
Waktunya jam pulang kantor pun tiba, semua karyawan terlihat mulai bersiap siap untuk pulang, begitu pula dengan Nazwa dan Rina. Saat mereka telah berada diluar, tiba tiba Rangga datang dengan mobilnya menemui Nazwa.
"Nazwa, ayo biar mas antar pulang." ucap Rangga dari dalam mobilnya.
"Tidak perlu mas, aku sudah memesan taksi. Sebaiknya mas Rangga langsung pulang saja, agar bisa cepat istirahat." jawab Nazwa.
"Aku baik baik saja Nazwa, ayo dari pada kamu kelamaan menunggu disini." bujuk Rangga.
"Gak enak kalau dibatalin mas, sebaiknya mas pulang saja." tolak Nazwa lagi.
"Kamu serius tidak mau mas antar?" tanya Rangga lagi.
"Iya mas." jawab Nazwa dengan mengagguk, senyuman pun terpancar dari bibirnya.
"Kalau begitu mas pulang duluan." jawab Rangga, dan Nazwa pun mengangguk.
Mobil Rangga mulai melaju meninggalkan Nazwa namun terlihat begitu lambat, karena dari dalam mobil Rangga tampak masih memperhatikan Nazwa dari kaca spionnya.
Tak lama kemudian taksi yang di pesan oleh Nazwa pun tiba, lalu dengan segera Nazwa masuk kedalam mobil itu, dan saat mulai berjalan, mobil taksi yang di tumpangi oleh Nazwa pun mendahului mobil milik Rangga.
Entah apa yang sedang ia fikirkan, Rangga pun tampak mengikuti mobil taksi yang di tumpangi oleh Nazwa, ia bahkan terlihat mengikuti mobil taksi itu hingga sampai dikediaman Anton.
"Syukurlah kamu sampai dengan selamat." gumam Rangga pelan dari dalam mobilnya, saat telah memastikan Nazwa turun dari dalam taksi.
Ia memang tidak turun dari mobilnya, dan bahkan berhenti sedikit lebih jauh dari rumah Anton, agar Nazwa tidak mengetahui bahwa ia sedang mengikutinya. Setelah melihat Nazwa masuk kedalam rumah, Rangga pun terlihat meninggalkan tempat itu lalu melajukan mobilnya untuk pulang kerumahnya.
***
Setelah sampai Rangga segera masuk kedalam rumah, usai memarkirkan mobilnya kedalam garasi, dan saat ia akan menaiki tangga menuju lantai dua, Reyhan tiba tiba memanggil dirinya.
"Rangga." Rangga pun membalikkan tubuhnya, dan melihat Reyhan yang mendekatinya.
"Ada apa mas?" tanya Rangga.
"Mas igin menunjukan desain rumah itu, tapi masih di labtob." ujar Reyhan.
"Ohh iya mas." jawab Rangga.
"Rangga, kenapa kamu pucat sekali?" tanya Reyhan yang heran melihat wajah adik sepupunya itu sangat pucat.
"Tidak apa apa mas, aku cuma kelelahan." jawab Rangga.
"Kamu serius? Lebih baik kita ke dokter dulu." tanya Reyhan yang merasa khawatir.
__ADS_1
"Aku tidak apa apa, aku hanya butuh istirahat, tidak perlu ke dokter mas." jawab Rangga.
"Kamu yakin Rangga?" tanya Reyhan lagi.
"Iya mas, aku yakin.'' jawab Rangga dengan sedikit tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu beristirahatlah, kita bahas desain rumah itu besok saja." jawab Reyhan.
"Iya mas." Rangga pun melangkah menuju kamarnya, lalu saat memasuki kamarnya ia segera membersikan dirinya dan setelahnya ia pun membaringkah tubuhnya keatas tempat tidur, karena ia benar benar merasa tubuhnya sangat lemah.
Adzan maghrib berkumandang dengan sangat merdu, Rangga memaksakan tubuhnya untuk bangun dan berwudu untuk melaksanakan sholat, dan setelah selesai ia pun kembali membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur.
"Rey, dimana Rangga?" tanya papanya saat mereka sedang makan malam, dan tampak mereka tidak melihat Rangga turun.
"Sepertinya dia sedang kurang sehat pa, aku lihat wajahnya sangat pucat saat pulang kerja." jelas Reyhan.
"Kamu serius Rey?" tanya mamanya yang tampak terkejut.
"Mah, masa aku becanda sih." jawab Reyhan.
"Kalau begitu biar mama lihat dulu." ujar tante Rita, lalu ia pun bangkit dari kursinya, dan menuju kamar Rangga.
Tok tok tok..
"Rangga, boleh tante masuk?" tanya tante Rita.
Mendengar suara Rangga membuat tante Rita semakin merasa khawatir, ia pun segera membuka pintu dan menghampiri Rangga yang terbaring di atas tempat tidurnya.
