
Dewo sungguh kesal melihat kelakuan Ane, Dewo berbicara tidak jelas itu juga karena ulah Ane yang menutup mulutnya, kenapa malah Ane menuduh Dewo berbicara dengan bahasa monyet atau bahasa hewan.
Sementara Ane masih menutup mulutnya Dewo dengan tangannya sambil matanya Ane melotot ke arah Dewo, bahkan matanya Ane hampir copot menggelinding ke lantai.
Ane tersulut emosi gara gara kelakuan Dewo yang membuat dirinya kesal, saat Ane akan berbicara tiba tiba handphone di saku celana Ane bunyi, sehingga Ane walau masih menutup mulutnya Dewo, tangannya Ane yang satu terulur untuk mengambil handphone yang ada di saku celananya Ane.
Ane emosi sekali dengan orang yang saat ini sedang menelponnya, karena menurut Ane orang tersebut menggangu dirinya yang akan meluapkan semua emosinya kepada Ane, dengan cepat Ane menekan tombol hijau di handphone miliknya.
Ane
"Mama lagi sibuk pah jangan telpon mama dulu" ucap Ane mengawali pembicaraan saat dirinya telah mengangkat telpon dari Diran sang suami.
Kini Ane bersiap untuk mematikan sambungan telpon, namun urung di lakukan saat Ane mendengar perkataan Diran.
Diran
"Mama sedang sibuk ngapain ? mama sedang di rumah atau dimana ? mama sudah pulang dari supermarket atau belum ? mama sudah menyiapkan pakaian buat acara nanti malam kan ?" cerca Diran melemparkan banyak pertanyaan yang beruntun ke Ane.
Sedangkan Ane semakin emosi gara gara pertanyaan yang keluar dari mulutnya Diran, sementara Dewo ingin sekali tertawa mendengar deretan pertanyaan yang di keluarkan oleh sang papa.
Namun Dewo tak akan bisa mengeluarkan tawanya gara gara ulah tangan Ane, sehingga Dewo hanya terkekeh kecil walaupun terdengar tak jelas tanpa sepengetahuan Ane.
Ane
__ADS_1
"Papa kalau nanya itu satu satu jangan banyak banyak, mama jadi bingung jawab yang mana dulu, intinya mama sibuk dan ngga bisa di ganggu" teriak Ane dengan sangat keras dan sangat kencang.
Diran sampai menjauhkan handphone dari telinganya, gara gara suara teriakan Ane yang hampir membuat gendang telinga Diran rusak.
Karena rasa kepo Diran yang tinggi membuat Diran bertanya kembali ke Ane, membuat Ane lagi dan lagi mengurungkan niatnya untuk memutuskan sambungan telpon dengan Diran.
Diran
"Terserah mama mau jawab yang mana dulu, sebenarnya mama sibuk ngapain kenapa mama ngga bisa di ganggu ?" tanya Diran sambil menatap ke arah depan seakan Ane ada di depannya.
Sementara Ane yang kesal dan geram dengan pertanyaan Diran membuat Ane tanpa sadar membungkam mulutnya Dewo dengan keras, sehingga membuat Dewo kesakitan dan Dewo berteriak namun tidak bisa gara gara tangannya Ane, sehingga teriakan Dewo terdengar tidak jelas.
"Mmmmmmmppppppp" teriak Dewo dengan suara yang tidak jelas, sementara Ane menatap tajam ke arah Dewo yang menurutnya menggangu Ane saat akan menjawab pertanyaan.
Diran
"Mama sedang sama siapa ? papa tadi dengar ada suara pria padahal papa dan Dewo ada di perusahaan masing masing, terus adiknya Dewo lagi kuliah, pria itu siapa mama jangan bilang kalau pria itu" perkataan Diran belum selesai sudah di potong oleh Ane.
Ane
"Iya papa sekarang mama sedang bersama dengan pria dan pria itu" perkataan Ane belum selesai berganti dengan teriakan akibat Dewo mencubit tangannya Ane yang sedang menempel di mulutnya Dewo.
