Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 127


__ADS_3

Melihat kehadiran Anton, papa Sarah pun mendekatinya, dan menjelaskan maksud kedatangan mereka kerumah Anton agar tidak terjadi kesalah pahaman.


"Maaf nak Anton, maksud dan tujuan kami kemari karena ingin berterima kasih kepada kalian, sekaligus meminta maaf kepada Zahwa atas apa yang pernah dilakukan oleh istri ku." ujar papa Sarah.


"Silahkan duduk dulu om, tante." ujar Anton, lalu mereka semua terlihat duduk mengikuti arahan Anton.


"Zahwa, mama sudah menyadari semua kesalahannya, dan mama ingin agar kamu bisa memaafkan semua kesalahan mama yang pernah ia lakukan dengan mu." jelas Sarah kepada Zahwa.


"Tante, aku sudah memaafkan semuanya jauh sebelum tante memintanya, aku bisa mengerti dan memahami atas tindakan tante selama ini." ujar Zahwa kepada mama Sarah.


"Terima kasih sayang, terima kasih." jawab mama Sarah.


Nazwa datang bersama pembantu rumah Zahwa, dengan membawa minuman dan juga camilan, dan Zahwa pun mempersilahkan mereka untuk menyantap hidangannya.


Setelah satu jam berbincang dan menyampaikan permohonan maaf mereka, suasanan pun telah berganti dengan penuh kehangatan, tidak ada lagi dendam dan perselisihan, meski dengan berat hati kedua orang tua Zahwa pun telah menerima dan memaafkan perbuatan mama Sarah terhadap puteri mereka.


Sebelum mereka keluar dari rumah kediaman Anton dan Zahwa, lagi lagi mama Sarah terlihat memeluk Zahwa dan mengucapkan banyak terima kasih kepadanya, begitu juga dengan Sarah ia terlihat bergiliran memeluk Zahwa dan mengucapkan terima kasih kepada mantan madunya itu, ia juga terlihat menyalami Anton dan mengucapkan terima kasih kepada mantan suaminya itu.


Sarah dan kedua orang tuanya pun pergi dengan perasaan senang, terlihat jelas kebahagiaan dari raut wajah mereka, senyum ceriapun menghiasi wajah mereka satu sama lain.


Di dalam rumah Anton, ibu Ningsih terlihat menghampiri Zahwa, lalu memeluk putrinya itu dengan meneteskan air mata. Bu ningsih masih tidak menyangka bahwa putrinya benar benar memiliki hati seperti malaikat.


Bagaimana tidak, setelah sekian banyak cacian dan hinaan yang ia terima, bahkan ia juga hampir kehilangan nyawanya akibat mama Sarah, namun Zahwa masih mau memaafkan ibu dari mantan madunya itu.


"Bu, kenapa ibu menangis.?" tanya Zahwa yang merasakan tetesan air mata ibunya, Zahwa juga terlihat mengusap lembut punggung ibunya.


Bu Ningsih melepas pelukannya, lalu ia menyentuh wajah putrinya itu dengan kedua tanganya.


"Tidak apa apa nak, ibu bangga dengan mu Za, ibu tidak pernah menyangka kamu mempunyai hati yang begitu mulia begini." ujar mamanya, air mata pun masih terlihat berlinang dari matanya.

__ADS_1


"Bu, bukankah selama ini ayah dan ibu lah yang selalu mengajariku untuk selalu memaafkan kesalahan orang lain terhadap kita." ucap Zahwa, ia pun berusaha menghapus air mata ibunya dengan kedua ibu jarinya.


"Hemm, kamu benar sayang, mama bangga dengan mu nak." ucap mamanya lagi, lalu bu Ningsih pun mencium kening putrinya.


Usai dengan pembicaraan mereka, Anton dan Zahwa memutuskan untuk masuk kedalam kamarnya untuk beristirahat. Walaupun kondisinya sudah benar benar pulih, namun karena ia tengah hamil besar, jadi dokter mengharuskan Zahwa beristirahat dengan cukup.


"Za!" Anton memanggil istrinya, saat mereka baru saja memasuki pintu kamar. Zahwa pun menghentikan langkah kakinya, lalu membalikan tubuhnya melihat suami yang baru saja memanggil namanya.