"Sayang kamu kenapa?" tanya tante Rita sambil memeriksa kening keponakannya itu.
"Aku tidak apa apa tante, aku cuma kelelahan." jawab Rangga.
"Tapi kamu demam Rangga, kita ke dokter ya?" ujar tantenya.
"Tidak perlu tante, aku cukup istirahat." jawab Rangga.
"Tidak Rangga, demam mu terlalu tinggi, kalau begitu biar tante panggilkan dokter saja." jawab tantenya.
Lalu tante Rita pun meninggalkan Rangga yang terlihat berusaha melarang tantenya karena merasa dirinya baik baik saja. Tante Rita segera menemui suaminya yang kebetulan telah selesai makan, lalu meminta suaminya untuk menghubungi dokter.
Setengah jam setelah menghubungi dokter yang sudah menjadi dokter pribadi mereka pun akhirnya datang, kedua orang tua Reyhan segera membawa dokter itu menuju kamar Rangga untuk memeriksanya.
Usai memeriksa Rangga dokter pun menuliskan resep obat yang harus di tebus di apotik, lalu ia pun mengajak orang tua Reyhan untuk berbicara diluar, dan membiarkan Rangga untuk beristirahat di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Bagaimana dok, apa yang terjadi dengan Rangga? tanya tante Rina yang terlihat begitu mengkhawatirkan keponakannya itu.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan bu, Rangga hanya kecapean saja, tapi dia harus banyak beristirahat dan mengurangi aktivitasnya, saya khawatir dia akan drop jika masih memaksakan diri untuk beraktifitas berlebihan." jawab dokter itu.
"Baiklah dok, kami akan mengawasinya agar lebih banyak beristirahat." jawab papa Reyhan.
"Oh ya, ini ada resep obat yang harus di tebus." ujar dokter itu lagi, sambil menyodorkan selembar kertas resep obat untuk Rangga.
"Baik dok." jawab papa Reyhan, lalu ia pun mengambil resep obat itu lalu memberikannya kepada istrinya.
"Kalau begitu saya permisi dulu." pamit dokter.
"Terima kasih dok." jawab kedua orang tua Reyhan dengan bersamaan, lalu dokter pun meninggalkan rumah Reyhan.
"Ma, papa akan minta Reyhan untuk menebuskan obat ini di apotek terdekat, mama sebaiknya siapkan makanan untuk Rangga, agar saat Reyhan tiba Rangga langsung bisa minum obatnya." ujar papa Reyhan kepada istrinya itu.
"Baik pah, kalau begitu mama siapkan makan malam untuk Rangga dulu." jawab tante Rita, lalu pergi menuju meja makan mereka untuk menyiapkan makanan Rangga.
Reyhan pun segera menuju apotek setelah papa memintanya untuk membelikan obat untuk Rangga.
Dan setelah selesai menyiapkan makanan untuk Rangga yang di bantu oleh pembantunya, tante Rita pun membawa makanan itu menuju kamar keponakannya itu.
"Rangga, ayo makan dulu sayang." ujar tante Rita sambil berusaha membangunkan Rangga yang tengah terbaring.
"Iya tante, maaf aku merepotkan tante." ujar Rangga sambil berusaha bangkit dari tidurnya.
"Bicara apa kamu Rangga, tante tidak pernah merasa di repotkan oleh mu sayang, sudah..ayo cepat makan, mas mu sedang membelikan obet di apotek, nanti bisa langsung kamu makan setelah Reyhan pulang." jelas Tante Rita.
"Iya tante, terima kasih." jawab Rangga.
Tante Rita pun mulai menyendoki makanan untuk Rangga dan menyuapi keponakannya itu. Setelah memakan sebagian makananya, Rangga merasa kenyang, meski tantenya berusaha untuk memintanya mengahabiskan makannya, namun Rangga tetap menolaknya.
"Ma, ini obatnya." Reyhan yang baru saja tiba langsung menuju kamar adiknya itu untuk menyerahkan obat.
"Iya sayang, terima kasih." jawab mamanya dengan tersenyum, lalu di jawab anggukan oleh Reyhan.
"Cepat sembuh." ujar Reyhan sambil memukul pelan bahu adik sepupunya itu.
"Terima kasih mas." jawab Rangga.
"Hmm." Reyhan pun tersenyum, lalu melangkah keluar dari dalam kamar Rangga.
"Ayo di minum." tante Rita memberikan beberapa butir obat kepada Rangga untuk diminum. Dan Rangga pun segera mengambil dan meminum obat itu.
__ADS_1
"Istirahatlah, tante keluar dulu ya sayang, kalau ada apa apa panggil saja tante." ujar tante Rita.
"Iya tante, terima kasih." jawab Rangga, lalu ia pun membaringkan tubunya, dan mulai memejamkan matanya.