
Ane menatap nyalang ke arah Dewo karena emosi dan kesal, bukannya mengaku kalau penyebab lantai dapur banjir gara gara Dewo, malah Dewo bilang kalau lantai dapur banjir gara gara atap genteng dapur bocor, bahkan yang lebih parah Dewo sampai memfitnah semut dan kecoa yang bikin lantai dapur banjir.
Dewo nampak berusaha berpikir alasan apa yang tepat penyebab lantai dapur banjir, karena sungguh Dewo tak mau di salahkan kalau lantai dapur banjir, kini Dewo memutar otaknya untuk mencari alasan yang masuk logika dan masuk akal bukan masuk kandang ayam.
Setelah beberapa jam Ane menunggu kelamaan dong, maksudnya setelah Ane menunggu selama beberapa menit, namun Ane tak mendengar jawaban dari Dewo, membuat Ane geram dan semakin tersulut emosi, bahkan mungkin Ane sudah mengeluarkan tanduk dari kepalanya saking marah dan emosinya kepada Dewo.
"Dewo kenapa kamu diam saja, oh mama tahu pasti kamu sedang cari alasan penyebab lantai dapur banjir, mama yakin kamu ngga akan menemukan alasan kenapa lantai dapur banjir, karena yang menyebabkan lantai dapur banjir itu kamu yang ngga becus mengepel lantai" teriak Ane sekeras kerasnya dan sekencang kencangnya dengan menatap ke arah Dewo dengan tatapan mengejek, bahkan kedua tangannya Ane di lipat di depan dadanya.
Dewo yang mendengar suara yang menggelegar dari Ane, lebih tepatnya teriakan Ane, bahkan suara teriakan Ane hampir merusak indra pendengaran Dewo, bahkan semut dan kecoa juga bisa jantungan akibat teriakan yang di keluarkan Ane.
__ADS_1
"Mama jangan teriak teriak aku ngga tuli dan ngga budeg, jadi tanpa mama teriak aku dengar semua omongan mama, sebenarnya lantai dapur banjir itu bukan karena aku tapi mungkin karena semut atau kecoa yang sedang minum, tapi kecoa dan semut ngga becut minumnya sehingga airnya berantakan di lantai dapur" elak Dewo berusaha mencari alasan supaya dia tidak di salahkan gara gara lantai dapur banjir, entah alasan Dewo ambigu atau tidak yang penting hanya kata itu saja yang terlintas di kepalanya Dewo.
Ane melototkan kedua matanya kepada Dewo, sungguh Ane semakin emosi mendengar alasan ambigu dari Dewo, ingin sekali Ane mengembalikan Dewo ke perutnya lagi, namun semua itu tak akan bisa terjadi, karena waktu terus berjalan tidak bisa mengulang waktu ke masa lalu.
"Dewo kamu ngga usah mengelak kamu itu tuli dan budeg, lebih baik kamu sekarang cuci kedua tangan kamu, lalu kamu ganti pakaian dan celana kamu dengan pakaian dan celana yang mama siapkan, supaya kita berdua bisa cepat ke poli THT untuk mengobati penyakit tuli dan budeg kamu" teriak Ane menambah ratusan milyar oktaf sambil menatap nyalang ke arah Dewo, sementara Dewo membelalakkan kedua matanya sangat lebar dengan mulut menganga.
Sungguh Dewo syok dan kaget mendengar semua perintah yang terlontar dari mulut Ane, dan yang bikin syok dan kaget Dewo lagi adalah Ane menyuruh Dewo untuk mencuci kedua tangannya, dalam pikiran Dewo tadi Dewo tak habis makan kenapa di suruh cuci tangan.
"Mama sebenarnya aku itu ngga tuli dan ngga budeg, sudah berkali kali aku bilang kayak gitu, tapi kenapa mama masih menuduh aku tuli dan budeg, aku ngga habis makan buat apa aku cuci kedua tangan aku, kecuali kalau habis makan roti atau makan apa baru cuci tangan takut tangannya kotor, aku ngga mau pakai pakaian dan celana yang mama pilihkan karena pakaian dan celana sudah kotor gara gara ada sudah tergeletak di lantai, mama sebaiknya batalkan saja niat mama ke poli THT soalnya aku ngga tuli dan budeg jadi buat apa ke sana" jelas Dewo panjang kali lebar kali luas sambil menatap ke arah Ane dengan penuh harap, sementara Ane mendelik ke Dewo lalu berkata.
__ADS_1
Dewo mencari alasan pakaian dan celana yang di pilihkan Ane sudah kotor gara gara tergeletak di lantai, supaya Ane akan mencarikan pakaian dan celana yang baru dari almari pakaian Dewo, dengan begitu akan menambah waktu dan Dewo harap kalau Ane tak jadi pergi ke poli THT, karena kecapekan memilih pakaian dan celana yang akan di gunakan Dewo.
Dewo sangat hafal dengan sifat Ane yang sangat lama dalam memilih segala sesuatu, entah pakaikan, celana, rok, tas, sepatu, bahkan kadang semua barang tersebut berjejer dan berserakan di ranjang atau di lantai, akibat Ane yang pusing dan bingung memilih barang yang akan di gunakan.
Namun sepertinya Dewo harus menelan pil pahit dan kekecewaan, karena Ane tak membatalkan rencananya pergi ke poli THT, sungguh Dewo ingin sekali kabur dan menghilang dari situasi tersebut, namun Dewo bukan pria pengecut, sehingga Dewo pasti akan pergi ke poli THT, walau di sana pasti Dewo terdeteksi tak punya penyakit budeg dan tuli.
"Dewo kamu ngga usah drama pakai bilang kamu ngga tuli dan budeg, kenyataannya mama berkali kali tadi mengajak ngobrol kamu di supermarket tapi kamu ngga mendengar semua omongan mama, itu jadi bukti kalau kamu itu tuli dan budeg, kamu memang ngga habis makan, tapi kamu habis tidur, jadi buruan kamu cuci kedua tangan kamu untuk menghilangkan ileran di kedua tangan kamu, Dewo lantai kamar kamu itu bersih dan terbebas dari debu, karena mama selalu menyapu lantai kamar kamu, dan mengepel lantai kamar kamu, jadi kamu ngga usah alasan lantai kamar kamu kotor, pokoknya mama ngga akan batalkan niat mama buat ke poli THT, karena mama ke sana juga buat kebaikan kamu dan mengobati kamu dari penyakit tuli dan budeg" sahut Ane tak kalah panjang kali lebar kali luas dari jawaban Dewo, sementara kedua matanya Dewo terbelalak lebar dengan mulut menganga.
Beberapa menit Dewo masih mematung di tempat, masih mencerna semua perkataan Ane, sehingga membuat Dewo masih bungkam dan tak menjawab semua omongan Ane, sehingga Ane yang kesal dengan Dewo yang menjadi patung mendadak membuat Ane menegur Dewo.
__ADS_1
"Dewo buruan kamu cuci kedua tangannya kamu yang terkena ileran itu, terus kamu nanti pakai pakaian dan celana yang mama pilihkan, kenapa malah kamu diam saja berubah menjadi patung mendadak" bentak Ane dengan suara lantang, sementara Dewo dapat menangkap dengan jelas teriakan Ane membuat Dewo membuang dan membuyarkan semua lamunannya.
"Mama jangan teriak teriak suara mama itu seperti kaleng rombeng" sahut Dewo lalu berjalan ke arah kran air, sementara Ane melototkan kedua matanya ke arah Dewo.