Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 38


__ADS_3

Dalam sebuah Rumah sakit Zahwa masih berada di ruang UGD tidak sadarkan diri, terlihat Lina lah yang berada disana menjaga Zahwa seorang diri, karna dia sudah meminta teman temanya yang lain untuk segera kembali dan menjaga toko.


Zahwa pun terlihat sudah mengerjapkan matanya dan ia menijat mijat kepalannya yang masih terasa sedikit pusing.


"Mbak sudah sadar.?" ujar Lina yang melihat Zahwa sudah siuman.


"Apa yang terjadi Lin, kenapa dengan ku.?" Zahwa mencoba mengingat ingat apa yang telah terjadi kepadanya.


"Mbak tadi pingsan ditoko, jadi aku dan anak anak yang lain membawa mbak kemari" ucap Lina yang melihat Zahwa seperti orang kebingungan.


"Kalau begitu ayo kita pulang saja Lin, mbak sudah baikan kok." pinta Zahwa.


"Tunggu sebentar mbak, dokter akan datang sekali lagi memeriksa mbak. Oh ya mbak, sebaiknnya mbak jangan meminum lagi obat yang pernah aku belikan ya mbak, karna itu tidak baik untuk mbak yang sedang Morning Sickness." Ucapan Lina membuat Zahwa jadi tidak mengerti, dan tentu saja Zahwa sudah sering mendengar istilah Morning Sickness.


Saat Zahwa mencoba untuk membangunkan tubuhnya, dokter pun datang ingin memeriksannya.


"Selamat siang ibu, sudah bangun ya.?" sapa dokter itu dengan ramah dan tersenyum.


"Siang dok, apa bisa saya pulang sekarang dok.?" tanya Zahwa, dan dokter itu pun tersenyum mendengar ucapan Zahwa.


"Saya periksa dulu ya Bu." ucap dokter itu, lalu mulai memeriksa Zahwa.


"Bu, sebaiknnya ibu dirawat dulu disini ya, untuk malam ini saja, karna Saya takut akan terjadi hal yang tidak di inginkan kepada ibu nantinya." ujar dokter itu saat sudah selesai memeriksa keadaan Zahwa.


"Memangnya saya kenapa dok." tanya Zahwa penuh keheranan.

__ADS_1


"Tidak apa apa bu, tidak ada yang perlu di khawatirkan, pusing seperti ini memang sering terjadi pada prempuan yang sedang mengalami Morning Sickness, jadi ibu tidak usah khawatir ya." ujar dokter itu.


"Morning Sickness dok.?" tanta Zahwa lagi.


"Iya bu, ibu sekarang sedang hamil dan kandungan ibu baru memasuki usia dua minggu. Jadi jangan lagi mengkonsumsi obat pusing atau yang lainnya sembarangan ya Bu, nanti saya akan berikan resep obat untuk penghilang rasa pusing dan juga Vitamin, atau bila perlu saya juga akan berikan obat peringan mual untuk berjaga jaga, karna biasanya prempuan hamil akan mengalami mual, dari kehamilam bulan pertama sampai bulan ke tiga." ujar dokter itu menjelaskan.


"Baik dok." ujar Zahwa


"Kalau begitu saya tinggal dulu ya buk. Oh ya jangan terlalu banyak begadang ya bu, istirahatlah yang cukup." ucap dokter itu, karna ia melihat mata Zahwa ada bulatan sedikit hitam seperti mata panda.


"Iya dok, Trima kasih dok." ucap Zahwa


"Sama sama ibu." ucap Dokter itu dengan tersenyum dan pergi meninggalkan ruang UGD itu.


Lina membantu Zahwa menyiapkan makanan tersebut, dan Zahwa terlihat memakan makanannya itu dengan lahap, ia seperti sangat kelaparan. Setelah selesai makan, Lina merasa mulai bingung, karna sampai malam hari, satu pun keluarga dari suaminya Zahwa tidak ada yang muncul, bahkan suami Zahwa pun sama sekali tidak nampak.


"Mbak, apa suami mbak sudah di beritahu.?" Tanya Lina dan Zahwa pun menggelengkan kepalannya.


