Wasiat Terakhir

Wasiat Terakhir
Yang sebenarnya


__ADS_3

"kenapa papah melakukan nya..?" tanya Arjuna ,kini Albert mendatangi kantor Arjuna sekedar melihat reaksi sang anak.


"aku hanya ingin melihat,sejauh mana ia mencintai mu, seberapa tulus rasa cinta nya pada mu,bisa saja ia hanya menginginkan harta mu..!" jelas Albert dengan santai.


"pah,Dinda bukan wanita seperti itu,papah menggunakan kelemahan nya hingga membuat dia meninggal kan ku..!" ucap Arjuna


"ya aku tau Dinda wanita penurut,apa lagi ini menyangkut kebahagiaan mu..!" tambah Albert.


"aku sangat bahagia pah,dia sedang hamil,aku khawatir dia di sana hanya sendiri..!" bujuk Arjuna agar Albert mengubah keputusan nya.


"aku menggaji banyak orang dan dokter untuk berjaga di sana,kau tidak usah khawatir..!" sambung Albert.


"Juna ,papah dan mamah sudah tua,kami tidak bisa menerima Dinda tapi kami akan membuat Dinda pantas bersama mu,kau percaya pada orang tua ini..aku tak mungkin menyakiti istri mu dan calon cucu ku,jadi papah minta,bersabar lah sedikit,kita harus meyakinkan mamah mu jika Dinda wanita yang pantas untuk anak nya..!" jelas Albert panjang lebar.


Arjuna berdiri dan merengkuh tubuh tua itu dengan bahagia,papah nya telah mengatakan hal yang ia tunggu sejak lama.


"terimakasih pah..aku akan menuruti semua keinginan papah mulai sekarang..!" ucap Arjuna yang tak menyadari jika Dinda tengah mendengar perkataan Arjuna terakhir.


duaar


Tanpa Arjuna dan Albert sadari,seorang wanita yang sedang mendengar kalimat terakhir itu mematung seketika di tempat nya


"kakak setuju meninggalkan aku dan bayi ku..!" gumam Dinda memegangi perut nya yang terasa keram.


Dinda mundur dan berjalan ke arah lift ,dengan rasa sesak,apa benar Arjuna akan meninggal kan nya seperti permintaan Albert tempo hari .


Dinda menyapu kasar tangisan nya,kemudian memanggil taxi .


"Nyonya...!" teriak Baim saat melihat Dinda dari kejauhan yang terlihat menangis,namun terlambat,ia telah lebih dulu memasuki taxi dan tak mendengar panggilan Baim.


"kenapa nyonya menangis..apa bertengkar dengan tuan..!" Baim berargumen sendiri sambil melangkah kan kaki menuju ruangan Arjuna .


tok


tok


tok

__ADS_1


"masuk...!" ucap Arjuna yang masih bersama Albert di dalam ruangan itu sambil menikmati secangkir kopi.


"tuan,saya melihat nyonya menangis keluar dari kantor ini dengan terburu-buru, apa terjadi sesuatu..?" tanya Baim memastikan..


"Dinda...!" ucap Albert dan Arjuna bersamaan.


"bagaimana ia sampai ke sini.. bukan kah di mansion tidak ada mobil..!" kata Albert bingung mendengar Dinda sampai sejauh ini.


Arjuna memicingkan mata menatap Albert.


"papah tidak tau masalah ini,kenapa dia nekat sejauh ini..!" tambah Albert.


"cari dia..!" ucap Arjuna menatap Baim yang bingung di depan pintu.


"apa Dinda di mansion..?" tanya Albert pada asih di balik telepon.


"nona memaksa pergi 2 jam yang lalu dan belum kembali..!" jawab asih dengan gugup.


Arjuna bergegas mengambil kunci mobil dan memakai jas yang bertengger di kursi kebesaran nya.


"wanita yang nekat..!" gumam Albert sambil tersenyum.


Taxi yang membawa Dinda terus berjalan di gerimis nya hujan,ia bingung mau membawa ke mana wanita hamil yang sedang menangis ini.


"nona,jangan menangis lagi..saya takut di kira menculik anda jika ada yang melihat anda menangis..!" jelas sopir itu namun tak mendapat tanggapan dari Dinda yang mempunyai pikiran ke depan .


