Wasiat Terakhir

Wasiat Terakhir
Kehilangan


__ADS_3

Hujan turun dengan sendu,menemani pagi yang tak menampakkan mentari penuh,ia tertutup oleh hitam nya awan yang mengawali hari.


pakaian serba hitam memenuhi mansion keluarga Dinda ,yaa di sini lah Dinda sekarang,di tempat yang membuat nya sesak,sesak akan ingatan masa lalu yang begitu pilu,di mana ia di perlakukan tak adil,bukan salah sang ayah,namun karena kejam nya fitnah yang terus di lontarkan oleh Renata dan Yunita.


berbekal kursi roda,Arjuna menggiring Dinda dengan Baim yang setia memegangi payung di samping Dinda ,tak apa jika jas formal milik Baim basah,yang pasti ia akan terus melindungi Dinda sebagai istri dari tuan nya,dan seorang adik untuk nya.


Dengan dibaluti mantel bulu halus,Dinda bersama Arjuna masuk ke mansion itu menerobos hujan yang sedikit turun.


"kau tidak apa-apa ..?" tanya Arjuna yang masih khawatir akan mental Dinda ,ia takut jika trauma Dinda kembali saat masuk ke mansion yang jadi saksi kesakitan nya dulu.


"hhhmmm,aku baik-baik saja. !" jelas Dinda yang masih menggenggam ujung mantel nya dengan sedikit lekat.


Arjuna menatap semua dalam diam,ia tau jika Dinda hanya pura-pura tegar dalam hal ini,tapi ia tak bisa membuat Dinda lari dari semua nya,ini yang terakhir untuk Dinda menginjakkan kaki di mansion yang kelam bagi nya.


"aku ingin di samping ayah...!" ucap Dinda pada Arjuna yang mendorong kursi roda nya saat di depan pintu.


Arjuna melewati beberapa orang yang menatap kaget pada Dinda yang datang,ini sudah lama,sejak kejadian itu mereka tak pernah melihat Dinda atau sekedar mendengar kabar tentang nya.


"bukan kah itu Dinda..!"


"kenapa bersama tuan muda Wiguna..?"


"apa di cacat hingga menggunakan kursi roda.."


desas desus itu sangat jelas terdengar di telinga Arjuna ,namun ia tak menanggapi,yang terpenting bagi nya Dinda baik-baik saja dan mampu melewati ini dengan kuat.


Dinda duduk di atas karpet tepat di samping jasad sang ayah yang terbujur kaku,tubuh nya gemetar menyadarkan diri nya jika setelah ini ia tak bisa lagi menatap sang ayah.


lelehan bening yang menghiasi wajah Dinda membuat Arjuna sakit,ia ikut sedih dengan keadaan Dinda saat ini.


"hey,,tenang lah..aku ada bersama mu..!" ucap Arjuna sembari merangkul Dinda dari samping.


"kak,jangan tinggalkan Dinda..!" pinta nya dengan nada sayu


"apa yang kau katakan..jangan bicara seperti itu lagi..!" ketus Arjuna.


Bagaimana mungkin ia akan meninggalkan Dinda ,ia bukan pria bejat yang tak punya hati dan tanggung jawab.

__ADS_1


Iringan mobil memenuhi pemakaman di tempat peristirahatan terakhir sang ayah,tangan yang gemetar itu sejak tadi tak pernah lepas dari genggaman Arjuna .


Sampai pada peletakkan batu nisan,Dinda masih setia memandangi sosok sang ayah yang tak terlihat lagi,tak begitu jauh dari Dinda ,Renata dan Yunita terlihat juga menangis,entah itu benar atau hanya pura-pura,Arjuna tak mempermasalahkan nya,ia hanya tak akan membiarkan mereka mengganggu Dinda lagi.


Satu persatu orang telah pergi dari pemakaman itu,hanya Dinda yang tetap duduk memegang foto sang ayah


"sayang,kau sudah lama duduk di sini,sebaik nya kita pulang,ini hampir siang..!" jelas Arjuna membuka suara nya.


Dinda tak menangis lagi,namun kesedihan itu nampak sangat terasa, kesakitan itu jelas terlihat oleh Arjuna.


