Wasiat Terakhir

Wasiat Terakhir
Diam nya Dinda


__ADS_3

"ini kasus pertama yang aku temui , seharusnya nona Feby mampu menggerakkan anggota tubuh nya,karena saat dia sadar tadi pagi,semua organ penting masih berfungsi bagus,ia tak mengalami sesak nafas atau seperti penglihatan yang kabur...!" Jelas Kevin panjang lebar di ruangan nya.


Arjuna tetap diam dan mencerna setiap ucapan Kelvin,ia melihat sendiri jika Feby baik-baik saja,aneh nya ia merasa seperti mati rasa,sedang kan kulit nya tidak meradang atau kemerahan akibat racun itu.


"aku saran kan kau melakukan pemeriksaan lanjut lebih detail untuk bisa mendapatkan hasil yang maksimal..!" Usul dokter Kelvin .


"Tidak perlu, seperti nya aku paham semua,tolong cek lagi kondisi Feby,jika memungkin kan ,lebih baik ia di pulang kan ke rumah nya saja..!" Ucap Arjuna dengan nada dingin.


Setelah pertemuan dengan Kelvin, Arjuna berpikir untuk pulang ,karena bagaimanapun ia sudah merasa sangat lelah dari tadi malam.


Arjuna memasuki ruangan Feby di mana ada seorang anak kecil yang bergelayut manja di perut Feby.


"Semua nya baik-baik saja,aku akan pulang,nanti akan ad orang yang membantu mu..!" Ucap Arjuna.


Feby tersenyum mendapati Arjuna di ruangan nya.


"Terimakasih atas kebaikan tuan,tapi bisa kah saya meminta tolong untuk terakhir kali nya..?" Tanya Feby dengan penuh harap.


"Katakan lah..!" Ucap Arjuna .


Di UGD


"Aku ingin pulang,semua nya baik-baik saja bukan..?" Tanya Dinda menatap dokter yang menangani nya.


"Ia ,tapi Nyonya sebaik nya istirahat sebentar lagi,nanti siang anda sudah boleh pulang..!" Jelas dokter itu,namun Dinda tetap kekeh pada keinginan nya,ia tak nyaman berada di rumah sakit itu.


Dengan sangat terpaksa dokter memulangkan Dinda dengan selang infus yang masih menancap di telunjuk nya,dengan bermodal kursi roda dan di temani seorang perawat ia pulang ,ia di dorong oleh pelayan dari mansion nya.


Entah kebetulan atau apa,mata Dinda menatap sosok seseorang yang sejak semalam terus ada di pikiran nya,orang itu tengah menggendong seorang wanita menuju tempat perawatan lain.


"Kakak..." Gumam Dinda kecil,air mata nya lolos tanpa permisi.


"Apa kakak lupa pada ku ..harus nya Sekarang dia bersama ku, menemani ku,bukan dengan wanita itu..!" Pikir Dinda yang tertahan di hati nya.

__ADS_1


Dinda memasuki mobil dengan sesak di dada nya,ia diam sepanjang perjalanan,hingga...


"Stop di sini..!" Ucap Dinda menghentikan sang sopir mengemudikan mobil nya.


"Kenapa di sini..?" Tanya sang sopir yang bingung sambil saling berpandangan dengan para pelayan dan perawat.


"Aku ingin di sini sebentar,rasa nya begitu tenang melihat hamparan pohon yang menghijau ini..!" Ucap Dinda yang membuka kaca mobil nya.


Mereka tengah berhenti di depan taman tak jauh dari rumah sakit ,ini hampir siang,jadi tak banyak orang berada di sana,hanya beberapa yang berjalan kaki .


"Nyonya,anda harus segera istirahat,kondisi anda masih lemah,kontraksi itu bisa datang lagi jika anda kelelahan..!" Kata perawat itu mengingatkan Dinda.


"Aku paham,tolong 5 menit lagi,aku ingin di sini..!" Kata Dinda memohon.


Mereka di sana diam mengikuti sang nyonya yang meminta.


Di parkiran rumah sakit,Arjuna telah siap menaiki mobil nya dan menjalan kan pelan kemudi, mata nya menatap benda pipih di kursi belakang ,ia menghentikan mobil di tepi jalan mengambil handphone yang tergeletak tak bertuan semalaman penuh.


