
"sebenar nya...aku...!" Dengan tergagap Edwin diam kembali.
"Kata kan..apa yang terjadi...!" Ucap Dinda menatap Edwin di depan nya.
"Aku...tapi janji kau harus diam dan biar kan aku menyelesaikan kalimat ku...!" Pinta Edwin yang begitu tegang sambil menatap Dinda yang tersenyum.
"Hhhmmm..serius sekali..apa yang terjadi...?" Tanya Dinda kembali.
"Diam lah..jangan bertanya dulu,biar kan aku selesai berbicara ,kau membuat ku tambah gugup...!" Jawab Edwin bersandar pada kursi di samping Dinda .
"Hehe...kau lucu sekali..!" Canda Dinda yang sedari tadi menahan tawa nya.
"Ok aku akan diam..kata kan..kau punya waktu 5 menit,aku akan diam dan mendengar kan nya..!" Tambah Dinda yang kali ini dengan wajah serius nya.
"Ehhheemm...!" Edwin berdehem terlebih dulu menetralkan rasa gugup nya.
"Setelah kita bersama beberapa saat ini,aku merasa ada yang berbeda dari ku,aku sudah menepis semua,berharap itu tak benar,namun hati ku selalu mengelak dan terus berontak ,aku sudah tak bisa lagi menyimpan nya..,aku mencintaimu...!" Ucap Edwin dengan sendu menatap Dinda .
Duuaarrr...
Bagai tersambar petir,Arjuna begitu marah dan ingin segera menghabisi laki-laki di depan nya itu,sungguh gila, bagaimana tidak,Edwin tau betul jika Dinda sekarang berstatus sebagai isteri orang lain dan tengah mengandung buah cinta mereka.
Saat Arjuna akan membuka pintu,langkah kaki nya terhenti mendengar penuturan Dinda .
"I Love you to..!" Balas Dinda meraih tangan Edwin di depan nya.
Kaki Arjuna melemas,buket bunga yang ia bawa ikut jatuh di bawah kaki nya,benar kah Dinda menyukai laki-laki lain selain diri nya.
Arjuna berjalan gontai ke luar rumah sakit dengan dada sesak dan beribu emosi yang memenuhi hati nya.
Dengan gila Arjuna mengemudikan mobil nya dengan laju yang tak menentu entah ke mana arah tujuan nya,ia ingin meluap kan emosi nya kali ini,bahkan jika di ijin kan ,ia ingin menghabisi Edwin dan Dinda yang di anggap nya telah mengkhianati pernikahan mereka.
Di lain tempat ,masih di rumah sakit tepat di ruangan Dinda ,terdengar suara cekikikan yang tiada henti,Dinda berulang kali meminta suster untuk menemani nya ke toilet untuk melepaskan dahaga nya,ia terlalu lucu mendengar Edwin .
"Terus..kau terus saja tertawa seperti itu...!" Ucap Edwin dengan kesal menatap Dinda yang terus menertawakan diri nya.
"Jika kau menyatakan cinta mu seperti tadi,aku yakin Dewi pasti akan lari,kau terlalu berbelit-belit,dan ekspresi mu itu...hhaahhhaa...!" Tawa Dinda kembali pecah saat mengingat Edwin yang belajar menyatakan cinta barusan.
Benar,Edwin meminta bantuan Dinda berlatih menyatakan cinta pada gadis pujaan nya,Dewi seorang model yang menjadi langganan tetap butik Dinda .
__ADS_1
seorang lelaki matang,yang biar bagaimanapun juga ia tak paham dalam masalah perasaan,hingga ia begitu takut dan merasa tak bisa mengatakan perasaan nya sendiri pada gadis pujaan nya.
"Apa dia juga mencintai ku...!?" Tanya Edwin yang kini uring-uringan di sofa.
"Percaya saja,dan yakin kan dia,jika kau lelaki yang bertanggung jawab..aku mendukungmu ..!" Ucap Dinda menyemangati teman nya itu.
"Aku akan kembali ke butik, sebentar lagi ada janji dengan klien yang di kota G..!" Jelas Edwin sambil menatap arloji nya.
