Wasiat Terakhir

Wasiat Terakhir
Kemarahan Dinda


__ADS_3

Angel tersenyum lebar mendengar perkataan arjuna kali ini,hati nya di liputi kebahagiaan yang mendalam,entah ia harus bersyukur atau bagaimana,namun jelas ia sangat bahagia saat ini.


Dengan keberanian lebih,angel lebih mendekat dan akan memeluk arjuna untuk meluapkan kebahagiaan nya kali ini,namun arjuna memundurkan tubuh nya,hingga membuat Angel bingung.


"Kau salah..!" Ucap Arjuna pelan sambil menarik tangan nya dari genggaman Angel.


"Apa yang salah,kau baru saja mengatakan semua nya dengan jelas,salah ku di mana..?" Tanya Angel bingung


"Apa yang kau dengar barusan ,semua memang benar,tapi itu dulu..!" Jelas Arjuna


Deg


"Dulu aku memang sangat mencintai mu,bahkan aku hampir menyusul mu ,tapi semenjak Cantika hadir dalam hidup ku,kau sudah tidak ada bagi ku,dan sekarang pun aku tak mengharapkan ini dari mu,aku sudah memiliki Dinda sekarang..!" Tambah Arjuna .


Tes


Tes


Tes


Bulir bening itu terus jatuh dari mata Angel,ia tak mengira jika Arjuna akan mengatakan ini pada nya,ia sudah berkhayal jauh,ia mengira ia akan bersama lagi seperti dulu,tapi ternyata ini salah.


Brakk


Pintu kamar Arjuna terbuka dengan sedikit kasar,terlihat Baim yang sedikit panik masuk ke sana.


"Apa yang terjadi..?" Tanya Arjuna bingung,ia dapat menebak jika semua tak baik-baik saja.


"Nyonya melempar semua barang di ruangan nya,saya tak bisa membuka pintu nya,karena di kunci dari dalam..!" Jelas Baim sambil panik.


Dengan cepat Arjuna membuka selimut nya dan mencabut paksa infus yang terpasang di punggung tangan nya.


Dengan berlari cepat ia menuju ruangan Dinda,ia bisa melihat dari kaca kecil pintu itu,jika semua barang-barang di sana berserakan di lantai,sedang kan Dinda terduduk di lantai dengan keadaan kacau.


Arjuna mengetuk pelan pintu ruangan Dinda ,berharap Dinda mau membuka,namun Dinda menatap tajam pada Arjuna yang terlihat di kaca.


"Din,ini aku..buka pintu nya..!" Pinta Arjuna dengan sedikit keras agar Dinda bisa mendengar nya.


Bukan membuka,Dinda malah melemparkan beberapa botol infus ke arah pintu .

__ADS_1


"Kenapa bisa seperti ini..?" Tanya Arjuna menatap Baim dan beberapa perawat yang ikut berkumpul di depan ruangan Dinda.


"Saya baru tiba membawa sarapan untuk nyonya,namun saat saya tiba,sudah terdengar kegaduhan dari dalam,nyonya melempar barang-barang di dalam sambil menangis..!" Jelas Baim.


"Apa sebenarnya yang terjadi,kalian kemana saja..kenapa tidak ada satu pun yang berjaga di ruangan isteri ku..?" Tanya Arjuna dengan menatap tajam semua perawat yang menunduk ketakutan karena kemarahan Arjuna


Baim membawa beberapa satpam yang menenteng beberapa alat untuk membuka pintu ruangan Dinda .


"Apa dia ketakutan saat mengingat kecelakaan itu..?" Tanya dokter Kelvin yang menatap Arjuna .


"Aku juga tak mengerti,tapi saat melihat sorot mata nya,dia seperti marah..!" Jelas Arjuna menebak .


Tak perlu waktu lama,beberapa petugas yang merusak paksa kunci itu berhasil membuka pintu,mereka tak ada yang berani membuka nya,Arjuna maju dan mengisyaratkan semua untuk menunggu nya di depan pintu saja.


"Apa tuan yakin masuk sendiri..?" Tanya Baim yang melihat Arjuna melangkah masuk.


