Wasiat Terakhir

Wasiat Terakhir
Maaf


__ADS_3

Ruang kerja dengan AC yang cukup dingin itu terasa panas,bukan karena banyak nya orang yang berjejer,namun ketegangan yang menyelimuti semua pelayan mansion itu mencapai puncak saat Arjuna menatap tajam satu persatu di antara mereka.


"Kenapa semua diam..?" Tanya Arjuna yang menatap jejeran manusia yang berbaris di depan nya.


"Kau...!" Tunjuk Arjuna pada pelayan yang di khusus kan untuk memasak di mansion nya.


"Apa Dinda makan dengan benar dari semalam..?" Tanya Arjuna dengan menggerakkan pulpen di atas meja


Pelayan itu maju satu langkah dengan masih menunduk


"Nyonya langsung masuk ke kamar sehabis dari pesta itu,dan Nyonya hanya sarapan roti dan susu, Nyonya menolak sarapan..!" Jelas pelayan itu dengan sedikit gugup.


Arjuna diam kemudian menunjuk sopir Dinda,hingga sang sopir maju selangkah ke depan.


"Nyonya merasa sakit di bagian perut hingga kami berinisiatif untuk membawa nya ke rumah sakit tadi pagi..!" Jelas sang sopir.


Bbrrukk...


Arjuna berdiri sambil mengibaskan tangan nya hingga mengenai Gucci indah di samping nya.


pranngg


"Lalu kenapa tak seorang pun memberi tahu ku..?" Ucap Arjuna dengan tatapan tajam .


"Jawab..!" Ucap Arjuna sedikit berteriak,dan itu membuat keadaan di dalam sana makin mencengkram.


"Saya sudah menghubungi tuan beberapa kali,tapi handphone anda tidak bisa di hubungi..!". Jelas sopir itu kembali.


"Bukan kah kau bisa menghubungi asisten ku..!" Ucap Arjuna yang marah pada keadaan tadi pagi.


Semua masih menunduk di depan Arjuna, semua merasa mati rasa karena takut amukan dari sang majikan.


"Keluar...!" Sanggah Arjuna pada semua pelayan di depan nya.


"Panggil perawat itu ke sini..!" Suruh Arjuna pada salah satu pelayan nya .


Arjuna duduk di kursi kebesaran nya sambil memikirkan Dinda tadi pagi tanpa dirinya.


"Maafkan aku..!" Gumam Arjuna.


Pintu kerja Arjuna di ketuk pelan.


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


"Masuk...!" Ucap Arjuna.


Perawat itu berjalan menunduk saat memasuki ruang kerja Arjuna,ini untuk pertama kali bagi nya berhadapan langsung dengan petinggi yang memberikan nya pekerjaan.


"Jelas kan pada ku sedetail-detailnya tentang keadaan istri ku saat ini..!" Ucap Arjuna dengan tatapan tajam nya.


"Nyonya mengalami kontraksi,seperti nya nyonya terlalu banyak berpikir dan kurang istirahat ,nyonya juga tidak makan dengan benar ,tapi semua sudah terkendali,nyonya hanya perlu istirahat beberapa hari dan jangan stres..!" Jelas perawat itu,kemudian ia keluar dari sana atas perintah Arjuna yang ingin sendiri di ruang kerja itu.


Arjuna kembali ke kamar setelah mendapat penjelasan dari semua pelayan.


Ia membuka selimut tebal itu dan ikut masuk ke dalam nya,meraih pinggang Dinda yang berisi,dengan pelan mengangkat kepala Dinda untuk di tidurkan di tangan nya.


"Maaf kan aku..!" Hanya kata itu yang terucap dari Arjuna, berulang kali ia mengecup lembut pucuk kepala Dinda.


Arjuna tertidur sambil memeluk Dinda dengan erat,sampai siang menyapa,ini sudah waktu nya makan siang,namun Dinda masih tertidur lelap.


"Sayang...!" Panggil Arjuna yang membelai lembut pipi Dinda.


Perawat di samping nya masih menunggu setia,karena sudah waktu nya ia melepaskan infus di tangan Dinda.


"Kau,lepas kan saja infus nya,aku akan memegangi nya agar tak bergerak banyak..!" Ucap Arjuna yang memegangi tangan Dinda.


Dengan pelan perawat itu melakukan tugas nya dengan cukup bagus,setelah selesai ia permisi untuk kembali ke rumah sakit.


