
Ane yang sudah mengeluarkan teriakannya untuk memerintah kepada Dewo, langsung melenggang pergi tanpa menunggu jawaban dari Dewo, memang tadi sempat terbesit dalam hati Ane untuk tetap berada di kamarnya Dewo.
Namun setelah di pikir pikir Ane lebih baik keluar dari kamarnya Dewo, bukan karena Ane takut kepada Dewo, namun Ane lebih baik menambahkan make up di wajahnya, dari pada harus mengawasi Dewo saat membereskan semua pakaian dan semua celana Dewo.
Dewo membelalakkan kedua matanya sangat lebar dengan mulut menganga, sungguh Dewo kesal dan tersulut emosi dengan perkataan Ane, ingin sekali Dewo menghajar dan memberi bogeman mentah kepada Ane, namun Dewo teringat bahwa Ane adalah orang yang melahirkan dirinya.
"Mama beri perpanjangan waktu dong masa cuma waktu segitu doang, mana cukup, apalagi yang ada di lantai itu semua pakaian aku dan semua celana aku" sahut Dewo sambil menatap ke arah semua pakaian dan semua celana yang berjejer di atas lantai satu persatu.
Ane yang sedang melangkahkan kedua kakinya, mendadak langsung menghentikan langkah kakinya, lalu Ane membalikkan badan, untuk menatap ke arah Dewo, kini Ane menatap nyalang ke arah punggung Dewo, karena posisi Dewo membelakangi Ane.
Ane sangat emosi dan kesal mendengar jawaban Dewo, sehingga karena Ane tak kuasa menahan rasa amarah, yang menumpuk setinggi gunung di dadanya, membuat Ane berteriak dengan sangat keras dan sangat kencang.
"Dewo kamu ngga usah nawar ke mama, keputusan mama sudah bulat sebulat tahu bulat, jadi jangan tawar menawar kayak di pasar, kalau kamu ngga mau mengerjakan semua perintah mama dalam waktu yang sudah di tentukan, lebih baik kamu harus kerjakan semua perintah mama selama lima menit" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang melebihi kerasnya toa, sementara kedua matanya Dewo langsung membola mendengar perkataan Ane.
Sungguh Dewo tak menyangka dengan jawaban yang di keluarkan Ane, padahal Dewo ingin supaya Ane memberi perpanjangan waktu buat mengerjakan semua perintah Ane, tapi kenapa malah Ane memotong waktu buat mengerjakan semua perintah Ane.
__ADS_1
Dewo bukannya langsung mengerjakan semua perintah Ane, supaya cepat selesai, malah kini Dewo hanya diam di tempat, Dewo terlihat seperti mematung di tempat, sungguh Dewo diam membisu gara gara perkataan yang terlontar dari mulutnya Ane.
Ane yang sejak tadi memperhatikan Dewo hanya diam membisu dan seperti patung, membuat Ane geram dan kesal dengan Dewo.
Ane dengan emosi yang meluap luap, dan emosi yang melambung tinggi di udara, membuat Ane langsung mengeluarkan suara teriakan buat Dewo.
"Dewo kenapa kamu diam saja, buruan kamu jawab perkataan mama, atau kamu bisa langsung mengerjakan semua tugas, dan semua perintah yang mama suruh buat kamu" teriak Ane dengan sekeras kerasnya dan sekencang kencangnya.
Sementara Dewo yang sedang berada dalam dunianya sendiri, buru buru langsung meninggalkan dan membuyarkan semua lamunan yang tadi sempat hinggap di kepalanya dan di otaknya.
Sungguh suara teriakan Ane itu sangat menggemparkan dunia, bahkan bisa merusak gendang telinga yang mendengar, sehingga Dewo berpikir dari pada Ane mengeluarkan teriakan lagi, Dewo mau tak mau menuruti semua perintah Ane.