"hhhmm tak apa..kembali lah,mungkin kakak sebentar lagi akan datang..!" Ucap Dinda ,padahal ia sendiri merasa aneh,kenapa Arjuna belum juga datang,padahal ia berjanji hanya sebentar ,tapi ini sudah hampir jam satu siang,Arjuna melewatkan jam makan siang nya bersama Dinda.
"Apa kau telepon saja dulu dia..?" Usul Edwin yang merasa tak enak meninggalkan Dinda sendiri.
Dinda mengambil handphone di samping nya,menekan nomor Arjuna ,namun sudah beberapa kali mencoba, handphone nya tak bisa di hubungi.
"Mungkin kakak sedang sibuk,kau kembali lah,aku akan minta temani suster..!" Ujar Dinda .
Edwin bersiap untuk pergi dari sana,namun setelah ia membuka pintu,ia mendapati sebuah buket bunga dan sekantong makanan yang tergeletak tak bertuan di depan ruangan Dinda .
"Kenapa..?" Tanya Dinda yang melihat Edwin mematung di depan pintu.
"Ini..!" Ucap Edwin memperlihatkan Bungan dan kantong yang berisi makanan yang telah ia pungut.
"Tidak mungkin bukan..?" Tanya Dinda yang cemas.
"Sebentar,aku akan tanya resepsionis di depan..!" Ucap Edwin menenangkan Dinda .
Edwin mencari informasi tentang kehadiran Arjuna di sana,dan tepat seorang satpam mengatakan jika Arjuna pergi setengah jam lalu dengan tergesa-gesa.
Dinda yang begitu cemas terus menelpon Arjuna,namun tak tersambung sama sekali.
"Apa kakak di kantor..?" Tanya Dinda pada Baim melalui telepon.
"...."
"Baik lah..!" Ucap Dinda kemudian mematikan telepon nya.
Edwin masuk dengan keadaan cemas.
"Setengah jam lalu dia datang dan tak lama ia pergi dengan terburu-buru,begitu informasi yang aku dapat dari satpam di bawah..!" Jelas Edwin
__ADS_1
Dinda makin takut,pikiran nya sudah tak karuan.
"Aku ingin keluar dari sini,bantu aku..!" Pinta Dinda pada Edwin.
"Jangan aneh-aneh,kau masih sakit..aku akan mencari nya dan menjelaskan semua nya ,kau di sini saja..!" Tolak Edwin.
"kau tidak mengenal kakak,ia tidak akan mendengar mu..biar kan aku yang menemui nya..!" Bujuk Dinda dengan perasaan cemas.
"Aku tidak bisa membiarkan itu,kau membahayakan diri mu..!" Ucap Edwin
Dinda menangis,ia begitu takut Arjuna salah paham,ia tau bagaimana Arjuna .
"Kak,apa kakak sudah di kantor...?" Tanya Dinda kembali yang menelpon Baim,namun Baim tak mengetahui keberadaan Arjuna saat ini.
Dengan paksaan dari Dinda ,Edwin menyetujui keinginan Dinda untuk pergi mencari Arjuna dengan catatan ,ia harus kembali ke rumah sakit lagi nanti sore,karena keadaan Dinda yang belum stabil.
Tujuan pertama Dinda adalah perusahaan Arjuna .
"Nyonya..kenapa anda di sini..?" Tanya Baim yang begitu terkejut melihat Dinda datang menggunakan kursi roda bersama Edwin.
"Di mana kakak..aku ingin bicara...!" Ucap Dinda langsung tanpa menjawab pertanyaan Baim.
"Tuan belum kembali,bukan kah tuan di rumah sakit bersama anda..!" Jelas Baim.
Dinda tertunduk lemas,kemana Arjuna pergi,Dinda menjelas kan semua yang terjadi pada Baim.
seperti Dinda ,Baim pun ikut melacak di mana keberadaan Arjuna saat ini,sedang kan Dinda ,ia begitu cemas memikirkan Arjuna ,memang ini hanya salah paham,tapi ia begitu takut jika Arjuna tak mau mendengar kan penjelasan nya.
"tenang lah..aku akan membantu mu menjelas kan pada nya..!" ucap Edwin menenangkan Dinda yang menangis.
🌹🌹🌹
like
vote
komentar
dan hadiah dari kalian aku tunggu sekali
__ADS_1
aku selalu membaca komentar kalian semua yang jadi penyemangat aku,thanks semua..