Wasiat Terakhir

Wasiat Terakhir
Ayah


__ADS_3

Seperti hujaman kerikil yang menimpa Dinda saat ia tau jika kini sang ayah tengah berjuang hidup di antara orang-orang yang suka memanfaatkan harta nya,Dinda sedih tak bisa menjaga langsung sang ayah ,ia tau sejak dulu jika ibu tiri nya hanya menginginkan harta sang ayah.


Cairan bening itu lolos dari netra cantik Dinda ,membuat sesak dada nya,ia semakin menguatkan genggaman tangan nya pada Arjuna .


"Tenang lah,kita akan menemui nya sekarang..!" Ucap Arjuna,namun Dinda seolah menggeleng kan kepala.


"Aku tak yakin jika ibu dan kak Yunita mengijinkan aku masuk..,apa lagi Kriss.. Tian juga ada di sana...!" Ucap Dinda dengan pelan.


Arjuna paham ketakutan Dinda ,ia tau bagaimana cara menghadapi manusia serakah itu.


"Kau hanya perlu tenang,ingat bayi kita sekarang..!" Jelas Arjuna mengingat kan Dinda


Arjuna menuntun pelan tangan Dinda berjalan menuju tiga orang yang tengah berdebat hebat.


"I...Buu...!" Sapa Dinda dengan sedikit terbata.


Ke tiga orang yang sedang bersitegang itu mendadak diam dan melihat pada arah suara yang bergetar.


Deg...


"Kau,apa yang kau ingin kan..?" Ucap ibu tiri Dinda dengan ketus


"Mah....!" Panggil Yunita sambil menarik ujung baju sang ibu


Yunita dan Kristian sedikit gugup saat mata elang di samping Dinda menatap tajam pada mereka, tatapan Arjuna seolah menguliti hidup-hidup dua orang itu.


"Diam kau,jangan ikut campur..!" Bentak ibu tiri Dinda pada Yunita.


"Kau baru ingat pulang setelah ayah mu di ujung ajal nya,dan apa ini,kau hamil anak siapa,dasar wanita m*rahan..!" Hina ibu tiri Dinda sambil menunjuk perut buncit Dinda.


Arjuna mengepalkan tangan nya dengan kuat saat Dinda sedari tadi di hina .


"Jaga ucapan anda..!" Bentak Arjuna dengan rahang yang mengeras.


Arjuna maju selangkah di depan Dinda.

__ADS_1


"Anda tau jika sekarang anak di kandungan Dinda yang anda hina itu,ia pewaris keluarga Keandra Wiguna,Dinda wanita suci yang aku nikahi 7 bulan yang lalu..!" Jelas Arjuna yang membuat ibu tiri Dinda terhuyung hingga hampir jatuh jika tak di tangkap oleh Kristian dan Yunita.


Siapa yang tidak mengenal keluarga Keandra Wiguna,mereka deretan orang tersukses yang merajai bisnis perhotelan dan beberapa properti di wilayah Asia.


Apa lagi dengan tuan muda tunggal keluarga itu,Arjuna Keandra Wiguna yang membangun usaha nya sendiri,orang yang bertangan dingin dan memiliki ke genius an yang tinggi yang mampu mengolah bisnis nya hingga meraja di kota-kota besar,hingga rumah sakit yang merawat ayah Dinda pun adalah milik Arjuna .


"Tidak..tidak mungkin..!" Gumam ibu tiri Dinda dengan wajah yang pias.


"Kalian,ingat satu hal,jangan pernah muncul di hadapan kami lagi jika tidak ingin hidup kalian hancur dan ingat jika kalian mengulangi kesalahan kembali pada Dinda,kalian akan berurusan dengan ku,ingat itu...!" Ancam Arjuna pada ke tiga orang yang angkuh dan rakus akan harta yang bukan milik mereka.


Arjuna berlalu menarik Dinda dengan pelan memasuki ruangan ICU ayah Dinda.


