
Ane yang sudah mengeluarkan teriakannya bergegas berjalan ke pintu kamarnya Dewo, Ane berniat untuk pergi dari kamarnya Dewo.
Sementara Dewo masih melongo mendengar semua omongan Ane, lebih tepatnya Dewo masih melongo mendengar semua bentakan Ane.
Kini Dewo masih diam di tempat, dirinya masih bingung apa yang harus Dewo lakukan.
Sementara Ane yang telah berjalan selama beberapa puluh jam, kelamaan dong maksudnya setelah Ane berjalan selama beberapa puluh menit, kini Ane telah berada di depan pintu kamarnya Dewo.
Ane menghentikan langkahnya di depan pintu kamarnya Dewo, tanpa menatap Dewo tiba tiba Ane mengeluarkan suaranya yang keras berupa teriakan.
"Dewo ingat kata mama kalau kamu harus secepatnya membereskan semua pakaian dan semua celana kamu yang ada di lantai, mama tunggu kamu di ruang tamu" teriak Ane mengeluarkan suara sekeras kerasnya dan sekencang kencangnya.
Dewo yang tadi sibuk dengan lamunannya mendadak membuyarkan semua lamunannya, sehingga Dewo samar samar mendengar apa yang di katakan oleh Ane.
Dewo menatap ke arah salah satu pakaian yang tergeletak di atas lantai, seakan pakaian itu melambai lambai ke arah Dewo, itu yang Dewo lihat di pelupuk matanya.
Lagi dan lagi suara Ane menggugurkan semua lamunan Dewo, sehingga Dewo tersenyum kecut meratapi nasibnya yang sangat menyedihkan.
__ADS_1
"Dewo mama ngga mau tahu kamu harus menyelesaikan semua yang mama perintahkan selama sepuluh menit, kalau dalam waktu sepuluh menit kamu belum selesai mengerjakan mama akan hapus nama kamu dari kartu keluarga" ancam Ane di sertai dengan teriakan yang sangat menggema di ruangan tersebut.
Dewo sudah hafal betul dengan semua ancaman yang akan di keluarkan oleh Ane, tapi yang Dewo heran kenapa sang papa setia dan betah hidup bersama Ane, yang penuh dengan ratusan milyar ancaman.
Memikirkan itu hanya akan membuat Dewo mengulur ulur waktu, Dewo ingin protes terhadap Ane pun hanya akan membuang buang tenaga dan waktu yang Dewo punya, sehingga Dewo hanya pasrah berusaha menuruti waktu yang telah di tentukan Ane.
Dewo mulai melangkahkan kedua kakinya menuju ke semua pakaian dan semua celana yang menumpuk di lantai, yang jelas Dewo terpaksa melakukan ini semua.
Ane yang mendengar suara sepatu yang menjauh darinya, membuat Ane menerbitkan senyuman lebar di wajahnya, Ane sudah bisa menebak kalau suara sepatu itu adalah sepatu miliknya Dewo yang menjauh gara gara Dewo berjalan ke arah yang Ane inginkan.
Setelah mendengar suara sepatu menjauh membuat Ane melanjutkan langkah kakinya ke arah pintu kamar Dewo, tanpa ba-bi-bu lagi Ane langsung keluar dari kamarnya Dewo, dalam perjalananya Ane tak henti hentinya mengumbar senyum lebar di wajahnya.
Dewo yang sudah berjalan selama beberapa menit, kini Dewo sudah ada di depan semua tumpukan pakaian dan celana miliknya yang ada di lantai.
Dewo tanpa ragu berjongkok di depan semua pakaian dan semua celana miliknya, lalu Dewo menatap ke arah salah satu pakaian yang terdampar di lantai.