"Sayang,bangun lah,aku sudah begitu merindukan mu..!" Ucap Arjuna sambil mengelus perut Dinda yang membuncit


Arjuna masih setia di samping Dinda yang tertidur,sesekali ia mengecup tangan Dinda yang berada di genggaman nya,hingga saat Dinda tiba-tiba memanggil nama seseorang


"KA Cin,Dinda ingin ikut kakak..!" Ucap Dinda yang masih terpejam.


Arjuna tercengang bukan main saat Mendengar Kalimat yang terucap di saat Dinda tertidur,ia menutup buku yang di baca nya,kemudian meletakkan ke samping,ia berusaha membangun kan Dinda.


"Din....!" Panggil Arjuna sambil menggoyangkan bahu Dinda.


"Bangun..kau sudah terlalu lama tidur..!" Ucap Arjuna kemudian.


Dinda melenguh dengan keringat dingin di dahi nya.


Sungguh hati nya bergetar hebat mendengar semua yang Dinda ucapkan ,meski hanya mimpi.


Dinda mengerjap kan mata beberapa kali saat melihat wajah tampan berada di depan nya,hanya berjarak beberapa sentimeter


"kakak...?" Ucap Dinda serak khas seorang bangun tidur.

__ADS_1


Arjuna memeluk Dinda dengan erat "jangan tinggalkan aku..!" Lirih Arjuna di belakang telinga Dinda.


Dinda bingung melihat Arjuna yang melow siang ini.


"Kenapa di sini,apa tidak ke kantor atau ke rumah sakit lagi..?" Tanya Dinda dengan sedikit ngilu di hati nya .


"Apa kau marah pada ku ..?" Tanya Arjuna dengan sendu menatap Dinda yang menunduk.


Dinda tersenyum samar dan hampir tak terlihat.


"Din,jawab aku, jangan diam saja..marah lah pada ku,atau pukul aku,luapkan apa yang ada di pikiran mu,aku siap menerima nya..!" Ucap Arjuna sambil meremas pundak Dinda secara lembut.


"Untuk apa aku melakukan semua itu pada kakak..?" Tanya Dinda kemudian berlalu dari Arjuna yang masih duduk di tepi ranjang.


Dinda keluar dari kamar dengan bersikap acuh pada Arjuna,ia marah dan kecewa,kenapa semalaman itu ia tak pulang,apakah ia tak memikirkan perasaan Dinda .


Dinda menyiapkan susu hangat nya sendiri,kemudian mengoles roti dengan selai buah yang ia suka.


Arjuna mendekat mencoba bersikap tenang ,ia ingin marah,tapi ia sadar di sini dia lah yang salah.


Arjuna menghampiri Dinda yang sibuk mengoles roti nya seorang diri.


"Kenapa cuma roti,kau harus makan nasi ,bukan kah kau belum makan dari tadi pagi..?" Tanya Arjuna menghentikan tangan Dinda.


"Aku belum ingin makan yang lain..!" Jawab Dinda tanpa melihat Arjuna .


Dinda membawa roti dan susu nya ke meja makan dengan terus mengabaikan Arjuna di samping nya.


Arjuna menarik kursi di samping Dinda,tangan nya terulur menyelipkan rambut Dinda agar lebih mudah memakan roti nya.


Arjuna tak tau harus apa lagi agar tak di acuh kan terus menerus oleh istri nya itu,ia begitu merindu akan sikap Dinda yang cerewet dan manja,karena dari sana lah ia mendapat kebahagiaan sebagai seorang suami.


"apa kau kenyang dengan memakan roti saja..?" tanya Arjuna masih menatap nanar wajah cantik di sebelah nya.


"hhhhmmm..!" ucap Dinda tanpa membuka mulut nya.


Arjuna maju lebih dekat untuk mengelus perut Dinda yang membuncit.


"maaf, percaya lah,papah menyayangi kalian ..!" gumam Arjuna pelan ,kemudian berdiri dan berlalu dari sana tanpa mengatakan apapun lagi.


🌹🌹🌹🌹🌹


Semangat menyambut esok hari..


terimakasih yang tetap setia menemani Wasiat Terakhir hingga di titik ini,semua sudah cerita sudah terpola dari awal dan tak bisa di ubah.

__ADS_1


like and vote sayang...😘😘


__ADS_2