"Kau diam lah,aku akan memanggil kalian jika perlu..!" Jawab Arjuna yang kemudian membuka pelan pintu kamar dan kembali menutup nya.


Arjuna bisa merasa sesuatu yang kurang baik di ruangan ini.


"Sayang...!" Panggil Arjuna pelan sambil melangkah mendekati Dinda yang memeluk bantal di lantai.


Arjuna menunduk ikut duduk di lantai tanpa mengeluarkan suara, menatap Dinda yang sedang menunduk sambil terisak.


"Sayang...?" Panggil Arjuna kembali sambil mengusap lembut pucuk kepala Dinda.


Dengan mata merah,jelas kilatan kemarahan di sana,ia mendongak kan kepala untuk menatap Arjuna .


Sedikit kasar ia menjauh kan tangan Arjuna yang mengusap pucuk kepala nya.


Dinda menjauh dan berdiri sedikit pelan karena tak bisa bergerak cepat di usia kehamilan nya yang sudah besar itu.


"Hati-hati...!" Pinta Arjuna yang berusaha membantu Dinda berdiri,namun dengan cepat Dinda mendorong kembali Arjuna hingga berjarak dari nya.


"Jangan berusaha membodohi ku lagi,pergi lah dari sini,aku tak membutuhkan kakak lagi...!" Ucap Dinda


Deg


Hati Arjuna mencerocos dengan berbagai pertanyaan,kenapa Dinda jadi seperti ini,apa yang membuat nya begitu marah pada diri nya.

__ADS_1


"apa yang ingin kau katakan...?" Tanya Arjuna dengan wajah mengeras menahan amarahnya,ia begitu marah saat Dinda menolak nya beberapa kali,di tambah dengan kata-kata Dinda yang menjelaskan jika Dinda tak membutuhkan diri nya lagi.


Dinda sudah berusaha mengontrol emosi nya,namun sikap sensitif nya tak bisa ia kendali kan.


"Tinggal kan aku sendiri..!" Hanya itu yang bisa Dinda ucap kan,ia sudah tak tahan lagi,kepala nya seolah berputar dan pandangan nya sedikit menghitam.


Arjuna menghampiri Dinda yang berdiri di depan kaca besar yang langsung menghadap pada pemandangan kota,ia meraih tangan Dinda pelan,berharap bisa meredakan emosi isteri nya itu.


Entah salah apa Arjuna kali ini,ia tak mengerti dan tak bisa menebak,Dinda selalu diam seperti ini,tak pernah mengungkapkan inti dari permasalahan.


Arjuna menahan emosi nya yang sudah merasa di ubun-ubun,ia mencoba tetap tenang menghadapi Dinda , sebenarnya ia begitu khawatir, khawatir pada kesehatan Dinda jika ia terus emosi seperti ini,ia takut Dinda jadi drop kembali seperti kemarin.


"istirahat lah,kau masih sakit ,emosi mu kali ini tak baik untuk kesehatan mu dan kandungan mu..!" bujuk Arjuna dengan lembut.


Dinda kembali menarik kasar tangan nya dan menatap tajam pada Arjuna seolah ia mengungkapkan kemarahan nya kali ini.


"apa...?" tanya Arjuna yang berusaha mengerti dan tak mau terpancing emosi.


Arjuna maju dan mendekap tubuh Dinda yang sedikit lebih pendek dari nya ,mengusap pelan punggung Dinda yang masih terisak kecil.


1 menit


3 menit


Hingga menit berikut nya Dinda berusaha berontak dan ingin lepas dari pelukan Arjuna dengan paksa ,namun Arjuna tetap mengeratkan pelukannya,meski Dinda terus memukul-mukul nya.


"pergi...!" teriak Dinda


Arjuna menggeleng dan masih mengeratkan pelukannya tanpa menghiraukan pemberontakan Dinda .


"aku bilang pergi,keluar dari sini..aku tak mau bertemu kakak lagi..!" jelas Dinda dengan suara serak nya.


"tidak,aku tidak akan pergi..!" ucap Arjuna yang juga dengan keras kepala nya.


🌹🌹🌹


selamat malam mingguan


sehat selalu

__ADS_1


jangan lupa dukungan nya kakak semua


__ADS_2