
Ane menatap ke arah Dewo yang masih tidur dengan nyenyak, kini Ane berniat mencubit pinggangnya Dewo dengan keras, karena Ane berpikir tadi Dewo yang sudah di cubit pinggangnya oleh Ane, namun Ane rasa Dewo masih tidur nyenyak karena cubitan Ane sangat lirih dan tidak keras.
Sehingga kini Ane berniat akan mencubit pinggang Dewo dengan sekeras kerasnya, kalau perlu Ane akan menjambak rambut Dewo, itu kalau cara yang Ane gunakan yaitu mencubit pinggang Dewo sekeras kerasnya namun Dewo masih tidur nyenyak.
Ane tanpa menunggu terlalu lama langsung berniat menjalankan aksinya, Ane menatap ke arah Dewo sekilas sambil mengeluarkan senyum licik di wajahnya, lalu Ane mulai menjalankan aksinya yaitu mencubit pinggang Dewo dengan keras kerasnya dan sekencang kencangnya.
Dewo yang merasa pinggangnya ada mencubit dengan sangat kencangnya dan kerasnya, bukannya Dewo membuka mata dan terbangun dari tidurnya, malah Dewo cuma bergerak menghindar dari cubitan Ane, lebih tepatnya Dewo cuma bergeser dari posisinya tidur, bahasa gaulnya Dewo cuma seperti merenggangkan ototnya dengan kedua matanya yang masih terpejam.
__ADS_1
Ane membelalakkan matanya sangat lebar dengan mulut yang menganga, sungguh Ane kaget dan syok dengan perilaku Dewo, yang hanya bergeser dari cubitan Ane, padahal Ane sudah mengeluarkan cubitan yang sangat keras dan sangat kencang.
"Aku heran sama Dewo padahal aku sudah mencubit pinggang Dewo sekeras kerasnya dan sekencang kencangnya, tapi kenapa Dewo masih asyik tidur juga, malah Dewo tadi cuma merubah posisi tidur doang, di kira mau pose foto, aku harus gunakan alternatif selanjutnya, yaitu aku menjambak rambutnya Dewo, aku jamin pasti Dewo akan berteriak karena kepedesan, koq jadi kepedesan kayak habis makan lombok, maksudnya aku pasti Dewo akan berteriak karena kesakitan, lebih baik aku jambak rambut Dewo sekarang saja" batin Ane sambil tersenyum licik menatap ke arah Dewo.
Dewo masih asyik dan sibuk di alam mimpinya, sehingga walaupun Ane sudah berteriak teriak dengan suara yang sekeras kerasnya dan sekencang kencangnya, tetap saja Dewo tidak dengar, bahkan Ane sampai main kekerasan dengan tangannya, tetap saja Dewo masih asyik dan sibuk terlelap mengarungi mimpinya.
Ane menatap ke arah Dewo lalu tangan Ane langsung ke tempat yang akan di tuju, yaitu dengan gerakan cepat Ane menjambak rambut Dewo, Ane mengeluarkan semua tenaganya buat menjambak rambutnya Dewo.
Itu adalah bentuk ekspresi kemarahan Ane kepada Dewo, sehingga Ane melampiaskan kemarahannya dengan cara menjambak rambut Dewo dengan sangat keras sekali.
Rupanya usahanya Ane membuahkan hasil karena Dewo langsung membuka kedua matanya, alias Dewo terbangun dari tidurnya, namun Dewo membuka kedua matanya sembari mengeluarkan teriakan yang sangat keras dan sangat kencang, Dewo teriak itu karena merasakan sakit di kepala akibat jambakan yang di lakukan Ane.
"Aaaaahhhhhh sakit" teriak Dewo dengan sangat keras dan sangat kencang hampir saja mengeluarkan jurus kagetnya, namun dengan cepat Ane menghindar dan menjauh dari tubuhnya Dewo.
Kini Ane menatap Dewo dengan tatapan nyalang, sungguh Ane kesal dengan kelakuan Dewo, sedangkan Dewo menguap pertanda bahwa dia masih mengantuk, sebenarnya Dewo masih ingin tidur, tapi gara gara jambakan yang di lakukan oleh Ane membuat kepalanya Dewo merasakan perih dan hampir pecah, bahkan rambut Dewo juga hampir rontok semua gara gara ulah Ane.
