
Sejak pagi Nazwa selalu disuguhi senyuman manis oleh Rangga, sikap atasannya itu terasa begitu berbeda kepadanya hari ini, membuat Nazwa merasa bingung, namun ia berpura pura tidak memperdulikan hal itu dan memilih bersikap sewajarnya saja terhadap Rangga, meski pun didalam hati sebenatnya Nazwa tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
Saat waktunya pulang kerja, seperti biasa Nazwa terlihat menunggu taksi di depan gedung kantor, Rina sudah berusaha untuk mengajaknya pulang bersama, tapi Nazwa menolaknya karna tidak ingin merepotkan Rina jika harus menghantarnya sampai dirumah, karna memang rumah Rina yang lebih dekat dari kantor, dari pada rumah Zahwa.
Tak lama berselang, mobil Rangga terlihat keluar dari halaman parkir kantor, ia pun tampak melajukan mobilnya dengan pelan, dan saat melihan Nazwa yang berdiri di pinggir jalan, Rangga pun menghentikan mobilnya tepat dihadapan Nazwa.
Rangga menurunkan kaca mobilnya, lalu mengajak Nazwa untuk ikut bersamanya.
"Ayo masuk." ujah Rangga.
"Mau kemana pak.?" tanya Nazwa yang kebingungan, ia merasa jam kerjanya sudah habis, jadi tidak ada lagi jadwal perkerjaan dengan atasannya itu.
"Ya pulang dong, memangnya kamu mau kemana.?" tanya Rangga.
"Saya juga mau pulang." jawab Nazwa
"Ya sudah Ayo." ajak Rangga lagi.
"Memanya bapak mau mengantar saya.?"
"Tidak." Rangga menjawab sembarang dengan seenaknya.
"Kalau begitu kenapa bapak mengajakku pulang dengan bapak.?" Nazwa pun makin kebingungan.
"Aku ingin menemui pak Anton, ada hal yang ingin aku sampaikan, jadi ayo cepatlah sebelum hujan turun." jawab Rangga mengada ngada, karna sebenarnya hari tampak begitu cerah dan tidak ada tanda tanda akan turunya hujan.
Dia ini kenapa sih, benar benar aneh. fikir Nazwa.
Tapi karna sudah lama menunggu dan tidak ada mobil taksi yang melintas sejak tadi, akhirnya Nazwa memutuska untuk ikut bersama Rangga, ia membuka pintu mobil dan segera masuk kedalam mobil Rangga.
Mobil berjalan dengan pelan karna keadaan yang cukup ramai, mengingat jam juga menunjukkan waktunya para prkerja pulang. Nazwa dan Rangga terlihat hanya diam tampa bicara, sesekali hanya terlihat Nazwa yang menoleh menatap Rangga.
"Ada apa, kenapa sejak tadi kamu memperhatikan ku.?" tanya Rangga yang sebenarnya menyadari bahwa Nazwa suka mencuri pandangan darinya.
"Tidak, saya tidak sedang melihat pak Rangga." jawab Nazwa, ia sedikit terkejut dan merasa malu, karna Rangga mengetahui bahwa dirinya memperhatikan atasanya itu, detak jantung Nazwa pun terasa berdebar cukup cepat.
__ADS_1
"Sudah tidak perlu berbohong, aku tahu kalau kamu dari tadi suka menatap ku.?" ujar Rangga lagi.
"Saya tidak berbohong pak." ucap Nazwa sambil sedikit tertunduk.
"Terus kenapa kamu harus malu seperti itu.?" tanya Rangga yang menoleh dan melihat Nazwa sedang menundukan kepalanya, dengan wajahnya yang sedikit merona merah, terlihat sekali bahwa ia sedang menahan malunya.
"Saya tidak melihat bapak." ucap Nazwa lagi sesikit kesal, namun masih belum berani untuk menatap wajah Rangga.
Karena perdebatan kecil yang mereka lakukan di atas mobil, Rangga pun tidak fokus untuk menyetir, ia juga tidak memperhatikan jalan yang ada didepanya, hingga akhirnya ia terkejut karena seekor kucing yang melintas tepat di depan mereka.
Dengan cepat Rangga menginjak rem pada mobilnya, dan karna ia melakukannya secara tiba tiba, akhirnya nazwa yang duduk dengan tertunduk pun terkejut hingga kepalannya terbentur dan mengenai dasbor mobil.