"Lowbat...!" Gumam Arjuna pelan.


"Apa yang terjadi..!" Gumam Arjuna yang mulai khawatir,ia menjalankan mobil menuju mansion dengan cepat.


Tepat saat mobil Arjuna memasuki gerbang tinggi,ia melihat banyak pelayan yang bergerombol di samping mobil Dinda ,seorang wanita yang berpakaian putih juga ada di sana.


"Kenapa ada perawat..?" Gumam Arjuna yang bergegas turun dari mobil nya dan memecah gerombolan itu,mata nya terbelalak kaget mendapati Dinda yang sedang di bantu oleh beberapa pelayan turun dari mobil menuju kursi roda dengan selang infus yang masih menancap di jari telunjuk nya.


"Sayang..?" Panggil Arjuna dengan degup jantung yang hebat.


Dinda dan yang lain menoleh ke sumber suara itu,semua pelayan dan sopir serta perawat di sana menunduk memberi hormat pada tuan nya


Dinda hanya diam dan meraih tangan pelayan di samping nya untuk membantu nya turun dari sana.


"Biar aku yang melakukan nya,minggir lah..!" Perintah Arjuna menatap Dinda yang bersikap dingin pada nya.

__ADS_1


Para pelayan mundur kebelakang, sedang kan sopir Dinda masih setia memegangi infus .


Arjuna menyelipkan ke dua tangan nya pada kaki Dinda,dengan pelan ia mengangkat Dinda keluar dari mobil,tapi tak meletakkan nya di kursi roda,melainkan terus membawa nya masuk dengan menggendong sambil menatap penuh tanya pada Dinda yang terus membuang muka menghindari tatapan Arjuna pada nya .


Sopir Dinda bergegas membuka kan pintu kamar utama untuk majikan nya,dengan pelan Arjuna menurun kan Dinda di ranjang king size nya.


Setelah infus terpasang sempurna,para pelayan mendapatkan perintah dari Arjuna,ia mengibaskan satu tangan pada para pelayan,semua menunduk dan keluar dari sana secara beriringan.


Saat pintu besar itu tertutup,Arjuna melipat ke dua tangan di dada,mendekat ke arah Dinda yang sejak tadi tak mau menatap nya.


"apa yang terjadi...?" Tanya Arjuna dengan dingin,namun Dinda tetap diam ,ia malah berbaring pelan dan menaikkan selimut menutupi perut buncit nya.


"Kakak mandi lah dulu, istirahat..bukan kah kakak lelah dan belum mengganti pakaian sejak tadi malam..!" Sindir Dinda sambil membelakangi Arjuna dan memeluk guling nya.


"Din,aku bertanya serius..,kenapa kau seperti ini..!" Tanya Arjuna kembali.


"Kakak ,bebersih lah dulu,aku mengantuk.,nanti saja bicara nya.!" Jawab Dinda sambil memejamkan mata nya.


Arjuna ingin marah,namun ia menahan nya karena melihat keadaan Dinda ,ia merasa bersalah,namun ia tak bisa berbuat apa-apa.


Arjuna berjalan masuk ke kamar mandi membersihkan diri,tak perlu waktu lama,ia keluar dan langsung memakai kaos santai nya,ia melihat Dinda memang tertidur pulas,ia mendekat dan membenarkan selimut yang hampir melorot,kemudian meninggal kan kecupan di kening Dinda.


"Aku sangat mencintai mu..!" Ucap Arjuna pelan sambil merapikan rambut Dinda yang menutupi wajah ayu nya,cukup lama ia menatap wajah Dinda yang terlelap sampai mengelus pelan perut Dinda ,kemudian berlalu keluar kamar dengan pelan menutup pintu besar agar tak membangun kan Dinda yang terlelap.


🌹🌹🌹🌹


Semangat Sabtu


Yuyu mainkan jari nya untuk memberikan dukungan pada cerita ini


mampir juga ke cerita aku yang lain


Cinta Nayna

__ADS_1


Terimakasih semua🙏🙏🙏


__ADS_2