
Dinda memegangi kepala nya yang pusing,mengumpulkan semua ingatan sebelum ia terlelap.
"ayah..!" gumam nya kecil,dengan pelan ia mengangkat tangan Arjuna ,mencoba bangun tanpa menggangu Arjuna.
"kakak pasti sangat lelah..!" ucap Dinda pelan sambil menaikkan selimut
Ddddtt
handphone Arjuna bergetar di samping nya,ia tak berani mengangkat telepon itu,namun ia juga tak bisa membiarkan,takut ada hal yang penting.
"cepat datang jika ingin melihat mamah mu sekarang..!"
klik
Belum sempat Dinda menjawab,sambungan telepon itu sudah terputus ,namun bukan hal itu yang jadi masalah,ini tentang pikiran Dinda pada orang tua Arjuna,apa kah keadaan sang mertua memburuk,kenapa Arjuna tak mengatakan apa pun pada nya.
Pelan,Dinda meletakkan handphone itu,menatap wajah Arjuna dengan penuh kelembutan.
"kak...!" panggil Dinda sambil mengelus lembut wajah yang selalu membuat nya tenang.
"huum ..kau sudah bangun..!" ucap Arjuna dengan suara parau nya.
"tadi papah telepon,dan meminta kakak untuk cepat ke rumah sakit..!"
deg ..
jantung Arjuna berdetak begitu cepat,apa yang terjadi pada sang mamah..
"kita berangkat sekarang,kau ikut dengan ku..!" tambah Arjuna yang langsung bersiap ,membuat Dinda tak sempat mengatakan apa pun pada nya.
Tidak perlu waktu lama,mereka sampai pada rumah sakit,dengan sedikit tergesa-gesa,Arjuna menuntun Dinda menuju ruangan sang mamah.
Dari ujung lift,mereka telah di suguhi tatapan sinis dari tuan Albert.
"papah...!" panggil Arjuna.
"kau sudah membuat mamah mu menunggu terlalu lama..!" ucap Albert dengan nada penekanan sambil melirik Dinda yang sedari tadi menunduk di belakang Arjuna.
"maaf kan aku,aku akan menemui mamah..!" jawab Arjuna yang masih memegang erat tangan Dinda..
"tunggu..,kau tidak boleh membawa nya masuk ,itu akan membuat kondisi mamah mu tambah parah..!" jelas tuan Albert yang menatap tajam pada Arjuna.
__ADS_1
"pah,ayo lah..dia isteri ku..!" ucap Arjuna memelas.
"kak,Dinda akan tunggu di sini,kakak masuk lah..!" kata Dinda memberikan pengertian pada Arjuna,ia sadar jika di sini ia tak di perlu kan,namun ia juga harus mendampingi suami nya di saat seperti ini.
Arjuna menggeleng lemah,ia takut jika Dinda sendiri di luar bersama papah nya yang jelas tak menyukai Dinda,namun Dinda memberikan pengertian pada Arjuna ,jika ia akan baik-baik saja.
"aku akan menunggu kakak di kursi itu,masuk lah..!" ucap Dinda sambil mengusap lembut tangan Arjuna yang sedari tadi menggenggam tangan nya.
Arjuna membantu Dinda duduk dengan benar di kursi itu,baru lah ia masuk ke ruangan sang mamah.
"mah..!" panggil Arjuna sambil menggenggam tangan Yanti.
"Juna ,kau di sini...!" ucap Yanti sambil tersenyum melihat wajah tampan anak nya.
"huum ..aku bersama Dinda,ia di luar,boleh kah aku mengajak nya masuk..?" tanya Arjuna dengan hati-hati,ia juga takut membuat kondisi sang mamah kacau kembali.
Yanti hanya diam,ia masih tak mau bertemu Dinda,dan Arjuna paham akan hal itu.
"bisa kah kau temani mamah sebentar...!" pinta Yanti yang mendapat anggukan dari Arjuna.
ceklek
Pintu kamar mandi terbuka,terlihat seorang wanita yang begitu Arjuna kenal.
"tuan...!" sapa Feby dengan senyuman pada Arjuna,namun wajah datar Arjuna jelas memberikan respon jika ia tak menyukai wanita itu.
