
Ane berjalan menuju ke arah parkiran setelah dirinya membayar semua total belanjaannya dan Dewo, Ane berjalan sambil menerbitkan senyuman lebar di wajahnya, karena Ane merasa bahagia dapat mengajak Dewo ke poli THT, walaupun harus pakai drama mengancam namun Ane tetap bahagia, karena ancamannya berhasil.
Dewo masih mengekori Ane dari belakang, sungguh Dewo sebenernya tidak ingin ke poli THT, namun sepertinya tidak ada pilihan lain, dari pada Dewo pulang sampai supermarket mau tutup mending Dewo pilih pulang sekarang, walaupun Dewo juga harus menanggung konsekuensinya yaitu akan di ajak ke poli THT untuk memeriksakan telinga Dewo.
Kini Ane dan Dewo sudah ada di parkiran, karena Ane yang berjalan di depan, membuat Ane langsung membuka pintu kemudi, lalu Ane masuk ke dalam mobil, saat akan menutup pintu, tiba tiba ada tangan yang menghalangi Ane yang akan menutup pintu, Ane langsung menoleh ke sumber tangan tersebut.
Kini di depan Ane telah berdiri seorang pria, siapa lagi kalau bukan Dewo, kini Dewo menatap ke arah Ane dengan tatapan tajam, sungguh Dewo kesal kepada Ane karena Ane duduk di kursi kemudi yang harusnya kursi itu di duduki oleh Dewo.
__ADS_1
"Mama ngga pikun kan koq mama duduk di sini ?" tanya Dewo dengan raut wajah bingung serta kepala yang di penuhi banyak tanda tanya, sementara Ane menatap ke arah sekitar yang berada di dalam mobil, lalu Ane menatap ke arah Dewo sambil berucap.
"Dewo mama ngga pikun sembarangan kamu menuduh mama pikun, memang mama harus duduk di sini kan ini mobilnya kamu bukan mobil orang lain, kalau mama pikun pasti mama salah masuk mobil tapi kenyataannya mama kan ngga salah masuk mobil" jelas Ane dengan ketus sambil menatap nyalang ke arah Dewo, sementara Dewo memijat pelipisnya dengan tangannya.
"Kalau mama ngga pikun harusnya mama duduk di kursi sebelah kemudi, aku yang duduk di sebelah kemudi, kenapa malah mama yang duduk di kursi kemudi, iya ini memang mobilnya aku tapi mama salah masuk kursi mobil, harusnya yang ada di kursi kemudi itu aku bukan mama, pikun ngga harus salah masuk mobil, salah masuk tempat duduk juga bisa di katakan pikun" jelas Dewo panjang kali lebar melebihi panjangnya rel kereta api, sementara Ane langsung tertawa terbahak bahak mendengar penjelasan Dewo.
Dewo yang mendengar Ane tertawa terbahak bahak, lebih tepatnya Dewo melihat dan mendengar Ane tertawa terbahak bahak langsung celingak celinguk ke kanan, kiri, depan, belakang, atas, bawah, mencari entah apa yang dia cari, namun Dewo tak menemukan apapun selain keberadaan dirinya dan Ane.
"Haha Dewo tapi memang mama ngga pikun, mama tahu harusnya mama duduk di sebelah kursi kemudi dan kamu duduk di kursi kemudi, tapi sekarang biar mama yang menyetir mobil kamu, dan kamu duduk di kursi sebelah kemudi, mama ngga salah masuk kursi Dewo, karena memang sekarang mama saja yang menyetir mobil, kamu tinggal duduk manis di sebelah kemudi saja, tapi kenyataannya mama ngga pikun, mama memang sengaja duduk di kursi kemudi karena mama yang akan mengemudikan mobil kamu" jawab Ane sambil tertawa terbahak bahak, sedangkan Dewo membelalakkan matanya sangat lebar dengan mulut menganga.