"Iya mas, ada apa.?" tanya Zahwa dengan lembut.


Anton mendekati istrinya, lalu memeluk tubuh istrinya itu dengan penuh kehangatan. Zahwa terlihat membalas pelukan suaminya, ia merasa nyaman sekali berada di dalam pelukan suaminya.


"Seandainya saat itu hal buruk benar benar terjadi dalam rumah tangga kita, kamu pergi karna keegoisanku, maka aku akan menjadi laki laki terbodoh didunia ini, karena aku menyia nyiakan wanita berhati malaikat seperti mu sayang." ujar Anton.


"Alhamdulillah Allah selalu menjaga hubungan kita mas, kita harus bersyukur atas nikmat yang Allah berikan kepada kita saat ini." jawab Zahwa.


"Dan karna Allah telah memberi mu kesempatan, jadi mas harus berusaha agar bisa menjadi imam yang baik, dan juga tauladan bagi anak anak kita nanti." jawab Zahwa.


"Isya Allah sayang, mas akan berusaha untuk menjadi imam yang baik untuk mu, dan juga anak anak kita." lalu Anton mencium lembut kening istrinya. "Terima kasih sayang, kamu telah menyalamatkan rumah tangga ini, terima kasih atas kesabaran dan kebesaran hati mu selama ini." Anton lagi lagi mendekap erat tubuh istrinya.


Saat sedang mendekap istrinya, bayi mereka pun memberikan respon, ia terasa bergerak gerak di dalam perut Zahwa dan Anton pun dapat merasakan hal itu. Mungkin karna rasa bahagia yang sedang dirasakan kedua orang tuanya, hingga bayi mereka pun bisa merasakan kebahagiaan itu.


"Sayang, bayi kita." ujar Anton dengan senyum bahagia di wajahnya.


"Iya mas, mungkin anak kita juga merasakan kebahagiaan, sama seperti dengan apa yang tengah di rasakan oleh orang tuanya." jelas Zahwa.


"Iya sayang, kamu benar." Anton merebahkan dirinya hingga wajahnya tepat berada dihadapan perut istrinya.


"Assalam mualaikum sayang," ucap Anton, lalu ia mengetukan jari telunjuknya pada perut Zahwa.

__ADS_1


"Waalaikum salah papa." jawab Zahwa dengan senyuman.


"Anak papa cepat keluar ya, papa sudah tidak sabar ingin bermain dengan mu sayang." ujar Anton, ia tersenyum bahagia karena bisa melihat dengan jelas saat perut besar istrinya bergerak karena aktifitas anaknya, lalu Anton mencium perut istrinya.


***


Malam ini bu Ningsih terlihat merapihkan pakainnya di bantu oleh Nazwa, karena besok pagi orang tua Zahwa berniat untuk pulang ke kampung halamannya.


"Bu.!" Zahwa terlihat masuk kedalam kamar ibunya, lalu mendekati bu Ningsih.


"Iya sayang." ibunya pun melempar senyuman manis kepada putrinya.


"Ibu jadi pulang kampung.?" tanya Zahwa dengan raut wajah sedihnya.


"Iya nak, ibu dan ayah harus pulang kampung besok sayang.'' jawab bu Ningsih.


"Tapi kenapa harus buru buru bu, bukankah ayah dan ibu masih bisa tinggal disini lebih lama lagi.?" ujar Zahwa.


"Tidak bisa sayang, ayah mu harus mengurus ikan ikan di kampung, lagi pula disini ada Nazwa yang akan menemani mu nak." jawab ibunya. Ia mendekati putrinya dan membelai lembut wajah Zahwa.


"Hmm iya bu, ibu jaga diri baik baik ya di kampung, jangan lupa jaga kesehatannya." ujar Zahwa.


"Iya sayang, kamu tidak usah khawatirkan ibu ya, kamu juga harus bisa jaga diri baik baik ya sayang."


"Iya bu." jawab Zahwa.


"Ya sudah kalau begitu beristirahatlah, ini sudah malam. Na kamu juga silahkan istirahat, terima kasih sudah membatu wak ya." ujar bu Ningsih.


"Sama sama wak. Ayo Za." mereka pun keluar dari dalam kamar bu Ningsih, lalu menuju kamar mereka masing masing untuk beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2