"Aaaaaaahhhhhh" teriak Ane dengan suara yang sangat keras dan sangat kencang.
__ADS_1
Diran mendengar dengan jelas teriakan dari Ane, mendengar hal itu membuat pikiran Diran berkelana ke hal yang buruk, Diran takut kalau Ane sang istri tadi di tusuk secara paksa oleh pria lain, seperti sate saja di tusuk.
Sedangkan Ane yang kaget mendapat serangan cubitan mendadak dari Dewo, membuat tangannya Ane tanpa sadar memutuskan sambungan telponnya dengan Diran.
Saat pikiran Diran sedang berkelana hal buruk, tiba tiba Diran melihat kalau Ane memutuskan sambungan telepon secara mendadak, melihat itu membuat Diran semakin yakin kalau Ane saat ini sedang di tusuk pria makanya dia sampai berteriak seperti tadi.
"Hallo mama mama ada apa mama" kata Diran panik sambil menempelkan handphone di telinganya, namun sambungan telpon telah di putus oleh Ane.
Tut Tut Tut
Diran hatinya semakin takut saat Ane dengan tiba tiba memutuskan sambungan telpon, berbagai pikiran buruk kini menyelimuti dan menghinggapi otaknya Diran.
"Kenapa istri aku tiba tiba mematikan sambungan telpon, jangan jangan terjadi apa apa dengan istri aku, atau jangan jangan istri aku di perkosa oleh pria, soalnya aku tadi dengar dengan jelas kalau istri aku berteriak, aku sangat yakin pasti istri aku berteriak gara gara istri aku di tusuk oleh senjatanya pria itu lebih baik aku pulang sekarang, biar aku lihat sendiri apa penyebab istri aku berteriak" batin Diran sambil memasukkan handphone miliknya ke saku celananya.
Diran beringsut berdiri setelah Diran meletakkan handphone miliknya ke saku celananya, lalu dengan langkah tergesa gesa Diran menuju ke arah pintu ruang kerjanya, bahkan Diran sampai lupa tak membawa pulang laptop dan tas kerjanya.
"Semoga saja istri aku ngga selingkuh dan istri aku ngga di tusuk senjata oleh pria lain, karena senjata aku sudah besar, jadi aku yakin pasti istri aku ngga akan bisa berpaling dari senjata aku, tapi tadi istri aku bilang sendiri kalau istri aku sedang bersama seorang pria, tapi tiba tiba sambungan telpon terputus, aku yakin pasti pria itu yang menyuruh istri aku untuk menutup sambungan telpon supaya aku ngga mengetahui keberadaan pria itu, awas saja kalau aku ketemu dia bakal aku beri pelajaran ke pria itu, mau pelajaran matematika, pelajaran bahasa indonesia, pelajaran seni, atau pelajaran apapun aku bisa, kenapa jadi bicara tentang pelajaran sekolah, maksudnya aku nanti aku bakal beri pelajaran bogeman mentah buat pria itu" batin Diran sambil tetap melangkahkan kedua kakinya ke pintu ruangan kerjanya.
Setelah beberapa jam Diran melangkah, kelamaan dong maksudnya setelah beberapa menit Diran melangkah kini Diran sudah ada di depan pintu ruang kerjanya.
Tanpa menunggu terlalu lama dan tanpa basa basi kini Diran langsung membuka pintu ruang kerjanya, lalu Diran melangkah keluar setelah itu Diran menutup pintu ruang kerjanya dengan rapat, mungkin Diran takut ruangan kerjanya akan di masukki oleh semut.
Diran kini melangkahkan kakinya ke parkiran mobil, Diran berniat untuk langsung pulang ke rumah, bahkan kini Diran melangkahkan kakinya dengan sangat lebar supaya cepat sampai tujuan, sungguh Diran cemas sekali setelah mendengar teriakan Ane tadi.
__ADS_1