"Gue harus secepatnya membereskan semua pakaian dan semua celana tepat waktu, gue pengin cepat kelar masalahnya, gue kan pengin tetap jadi orang kaya, dan gue juga pengen nama gue tercantum di kartu keluarga, jadi lebih baik gue menuruti semua perintah mama gue yaitu membereskan semua pakaian dan semua celana gue yang terdampar di lantai" batin Dewo sambil mengobarkan semangat empat lima ingin secepatnya menyelesaikan perintah Ane.
Dewo mengambil salah satu pakaian dengan tangannya, lalu Dewo melemparkan pakaian itu ke almari pakaian miliknya, bukannya pakaian itu masuk ke dalam almari pakaian miliknya, malah pakaian itu tersangkut di atas almari pakaian miliknya Dewo.
__ADS_1
Mungkin karena Dewo saking semangatnya melempar pakaian tersebut, membuat pakaian itu tersangkut di atas almari, hal itu di saksikan sendiri oleh Dewo, sehingga membuat Dewo tercengang melihat adegan tersebut.
Sungguh Dewo panik dan syok saat pakaian miliknya tergantung di almari, Dewo yang panik dan syok buru buru beringsut berdiri, dan tanpa ragu Dewo berjalan ke arah almari pakaian miliknya.
Dewo sangat menyesal karena pakaian miliknya menyangkut di almari, Dewo takut pakaian itu akan di pakai oleh semut yang keliaran di sekitar almari.
Dewo sangat yakin kalau pakaian miliknya tidak akan sobek soalnya terbuat dari bahan yang tebal, apalagi semua barang yang Dewo miliki adalah barang branded semua dan limited edition, sehingga kualitas barang tersebut juga terbagus dan terkeren.
"Gue harus secepatnya mengambil pakaian gue yang tersangkut di atas almari gue, soalnya gue takut kalau pakaian gue di pakai semut, enak banget hidupnya semut mencoba pakaian dan memakai pakaian tanpa membeli, gue harus mencegah semut memakai pakaian gue" batin Dewo dengan perasaan kesal dan emosi, bahkan langkah kakinya Dewo sangat lebar bertujuan supaya cepat sampai ke almari pakaian miliknya.
Saat dalam tengah perjalanan Dewo menghentikan langkah kakinya, kini Dewo jadi berpikir ulang setelah Dewo mengingat ancaman yang di keluarkan oleh Ane, bukankah kalau Dewo mengambil pakaian miliknya yang tersangkut di almari, akan menyebabkan Dewo membuang waktu yang di berikan Ane.
Apalagi menurut Dewo waktu yang di berikan Ane itu sedikit, sehingga Dewo kini berubah haluan yaitu membalikkan tubuhnya dan berjalan ke tempat semula, tempat semua pakaian dan semua celana miliknya Dewo bersarang di lantai.
Walaupun tadi sempat ragu memutuskan keputusan yang tepat, namun kini Dewo telah menentukan keputusan, dan keputusan Dewo sudah bulat melebihi tahu bulat yang di goreng dadakan.
Memang Dewo akui tadi Dewo sempat menjadi buah semangka, itu cuma istilah bingung mengambil keputusan, tapi sedetik kemudian Dewo sudah mendapatkan keputusan yang tepat, yaitu Dewo akan melanjutkan membereskan semua pakaian dan semua celana yang ada di lantai.
''Lebih baik gue melanjutkan tugasnya gue yang di perintahkan mama gue, yaitu gue membereskan semua pakaian dan semua celana yang ada di lantai, urusan pakaian gue yang tersangkut di atas almari mending gue urus nanti saja setelah tugasnya gue selesai, soalnya gue ngga mau jadi gelandangan gara gara tidak ada nama gue di kartu keluarga, lagian gue heran sama mama gue mainnya mengancam doang, jangan jangan waktu mau menikah sama papa gue juga mama gue mengancam papa gue'' batin Dewo sambil tetap melangkahkan kedua kakinya dengan pemikiran yang absurd.
__ADS_1
Dewo yakin pasti sang papanya Dewo tertekan gara gara Ane, apalagi kalau saat akan menikah Ane mengancam banyak hal kepada suaminya Ane.