"Lebih baik gue lakukan semua perintah mama gue, dari pada mama gue mengeluarkan suara teriakan lagi, pasti bakal bikin heboh dunia" batin Dewo tanpa menjawab perkataan lebih tepatnya teriakan Ane, kini Dewo dengan santainya berkelana ke arah tempat berkumpulnya semua pakaian dan semua celana miliknya di lantai.
Ane yang melihat Dewo tak menjawab semua perkataannya, membuat Ane geram dan tersulut emosi, sehingga kini Ane menatap nyalang ke arah punggung Dewo, yang semakin menjauh, namun tiba tiba Ane berteriak karena tak tahan menahan emosi yang menyerang dadanya.
"Dewo stop" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang, bahkan Dewo yang sedang melangkahkan kedua kakinya, begitu mendengar teriakan Ane, langsung membuat Dewo menghentikan langkah kakinya.
Dewo mendadak menghentikan langkah kakinya, bukan karena menurut kepada Ane yang menyuruh dia untuk stop, bahasa gaulnya stop itu berhenti, namun Dewo menghentikan langkah kakinya karena Dewo mengeluarkan jurus kagetnya mendapat serangan teriakan mendadak dari Ane.
__ADS_1
Kini Dewo masih diam di tempat seperti patung, sungguh Dewo masih syok dan kaget dengan teriakan Ane, sementara Ane melototkan kedua matanya ke arah Dewo, sungguh kekesalan Ane beratus ratus milyar lipat, gara gara perbuatan Dewo yang mematung di tempat.
Ane berpikir Dewo menghentikan langkah kakinya, untuk bertanya kepada Ane kenapa dirinya menghentikan langkah kakinya, itu yang ada di pikiran Ane, tapi malah Dewo bungkam dan diam saja seperti patung, hanya bedanya kalau patung tidak bernafas sedangkan Dewo bernafas.
"Dewo kenapa kamu masih diam saja seperti patung, atau kamu seperti Malin Kundang, tapi perasaan mama ngga mengutuk kamu jadi batu, mama cuma bilang ke kamu supaya stop berjalan, tapi kenapa kamu malah diam saja" lagi dan lagi Ane mengeluarkan teriakan yang sangat keras dan sangat kencang.
Dewo buru buru langsung menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya, sungguh Dewo berpikir kalau dia punya riwayat penyakit jantung, di jamin Dewo akan mati mendadak karena serangan jantung, akibat Ane yang sering berteriak.
Beruntung sekali Dewo tak mengalami riwayat penyakit jantung, sehingga Dewo tak mungkin mati mendadak cuma gara gara mendengar suara teriakan Ane yang sangat keras dan sangat kencang.
Ane yang melihat aksi kedua tangannya Dewo yang menutup kedua telinganya sendiri, membuat Ane melangkahkan kedua kakinya berjalan mendekat ke arah Dewo, dengan tatapan membunuh ke Dewo.
Dewo yang fokus menutup kedua telinganya membuat Dewo tak mendengar suara sepatu mendekat, padahal Ane melangkah mendekat ke arah Dewo dengan langkah kaki lebar, maklum Ane itu sekarang sedang kesal dan emosi tingkat dewa kepada Dewo, sehingga Ane melangkah dengan langkah kaki yang lebar.
"Keterlaluan sekali Dewo, bukannya menjawab omongan aku, malah Dewo langsung menutup kedua telinganya Dewo, awas saja kamu Dewo, aku akan balas dendam atas perlakuan Dewo yang selalu bikin aku kesal dan emosi sejak tadi, lagian apa gunanya Dewo menutup telinga cuma bikin capek saja, aneh sekali Dewo bukannya membereskan semua pakaian dan semua celana yang ada di lantai, kenapa malah Dewo menutup telinga yang ngga ada gunanya" batin Ane sambil mempercepat langkah kakinya menuju ke arah Dewo.
__ADS_1
Dewo masih berharap kalau ketika Dewo melepaskan kedua tangannya dari telinga, Ane sudah tidak ada di kamarnya, tapi kenyataannya Ane malah mendekat ke arah Dewo.