Terlihat seorang lelaki bertubuh kurus yang sudah keriput terbaring lemah dengan mata yang sedikit terbuka ,di hidung nya terpasang oksigen ,belum lagi beberapa alat yang menempel di tubuh tua nya itu,bunyi alat medis yang mengalun seirama membuat siapa saja yang melihat nya bergetar .


"Ayah...!" Ucap Dinda dengan bergetar,tubuh nya melemas dan hampir merosot ke lantai putih bersih di sana.


"Sayang...!" Ucap Arjuna yang dengan sigap mengangkat tubuh Dinda ke arah sofa yang sudah di siap kan Baim dekat ranjang pasien.


Arjuna mendudukkan Dinda yang bergetar akibat kesedihan yang ia lihat di depan mata nya.


Dengan tangan gemetar ia meraih tangan keriput itu, menggenggam pelan agar tak menyakiti ,membawa tangan keriput itu untuk di kecup nya.


"ayah,ini Dinda...!" ucap Dinda yang bergetar menyaksikan kesakitan sang ayah.


"maaf kan Dinda tidak merawat ayah dengan benar,Dinda bukan anak yang baik buat ayah,maaf kan Dinda..!" sambung Dinda sambil tertunduk dengan balutan tangan sang ayah yang masih menempel,Dinda terisak di samping tubuh yang tak mampu lagi berinteraksi,namun percaya lah ayah nya mendengar setiap ucapan yang penuh luka itu,terbukti dengan lelehan bening yang jatuh di sudut mata nya yang keriput.


Arjuna menyadari itu,mata nya memicing tajam kemudian menatap Baim di belakang nya.


"Panggil dokter Anjar segera..!" perintah Arjuna pada Baim yang mengangguk dan berlalu dari sana.


Ceklek ..


pintu di buka dengan pelan,nampak deretan manusia berbaju putih datang sembari menunduk saat ber sitatap dengan sang petinggi rumah sakit.


"tolong periksa mertua ku sekarang..!" ucap Arjuna dengan tegas,hingga membuat Dinda mendongak kan kepala,ia terenyuh hangat saat Arjuna menyebut ayah nya dengan sebutan mertua,padahal ini adalah pertemuan pertama mereka.

__ADS_1


Arjuna tersenyum dan mengangguk sambil mengelus pundak Dinda dengan lembut,ia menuntun Dinda untuk memberi ruang pada beberapa dokter agar memeriksa ayah nya.


"kak, terimakasih...!" ucap Dinda menggenggam erat tangan Arjuna.


"untuk...?" tanya Arjuna


"untuk semua ini yang telah kakak lakukan pada ayah..!" jawab Dinda.


"dia ayah mu, bagaimana pun masa lalu kalian,dia tetap orang tua yang harus kita hormati..!" jelas Arjuna mengelus lembut Surai rambut Dinda .


Dinda menghambur ke pelukan hangat itu ,mencari ketenangan nya tersendiri.


"Tuan..!" panggil Baim pada Arjuna yang masih memeluk Dinda.


"dokter Anjar ingin bicara dengan Anda di ruangan nya..!" jelas Baim memberitahu kan.


Arjuna hanya mengangguk datar kemudian melepas kan pelukan nya.


"kau tunggu lah di sini,Baim akan berjaga menemani mu di sini...!" ucap Arjuna ,


"apa aku boleh ikut..?" tanya Dinda,ia tau jika sang dokter pasti akan membahas tentang ayah nya bersama Arjuna.


Arjuna menggeleng,ia tak kan mengajak Dinda dan membuat Dinda lebih sedih,ia akan menangani sendiri, mengusahakan yang terbaik untuk ayah mertua nya.


"tidak,kau di sini saja temani ayah..aku hanya sebentar..!" ucap Arjuna ,kemudian berlalu .


"kalian,tetap di depan pintu,jangan biar kan ada yang mengganggu atau masuk ke dalam,siapa pun..!" ucap Arjuna menugaskan Baim dan sopir nya untuk berjaga di depan pintu.


🌹🌹🌹


up up up


Mengandung sedikit bawang


tetap semangat

__ADS_1


__ADS_2