
Ane seperti tidak mempunyai dosa karena dirinya membahas tukang bakso dan tukang kebon dengan santainya sementara Dewo ingin sekali menonjok wajahnya Ane yang bikin emosi namun Dewo urungkan niatnya karena Ane adalah wanita yang melahirkan Dewo ke dunia ini.
Sungguh Dewo sangat tersulut emosi gara gara omongan Ane yang tanpa dosa bahas tukang bakso dan tukang kebon kenapa ngga bahas tukang becak, tukang bubur, tukang siomay dan tukang tukang lainnya sekalian biar lebih ramai lagi.
"Dewo ayo buruan kita berdua pulang sekarang juga ke rumah" kata Ane sambil menatap ke arah Dewo yang sedang menatap ke arah depan dengan tatapan kosong sedangkan Dewo tak bergeming sedikitpun dirinya masih sibuk dan asyik dengan dunianya sendiri yaitu melamun memikirkan harus pulang ke rumah atau harus tetap di supermarket.
Setelah Ane menunggu selama beberapa puluh jam kelamaan dong maksudnya setelah Ane menunggu selama beberapa puluh menit namun Ane belum mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya Dewo membuat Ane curiga bukan curiga Dewo itu sedang melamun melainkan Ane mengira bahwa Dewo sudah benar benar terserang penyakit budeg dan tuli akut.
__ADS_1
"Aku yakin Dewo pasti ngga mendengar suara merdunya aku bukan karena Dewo sedang sibuk dan asyik melamun tapi karena Dewo itu terserang penyakit budeg dan tuli dadakan tapi aku heran sebenarnya apa penyebab Dewo menjadi tuli dan budeg dadakan kayak begini, pokoknya aku harus membawa Dewo ke poli THT untuk memeriksa telinganya Dewo, sepertinya Dewo bukan hanya itu mungkin Dewo sudah terserang penyakit budeg dan tuli akut" batin Ane sambil menatap ke arah Dewo yang masih menatap ke arah depan dengan tatapan kosong
Dewo masih mematung di tempatnya dan Dewo sangat ingin berteriak sekencang kencangnya karena Dewo sangat bingung memikirkan apa keputusan yang tepat untuk dirinya apakah Dewo harus pulang cepat ke rumah atau tetap berada di supermarket untuk membeli jas yang di inginkan oleh Ane untuk suaminya Ane.
Dalam hatinya Dewo dirinya bagaikan buah semangka yang rasanya manis koq jadi buah semangka ? maksudnya Dewo menjadi seperti buah simalakama karena Dewo ingin pulang cepat ke rumah buat tidur namun kenyataannya Dewo ngga akan bisa tidur karena setelah pulang ke rumah, Dewo langsung di ajak ke poli THT namun Dewo selalu tidak mau dan pilihan yang kedua adalah Dewo tetap berada di supermarket untuk membeli jas buat Dewo.
Ane memaksa otaknya untuk berpikir keras melebihi kerasnya baja kini Ane sibuk dan asyik memikirkan cara untuk membuat Dewo mendengar suara merdunya Ane bukan.
__ADS_1
"Aku harus gimana dong supaya suara emasnya aku dapat di dengar oleh Dewo, aku heran jangan jangan Dewo sudah tuli dan budeg dari dulu, lagian ngapain sih Dewo anaknya aku pakai budeg dan tuli segala, pokoknya aku harus tegas membawa anaknya aku ke poli THT dan poli pikun juga soalnya aku ngga mau punya anak seperti Dewo yang ternyata budeg dan tuli bahkan Dewo juga pikun" batin Ane sambil mengeluarkan senyum masam di wajahnya karena sampai sekarang Dewo masih diam di tempat mematung di tempat
Ane masih memutar otaknya untuk berpikir dengan sangat keras dan sangat kencang melebihi pesawat jet pokoknya intinya Ane sangat memaksa otaknya untuk bekerja dengan sangat keras dan sangat kencang supaya menemukan cara supaya Dewo tersadar dari lamunannya namun Ane sampai sekarang belum menemukan ide bagaimana cara menyadarkan lamunannya Dewo.
"Kenapa Dewo anaknya aku sampai masih diam di tempat jangan jangan Dewo benar benar tuli dan budeg akut, gimana dong ini caranya supaya Dewo anaknya aku tersadar dari lamunannya oh bukan lamunannya lebih tepatnya supaya Dewo mendengar Dewo pulang ke rumah" batin Ane sambil menatap ke arah Dewo dengan tatapan heran kenapa Dewo sejak tadi hanya berpose diam di tempat seperti cuma di atas lantai kenapa kenapa Dewo tidak mengeluarkan jurusnya berupa berpose di lautan.
Dewo masih diam di tempat sambil memikirkan keputusan yang tepat untuk memikirkan nasibnya apakah ikut pulang ke rumah seperti yang di ajarkan oleh Ane atau Dewo tetap di supermarket untuk menemani Ane membeli jas buat suaminya Ane.
__ADS_1
Tapi Dewo sudah tahu walaupun Ane bilang akan membeli jas buat suaminya Ane pasti Ane juga akan membeli semua barang kebutuhan lainnya sehingga itu akan menambah waktu Dewo di supermarket membuat Dewo galau dan pusing sampai ratusan milyar.
"Gue harus gimana ini gue harus menentukan pilihan pokoknya gue harus memilih jalan terbaiknya gue itu, apa gue harus pulang ke rumah atau gue tetap ada di supermarket menemani mama gue membeli jas buat papa, kalau gue pulang ke rumah sesuai dengan keinginan mama gue pasti gue bakalan di ajak oleh mama gue buat ke poli THT buat periksa telinganya gue padahal telinganya gue ngga budeg dan ngga tuli ngapain di ajak ke poli THT, bahkan mama gue bakalan mengajak gue ke poli tempat orang pikun, lho tempat orang pikun kan ada di panti jompo apa tandanya gue mau di bawa mama gue ke panti jompo kebangetan banget mama gue masa mengajak gue ke tempat orang pikun padahal tempat orang pikun pasti orang jompo gimana dong ini apa gue tetap ada di supermarket saja buat menemani mama gue membeli jas buat papa gue, tapi gue yakin pasti bukan cuma jas doang yang bakalan di beli sama mama gue pasti mama gue bakalan muter muter membeli barang lainnya di supermarket ini, itu membuat gue emosi karena harus bolak balik ke tempat yang mama gue buat membeli barang" batin Dewo sambil memikirkan nasibnya sendiri setelah dirinya memilih pulang ke rumah atau masih tetap di supermarket