"Kenapa mbak, apa dia tidak akan khawatir jika mbak tidak pulang kerumah." tanya Lina lagi dengan wajah bingungnya.


"Tidak Lin, dia tidak sedang di rumah, dia sedang di luar kota." hanya itu ucapan Zahwa.


"Kalau begitu beritahu saja mbak, agar dia segera pulang dan kemari, pasti dia senang sekali mbak, mendengar kabar mbak Zahwa yang sedang hamil." ucap Lina dengan tersenyum. Namun ucapan Lina malah membuat Zahwa jadi terdiam.


Zahwa hanyut dalam fikirannya, matanya pun mulai berkaca kaca, dan tak terasa air mata pun mulai keluar membasahi pipinya

__ADS_1


"Mbak kenapa nangis." ucap Lina semakin bingung.


Zahwa menatap mata Lina dan ia pun mencoba menceritakan kerumitan yang terjadi dalam rumah tangganya, tadinya ia ragu untuk bercerita kepada orang lain, namun ia ingin mengurangi sedikit beban yang selama ini ia pendam sendiri karna tak ingin suaminya itu di benci oleh orang lain, bahkan Zahwa selalu menutupi semua permasalah yang ia hadapin dari ke dua orang tuannya, karna tak ingin orang tuannya jadi khawatir.


Lina tak dapat membendung air matanya, ia merasa hatinya jadi tersayat sayat saat mendengar cerita Zahwa, ternyata atasan yang terlihat sangat ceria selama ini, menyimpan sejuta luka di dalam hatinnya. Lina pun memeluk erat tubuh Zahwa mencoba menyemangati wanita yang sebenarnya rapuh itu.


Jika dibelahan dunia sana seorang perempuan menyambut kehamilannya dengan bahagia, maka tidak dengan Zahwa, ia malah merasa bingung dengan kehamilannya, memang kehamilan adalah suatu anugrah terbesar dari tuhan, dan sangat dinanti nantikan kehadirannya bagi semua wanita yang sudah bersuami. Tapi tidak menurut Zahwa ia memang sangat senang di beri anugrah itu, tapi apa mungkin Anton akan menerima kehamilannya itu. Jika Sarah yang hamil Anton mungkin akan merasa senang dan bahagia, tapi mungkin tidak dengan kehamilannya Zahwa.


"Mbak, mbak yang sabar ya." ucap Lina.


"Sekarang bahkan mbak bingung Lin, apa mungkin mbak harus memberitahu suami mbak." ucap Zahwa penuh kebingan.


"Kenapa begitu mbak." tanya Lina lagi.


"Aku tidak mau menghancurkan kebahagiaannya dengan Sarah, mungkin juga mas Anton akan keberatan dengan kehamilan ku ini, karna pernikahan ini sungguh tidak pernah ia harapkan." ucapan Zahwa lagi lagi membuat hati Lina terasa sakit, ia tak sanggup jika seandainnya berada di posisi Zahwa.


"Tapi mbak lambat laun suami mbak pasti akan tahu, karna nantinya perut mbak akan semakin membesar." ujar Lina.


"Kamu benar Lin, tapi mungkin tidak sekarang aku memberitahunnya, aku tidak ingin mengganggu bulan madu mereka, aku akan beri tahu mas Anton di waktu yang tepat." Ujar Zahwa lagi. Lina pun hanya mengangguk.


Sekitar pukul delapan pagi, dokter datang lagi memeriksa keadaan Zahwa, dan akhirnnya Zahwa sudah di izinkan untuk pulang. Kini Zahwa sudah berada dirumahnya, dia memilih istirahat dirumah dan membiarkan Lina dan karyawannya yang lain membuka dan berkerja di toko. Zahwa terlihat sedang asik dengan majalahnya, namun tiba tiba ia mendengar suara ketukan dari pintu rumah.


Seperti ada yang mengetuk pintu, tapi siapa yang bertamu pagi begini. fikir Zahwa


Ia pun meletakkan majalahnya dan berdiri lalu berjalan menuju pintu utama. Setelah pintu terbuka, Zahwa nampak kaget dengan kedatangan seseorang dirumahnya itu.

__ADS_1


__ADS_2