Terpaksa Menikah Karena Perjodohan

Terpaksa Menikah Karena Perjodohan
Kenapa Kamu Diam Saja ?


__ADS_3

Dewo masih diam mematung, sungguh Dewo bingung menjawab apa ke Ane, karena menurut Dewo dirinya merasa risih gara gara ulah Ane yang menutup mulutnya bukan gara gara tangannya Ane yang bau harum dan suaranya Ane yang merdu.



Ane menerbitkan senyum lebar di wajahnya, beberapa menit menunggu Ane tak mendengar jawaban dari Dewo, Ane pikir itu tanda bahwa Dewo setuju dengan semua perkataan Ane.



Ane kini melipat kedua tangannya di depan dadanya, sungguh Ane merasa bahagia karena menduga kalau tangannya Ane dan suaranya Ane banyak di gemari dan di kagumi oleh orang termasuk oleh Dewo, makanya Dewo tak bisa tidur.


"Dewo kenapa kamu diam saja ? mama tahu kalau tangannya mama dan suara merdunya mama itu banyak di kagumi orang, bahkan orang yang merasakan lembutnya tangan mama dan harumnya tangan mama, juga mendengar suara merdu mama di jamin ngga akan bisa tidur karena terkesima" jelas Ane membanggakan dirinya sendiri, sementara Dewo yang mendengar dengan jelas perkataan Ane langsung memutar bola matanya malas.


"Aku diam saja dari tadi karena mengantuk mama, terserah mama mau bicara apa intinya aku mengantuk mau tidur, mereka bukan terkesima tapi mereka terganggu dengan ulah tangannya mama dan suaranya mama" jelas Dewo sambil menatap ke arah Ane, sementara Ane langsung menatap nyalang ke arah Dewo lalu berkata.


"Dewo kalau kamu mengantuk kamu tidur dong, oh mama tahu jangan jangan kamu ngga bisa tidur gara gara merasakan kelembutan tangannya mama dan suara merdunya mama, mereka ngga bakal terganggu dengan ulah tangannya mama dan suaranya mama, justru mereka merindukan tangan lembut mama dan suara merdunya mama" jelas Ane lebih panjang kali lebar dari jawaban Dewo.


Dewo hanya mendengus kesal mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya Ane, Dewo tak berminat untuk berdebat dengan Ane, sehingga Dewo tidak berniat untuk menjawab semua perkataan Ane.


__ADS_1


Lagi dan lagi Ane menunggu jawaban yang akan keluar dari mulutnya Dewo, namun beberapa menit menunggu Ane sama sekali tak mendengar suara Dewo, hal itu membuat Ane heran lalu bertanya kepada Dewo.


"Dewo kenapa kamu diam saja ? oh mama tahu pasti kamu diam saja gara gara semua perkataan mama itu benar dan fakta" sahut Ane tak bosan memancarkan senyum lebar di wajahnya.


Dewo menatap ke arah Ane dengan tatapan yang tak bisa di baca, lalu Dewo berkata.


"Aku diam saja karena aku mengantuk mama dan aku ingin tidur, semua perkataan mama benar dan fakta atau perkataan mama salah dan gosip itu bukan urusan aku''' ketus Dewo sambil menatap tajam ke arah Dewo, sementara Ane yang mendengar jawaban dari Dewo langsung memudarkan senyum lebar yang tadi terpancar di wajahnya Ane.


Kini Ane menatap ke arah Dewo dengan tatapan yang tak bersahabat, sungguh Ane emosi dengan Dewo, ingin sekali Ane menceburkan Dewo ke laut, namun Ane urungkan karena malas repot repot membopong Dewo menuju ke laut.


''Dewo kalau kamu mengantuk dan ingin tidur kamu tidur saja gampang kan, ngomong sama kamu cuma buat kepala mama pusing" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang, sementara Dewo dalam hati tertawa bahagia karena Ane sudah mulai pusing mendengar perkataan Dewo, lalu Dewo berucap.


"Aku belum bisa tidur mama, gimana mau bisa tidur kalau dari tadi di ajak ngobrol sama mama jadi" perkataan Dewo belum selesai, namun Dewo tak berniat untuk melanjutkan kata katanya.



Karena tatapan matanya Ane yang tak bersahabat kepada Dewo, membuat Dewo mencari alasan yang tepat untuk mengalihkan topik pembicaraan yang tadi.


"Jadi apa Dewo ?" bentak Ane dengan emosi yang menggebu gebu, sungguh Ane kesal dengan Dewo karena diam tak melanjutkan perkataannya, padahal sejak tadi Ane menunggu kelanjutan perkataan Dewo.

__ADS_1


Dewo yang sedang sibuk dengan dunianya sendiri alias melamun, sampai terlonjak kaget mendengar bentakan yang keluar dari Ane, lalu Dewo berkata.


"Ja ja jadi lebih baik mama sekarang tidur supaya mama ngga pusing" sahut Dewo dengan nada terbata bata, namun Dewo merasa bangga ke otaknya karena dapat mencari alasan yang tepat.


Ane menatap nyalang ke arah Dewo, sungguh Ane semakin tersulut emosi mendengar jawaban dari Dewo.


"Dewo kamu ternyata masih muda sudah pikun, mama ngga akan bisa tidur karena" kini giliran perkataan Ane yang belum selesai sudah di potong oleh Dewo.


"Ingatan aku masih tajam mama dan aku ngga pikun, kalau mama di kamar aku terus aku jamin juga mama ngga akan tidur, kecuali mama pergi dari kamarnya aku terus mama tidur di kamarnya mama sendiri pasti mama bisa tidur nyenyak" jelas Dewo sambil menyunggingkan senyum tipis, sedangkan Ane tak terima karena pembicaraannya di potong.


Apalagi dugaan Dewo itu salah besar, sehingga kini Ane melototkan kedua matanya ke arah Dewo, lalu berkata lebih tepatnya lalu Ane mengeluarkan teriakannya.


''Dewo kamu benar benar pikun dan ingatan kamu ngga tajam, kamu ngga usah sok tahu Dewo mama ngga bisa tidur bukan gara gara mama ada di kamar kamu, karena mama mau pergi ke suatu tempat makanya'' lagi dan lagi perkataan Ane yang belum selesai sudah di potong oleh Dewo.


Dewo dalam hatinya senang karena Ane mengatakan akan pergi ke suatu tempat, sungguh Dewo mengira kalau Dewo bisa bebas dan bisa tidur dengan nyenyak di ranjang empuk miliknya.


"Ingatan aku itu tajam dan aku ngga pikun mama, buktinya aku masih ingat kalau mama itu orang yang telah melahirkan aku ke dunia ini, aku kira mama ngga bisa tidur gara gara ada di kamarnya aku, aku sok terong mama bukan sok tahu, kalau mama mau pergi ke suatu tempat lebih baik mama siap siap sekarang, jangan lupa mama dandan yang cantik supaya banyak orang yang menyukai mama, tapi ingat mama tetap harus setia ke papa walaupun wajahnya papa itu jelek, ngga tampan, dan ngga ganteng, tapi papa suami mama" jelas Dewo dengan sangat panjang kali lebar melebihi panjangnya rel kereta api, sementara Ane kini menatap nyalang ke arah Dewo.


Dewo yang mengetahui tatapan tak bersahabat yang di layangkan oleh Ane, membuat Dewo cengengesan sambil menggaruk garuk belakang kepalanya yang tak gatal.

__ADS_1



Dalam hatinya Dewo nampak berpikir apa salah Dewo sehingga tatapan Ane seperti itu ke Dewo.


__ADS_2