
Dewo memutar bola matanya malas, sungguh Dewo heran dengan jawaban Ane, maksud dari pertanyaan Dewo yang tadi bertanya ke Ane mama ngapain di sini itu bukan bertanya Ane kenapa ada di rumah itu, tapi maksudnya Dewo itu ngapain Ane ada di kamarnya Dewo.
Ane menatap nyalang ke arah Dewo, sungguh tatapan Ane seakan menguliti Dewo, tangannya Ane juga masih memegang tangan yang tadi di cubit oleh Dewo.
Sama halnya dengan Dewo yang masih memegang rambutnya akibat masih merasakan sakit akibat jambakan tangannya Ane di rambutnya Dewo.
"Dewo ngapain kamu enak enakan tidur ? tadi mama menyuruh kamu buat membersikan semua pakaian dan semua celana kamu yang ada di lantai, tapi kenapa saat mama pergi dari kamarnya kamu malah kamu gunakan untuk tidur, apa kamu tidak takut dengan ancaman mama yang tidak akan memasukan kamu ke kartu keluarga kalau kamu tidak melakukan semua perintah mama, termasuk kalau kamu tidak membereskan semua pakaian dan semua celana kamu yang di lantai" bentak Ane dengan sangat panjang kali lebar, Ane sangat geram dan kesal bahkan tersulut emosi dengan kelakuan Dewo.
Dewo dengan santainya masih berpose tidur di tempat tidur, sungguh Dewo merasa tak bersalah walau Ane membentak dirinya.
Dalam hatinya Dewo memang Dewo tak perlu merasa takut ancaman Ane, karena memang kenyataannya menurut Dewo semua perintah yang Ane perintahkan ke Dewo sudah Dewo laksanakan dengan baik.
"Aku tidur karena aku sudah menyelesaikan semua perintah mama, lagian aku juga mengantuk makanya aku tidur, saat mama tadi pergi aku gunakan untuk membereskan semua pakaian dan semua celana aku yang ada di lantai, mama jangan ngomel dulu dong kalau belum tahu hasil pekerjaan aku, jujur aku takut kalau ngga di masukkan ke kartu keluarga, makanya aku sudah menyelesaikan semua perintah mama, tuh lihat saja sendiri hasilnya di jamin mama puas dan bangga mempunyai anak seperti aku" ketus Dewo menunjuk ke arah dadanya dengan tangannya, seakan Dewo sedang membanggakan dirinya sendiri.
Ane yang penasaran dengan jawaban Dewo, membuat Ane langsung menatap ke arah lantai yang tadi berserakan banyak pakaian dan banyak celana Dewo yang berjejer.
Bukannya Ane bangga dengan hasil pekerjaan Dewo, malah Ane semakin tersulut emosi dan semakin marah kepada Dewo, kini Ane melototkan kedua matanya ke arah Dewo.
__ADS_1
Bagaimana Ane tidak marah dan tidak emosi kepada Dewo, semua pakaian dan semua celana miliknya Dewo yang ada di lantai, bukannya beres dan rapi, malah gara gara ulah Dewo semua pakaian dan semua celana yang ada di lantai semakin berantakan dan semakin amburadul.
Pakaian dan celana miliknya Dewo kini berserakan dimana mana, bahkan di sebelah kakinya Ane ada pakaian miliknya Dewo yang tergeletak tak berdaya di atas lantai, bukan hanya di situ saja, tapi pakaian dan celana miliknya Dewo juga ada yang berserakan di kolong ranjang tempat tidurnya Dewo.
Sungguh Ane di buat pusing gara gara ulah Dewo, bukannya kamarnya rapi malah kini kamarnya Dewo semakin berantakan, ingin sekali Ane memukul wajahnya Dewo dengan cabai rawit, namun di kamarnya Dewo tak ada cabe rawit sama sekali.
"Dewo mama tadi menyuruh kamu buat membereskan semua pakaian kamu dan semua celana kamu yang ada di lantai, tapi kenapa kamu malah membuat semua pakaian kamu dan semua celana kamu yang ada di lantai semakin berantakan, mama juga tahu kalau mengantuk itu tidur, kecuali kalau lapar baru makan, hasil pekerjaan kamu sangat berantakan Dewo, kalau kamu takut dengan ancaman mama harusnya kamu mengerjakan semua perintah mama dengan benar dan sungguh sungguh serta tidak mengecewakan mama, mama marah dan mama kecewa punya anak seperti kamu" bentak Ane dengan mata yang melotot ke arah Dewo.
Dewo membelalakkan kedua matanya sangat lebar dengan mulut yang menganga, sungguh Dewo tak habis pikir kalau mamanya alias Ane akan marah dan kecewa padanya.
Dewo bukannya berpikir letak kesalahan dirinya, malah Dewo menuduh Ane seperti itu, di jamin Dewo akan membuat Ane semakin emosi.
Benar saja setelah mendapat tuduhan yang di layangkan Dewo, membuat Ane tersulut emosi, bahkan kedua tangannya di gunakan untuk maju ke depan bukan maju ke belakang.
Tanpa ragu dan tanpa komando siapapun, tiba tiba tangannya Ane menjambak rambutnya Dewo lagi, membuat Dewo tersentak kaget dan mengeluarkan teriakannya, bukan hanya itu saja bahkan tangannya Dewo juga mengeluarkan jurus kagetnya yaitu mencubit tangannya Ane.
__ADS_1
Ane yang mendadak mendapat serangan seperti itu membuat Ane dengan cepat melepaskan jambakan tangannya di rambut Dewo, bukan hanya itu saja namun Ane juga mengeluarkan teriakan yang sangat keras dan sangat kencang persis di samping telinganya Dewo.
Dewo yang mendapatkan serangan teriakan dari Ane secara mendadak, membuat Dewo terlonjak kaget, bahkan Dewo sampai bergeser dari posisi dirinya tidur, bahkan secara refleks Dewo memegang kedua telinganya sendiri.
Sungguh telinganya Dewo hampir saja rusak setelah mendengar teriakan Ane yang tidak ada tandingannya, mungkin suaranya Ane lebih keras dari pada suara toa.
Kini kedua matanya Ane melotot ke arah Dewo, sungguh Ane ingin sekali memasukkan Dewo ke dalam perutnya lagi, namun Ane sadar semua itu pasti tidak akan bisa di lakukan, karena waktu akan terus berputar dan berjalan untuk maju bukan untuk mundur.
"Dewo ngapain kamu menutup telinganya kamu ? oh mama tahu jangan jangan kamu menutup telinganya kamu gara gara tidak mau mendengar perintah mama, makanya kamu menutup kedua telinganya kamu pakai tangan kamu, atau karena kamu ingin melanjutkan tidur nyenyak kamu yang tadi sempat di ganggu oleh mama" teriak Ane sekeras kerasnya dan sekencang kencangnya.
Namun suara teriakan Ane sepertinya sia sia, karena Dewo sama sekali tak mendengar suara teriakan Ane, mungkin karena Dewo fokus untuk menutup kedua telinganya, sehingga sama sekali tak mendengar teriakan Ane yang sangat menggema mengisi kamarnya Dewo.
Setelah Ane menunggu selama berapa menit, namun tetap saja Ane tak mendengar jawaban dari Dewo, sehingga Ane menyimpulkan bahwa Dewo tidak mendengar suara teriakan Ane tadi.
__ADS_1
Sementara Dewo masih dengan kesibukannya yaitu menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya, Dewo berharap dia tidak mendengar suara teriakan Ane lagi.