"apa om Albert menawarkan wanita pada kakak dan kakak menyetujui untuk berpisah dari ku dan bayi ku..!" gumam Dinda pelan sambil menggeleng pelan mencoba menepis pikiran itu,namun ia jelas mendengar jika Arjuna akan menuruti keinginan Albert ,dan apa kah untuk meninggalkan nya,ah pikiran Dinda begitu kacau.


Lain dengan Dinda ,kini Arjuna tengah melesat kan mobil nya begitu cepat,mencari keberadaan Dinda dengan pelacak dari liontin yang di pakai oleh Dinda.


sekitar 15 menit,Arjuna menemukan sopir taxi yang di tumpangi Dinda sedang berhenti di sebuah warteg pinggir jalan,ia turun dan mencari keberadaan Dinda ,namun tak menemukan nya,sedang kan petunjuk dari liontin itu jelas menunjukkan jika lokasi Dinda berada di taxi itu.


"tuan...!" ucap sopir taxi yang bingung melihat seorang lelaki yang mengintip ke dalam mobil nya.


"di mana Dinda...?" tanya Arjuna menatap tajam pada sopir di depan nya.


"Dinda. ..?" tanya sopir itu dengan bingung.

__ADS_1


"apa tuan mencari wanita hamil yang saya bawa tadi..?" tebak sopir itu dan mendapatkan anggukan dari Arjuna .


"nona itu turun di perempatan jalan sana 5 menit yang lalu...!" jelas sang sopir.


"kau bohong,GPS dari liontin itu jelas menunjukkan jika Dinda masih di sekitar sini...!" geram Arjuna yang sedikit emosi.


"liontin..apa ini yang anda maksud..nona itu tidak memiliki uang,dan dia membayar dengan kalung nya..!" tambah sang sopir memamerkan liontin milik Dinda .


Arjuna merampas kalung itu sedikit kasar dan mengganti nya dengan beberapa lembar uang yang ia keluarkan dari saku jas nya,dengan cepat ia menuju perempatan jalan yang di maksud,namun nihil,di sana tak ada siapa pun,jalanan kosong dan sedikit licin akibat gerimis yang turun.


"kemana kamu...!" gumam Arjuna pelan.


Dinda berjalan menuju mansion Albert sendiri dengan masih sesenggukan mengingat ucapan Arjuna yang akan mengikuti semua keinginan Albert.


"apa kakak Setega itu pada ku dan bayi kami..!" gumam Dinda pelan sambil mengelus perut nya yang buncit.


"tidak,aku tidak boleh lemah...tapi aku harus bagaimana..,aku tak mungkin pergi dari mansion om..aku tak punya tempat tinggal..,kak Cantika bantu aku..hiks hiks..!" tambah Dinda berdialog sendiri.


Dinda berjalan sampai mansion Albert ,ketika tiba di depan gerbang ia langsung lemas terduduk di samping gerbang yang menjulang tinggi,pandangan nya seketika meredup jadi gelap,namun ia berusaha menahan kesadaran nya sambil menggeleng pelan.


Bugh


tubuh nya oleng ke samping,namun belum sempat terjatuh,sebuah tangan nan kokoh dengan sigap menghadang kepala Dinda agar tak jatuh ke tanah.


"kakak..kakak di sini..!" gumam Dinda lirih karena terlalu lelah dan tertekan ia tak mampu lagi membuka mata nya.


Arjuna berlari turun dari mobil saat melihat perubahan wajah Dinda ,ia sangat takut,untung sebelum Dinda jatuh ia telah sampai pada Dinda dan membawa tubuh yang lemah itu memasuki mansion Albert.


"panggil dokter sekarang..!" teriak Arjuna pada para penjaga di depan gerbang,ia membawa Dinda masuk ke mansion dengan perasaan gugup,ia takut terjadi sesuatu pada Dinda dan kandungan nya,dengan pelan ia menidurkan Dinda di kamar nya sambil memandangi wajah Dinda yang penuh dengan keringat.


"keras kepala...!" gumam Arjuna yang masih kesal dengan keputusan Dinda semalam.


🌹🌹🌹


Selamat pagi semua


Jangan lupa like dan komentar serta vote kalian yaa

__ADS_1


__ADS_2