
Dewo menggaruk garuk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, Dewo juga masih nampak berpikir apa salahnya sehingga Ane menatap ke Dewo dengan tatapan yang tak bersahabat.
Ane tak bosan bosannya mengeluarkan tatapan matanya yang tajam ke arah Dewo, sungguh Dewo sangat membuat Ane marah dan emosi kepadanya.
Dalam hatinya Ane kenapa Dewo malah menyuruh Ane pergi ke suatu tempat, bukankah nanti Ane akan perginya dengan Dewo ke suatu tempat yaitu poli THT.
Ane sangat geram dan sangat emosi sehingga kini pasti Ane pasti mengeluarkan tanduk yang panjang di kepalanya Ane.
"Dewo enak banget kamu ya menyuruh mama buat pergi ke suatu tempat, terus nanti kamu enak enakan tidur mama" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang.
Ane belum menyelesaikan teriakannya, namun sudah di potong oleh Dewo.
"Aku menyuruh mama pergi ke suatu tempat kan memang mama yang bilang ingin pergi ke suatu tempat, iya aku mengantuk banget mama, banyak kerjaan di perusahaan sehingga aku sering lembur dan kurang tidur" jelas Dewo santai tanpa rasa bersalah.
Sementara Ane yang mendengar suara familiar dari Dewo, suara yang memotong pembicaraan Ane, membuat Ane geram lalu Ane berkata lebih tepatnya Ane mengeluarkan teriakan lagi.
"Dewo mama memang tadi bilang ingin pergi ke suatu tempat tapi" lagi dan lagi teriakan Ane belum selesai sudah di potong lebih dulu oleh Dewo.
"Nah berarti aku benar dong mama, salah aku apa kan aku bicara fakta kalau mama mau pergi ke suatu tempat" sahut Dewo sambil menatap ke arah Ane.
Ane melototkan kedua matanya ke arah Dewo, sungguh Ane sangat emosi dengan Dewo yang tak punya rasa bersalah telah memotong pembicaraannya.
__ADS_1
"Dewo kamu jangan memotong pembicaraan mama, salahnya kamu itu memotong pembicaraan mama, memang mama mau pergi ke suatu tempat tapi perginya sama kamu, jadi secara otomatis kamu ngga akan bisa tidur hari ini" bentak Ane dengan suara yang sangat menggelegar bahkan hampir merusak gendang telinganya Dewo.
Dewo membelalakkan kedua matanya sangat lebar dengan mulut yang menganga, sungguh Dewo heran kenapa malah Ane pergi ke suatu tempatnya dengan Dewo.
Untuk mengusir rasa penasaran dan rasa kepo yang menyelimuti Dewo, membuat Dewo bertanya secara langsung atau live kepada Ane.
"Aku dari tadi berdiri manis ngga pegang apa apa kenapa mama malah menuduh aku memotong pembicaraan mama, kapan aku janjian sama mama pergi ke suatu tempat, aku ngga mengajak mama ke suatu tempat lho jadi mama ke tempat itu sendiri tanpa aku" jelas Dewo dengan tegas, sementara Ane tersenyum masam lalu berucap.
"Dewo kamu memang dari tadi berdiri tapi mulutnya kamu yang menyela perkataan mama dari tadi, kamu ngga mengajak mama pergi ke suatu tempat, tapi mama yang memaksa kamu ke suatu tempat, jadi mama ngga akan pergi ke tempat itu sendiri, kamu harus ikut ke tempat itu" lagi dan lagi Ane membentak ke Dewo, sementara jantungnya Dewo kini hampir copot gara gara mendengar bentakan Ane yang sangat keras.
Bukan hanya itu saja bahkan Dewo juga bergeser dari tempat dirinya berdiri, sungguh Dewo kaget mendengar suara teriakan Ane.
