
Diran seperti mendapatkan hadiah jackpot, karena Ane menurut dengan perkataan Diran, kini tanpa permisi Ane langsung melangkah pergi meninggalkan Diran dan Dewo.
Hal itu tentu saja membuat Diran menerbitkan senyum lebar di wajahnya, sungguh Diran tak menyangka kalau Ane akan menurut dengan perkataan Diran barusan.
Dewo melongo melihat Ane yang tanpa pamit langsung melenggang pergi meninggalkan Diran dan Dewo, sungguh Dewo sudah menduga pasti nanti dia akan di jodohkan dengan anak dari sahabat Ane dan anak dan anak dari sahabat Diran.
Melihat sang istri yang telah masuk ke dalam rumah, membuat Diran juga mengikuti jejak langkah kakinya Ane, tentunya dengan langkah kaki cepat.
Kini hanya tinggal Dewo yang masih berdiri mematung dan diam saja, kini Dewo menatap punggung Diran yang semakin menjauh dari dirinya, sementara Ane sudah tidak nampak di kedua matanya Dewo.
"Lebih baik aku siap siap buat ketemu sama Aya, aku sudah ngga sabar pengin ketemu sama Aya, pengin tahu wujudnya Aya sekarang gimana, tapi tentunya masih cantik aku di banding Aya, aku juga sudah ngga sabar pengin jadi besan Aya, pasti aku sama Aya jadi makin dekat kalau jadi besan" batin Ane sambil melangkahkan kedua kakinya menuju ke kamar miliknya.
Diran masih setia melangkahkan kedua kakinya mengekori langkah kakinya Ane, Diran juga masih memancarkan senyum lebar, bahkan Diran tak melunturkan senyum lebar di wajahnya.
Sungguh Diran hari ini seperti mendapat keajaiban dari Tuhan, karena Ane langsung menurut perintah Diran tanpa drama cekcok dan pertengkaran, padahal biasanya pasti kalau Diran menyuruh sesuatu ke Ane pasti Ane akan protes dengan omongan Diran.
__ADS_1
"Tumben istri aku jadi penurut banget, istri aku langsung pergi setelah aku menyuruh untuk bersiap siap, aku jadi yakin kalau istri aku sekarang menjadi istri yang penurut bukan pembangkang lagi seperti dulu, kalau dulu setiap aku nyuruh ke istri aku pasti istri aku akan adu bola maksudnya adu mulut dengan aku, ujung ujungnya istri aku yang menang" batin Diran sambil masih memantulkan senyuman lebar di wajahnya.
Dewo masih mematung di tempat, sungguh Dewo bingung apa yang akan dia lakukan selanjutnya, sebenarnya Dewo juga takut dengan ancaman Diran tadi, tapi Dewo tak mau di jodohkan oleh kedua orang tuanya.
Memikirkan hal itu membuat Dewo pusing ratusan milyar keliling, beruntung rambutnya Dewo tidak rontok cuma gara gara Dewo banyak berpikir.
"Gimana dong ini, gue yakin pasti mama gue sama papa gue pengin ketemu sama sahabat mereka berdua sekalian mau mengenalkan alias menjodohkan gue dengan anak dari sahabat mama gue dan papa gue, pokoknya gue harus gagalkan rencana perjodohan gue sama anak dari sahabat mama gue dan anak dari sahabat papa gue" batin Dewo sambil manggut manggut seakan apa yang ada di hatinya itu adalah jalan terbaik untuk hidupnya.
Dewo juga masih memikirkan ancaman yang di keluarkan oleh Diran, sungguh ancaman itu sangat menggangu otaknya Dewo, jujur Dewo juga ingin mendapatkan warisan dari Diran, sehingga Dewo akan menolak secara halus rencana perjodohan dirinya dengan anak dari sahabat kedua orang tua Dewo.
Setelah beberapa detik Dewo berpikir tentang rencana menggagalkan perjodohan dirinya dengan anak dari sahabat kedua orang tuanya, tiba tiba Dewo mengeluarkan senyum yang sangat merekah dan sangat lebar di wajahnya.
Sepertinya Dewo sudah menemukan ide briliant, supaya bisa menggagalkan rencana perjodohan dirinya.
__ADS_1
"Gue ada ide supaya gue bisa menggagalkan rencana perjodohan kedua orang tua gue, lebih baik gue buat wanita anak dari sahabat kedua orang tua gue benci ke gue, supaya dia ngga suka ke gue, dan dia akan mengundurkan diri menjadi calon istri gue, tentunya itu akan membuat gue tetap mendapat warisan dari papa gue walaupun gue sama wanita itu gagal di jodohkan" batin Dewo mengeluarkan rencana liciknya tentunya dengan senyum licik yang terpatri di wajahnya.
Setelah Dewo menerbitkan senyum licik selama beberapa menit, kini Dewo langsung melangkah ke dalam rumah, tak lupa juga Dewo menutup pintu rumah supaya tidak ada semut masuk.
"Lebih baik gue siapkan pakaian dan pernak pernik untuk pergi bersama mama gue dan papa gue, tapi lebih baik gue pakai pakaian yang jelek saja supaya wanita yang akan di jodohkan dengan gue itu ilfil dan benci sama gue, sehingga dia bakalan menolak untuk di jodohkan dengan gue, otak gue cerdas juga ternyata" batin Dewo masih tetap melanjutkan langkah kakinya ke kamar miliknya.
Sungguh Dewo sudah menyiapkan dengan matang rencana penolakan perjodohan tersebut, namun tentunya Dewo akan tetap mau di ajak oleh Ane dan Diran untuk bertemu dengan sahabat Ane dan Diran.
Supaya Dewo fasilitasnya tak di cabut, Dewo memutuskan untuk merubah penampilan dirinya menjadi jelek untuk bertemu dengan sahabat kedua orang tuanya Dewo.
"Sebaiknya gue pakai kaos oblong saja, dengan warna yang pudar, tapi semua pakaian gue masih baru semua gimana dong, apa gue perlu pakai celana yang robek juga supaya wanita itu ngga mau di jodohkan dengan gue, tapi pakaian dan celana gue keren semua ngga ada yang jelek sama sekali, apa gue cari pakaian dan celana yang jelek di tempat sampah, tapi di tempat sampah pasti adanya cuma sampah doang" batin Dewo nampak berpikir namun tetap menjalankan kedua kakinya ke arah kamar miliknya.
Ane yang sudah melangkah selama beberapa menit, kini Ane sudah sampai di depan kamar miliknya, lalu tanpa komando dan tanpa aba aba Ane membuka pintu kamar miliknya.
Setelah pintu terbuka membuat Ane tanpa menunggu terlalu lama langsung masuk ke dalam kamar, sebelum Ane melangkah dia sempat menutup pintu kamarnya kembali, membuat pintu kamar itu tertutup rapat.
Tanpa ragu Ane berjalan ke arah almari pakaian miliknya, tentunya dengan senyum yang mengembang di wajah Ane.
__ADS_1
"Lebih baik aku ambilkan jas yang tadi aku sengaja belikan buat Dewo, supaya Dewo nanti penampilannya menarik dan akan membuat anaknya Aya terkesima, dengan begitu akan memudahkan rencana perjodohan antara Dewo dan anaknya Aya" batin Ane sambil berjalan melangkah ke almari pakaian miliknya.
Namun sebelum sampai di almari pakaian miliknya, Ane langsung berubah haluan, lalu melangkah menuju ke sofa di sekitar kamarnya, karena jas untuk Dewo dan semua barang barang yang di beli di supermarket tadi di letakkan di atas sofa empuk.