
Bugh
Arjuna mundur kebelakang karena hampir kehilangan keseimbangan nya saat sebuah Bogeman mendarat tepat di depan wajah nya.
"Brengsek...!" Umpat Arjuna sambil menyapu sudut bibir nya yang berdarah akibat pukulan yang tak ia duga itu.
"Dimana Dinda..?" Tanya seorang lelaki dengan kilatan emosi yang jelas tergambar di wajah nya yang tampan.
Arjuna tersenyum kecut di sana mendapati pertanyaan yang di anggap nya bodoh,Dinda istri nya ,untuk apa lelaki ini dengan marah bertanya seperti itu pada nya.
"kau memaksa nya..!"
Bugh
Lagi sebuah pukulan keras di dapat kan Arjuna tanpa bisa menghindar.
"Di mana kau menyembunyikan Dinda..jawab...!" Teriak lelaki itu dengan mencengkram baju kaos Arjuna .
"Edwin...!" Teriak Dinda saat melihat kepalan tangan itu siap di layang kan kembali pada Arjuna .
"Dinda..!" Ucap Edwin mengendurkan cengkraman nya dan beralih pada Dinda .
Belum sempat Edwin menggapai Dinda ,Arjuna lebih dulu berdiri di depan Dinda .
"Jangan menyentuh nya..dia istri ku..!" Ungkap Arjuna dengan dingin, sebenar nya ia sedang mengontrol emosi nya saat ini,namun sebisa mungkin di depan Dinda ia terlihat tenang,ia tak ingin membuat Dinda takut hingga memicu pada trauma Dinda.
Tanpa menghiraukan Arjuna ,Edwin mendorong Arjuna dan segera memeluk Dinda yang berada di belakang nya.
"Kau baik-baik saja..apa yang terjadi..kenapa ponsel mu mati..!" Begitu banyak pertanyaan yang terlontar dari mulut Edwin,sambil mengelus Surai panjang Dinda ia terus memeluk Dinda di depan Arjuna .
Sreekkk..
Arjuna tak tahan,ia mencengkram pundak Edwin dengan kuat dan menghempaskan nya ke tembok.
Bugh
Bugh
Membalas...ya Arjuna membalas pukulan itu,awal nya ia tak ingin,namun rasa nya ia tak bisa melihat wanita nya di peluk hangat di depan nya seperti ini.
__ADS_1
"Jangan menyentuh nya brengsek..dia istri ku..!" Teriak Arjuna dengan penekanan.
Saling pukul,yaa mereka seolah lupa jika Dinda ada di depan mereka.
Bugghh
Dinda terduduk di lantai marmer itu,kaki seolah lunglai dan tak mampu menahan tubuh nya,mulut nya pun seakan kaku saat melihat adegan di depan nya.
"Sayang...!" Ucap Arjuna merengkuh tubuh Dinda .
"Ja...jangannnn...jangan mendekat...!" Dinda terbata merasa tubuh nya di tarik oleh sebuah lengan kokoh dan langsung mendekap nya.
"Hai...tenang lah..ini aku sayang...jangan menangis lagi..maaf kan aku..!" Ucap Arjuna dengan menyesal tak bisa menahan emosi nya .
Hikksss
Hikksss
"Per...pergi kalian..ja..jangan mendekat..!" Teriak Dinda dengan bergetar,mungkin ia tak mengenali Arjuna lagi,yang ada hanya ketakutan yang di rasa,takut di sakiti seperti saat penculikan itu.
Dinda berontak di pelukan Arjuna saat ini,ia sudah kehilangan diri nya sendiri.
"Din...!" Ucap Edwin dengan suara serak yang bergetar,namun hanya beberapa langkah,tangan Arjuna memberi isyarat agar jangan mendekat.
"Pergi lah..kalau sudah waktu nya,aku akan menghubungi mu,dan kita akan bicara..!" Tekan Arjuna masih memeluk Dinda yang terus berontak histeris.
"Tapi Dinda..!" Potong Edwin .
