Wasiat Terakhir

Wasiat Terakhir
Pertentangan


__ADS_3

Mansion Albert.


Arjuna berjalan masuk melewati para pelayan yang sedang sibuk bekerja,ini sudah hampir jam makan siang,namun semua pekerjaan rumah seolah tak selesai.


"Di mana mamah..?" Tanya Arjuna pada salah satu pelayan.


"Nyonya di kamar bersama tuan muda..!" Jawab pelayan itu dengan sopan.


Arjuna mengangguk paham dan berjalan menuju lift,ia ingin cepat sampai ke ruangan sang mamah agar dapat melihat langsung kondisi ibu nya yang di khawatir kan nya.


Ceklek


Arjuna membuka pintu yang terbuka itu,tampak seorang lelaki yang duduk di sofa memberikan senyum pada nya.


"Akhir nya kau pulang juga..!" Ucap Andrew sang adik yang usia nya hampir sama dengan Dinda.


Arjuna hanya menanggapi ucapan sang adik dengan wajah datar nya tanpa berniat berbagi cerita tentang diri nya dan kehidupan nya sekarang.


Mata Yanti terbuka saat merasa kan kehadiran seseorang yang dia rindu kan akhir-akhir ini.


"Kau datang...?" Tanya Yanti dengan berusaha bangun


"Kenapa menolak di bawa ke rumah sakit,mamah harus berobat dengan benar ..!" Ucap Arjuna sambil membantu Yanti bangun dan bersandar pada tempat tidur nya


"Aku ingin kau yang membawa dan merawat ku..!" Kata Yanti dengan penuturan sedikit lemah


"hhhmmm,aku akan membawa mamah sekarang..!" Ucap Arjuna yang menggendong pelan tubuh sang mamah.


"Kau,suruh pelayan menyiapkan keperluan mamah selama di rumah sakit..!" Tukas Arjuna pada Andrew sang adik yang melihat bengong pada Arjuna


"Dengan kak Juna saja ,mamah selalu menurut,menyebalkan.." gumam Andrew yang berdiri dari duduk nya.


Arjuna membawa Yanti ke rumah sakit,sebelum nya ia sudah menyiapkan tim dokter dan perawatan yang terbaik untuk sang mamah.


Bukan hal yang aneh,jika di masa tua nya,seorang ibu selalu ingin dekat dengan anak nya,apa lagi saat ia sakit,ia selalu ingin bersama anak-anak nya berkumpul.


"bagaimana keadaan mamah ..?" Tanya Arjuna yang kini sudah berhadapan langsung pada dokter Fery yang menangani Yanti.

__ADS_1


"Nyonya besar hanya kelelahan saja,masalah jantung nya ,dia hanya tidak boleh stres ..!" Jelas dokter Fery.


Arjuna berjalan menuju ruangan Yanti,di sana ada dua perawat yang berjaga khusus di tugaskan Arjuna untuk selalu mengawasi dan membantu segala keperluan sang ibu.


"Bagaimana,apa sudah baikan..?" Tanya Arjuna sambil menggenggam erat tangan sang ibu.


"Tidak jika kau pergi dari sini..!" Jawab Yanti dengan datar,berharap jika Arjuna tetap berada bersama nya.


"Mah..aku mohon,mengerti lah,Dinda juga butuh aku ,aku tak mungkin meninggalkan nya terlalu lama..!" Jelas Arjuna mencoba memberi pengertian.


"Juna,apa kau begitu mencintai Dinda..?" Tanya Yanti dengan tatapan menusuk.


"Mah,dia isteri ku sekarang,dan dia juga tengah hamil anak ku,kenapa mamah menanyakan itu lagi,aku mohon mengerti lah..!" Pinta Arjuna memelas.


"Dulu,aku tak mempermasalahkan Dinda sebagai adik Cantika,tapi aku tak pernah setuju kau menikahi nya,aku kira pernikahan kalian hanya permainan,kau tau dia wanita tak jelas asal usul nya,tak bisa bersanding dengan keluarga kita. .!" Ucap Yanti dengan panjang lebar.


Arjuna menghela nafas halus nya,sambil menahan emosi nya.


"Mah,apa penting semua itu,Dinda wanita baik,aku tak pernah masalah dengan masa lalu Dinda,apa yang mamah tau dan dengar,tidak semua nya benar mah,percaya lah pada ku,Dinda wanita baik..!" Tambah Arjuna.