__ADS_1
Dewo menatap tajam ke arah Ane, kini Dewo mengetahui tatapan tak biasa yang di keluarkan oleh Ane, dalam hatinya Dewo berpikir, harusnya yang kesal dan emosi itu Dewo, karena ulah Ane membuat rambut Dewo perih, bahkan hampir saja Dewo menjadi botak mendadak.
"Dewo kamu itu ngga usah teriak teriak, karena mama itu ngga tuli dan ngga budeg, jadi tanpa kamu teriak mama pasti dengar suara kamu" teriak Ane lebih keras dan lebih kencang, sementara Dewo langsung terlonjak kaget dengan posisi masih tidur di atas ranjang empuk miliknya.
"Mama tadi aku itu teriak karena refleks kaget dan aku mengeluarkan jurus kaget tadi, kalau mama ngga tuli dan ngga budeg, mama pasti ngga akan teriak, buktinya mama teriak malah lebih keras dan lebih kencang teriakan mama di banding teriakan aku" jelas Dewo menaikkan suaranya sampai ratusan milyar oktaf, sedangkan kedua matanya Ane terbelalak lebar mendengar tuduhan yang di lontarkan oleh Dewo kepada Ane.
Sungguh Ane merasa kalau teriakan Ane standard biasa saja, tapi kenapa Dewo menuduh kalau teriakan Ane sangat keras dan sangat kencang, memikirkan itu membuat Dewo pusing ratusan milyar keliling.
Kini Ane melototkan kedua matanya ke arah Dewo, sedangkan Dewo masih asyik dan santai tidur di atas ranjang empuk miliknya, Dewo sangat emosi dengan Ane, gara gara teriakan Ane membuat gendang telinga Dewo hampir pecah, dan telinganya Dewo hampir saja putus gara gara teriakan Ane yang seperti kaleng rombeng.
"Dewo kamu jangan banyak alasan, mama tahu kalau tadi kamu berteriak bukan karena refleks kaget, tapi karena kamu pasti merasakan panas gara gara jambakan yang di keluarkan oleh mama di rambut kamu" lagi dan lagi tak bosan bosannya Ane mengeluarkan suara teriakan yang sangat keras dan sangat kencang, sementara Dewo membelalakkan matanya sangat lebar dengan mulut menganga.
Sungguh Dewo kesal dengan mulutnya Ane yang suka sekali berteriak, Dewo berusaha meredam semua emosi yang bergemuruh di dadanya, bahkan kepalanya Dewo serasa mengeluarkan asap api atau tanduk di kepalanya Dewo, sungguh Ane membuat Dewo sangat emosi dan kesal.
"Kalau mama tahu tadi aku berteriak karena kaget, harusnya mama ngga usah bertanya kayak gitu ke aku, soalnya pasti bakalan kaget mendadak, apalagi mendengar suara mama yang sangat keras dan sangat berisik seperti kaleng rombeng" ketus Dewo sambil menatap ke arah Ane dengan tatapan mengejek, sedangkan kedua matanya Ane terbuka lebar.
__ADS_1
Ane langsung mendelik ke arah Dewo, sungguh Ane tak terima kalau suara merdunya Ane di tuduh jelek oleh seseorang apalagi orang yang menuduh adalah anaknya sendiri, Ane ingin sekali menghajar Dewo, tapi Ane mengurungkan niatnya, walaupun kesal dan emosi tapi Ane tidak mungkin menghajar Dewo.
"Dewo kamu keterlaluan sekali bilang kalau suara mama seperti kaleng rombeng, padahal suara mama itu sangat merdu sekali, dan banyak yang tergila gila sama suara mama" teriak Ane sekeras kerasnya dan sekencang kencangnya, sementara Dewo yang tak sanggup mendengar suara teriakan Ane yang mirip kaleng rombeng langsung menutup kedua telinganya dengan kedua tangannya dengan posisi masih tidur di ranjang empuk miliknya.