"ayah,aku pulang..aku akan selalu menyempatkan diri untuk ke sini,ayah harus bahagia..!" ucap Dinda kemudian berdiri di bantu Arjuna,namun hanya beberapa langkah,pandangan Dinda tiba-tiba menghitam dan ia tak bisa menjaga keseimbangan nya.


bugh ...


Dinda jatuh ke pelukan Arjuna yang sudah sigap menghadang,dengan cepat Arjuna membawa nya ke mobil dengan Baim yang mengendarai nya.


"cepat,atau kepala mu akan jadi taruhan nya..!" ancam Arjuna.


Dengan kecepatan penuh Baim menuju rumah sakit kembali,ia tak menghiraukan rambu lalu lintas lagi,pikir nya biar lah itu urusan belakangan,yang terpenting sekarang Dinda harus segera sampai ke rumah sakit.


"panggil dokter Chandra sekarang .!" teriak Arjuna pada para perawat yang ikut kaget melihat Arjuna menggendong Dinda..


Dengan sigap dokter datang dan memeriksa keadaan Dinda ,dengan tatapan tajam nya,Arjuna melototi semua makhluk di dalam ruangan itu,seolah mengancam mereka jika terjadi hal buruk pada isteri nya.


"tuan,nyonya hanya syok dengan kematian ayah nya, usaha kan nyonya makan teratur,agar kondisi tubuh dan bayi nya tetap baik..!" jelas dokter .


Arjuna duduk kembali di sebelah Dinda ,ia memegang tangan Dinda yang sudah di pasang kan infus.


"tuan..!" ucap Baim yang mendekat saat Arjuna menggerakkan satu jari nya.


"siap kan jet ku sekarang,aku akan membawa Dinda ke mansion,tidak aman untuk nya tetap berada di sini ..!" jelas Arjuna .


Dengan cekatan,Baim menyiapkan semua keperluan dan beberapa dokter yang akan ikut bersama mereka terbang ke mansion.


"sayang,kita akan pulang,aku tak akan membiarkan kau menderita di sini dengan manusia-manusia rakus itu..!" gumam Arjuna .


Setelah persiapan yang sedikit alot,Arjuna membawa Dinda menggunakan jet nya untuk pulang ke mansion,karena ia tak bisa lama berada di luar kota, sementara pekerjaan nya sudah menunggu.

__ADS_1


"kenapa dia masih belum bangun..?" tanya Arjuna dengan tatapan tajam pada ke dua dokter yang ikut terbang bersama mereka.


"nyonya hanya tertidur,mungkin saat sampai di mansion nyonya akan bangun..!" jelas dokter dengan gugup akibat tatapan tajam Arjuna yang seperti membidik nya.


Tanpa melepas genggaman nya,Arjuna ikut berbaring di samping Dinda ,mengusap pipi mulus Dinda.


"istirahat lah,jangan memikirkan apa pun,aku akan selalu bersama mu .!" gumam Arjuna yang di akhiri dengan kecupan hangat di kening Dinda .


*******


"kakak...Dinda rindu...!"


"hhhmmm...kau tidak boleh sedih,ingat kandungan mu,dan mas Arjuna ,ia mengkhawatirkan mu..!" ucap seorang perempuan cantik yang mengulas senyum manis itu.


"tapi Dinda ingin bersama kakak dan ayah..!" lirih Dinda dengan sedikit isakan.


"nak,maaf kan ayah,kau harus tetap bahagia bersama suami mu..!" petuah sang ayah yang memegang pundak Dinda ,kemudian menghilang di balik cahaya terang di ujung lorong,tak jauh seperti sang ayah..Cantika pun ikut berlalu dari sisi Dinda dengan senyum termanis nya.


*****


Dinda mengerjap kan mata, menyesuaikan dengan cahaya yang baru masuk ,tangan nya terasa sedikit berat hingga ia tak mampu menggerakkan,ia tatap ke samping,terlihat Arjuna sedang tidur sambil memegang tangan kiri nya.


"bukan nya ini di kamar..!" gumam Dinda yang berusaha mengingat semua yang baru terjadi.


🌹🌹🌹🌹


Selamat siang


selamat beraktifitas


sehat selalu untuk kalian


jangan lupa like dan vote nya yang banyak😘😘


Mampir juga ke cerita aku yang lain


Cinta Nayna

__ADS_1


terimakasih kakak πŸ™πŸ™


__ADS_2