Wasiat Terakhir

Wasiat Terakhir
Takut


__ADS_3

Tak perlu waktu lama,Arjuna sudah hanyut dalam mimpi,dia bisa tenang tidur,karena Dinda tak mungkin keluar dari sana.


"Kenapa harus bertemu kakak..!" Gumam Dinda sendiri yang kini sudah berada di ranjang pasien nya.


Ia menatap lekat sosok lelaki yang tengah tertidur pulas itu,masih sama seperti dulu,saat ia berpisah.


Namun sekarang ia lebih dingin tak sehangat dulu,tapi jelas ia begitu masih mengkhawatirkan Dinda .


Dinda menatap sekeliling nya, bagaimana ia bisa keluar dari sana dan segera bertemu Lee,ia tak bisa keluar begitu saja tanpa persetujuan Arjuna ,karena memang Arjuna seperti mengurung nya saat ini.


Selang dua jam Dinda diam dalam kebingungan nya,ruangan terkunci itu terketuk beberapa kali dan membuat Arjuna terbangun.


Masih dengan mata yang merah dan sangat mengantuk,Arjuna menatap Dinda yang duduk bersandar pada ranjang nya ,kemudian pandangan nya beralih ke pintu.


"Siapa yang mengganggu istirahat ku..!" Gumam Arjuna pelan dan berjalan menuju pintu untuk membuka nya.


"Tuan,maaf kan saya..!" Sapa Baim sambil menunduk.


"Kata kan..!" Ucap Arjuna dengan tegas.


"Saya mendapat telepon dari mansion jika tuan muda terus merengek pada suster untuk bertemu anda..!" Jelas Baim.


Arjuna lupa,jika Lee menunggu kepulangan nya dan Dinda ,namun ia tak bisa membawa Dinda pulang dalam keadaan yang tak baik seperti ini.


Setelah mengatakan itu,Baim pamit dan tinggal Dinda dan Arjuna saja lagi.


"Makan lah,Baim membawa kan nya untuk mu..!" Ucap Arjuna memberikan beberapa makanan yang memang di pesan Arjuna tadi untuk Dinda .


Dinda hanya menatap Arjuna datar,ia tak memiliki tenaga kali ini untuk melawan Arjuna ,karena jujur saat mendengar pintu itu terketuk ,ia langsung merasa takut,takut kejadian tragis kemarin terulang lagi,mungkin ia juga takut bertemu orang untuk sementara ini.


Arjuna membilas diri di kamar mandi ruangan itu,dengan pakaian yang sudah di siap kan Baim pagi ini,ia tak berniat pergi ke kantor,ia akan berkonsultasi dengan psikolog di rumah sakit tentang keadaan Dinda ,ia tak mau Dinda terus merasa takut seperti tadi.


Aroma sabun begitu menyeruak di dalam ruangan Dinda,sabun mahal yang memang sering Arjuna pakai dan Dinda masih ingat aroma itu.


"Aaaaa...!" Teriak Dinda yang mengagetkan Arjuna.

__ADS_1


Arjuna melihat Dinda uang meringkuk dengan menutup mata menggunakan tangan nya,kemudian Arjuna mendekat pada Dinda .


"Pergi..jangan mendekat...!" Teriak Dinda .


Arjuna bingung apa yang terjadi pada Dinda saat ini.


"Hayy..tenang lah..ini aku,apa yang terjadi .?" Tanya Arjuna bingung.


Dinda memberani kan diri menatap wajah di depan nya.


"Aaa..aaaku melihat bayangan seseorang di depan pintu..!" Ucap Dinda tergagap.


Arjuna menaikkan satu alis nya,benar kah Dinda takut hanya dengan sekelebat bayangan saja pikir nya.


"Mungkin itu perawat saja..!" Ucap Arjuna menenangkan Dinda ,namun air mata yang telah jatuh dari mata indah itu membuat Arjuna tak berkutik,sungguh perih melihat Dinda seperti ini.


Dinda masih meneliti wajah Arjuna mencari ketenangan di sana,namun mata nya menatap punggung Arjuna yang masih polos tanpa menggunakan atasan,ia hanya memakai celana panjang nya dan tak sempat memakai baju saat Dinda berteriak.


