
Setelah berjalan selama beberapa menit, kini Dewo ada di sebelah Ane dengan satu gayung di tangannya yang berisi air, sedangkan Ane belum menyadari kalau Dewo membawa air menggunakan gayung, kini Ane tak henti hentinya mengumbar senyum lebar di wajahnya, karena mengira sebentar lagi Ane akan mencuci wajahnya dengan air yang di bawa Dewo.
Dewo yang sangat kesal dengan Ane kini menyodorkan satu gayung ke hadapan Ane, begitu melihat gayung yang di sodorkan Dewo membuat kedua matanya Ane terbelalak lebar dengan mulut menganga, sungguh Ane tak menyangka kalau Dewo membawa air hanya dengan satu gayung.
Kini Ane langsung menatap nyalang ke arah Dewo, sungguh Ane geram sekali dengan Dewo karena membawa air cuma hanya dengan satu gayung, bukan membawa air dengan ember.
"Dewo kenapa kamu" perkataan Ane yang sangat keras dan sangat kencang langsung di potong oleh Dewo.
Karena Dewo mengira Ane menuduh dirinya tidak membawa air, padahal Dewo itu juga membawa air, bahkan Dewo membawa air sesuai dengan permintaan dan keinginan Ane, yaitu Dewo membawa air memakai gayung, sehingga sebelum tuduhan itu melayang ke Dewo, langsung Dewo memotong perkataan dari Ane dengan sangat cepat.
__ADS_1
"Mama ini airnya, aku bawa airnya, jadi mama jangan menuduh aku ngga bawa air, karena kenyataannya aku bawa air, malah aku bawa air sesuai keinginan dan sesuai harapan mama yaitu aku bawa air pakai gayung bukan pakai ember kayak tadi" jelas Dewo sambil menyodorkan gayung yang berisi air yang terletak di tangannya ke depan Ane, sedangkan Ane melototkan kedua matanya ke arah Dewo tanpa menerima gayung yang di sodorkan oleh Dewo.
"Dewo mama ngga buta jadi tahu kalau itu air, dan mama juga ngga menuduh kamu ngga bawa air, tapi kenapa kamu bawa airnya pakai gayung bukan pakai ember, kalau kamu bawa air sesuai keinginan mama dan sesuai harapan mama pasti kamu bawa airnya pakai jus strawberry sekalian biar habis cuci muka mama bisa langsung minum jus strawberry tersebut, mama ngga pernah nyuruh kamu bawa air pakai gayung, kapan mama menyuruh kamu bawa air pakai gayung" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang, membuat Dewo yang sedang memegang gayung berisi air karena kaget menerima serangan teriakan dari Ane, membuat gayung yang berisi air oleh Dewo tumpah dan terjatuh ke atas lantai.
Ane yang melihat kalau gayung itu jatuh ke atas lantai langsung melototkan kedua matanya ke Dewo, tanpa sengaja Dewo juga tahu arti pelototan kedua mata Ane, membuat Dewo berkali kali menelan salivanya, sungguh Dewo mengeluarkan keringat dingin yang keluar dari kulkas, lho koq malah kulkas maksudnya Dewo mengeluarkan keringat dingin dari tubuhnya.
Dewo berusaha menghilangkan rasa takutnya dengan cara menggaruk garuk belakang kepalanya yang tidak gatal, tapi Dewo tetap saja ketakutan karena Ane masih melototkan kedua matanya ke arah Dewo, sehingga Dewo kini hanya bisa pasrah kalau Ane akan berceramah 24 jam non stop tanpa iklan dan tanpa jeda.
"Mama ngapain nyuruh aku buat ambil kain pel ?" tanya Dewo dengan di penuhi dan di selimuti penuh tanda tanya di kepalanya, sedangkan Ane memutar bola matanya malas lalu menjawab.
"Dewo mama nyuruh kamu buat ambil kain pel itu buat mengepel lantai dong yang terkena guyuran air dari gayung masa buat ngepel wajah kamu" ketus Ane dengan nada keras dan kencang sambil kedua tangannya melipat di depan dadanya, sementara Dewo tersenyum kecut mendengar omongan dari Ane lalu Dewo berkata.
__ADS_1
"Oke mama aku ambilkan kain pel sekarang juga, cuma ambil kain pel doang kan mama ?" tanya Dewo untuk memastikan bahwa Dewo tidak salah mengambil barang, sedangkan Ane langsung melototkan kedua matanya ke arah Dewo.
Sungguh Ane emosi dan kesal dengan pertanyaan Dewo yang seperti itu, harusnya tanpa Ane jelaskan panjang kali lebar Dewo tahu apa saja yang di ambil untuk mengepel lantai, masa cuma mengambil kain pel doang memangnya bisa buat mengepel lantai, memikirkan itu membuat Ane tersulut emosi dan kepalanya sudah mengeluarkan tanduk.
"Dewo kenapa kamu masih bertanya ke mama, harusnya kamu bisa pikir sendiri kalau kamu cuma ambil kain pel lantai doang tanpa mengambil ember yang berisi air terus kamu mengepel lantai airnya darimana, oh mama tahu jangan bilang kamu berpikir akan mengepel lantai dengan menggunakan air mata kamu" cibir Ane dengan nada ketus sambil menatap Dewo dengan tatapan nyalang, sedangkan kedua matanya Dewo langsung terbelalak lebar mendengar ocehan dari Ane.
"Mama aku kan cuma nanya harusnya mama langsung jawab ngga usah ceramah, bilang saja to the point tanpa basa basi kalau aku juga harus mengambil air yang berisi air bukan cuma mengambil kain pel doang, aku ngga pernah nangis mama jadi aku ngga bakalan gunakan air mata aku buat mengepel lantai, lagian tanpa aku bawa ember juga sudah ada air yang tumpah dari gayung, jadi walaupun cuma bawa kain pel doang ngga masalah" jelas Dewo mengutarakan pendapatnya, mendengar omongan Dewo memang membuat Ane berpikir Dewo tak usah membawa ember berisi air ke dapur.
Namun karena Ane tidak ingin kalah telak dari Dewo sehingga Ane memutar otaknya, berpikir alasan apa yang logis supaya Dewo membawa ember yang berisi air, bukan mengandalkan air dari dalam gayung yang tumpah ke lantai.
Ane menerbitkan senyuman tipis sangat tipis sekali, sehingga hanya Ane yang tahu kalau dirinya sedang tersenyum, bahkan Dewo yang ada di dekatnya juga tak menyadari bahwa Ane sedang tersenyum, Ane berniat mengerjai Dewo dan otaknya menemukan ide briliant, Ane kesal karena Dewo tak mengambilkan minuman untuk dirinya malah Dewo asyik minum sendiri.
__ADS_1
"Dewo kalau kamu cuma gunakan air yang jatuh dari gayung ke lantai itu lantai ngga akan bersih, jadi lebih baik kamu bawa air di dalam ember saja buruan sebelum airnya menyerang ke banyak lantai dan bisa banjir dadakan di dapur" kilah Ane dengan ekspresi datar, sementara Dewo memutar bola matanya malas.
"Oke mama aku ambilkan sekarang sebelum banjir dapurnya tapi bukan lantainya banjir gara gara air gayung tapi banjir karena mama yang ngomel terus dan air ludahnya kemana mana" sahut Dewo tanpa dosa lalu pergi dari hadapan Ane tanpa menunggu jawaban Ane, sedangkan Ane membulatkan kedua matanya mendengar omongan Dewo.