"Mama kenapa yang menyetir mobil, lebih baik aku saja yang menyetir mobil, mama duduk santai saja di samping aku, lagian kalau mama ngga menyetir mobil mama bisa berdandan dan bercermin sepuasnya sampai mama puas, beda dengan mama yang menyetir mobil, pasti mama ngga akan bisa berdandan dan bercermin" jelas Dewo mencoba membujuk dan merayu Ane supaya mau duduk di sebelah kemudi sehingga Dewo yang menyetir mobil.
Ane yang mendengar bujukan dan rayuan Dewo langsung menghentikan tawanya secara mendadak, lalu Ane melototkan kedua matanya ke arah Dewo, membuat Dewo yang di suguhi pelototan kedua matanya Ane langsung celingak celinguk, Dewo berpikir tatapan Ane lebih tepatnya pelototan kedua matanya Ane bukan untuk dirinya tapi untuk orang di sekitar mereka berdua.
__ADS_1
Namun sejauh mata memandang Dewo tak menemukan ada orang lain di sekitar mereka berdua, membuat Dewo menatap ke arah Ane yang masih melototkan kedua matanya ke arah Dewo, kini Dewo baru paham dan baru menyadari bahwa pelototan tersebut untuk Dewo bukan untuk orang lain.
"Dewo mama menyetir mobil demi kebaikan kita berdua, karena pendengaran mama yang masih tajam alias mama ngga budeg dan ngga tuli, sehingga lebih baik mama yang menyetir mobil, Dewo kamu ngga usah menyetir mobil, karena mama takut kalau kamu yang menyetir mobil, yang mama takutkan itu kalau kamu menyetir mobil tapi keadaan kamu itu budeg dan tuli, mama takut kamu ngga dengar bunyi klakson gara gara penyakit budeg dan tuli kamu, jadi lebih baik mama yang menyetir, Dewo walaupun mama bisa berdandan dan bercermin sepuasnya kalau mama ngga menyetir mobil tapi mama takut kamu ngga dengar bunyi klakson, jadi lebih baik mama ngga berdandan dan ngga bercermin dulu sekarang, mungkin kalau di poli THT mama bisa berdandan dan bercermin kembali karena mama ngga menyetir mobil di poli THT" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang melebihi toa, sementara kedua matanya Dewo langsung membola mendengar jawaban Ane.
Dewo ingin protes dengan keputusan Ane, karena Dewo malu kalau harus menjadi penumpang sedangkan Ane yang menyetir mobil, sehingga Dewo mencoba memberanikan diri untuk protes dan berusaha membujuk atau merayu Ane lagi.
"Tapi mama aku itu ngga budeg dan ngga tuli jadi sebaiknya biar aku saja yang menyetir mob" perkataan Dewo belum selesai sudah di sela oleh Ane.
"Dewo keputusan mama sudah bulat melebihi bulatnya tahu, tetap mama yang akan menyetir mobil kamu mana kunci mobil kamu, biar mama yang bawa mobil kamu, tapi kalau kamu tetap ngotot mau menyetir mobil lebih baik kita berdua ngga jadi pulang dari supermarket, lebih baik kita berdua lanjutkan berbelanja di supermarket sampai supermarket tutup" ancam Ane lagi dan lagi dengan teriakan yang sangat keras dan sangat kencang, sementara Dewo hanya bisa pasrah lalu mengambil kunci mobil yang ada di saku celananya.
Setelah kunci mobil ada di tangan Dewo, kini Dewo memberikan kunci itu kepada Ane yang membuat Ane tak mampu menahan senyum lebar di wajahnya, kini Dewo menatap Ane lalu berkata.
__ADS_1
"Mama puas sudah menggunakan ancaman supaya mama menyetir mobil" sahut Dewo tanpa menunggu jawaban Ane kini Dewo melenggang pergi ke arah pintu sebelah kemudi, sedangkan Ane langsung menutup pintu mobilnya.