Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 101


__ADS_3

Di ruang ICU, dokter Anwar dan Anita sedang sibuk menangani Zahwa yang baru saja mereka pindahkan dari ruang operasi, dan setelah semuanya selesai, Anita pun keluar dan mempersilahkan Anton untuk masuk.


"An." panggil Anita yang terlihat sedikit mengangguk, memberikan isyarat bahwa Anton sudah bisa untuk melihat keadaan Zahwa.


Dengan segera Anton pun memakai pakaian yang dikhususkan saat memasuki ruang ICU, lalu ia pun segera masuk untuk melihat keadaan istrinya di dalam sana.


"Yang lain boleh masuk, tapi harus bergilir ya." ujar Anita lagi.


Tak lama berselang, kedua orang tua Zahwa pun tiba, mereka disambut isak tangis dari mama Melinda dan juga Nazwa, pak Gunawan pun menceritakan kronologi kejadia saat mereka mendatangi rumah sakit yang niatnya ingin melihat kelahiran putri Anisa hingga akhirnya terjadilah kecelakaan.


Bu Ningsih tak henti hentinya menangis hingga sesengukan, ia hanya bisa melihat tubuh Zahwa yang terbaring lemah tak berdaya melakui kaca ruangan itu, karna belum dapat melihat Zahwa langsung didalam sana hingga Antor keluar.


Saat Adzan magrib berkumandang, mereka semua memutuskan untuk segera melaksanakan sholat berjamaah di musholah kecuali Anton, karna ia masih belum ingin menunggalkan istrinya sendiri didalam ruangan itu.


"Sayang, mas mohon sadarlah sayang, mas sudah rindu dengan suara mu Za, maafkan mas ya karna tidak bisa menjaga kamu dan bayi kita dengan baik sayang." Anton mengusap lembut kedua belah pipi istrinya dengan menangis, dan saat ia menyentuh perut buncit istrinya, Anton dapan merasakan gerakan dari dalam sana, namun sayangnya gerakan itu terasa sangat pelan tidak seperti biasanya tendangan bayi mereka terasa begitu kuat.


Seketika Anton berpindah menciumi perut istrinya, ada senyuman tipis di bibirnya, ia sangat bahagia karna bisa merasakan gerakan dari bayinya yang ada didalam perut istrinya.


"Sayang, kamu juga harus bertahan nak, papa sangat berharap bisa menimang mu, tolong berikanlah kekuatan nak kepada ibu mu, kalian ajalah belahan jiwa papa, akan seperti apa kehidupan papa bila tanpa kalian sayang." ujarnya lagi tersenyum kecil dalam tangisanya.


Setelah lama mencurahkan isi hatinya di dalam ruangan ICU akhirnya Anton pun keluar, ia mendapati kedua mertuanya yang telah duduk menunggu di kursi, seketika pelukan ayah mertuanya pun mendarat ketubuh Anton, mereka juga terlihat saling menguatkan satu sama lain.


"Kamu harus kuat nak, ini memang ujian yang berat untuk mu." ujar Ayah mertuanya.


"Maafkan saya Ayah karna tidak bisa menjaganya dengan baik." ucap Anton dalam tangisnya.


"Sudahlah, ini bikan salah kamu nak, ini takdir yang sudah Allah tetapkan, sekarang yang perlu kita lakukan adalah berdo'a, agar Zahwa bisa kembali sehat seperti semula.'' ujar pak Rahmat mencoba menguatkan Anton, meski sebenarnya dia pun sangat merasa sedih.


"Aamiin." jawab Anton sambil mengangguk pelan, dan di sambung oleh yang lainnya.

__ADS_1


"Silahkan bu." ujar Anita mempersilahkan ibu Ningsih untuk melihat keadaan putrinya. Dan bu Ningsih pun menganggukan kepalanya lalu segera masuk kedalam setelah memakai baju khusus.


Anton segera membersihkan diri seadanya dan setelahnya ia pergi ke musholah untuk melaksanakan sholat magrib, sementara Anita berpamitan untuk memeriksakan keadaan Anisa diruangannya.


Tiba tiba ponsel milik pak Gunawan pun berbunyi dan beliau pun dengan segera meraih ponselnya yang ada didalam kantung celananya.


"Selamat malam pak." ujar Komandan kepolisian yang menangani kasus Zahwa.


"Selamat malam, ada kabar apa?" ujar pak Gunawan.


"Kami telah menangkap pelaku tabra lari menantu bapak, kami harap bapak bisa kekantor malam ini juga, untuk mengenali pelaku, barang kali pak Gunawan mengenalinya, dan ada hal lain juga yang ingin kami bicarakan." ujar komandan itu.


"Alhamdulillah, baik saya akan segera kesana sekarang." jawab pak Gunawan.


Pak Gunawan pun meminta izin kepada istrinya untuk pergi keluar, namun mama Melinda sempat menghalanginya hingga suaminya itu pun terpaksa harus menceritakannya.