Sebuah luka yang belum kering,Dinda melihat itu,ia berpikir bagaimana Arjuna bisa mendapatkan luka itu namun ia enggan untuk bertanya .


Setelah Arjuna menenangkan Dinda ,ia memanggil dokter ke ruangan Dinda untuk langsung mengecek psikolog Dinda .


Arjuna berjalan mengiringi dokter yang di panggil nya langsung,ia mendekat ke arah Dinda yang merapat kan diri ke ujung ranjang pasien nya.


"Din,tenang lah..dokter hanya akan memeriksa mu,aku di sini menemani mu..!" Jelas Arjuna .


Dokter mendekat dan melakukan tugas nya,mata Dinda terus menatap Arjuna di samping nya,seolah mengatakan sesuatu.


Setelah pemeriksaan itu,bisa di simpulkan jika Dinda saat ini tak bisa bertemu orang lain dulu,ia mungkin akan histeris dan menangis ketakutan.


Arjuna berpikir keras bagaiman membuat Dinda sembuh, sementara ia tak bisa selalu dekat Dinda seperti dulu


"dokter mengatakan jika aku boleh pulang..aku akan pulang sore ini..!" Ucap Dinda .


Arjuna menatap tajam pada Dinda, Namun ia masih tetap diam mendengar apa yang akan di katakan Dinda .

__ADS_1


Saat sore ,Dinda telah bersiap untuk pulang seperti kata nya itu,namun ia juga belum bangkit dari duduk nya sambil mata nya menatap pintu yang masih tertutup.


"apa yang kau tunggu,di luar akan ada Baim yang mengantar mu pulang..!" Ucap Arjuna membuyarkan pandangan Dinda pada pintu.


Arjuna meraih kunci mobil dan handphone nya yang tersimpan di laci,kemudian memasang jaket nya untuk segera pulang.


Arjuna berdiri membuka pintu yang di susul Dinda juga mengikuti nya,ia berpaling dan menautkan ke dua alis tebal nya.


"Apa dia masih takut bertemu orang..!" Gumam Arjuna pelan.


Jelas Dinda masih merasa takut,apa lagi di sana banyak orang-orang yang berlalu lalang dan Dinda tak mengenal mereka.


Tiba di lift ,Dinda masih setia berada di belakang Arjuna .


"Tunggu dulu..!" Panggil Kelvin yang menghampiri Dinda dan Arjuna yang baru keluar dari lift,dan itu sungguh membuat Dinda kaget saat ia mendengar teriakan itu dan membuat nya berjongkok sambil menutup ke dua telinga nya.


"Jangan..ku mohon,jangan mendekat..!" Ucap Dinda


Arjuna kaget dan langsung menatap tajam pada Kelvin.


"Din,dia Kelvin..kenapa takut..kau lupa pada nya..?" Tanya Arjuna .


Bagaimana pun Arjuna tak ingin hilang kendali dengan tiba-tiba memeluk Dinda dan menenangkan nya ,karena ia tau batasan,Dinda bukan isteri nya dan ia tak ingin membuat Dinda tak nyaman,lain hal nya kemarin saat Dinda pingsan,ia tak bisa mengontrol diri nya,hingga ia terus mendekap tubuh Dinda yang lemah.


Tubuh Dinda masih bergetar takut,hingga membuat Arjuna memegang tangan Dinda agar bangun,Kelvin pun di isyarat kan oleh Baim agar tidak mendekat dulu.


Dengan pelan Arjuna menggiring Dinda duduk di kursi dekat lift.


"ini minum lah dulu..!" ucap Arjuna memberikan air mineral yang telah ia buka kan untuk Dinda .


tangan Dinda masih bergetar menerima air minum itu,keringat nya pun masih terlihat di pelipis nya.


"Bagaimana aku bisa meninggal kan nya berdua dengan Lee di rumah nya,sementara keadaan Dinda seperti ini..!" gumam Arjuna saat menatap Dinda yang masih bergetar.


🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Setiap pandangan orang berbeda,jadi semua sudah alur yang telah di tentukan author,so nikmati ja ..


like.. komentar..jangan lupa vote dan hadiah nya..😘😘


__ADS_2