"baik lah,aku keluar dulu Tante..!" pamit Feby pada Yanti.
Di luar Dinda duduk sendiri ,jauh dari Albert, sesekali ia melirik pintu yang tertutup rapat itu.
"semoga mamah tidak apa-apa..!" gumam Dinda kecil,namun ia tersentak kaget saat seorang wanita keluar dari ruangan itu memberikan senyuman sinis pada Dinda.
Entah apa yang di bicarakan Feby dengan Albert ,Dinda tak mendengar dengan jelas,ia di buat risih dengan senyuman mengejek yang selalu di berikan Feby pada nya setiap melirik Dinda.
Dinda bangkit dari kursi nya,berjalan pelan menuju toilet ,karena ia tak nyaman berada di sana.
"tenang...!" ucap Dinda pada diri nya sendiri,ia mencuci wajah nya sembari mengibaskan pelan tangan di depan wajah nya sendiri.
"seburuk itu kah diri mu di mata ke dua orang tua Arjuna..?"
deg
__ADS_1
Dinda menegang di tempat nya mendengar kalimat itu.
Feby berjalan dengan santai,berdiri di samping Dinda yang mematung.
"ternyata mereka begitu tak menyukai mu..!" tambah Feby
"aku tak butuh kalimat mu,kau simpan saja..!" ucap Dinda dengan tenang.
"kalau aku jadi mu,aku akan sangat sedih karena mereka tak menganggap mu ..!" ejek Feby .
"terimakasih atas perhatian mu,permisi...!" balas Dinda dlengan sikap setenang mungkin.
"berengsek...!" umpat Feby yang sangat kesal karena Dinda tak termakan hasutan nya.
Dinda berjalan ke luar dengan perasaan kacau,benar apa yang di katakan Feby,ia tak di perlukan di keluarga Wiguna ,bahkan mereka dengan terang-terangan menyuruh Dinda untuk meninggalkan Arjuna waktu di rumah sakit.
Dinda duduk di taman rumah sakit,ia merasa sesak di dalam sana,telinga dan mata nya tak sanggup menahan lagi,hanya ini yang bisa ia lakukan,sendiri tanpa melihat yang lain.
"kakak..!" gumam Dinda yang tak mampu lagi menahan tangis nya,kenapa dunia ini begitu kejam pada nya,dulu bahkan ayah nya juga tega mengusir nya kerena hasutan kakak tiri nya, sekarang ia di hadap kan lagi pada keluarga Wiguna yang menentang pernikahan nya.
Dinda terisak sambil memegangi perut nya yang sedikit keram.
"sayang tenang lah.. mommy tak apa-apa..!" ucap Dinda sambil mengusap perut buncit nya.
Di ruangan Yanti,Arjuna tengah membantu menyuapi sang mamah makan siang nya,dengan telaten ia mengupas kan buah dan sampai Yanti meminum obat nya.
"mamah istirahat lah..aku akan menunggu di sini..!" pinta Arjuna ,ia begitu menyayangi sang mamah ,apa lagi hati nya sekarang sedang sakit melihat sang mamah tak berdaya di tambah rasa tak suka sang mamah pada isteri nya.
"apa yang harus aku lakukan agar mereka menerima Dinda..!" gumam Arjuna pelan, kemudian dengan perlahan ia berdiri dari kursi nya,berjalan pelan membuka pintu.
"bagaimana mamah mu..?" tanya Albert yang duduk bersama Feby.
"mamah tidur ..!" jawab Arjuna ,mata elang nya menatap bangku kosong yang di duduki Dinda sebelum ia masuk tadi.
"di mana Dinda ..?" tanya Arjuna sambil menunjuk bangku kosong itu,namun mereka diam dengan mengangkat bahu nya.
Arjuna menutup mata nya sesaat meredam emosi yang bisa saja ia lontarkan .
"jika kalian berbuat sesuatu pada nya,maka jangan salah kan aku..!" ucap Arjuna yang berlalu sambil berlari dari sana.
🌹🌹🌹
__ADS_1
Jangan lupa like nya, support kalian sangat berarti buat saya😘😘