Namun pak Gunawan meminta istrinya itu merahasiakannya dulu dari Anton, agar putra mereka tidak melakukan hal yang tidak di inginkan, mama Melinda pun menerima alasan suaminya tersebut, dan berjanji untuk merahasiakannya dulu.


"Kenapa kita kekantor polisi Gun?" tanya pak Rahmat saat mereka tiba di depat kantor polisi, ia benar benar merasa bingung kebapa malam malam malah ke kantor polisi.


"Ikutlah dengan ku, kamu akan mengetahui jawabanya setelah berada didalam." jawab pak Gunawan.


Mereka pun akhirnya masuk dan disambut oleh komandan yang menangani kasus menantunya, komandan itu pun mempersilahkan mereka untuk duduk di kursi, lalu komandan itu pun meminta seorang polisi untuk membawa mama Sarah kehadapan mereka.


Pak Gunawan pun terkejut bukan main saat melihat siapa dalang dari kecelakaan yang menimpa menantunya, dan pak Rahmat hanya menatap heran karna dia belum tau siapa wanita yang ada dihadapan mereka, dan ada apa hubungan apa wanita itu dengan kedatangan mereka ke kantor polisi.


"Anda.?" ucap pak Gunawan dengan nada tinggi, dia tak percaya dengan apa yang dia lihat, pelakunya adalah bekas besannya, Mama Sarah pun hanya tertunduk, merasa sangat ketakutan.


"Kenapa anda lakukan semua ini, salah apa menantuku kepada mu?" tanya Gunawan lagi.

__ADS_1


"Dia telah merebut kebahagiaan anakku, seharusnya Anton hidup bahagia dengan Sarah, bukan dengannya." ujar mama Sarah menatap penuh kebencian dengan pak Gunawan.


"Putri anda yang lari dan pergi saat persiapan pernikahan mereka, bahkan Zahwa telah berbaik hati merelakan suaminya dan membiarkan mereka untuk menikah, tapi lagi lagi putri andalah yang memilih untuk bercerai." jawab pak Gunawan dengan sangat emosiaonal.


"Ini semua hanya akal akalan prempuan busuk itu, agar putri ku menderita, prempuan gembel seperti dia seharusnya tidak pantas menjadi istri dari putra anda." jawab mama Sarah dengan seenaknya.


Plak..


Sebuah tamparan pun mendarat di wajah mama Sarah, pak Gunawa adalah laki laki yang sangat lembut, ia tidak akan pernah tega menyakiti hati atau pun fisik seorang wanita apalagi sampai memukulnya, tapi rupanya ucapan mama Sarah benar benar membuat emosinya jadi menggebu gebu.


"Sudah Gun sudah, tidak baik kau bersikap kasar kepada seorang prempuan. Ada apa ini, siapa dia sebenarnya?" ujar pak Rahmat, ia mencoba melerai dan menenangkan pak Gunawan.


Meski ia tahu prempuan yang dimaksud wanita yang ada dihadapannya adalah putrinya Zahwa, namun pak Rahmat belum tau apa hubunganya dengan pak Gunawan.


"Dia ini wanita iblis yang telah menyababkan Zahwa terbaring dirumah sakit saat ini." jelas Pak Gunawan kepada pak Rahmat.


"Ya Allah gusti. Jadi kamu yang menabrak putri saya." pak Rahmat sangat terkejut, hingga akhirnya air matanya pun mengalir.


"Iya, dia orangnya, dan dia adalah ibu Sarah, prempuan yang pernah menjadi istri kedua Anton." jelas pak Gunawan lagi.


"Sungguh tega kamu, saya tidak menyangka prempuan sepertimu ternyata berhati iblis." pak Rahmat pun sudah tidak bisa menahan emosinya.


Akhirnya komandan itu pun meminta anak buahnya untuk kembali memasukan mama Sarah kedalam tahanan, agar tidak lagi terjadi kekerasan, karna bisa saja kedua laki laki itu melakukan tindak kekerasan lagi.


Setelah berbicara kepada komandan kepolisian, akhirnya pak Ginawan dan pak Rahmat pun memutuskan untuk kembali menuju rumah sakit. Namun saat akan keluar dari pintu kantor polisi, tiba tiba mereka berpapasan dengan papa Sarah.


"Pak tolong maaf kan istri saya pak, dia hanya hilaf pak." ujar papa Sarah yang meminta belas kasihan dari pak Gunawan, karna ia tahu sedang berurusan dengan suapa dirinya.


"Biar pihak yang berwajib mengurusnya." ujar pak Gunawan, lalu pergi tanpa menghiraukan permohonan papa Sarah.

__ADS_1


Setelah pak Gunawan pergi, papa Sarah pun memutuskan untuk segera masuk dan menemui istrinya di dalam sana.


__ADS_2