aku kerjain, lebih baik aku ke kamar buat mengambil tas yang akan aku pakai ke poli THT, supaya nanti aku tinggal berangkat saja ke poli THT, kalau Dewo sudah selesai mengerjakan apa yang aku perintah" batin Ane sambil tetap melangkahkan kedua kakinya menuju ke kamarnya.
Setelah Ane melangkah selama beberapa menit, kini Ane sudah ada di depan pintu kamarnya, lalu Ane menyelonong masuk ke dalam kamarnya.
Dewo yang sudah melempar pakaian dengan cepat membuat Dewo kini mengambil salah satu celana di lantai, setelah celana itu ada di tangannya Dewo, membuat Dewo tanpa ragu melemparkan celana tersebut ke arah almari pakaian miliknya tanpa menoleh ke arah almari pakaian miliknya.
Setelah satu celana berhasil di lempar Dewo, membuat Dewo mengambil celana lagi di lantai, lalu melakukan hal yang sama persis dengan sebelumnya yaitu melemparkan celana ke arah almari pakaian miliknya tanpa menoleh ke arah almari pakaian miliknya.
__ADS_1
Dewo kini telah menyelesaikan tugasnya, sehingga Dewo kini bisa bernafas lega, dirinya lalu menjatuhkan bokongnya ke lantai, mungkin karena ingin duduk santai kayak di pantai setelah Dewo bersibuk ria tadi.
"Gue senang banget akhirnya tugasnya gue selesai juga, mending gue duduk dulu di lantai, soalnya gue mau istirahat dulu setelah tadi gue ngebut membereskan semua pakaian dan semua celana gue, apa lebih baik gue istirahatnya di ranjang empuk gue saja, supaya gue bisa tiduran" batin Dewo sambil menatap ke arah ranjang empuk miliknya.
Sedetik kemudian Dewo beringsut berdiri, lalu Dewo berjalan ke arah ranjang empuk miliknya, Dewo memang berniat untuk tidur tampan di ranjangnya.
Ane yang telah melangkah selama beberapa jam, kelamaan dong maksudnya setelah Ane melangkah selama beberapa menit kini Ane telah sampai di depan almari tas, tanpa menunggu lama Ane langsung membuka almari tas tersebut.
Setelah almari tas miliknya Ane terbuka lebar, kini kedua matanya Ane langsung menelisik ke arah semua tas yang ada di almari, lalu tangannya Ane juga sibuk memegang tas satu persatu.
"Semua tas aku keren semua dan mahal semuanya, yang paling penting tas aku semuanya barang branded dan limited edition, jadi bingung menentukan tas yang mana yang akan aku bawa ke poli THT, gimana cara menentukan tas yang cocok buat aku pakai" batin Ane sambil tetap melanjutkan aksinya yaitu memegang tas satu persatu.
Setelah beberapa detik berpikir Ane mempunyai pemikiran tas mana yang sangat cocok di pakai dirinya, namun entah mengapa Ane tak mengeluarkan senyum sama sekali.
"Aku pernah dengar yang namanya cocok itu kalau antara warna pakaian, aksesoris, tas, celana, sepatu itu sama, tapi yang jadi masalahnya itu tas aku banyak yang mempunyai warna sama dengan pakaian yang aku pakai, celana yang aku pakai, dan sepatu yang aku pakai, mungkin kalau di hitung ada ratusan tas dengan warna yang sama cuma bedanya di model tas dan ukuran tas" batin Ane sambil menatap ke arah tas yang ada di almari tas miliknya satu persatu.
__ADS_1
Ane mencari cara lagi supaya bisa menemukan tas yang akan di bawa ke poli THT tanpa mencocokkan warna yang sama, Ane memutar otaknya supaya bisa berpikir jernih, dan bisa menemukan ide briliant supaya Ane menemukan tas yang akan di bawa ke poli THT.
"Aku harus cari cara lain supaya aku memilih tas bukan berdasarkan warna, tapi kira kira menentukan tas yang cocok buat aku dengan apa, aku harus paksa otaknya aku supaya menemukan jawabannya, apa perlu aku beri sajen otaknya aku supaya membantu aku memecahkan masalah yang aku punya, tapi mau beri sajen apa takutnya nanti malah mubazir sajennya ngga di makan oleh otak aku, lagian aku juga ngga pernah dengar otak makan sajen, paling yang aku dengar itu makan otak otak bukan otak makan sajen" batin Ane yang masih berpikir keras melebihi kerasnya baja supaya bisa menemukan tas yang cocok untuk Ane.