Terpaksa Menikah Karena Perjodohan

Terpaksa Menikah Karena Perjodohan
Dia Sama Sekali Tak Curiga


__ADS_3

Kini Ane sudah ada di samping sofa yang terletak di kamarnya, tanpa tahu Ane mendaratkan bokongnya di sofa tersebut, lalu tangannya Ane terulur mengambil sesuatu yaitu bingkisan yang berisi jas.



Setelah bingkisan itu ada di tangan, kini Ane langsung membuka isinya, sudah terpampang di depan kedua matanya Ane yaitu jas untuk pria, kalau untuk wanita namanya dress.



Senyuman lebar terpancar di wajahnya Ane, entah mengapa Ane sangat bahagia sekali, lalu Ane mengambil jas tersebut dari tempat bingkisan.



Tangannya Ane mengambil sebuah bingkisan lagi yang berisi celana, memang tadi saat di supermarket Ane bukan hanya membeli sebuah jas saja buat Dewo, namun membeli barang lainnya yaitu celana, sepatu, itu bertujuan supaya Dewo tampil kece dan keren di depan calon mertua Dewo dan calon istrinya Dewo.



Namun Dewo tak menaruh curiga sama sekali saat Ane membeli semua barang tersebut, Dewo pikir Ane memang sedang dalam mode baik hati dan tidak sombong makanya membelikan barang barang tersebut buat Dewo.


"Lebih baik aku ke kamar Dewo sekarang, aku harus menyuruh dan memastikan kalau Dewo memakai semua barang barang yang aku belikan tadi, beruntung Dewo tadi tidak banyak tanya, sehingga waktu aku membeli barang barang buat Dewo dia sama sekali tak curiga" batin Ane tak melunturkan senyum lebar di wajahnya.


Kini di tangannya Ane sudah ada jas, tentunya dengan kemeja yang baru di beli tadi di lengkapi dengan celana, lalu tangannya Ane mengambil bingkisan yang berisi sepatu untuk Dewo.



Ane beringsut berdiri, tentunya di tangan Ane sudah di lengkapi bingkisan sepatu walaupun belum di buka bingkisannya.


 Ane berniat membuka bingkisan sepatu itu di kamarnya Dewo, tentunya sambil memastikan Dewo memakai barang barang yang tadi di belikan olehnya.


Ane mulai melangkahkan kedua kakinya menuju ke pintu kamarnya, dia sudah bertekad bulat seperti tahu bulat yang di goreng dadakan lima ratusan enak.



Setelah Ane melangkah beberapa menit, kini Ane sudah ada di depan pintu kamarnya, saat Ane akan membuka pintu kamarnya, tiba tiba pintu kamar terbuka sendiri, itu membuat Ane berpikir kalau yang membuka pintu tersebut adalah hantu.


Ceklek


Pintu kamarnya Ane tiba tiba terbuka, menampilkan wajah Diran sang suami Ane.

__ADS_1



Karena Ane berpikir kalau hantu yang membuka pintu, membuat Ane memalingkan wajah ke arah lain, lalu Ane berteriak.


"Hantu hantu" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang.


Suara teriakan Ane sangat menggema di telinganya Diran, sontak membuat Diran terlonjak kaget dan berlari masuk ke kamarnya.



Tentunya Diran di landa ketakutan, namun bukan takut karena mendengar teriakan Ane, namun Dewo takut dengan kalimat yang terlontar dari Ane yaitu hantu.


"Ma ma mama dimana hantunya ?" tanya Diran dengan nada terbata bata.


Ane yang sedang memalingkan wajahnya menghadap ke arah lain, sontak langsung menoleh ke arah sumber suara yaitu Diran.



Kini Ane menatap ke arah Diran, sungguh Ane kaget melihat Diran yang tiba tiba sudah ada di samping Ane persis.


"Papa sejak kapan ada di sini ?" bukannya menjawab perkataan Diran, Ane malah melemparkan pertanyaan ke Diran.



Diran menatap ke arah depan, belakang, atas, bawah, kanan, kiri, namun Diran sama sekali tak menemukan sosok hantu.


Ane juga ikut menatap ke arah pandang Diran, Ane juga penasaran dengan sosok yang membuka pintu kamarnya.