"Maaf kalau aku salah mama, lebih baik mama ngga usah memaksa aku pergi ke suatu tempat, soalnya aku takut nanti mama memperkosa aku kalau pergi berdua ke suatu tempat, kenapa mama ngga mau pergi sendiri, jangan bilang mama takut berangkat sendirian, sebenarnya mama mau pergi kemana ?" kata Dewo tak lupa menyelipkan kata maaf di kalimatnya.
"Aaaaaaaahhhhhh" teriak Dewo dengan sangat keras dan sangat kencang, namun suara Dewo tak menghentikan aksinya Ane yang sedang mencubit pinggang Dewo.
"Dewo kamu ngga usah banyak bicara, mama mengajak kamu ke suatu tempat itu ke poli THT, di supermarket kamu berkali kali tak mendengar suaranya mama, jadi mama akan membawa kamu ke poli THT supaya telinga kamu di periksa, sembarangan banget kamu menuduh mama memperkosa kamu, lagian kamu itu anak mama jadi mama ngga akan melakukan hubungan intim sama kamu, mending mama cari berondong muda yang lebih tampan dari kamu" teriak Ane sekeras kerasnya dan sekencang kencangnya, namun tetap memberikan cubitan ke pinggang Dewo.
Kedua matanya Dewo sampai terbelalak lebar mendengar jawaban yang di keluarkan Ane, namun sedetik kemudian Dewo berucap.
"Oke mama ayo pergi ke poli THT sekarang juga" jawab Dewo mantap, bukan karena Dewo ingin menuruti permintaan Ane, namun menurut Dewo tak ada pilihan lain selain jawaban itu.
Dewo sedang tak ingin berdebat dengan Ane, karena kondisi Dewo yang pinggangnya sedang di cubit oleh Ane, mungkin kalau Dewo tidak di cubit oleh Ane pasti akan ada drama dan kehebohan yang terjadi antara Ane dan Dewo.
__ADS_1
Dewo yakin kalau Dewo menyetujui perkataan Ane, pasti Dewo akan terbebas dari cubitan tangan Ane.
Kedua matanya Ane langsung berbinar setelah mendengar jawaban yang sangat di harapkan, lalu Ane menatap ke arah Dewo.
"Dewo kamu beneran langsung mau mama ajak ke poli THT ?" tanya Ane memastikan bahwa Ane tak salah dengar.
Dengan cepat Dewo langsung menganggukkan kepalanya mantap, membuat Ane kembali bersuara.
"Dewo tumben kamu langsung mau mama ajak pergi, biasanya mama sama kamu akan berantem dan adu mulut dulu, bahkan biasanya mama gunakan ancaman dulu baru kamu mau menuruti perkataan mama" ledek Ane sambil menatap ke arah Dewo, dengan masih mencubit pinggang Dewo, sementara Dewo memutar bola matanya malas.
"Walaupun aku ngga mau juga pasti mama memaksa aku, ujung ujungnya aku bakalan menuruti permintaan mama, lebih baik mama lepaskan tangannya mama di pinggang aku, ayo kita berdua berangkat sekarang supaya ngga terlalu larut pulangnya" jelas Dewo sambil menahan rasa sakit akibat cubitan Ane.
Ane langsung menganggukkan kepalanya mantap, bukan hanya itu Ane juga langsung melepaskan cubitan tangannya di pinggang Dewo.
Ane meraih tangannya Dewo untuk di gandeng, lalu Ane berkata.
"Oke Dewo ayo kita berdua pergi sekarang" ajak Ane tentunya dengan wajah yang berseri seri bahagia, Dewo hanya tersenyum masam menanggapi perkataan Ane.
Dewo sungguh ingin ada keajaiban supaya Dewo dan Ane tak jadi ke poli THT, karena menurut Dewo itu Dewo tak ada pilihan lain selain mengikuti alurnya Ane, dari pada Dewo merasakan sakit terus menerus akibat cubitan Ane yang tiada henti.
Ane mulai melangkahkan kedua kakinya dengan tangan yang menggandeng Dewo, membuat Dewo mau tak mau ikutan melangkahkan kedua kakinya.
__ADS_1