"Aku tak tau bagaimana menjelas kan nya lagi,yang perlu kau tau,aku tak bisa menerima Dinda untuk saat ini,kau pulang lah..temui istri mu..!" Usir Yanti sambil melepaskan genggaman tangan Arjuna dengan pelan.


"Apa kau tak lelah harus bolak-balik ke luar kota..?" Tanya Yanti


"Tidak apa-apa,kalian sama penting nya untuk hidup ku,nanti setelah urusan kami selesai di luar kota,aku akan mengajak Dinda menemui mamah..!" Jawab Arjuna


"Tidak perlu mengajak nya..!" Potong Yanti dengan sedikit angkuh.


"Mah,coba lah menerima Dinda, sebentar lagi ia akan melahirkan keturunan pertama keluarga Wiguna,aku tak ingin kalian membenci nya,dalam darah anak itu,ada darah ku,darah papah dan mamah..!" Ucap Arjuna yang kemudian berlalu .


Yanti meneteskan air mata,ia bahagia mendengar kabar kehamilan istri Arjuna,namun di sisi lain,ia tak suka jika Dinda lah wanita itu,ia sudah lama mengharap seorang cucu yang akan menemani nya di masa tua.


"Kenapa harus Dinda..!" Gumam nya pelan sambil menghapus kasar air mata yang meleleh di pipi nya.


Arjuna pergi ke perusahaan sebelum kembali ke rumah sakit Kean Wi di mana ayah mertua nya di rawat,ia menyelesaikan beberapa urusan di sana.


Hampir 2 jam ia berkutat di depan laptop nya, kemudian ia pulang ke mansion sekedar mandi dan berganti pakaian.

__ADS_1


Dddrrt


Handphone Arjuna bergetar saat ia keluar dari kamar mandi nya.


"Baim..10x !" Gumam Arjuna sambil mengusap rambut nya yang basah.


Ia bisa menebak,jika ada yang tak beres terjadi di sana,ia bergegas memakai baju dan turun langsung menuju rumah sakit Kean Wi


Arjuna menghubungi Baim beberapa kali,namun tak mendapat kan jawaban dan itu membuat rahang nya mengeras.


"Brengsek...!" Umpat nya sambil meremas keras handphone di tangan nya.


"cepat bawakan oksigen ke ruangan Nyonya..!" Ucap dokter Dedy yang panik melihat Dinda kesulitan bernafas.


Para perawat dan dokter tengah sibuk menangani Dinda yang tiba-tiba jatuh pingsan dan mengalami sesak nafas.


Di ruangan lain,Renata dan Yunita serta Kristian berusaha pergi dari sana setelah Dinda di tangani di ruang perawatan.


"apa yang kalian lakukan pada Nyonya Dinda..cepat katakan..!" bentak Baim pada ke tiga orang yang sudah penuh dengan keringat kegugupan itu.


"Dia syok saat tau ayah tak bisa di selamat kan..!" jelas Yunita sambil meremas tangan Renata yang tak kalah gugup nya.


"biar kan kami pulang,kami akan segera mengadakan proses pemakaman,untuk apa kau menahan kami di sini..!" ketus Renata pada Baim yang menatap mereka dengan tatapan menyelidik.


"aku sudah menyuruh orang-orang ku untuk mengurus pemakaman ayah Nyonya ,kalian hanya harus siap-siap menerima amukan dari tuan,jika kalian lah dalang dari kejadian ini..!" tutur Baim dengan emosi .


ke tiga orang itu saling pandang dengan kegugupan yang sama,mereka tak tau bagaiman jika kali ini hidup mereka yang akan jadi taruhan.


"mah bagaimana ini..!" bisik Yunita.


"ini semua gara-gara suami brengsek mu itu,jika sesuatu terjadi,aku akan bicara yang sebenar nya,jangan harap aku akan terus menutupi kebusukan suami mu jika sampai nyawa kita yang menjadi taruhan nya..!" jawab Renata


"ciihh ..kalian akan ikut bersama ku ke dalam kehancuran yang sudah kita ciptakan bersama..!" ucap Kristian


🌹🌹🌹🌹


selalu beri dukungan kalian untuk cerita ini

__ADS_1


mampir juga ke cerita aku yang lain


Cinta Nayna


__ADS_2