Soalnya saat Diran membuka pintu Ane sedang memalingkan wajah, sehingga tak tahu kalau yang membuka pintu kamarnya adalah Diran.


"Papa baru saja sampai sini mama, tapi papa sudah di sambut" perkataan Diran terjeda, Diran agak ragu untuk meneruskan kalimatnya.


"Papa di sambut sama siapa ?" karena tak sabar Ane langsung melemparkan pertanyaan ke Diran dengan nada cepat.


Otaknya Ane sempat berpikir kalau Diran akan meneruskan perkataannya di sambut oleh hantu, namun Ane langsung bertanya kepada Diran secara langsung.


Diran agak ragu untuk melanjutkan perkataannya, namun Diran tetap melanjutkan kalimat yang tertunda tadi, dari pada nanti tingkat kepo istrinya berulah, itu akan menggangu Diran karena kebisingan suara yang di ciptakan oleh Ane.

__ADS_1


"Mama papa malah di sambut sama hantu" sahut Diran nyaris tak terdengar.


Namun ternyata suara Diran tetap dapat di tangkap oleh Ane, sungguh Ane kaget mendengar jawaban yang terlontar dari mulutnya Diran.



Walaupun Ane sudah menduga jawaban yang akan di keluarkan oleh Diran, entah mengapa rasa syok menghinggapi Ane.


"Aa aa aapa papa melihat sosok hantu itu ?" tanya Ane penasaran sambil menatap ke arah Diran.


Diran dengan cepat menggelengkan kepalanya mantap, memang kenyataannya Diran belum melihat sosok hantu tersebut.



Ane yang melihat dengan kepalanya sendiri gelengan kepala dari Diran membuat Ane bertanya sesuatu, menurut Ane pertanyaan ini sangat membantu menemukan jawaban sosok hantu tersebut.


"Papa tadi lihat ngga sosok hantu yang membuka pintu ?" bisik Ane di telinganya Diran.


Ane sengaja bersuara berbisik di telinga Diran, karena Ane takut suara Ane akan di dengar oleh hantu.


Mendengar bisikan yang keluar dari Ane, membuat Diran membelalakkan kedua matanya sangat lebar dengan mulut menganga.


Sungguh Diran tak menyangka dengan Ane, dalam hatinya Diran berpikir apakah Ane mengira kalau yang membuka pintu kamarnya adalah sosok hantu, padahal yang membuka kamarnya adalah Diran bukan sosok hantu.


"Apa mama tadi melihat kalau yang membuka pintu adalah sosok hantu ?" tanya Diran balik kepada Ane dengan nada lembut.


Ane melototkan kedua matanya ke arah Diran, sungguh Ane kesal dan emosi dengan Diran sang suami.


"Mama itu sedang bertanya ke papa, jadi papa ngga usah tanya balik ke mama, tugasnya papa tinggal jawab saja gampang kan" bentak Ane dengan suara yang melengking.


Sungguh suaranya Ane sangat menggangu pendengaran Diran, kini Diran berniat untuk menjawab perkataan Ane, dari pada Ane semakin marah dan mengamuk.


"Oke papa bakal jawab pertanyaan mama, maaf kalau papa tadi malah bertanya balik ke mama, papa ngga melihat sosok hantu yang membuka pintu karena" perkataan Diran belum selesai sudah di potong oleh Ane.


"Nah gitu kan enak ngga bikin emosi mama, oke mama maafkan, koq papa ngga bisa lihat sosok hantu yang buka pintu jangan jangan sosok hantu itu takut sama wajah papa yang jelek" Ane menduga sambil mengamati wajah Diran, sementara Diran mendengus sebal mendengar omongan Ane


Kalau Diran tak mencintai Ane, mungkin Diran akan menghajar Ane atau akan menceburkan Ane ke laut dan menjadi santapan ikan hiu.

__ADS_1


"Mama sebenarnya yang membuka pintu kamar itu papa makanya papa ngga melihat sosok hantu" jelas Diran dengan cepat supaya Ane tak memotong pembicaraannya, sementara kedua matanya Ane terbuka lebar mendengar perkataan Diran.


__ADS_2