"Keluar brengsek..!" Teriak Arjuna yang menggelegar ,tepat saat itu Baim bersama yang lain datang dan memberi pengertian pada Edwin agar keluar dari sana dulu.
"Tuan...!" Ucap Baim yang melihat keadaan Arjuna dengan sudut bibir berdarah dan beberapa lebam di pipi nya .
"Keluar lah..aku bisa mengatasi ini..!" Ucap Arjuna tanpa menatap Baim.
Baim keluar dari kamar itu dengan pelan dan menutup rapat pintu namun masih tetap berjaga di depan jika Arjuna membutuhkan nya.
"sayang,tenang lah..maaf kan aku..!" Sesal Arjuna yang masih mendekap Dinda yang ketakutan.
"Jangan sakiti aku..aku mohon..!" Tangis Dinda di situ.
__ADS_1
Dinda begitu takut,pikiran nya berputar pada saat penculikan,di mana diri nya di siksa dan di pukul oleh sang kakak Yunita .
"Sayang,maaf kan aku membuat mu takut..!" Lirih Arjuna dengan masih mendekap Dinda .
Arjuna meraup pipi Dinda yang histeris agar menatap manik nya yang tajam.
"Sayang..lihat,ini aku..aku suami mu...tenang lah..!" Ucap Arjuna .
Cup.
Arjuna membungkam tangis Dinda dengan ******* kecil,memang Dinda semakin berontak dan sungguh bibir Arjuna teras begitu perih saat Dinda menggigit nya,namun Arjuna tak melepaskan nya.
Cukup lama bibir itu bertaut hingga Dinda pasrah ,sedikit kesadaran nya telah kembali,namun rasa takut masih merasuki nya,ia memeluk Arjuna dengan erat seolah Arjuna akan pergi.
"Jangan tinggal kan aku,mereka akan menyakiti ku..!" Lirih Dinda di pelukan Arjuna saat mereka melepas tautan bibir nya.
"Maaf kan aku sudah membuat mu takut...!" Balas Arjuna yang mendekap hangat Dinda .
Arjuna merengkuh tubuh Dinda yang bergetar,membawa nya ke tempat tidur dengan belitan tangan Dinda yang tak lepas sedikit pun.
Dengan pelan,ia meletakkan Dinda dan menyelimuti Dinda,dengan tidur menyamping ,Arjuna tak beralih dari samping Dinda,masih memeluk hangat ,ia tak memikirkan rasa perih di wajah nya,yang ia inginkan saat ini hanya Dinda nya tenang.
"Jangan menangis lagi sayang..!" Ucap Arjuna selembut mungkin.
"Tidur lah,jangan takut..aku bersama mu,tak akan ada yang berani menyakiti mu,aku di samping mu..tenang lah sayang..!" Bujuk Arjuna yang terus membelai lembut pucuk kepala Dinda .
Cukup lama Dinda terisak di pelukan Arjuna ,hingga nafas nya mulai teratur,itu yang di rasa kan Arjuna .
Mata Dinda terpejam sempurna,ada kelembutan yang tak bisa di jelas kan di sana,Dinda tidur dalam dekapan hangat nya,dengan pelan, Arjuna melepaskan pelukan nya dan beranjak turun dari tempat tidur,mencium kening Dinda sebelum dia beranjak.
Ceklek
Arjuna membuka pintu kamar,karena ia tau Baim masih menunggu nya di sana.
"Atur pertemuan ku dengan Edwin Minggu depan,jangan ada yang mengganggu kami dulu,tolong urus keadaan di mansion..!" Titah Arjuna pada Baim .
"Baik tuan..dan luka anda,apa perlu saya panggil kan dokter. .?" Tanya Baim
"Tak perlu,aku bisa mengobati sendiri..,pergi lah,katakan pada penjaga di bawah,untuk mensterilkan lantai ini,jangan ada orang lagi yang berani menyusup ke lantai di mana aku dan Dinda berada,jika tidak,maka habis lah mereka..!" Ucap Arjuna kemudian berlalu dari Baim untuk kembali pada Dinda ,ia tak bisa lama meninggalkan Dinda sendiri.
__ADS_1