"Aaawww.. Astaghfirullah sakittt.." teriak Nazwa. Rangga yang terlihat sedang syok seketika menoleh melihat kearah Nazwa saat dirinya berteriak.
"Nazwa, kamu tidak apa apa.?" tanya Rangga.
Nazwa pun mengangkat wajahnya dan mengelus kepanya yang terlihat merah karna benturan.
"Bapak kenapa sih, suka sekali membuat aku begini." ujar Nazwa yang memang sudah sering kali cidera saat bersama Rangga.
"Itulah akibatnya kalau bapak tidak memperhatikan jalan di depan bapak." ucap Nazwa lagi, ia benar benar merasakan sakit di dahinya.
"Coba sini aku lihah." ucap Rangga, sambil mencoba mendekati Nazwa.
"Jangannn.." teriak Nazwa, ia terlihat menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya, lalu memundurkan tubuhnya hingga menempel pada pintu mobil, dan menaikan kedua kakinya keatas kursi mobil, matanya juga terlihat menatap Rangga dengan tatapan tajam.
"Heyy.. Kenapa kamu, apa yang ada didalam fikiran mu, aku cuma mau lihat dahi mu yang terkena benturan." ucap Rangga, dia merasa bingung dengan tingkah Nazwa.
"Oh, tidak perlu, saya baik baik saja pak." jawab Nazwa, ia merasa malu karna telah berfikir yang tidak tidak tentang Rangga.
"Aneh, tadi bilangnya sakit, sekarang baik baik saja. Hayo..tadi mikirin apa kamu, pasti mikir yang jorok kan.?" goda Rangga, lalu ia mulai melajukan mobilnya kembali.
"Enak aja, enggak kok." jawab Nazwa.
"Terus ngapain kamu tadi seperti ketakutan gitu, mana pake menutupi tubuh segala lagi, memangnya kamu fikir aku mau ngapain coba, seperti aku punya tampang penjahat saja.?" ucap Rangga, dan Nazwa pun terkekeh mendengar ucapan atasannya itu.
__ADS_1
"Bukan begitu pak, tapi aku fikir.." Nazwa takut untuk meneruskan ucapannya.
"Apa, kamu fikir apa? Sudah ngaku saja pasti fikiran mu kotor kan.?" ucap Rangga lagi.
"Enggak.." ucap Nazwa yang terlihat tidak terima atas tuduhan Rangga.
Tanpa terasa akhirnya mereka tiba di rumah milik Rangga, perdebatan mereka pun terhenti seketika. Nazwa terlihat ingin membuka pintu mobil, tapi tiba tiba Rangga memanggil namanya.
"Nazwa." ucap Rangga, dan Nazwa pun membalikkan tubuhnya lagi.
"Iya, ada apa pak.?" tanya Nazwa.
"Aku minta maaf." ucap Rangga.
"Minta maaf, minta maaf untuk apa pak.?" tanya Nazwa bingung.
"Karna aku telah membuat mu cidera." jawab Rangga, dengan wajah yang menunjukan rasa bersalahnya.
"Oh ini, ah tidak apa apa pak, ini tidak seberapa.'' jawab Nazwa yang terlihat mengusap keningnya yang memar.
"Kalau begitu terima kasih." jawab Rangga
"Sama sama pak." jawab Nazwa dengan tersenyum, lalu ia pun turun dari mobil.
Setelah ia kembali menutup pintu mobil, Nazwa pun terlihat bingung karna Rangga yang tidak ikut turun bersamanya, Nazwa pun kembali mengetuk kaca pintu mobil Rangga.
Tuk tuk tuk..
Mendengar dan melihat Nazwa mengetuk kaca pintu mobilnya, Rangga pun segera menurunkan kacanya, dan bertanya kepada Nazwa.
"Ada apa, ada yang tertinggal.?" tanya Rangga.
"Tidak, bukankah bapak bilang ingin menemui mas Anton.?" tanya Nazwa.
"Tidak perlu, besok saja aku temui beliau dikantor." jawab Rangga, lalu ia pun berpamitan kepada Nazwa, dan pergi melaju dengan mobilnya.
__ADS_1
Ada apa dengan pak Rangga, kenapa dia bilang tadi ingin bertemu dengan mas Anton, tapi setelah sampai malah tidak jadi, aneh sekali. Fikir Nazwa.