Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 72


__ADS_3

Setelah bersiap siap dan meminta izin kepada kedua orang tuannya, kini Nazwa sudah siap untung berangkat bersama saudarinya Zahwa dan juga Anton. Semuanya pun berpamitan kepada paman dan bibi Zahwa, dan mereka pun sedikit memberikan nasehatmya kepada Anton dan juga keponakannya.


"Paman, kami pamit pulang dulu." ucap Anton dan menyalami paman istrinya itu.


"Iya nak, ingatlah kamu adalah kepala rumah tangga, akan seperti apa kedepannya hubungan rumah tangga kalian, kamulah yang akan menentukannya, jika kamu gagal mendidik istrimu dengan baik, maka kamu juga yang akan mempertanggung jawabkan semuanya. Jadi paman harap bersikaplah bijak sana dalam menghadapi segala sesuatunya." Nasehat pamannya.


"Iya paman, terima kasih nasehatnya, insya allah aku akan berusaha lebih memperbaiki lagi rumah tangga ku, dan bertanggung jawab penuh terhadap Zahwa." ucap Anton dengan tersenyum.


"Bi Zahwa pamit pulang dulu ya." ucap Zahwa lalu memeluk bibinya.


"Iya sayang, kamu hati hati ya, jaga kandungan mu dengan baik sayang" ucap bibinya sambil mengelus lembut punggung Zahwa.


"Iya bi." jawab Zahwa, lalu menyalami pamannya juga.


"Za, berfikirlah lebih jauh sebelum mengambil tindakan, karna yang menurut mu baik, itu belum tentu baik juga untuk orang lain." nasehat pamannya saat Zahwa menyalami pamannya.


"Iya paman, terima kasih paman dan bibi sudah banyak membimbing ku selama aku berada disini." ucap Zahwa lagi.


"Abi, Nazwa pamit dulu ya." ucap Nazwa yang kini bergiliran menyalami abinya.


"Kamu hati hati disana ya, jangan pernah tinggalkan sholatmu." ucap abinya memberikan nasehat.


"Iya bi insya allah." ucap nazwa. Lalu mendekati uminya.


"Umi, Nazwa pamit ya." Nazwa pun memeluk ibunya.


"Iya sayang, jaga diri mu baik baik ya sayang." ucap uminya sambil mencium kening putrinya.


"Iya mi, doakan Nazwa ya, semoga bisa segera diterima kerja." ucapnya lagi dengan tersenyum.


"Iya sayang do'a umi pasti selalu akan menyertaimu." jawab uminya.


Dan akhirnya setelah kedua orang tua Zahwa juga berpamitan dengan kedua adik dan adik iparnya, mereka pun segera masuk kedalam mobil Anton, lalu Anton melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Karna perjalanan yang jauh, Anton dan yang lainnya memutuskan untuk sholat dan makan malam di jalan. Sesampainya di rumah kedua orang tua Zahwa mereka segera masuk ke dalam kamar masing masing untuk beristirahat, begitu juga dengan Nazwa ia segera masuk kedalam kamar yang telah ditunjuk oleh ibu Zahwa.


Setelah selesai melakukan sholat subuh, Zahwa mengajak Anton untuk segera berangkat ke Jakarta, agar bisa segera sampai dirumah mertuanya. Zahwa pun berpamitan kepada kedua orang tuannya di ikuti dengan Anton.

__ADS_1


"Ayah, ibu, Zahwa pamit pulang dulu ya." Ucap Zahwa, lalu menyalami kedua orang tuannya, dengan mata yang berkaca kaca.


"Iya sayang, kamu hati hati ya nak, jaga kesehatan mu dan cucu ibu." ucap ibunya dengan meneteskan air mata.


"Ayah, bu, Anton juga pamit ya." ucap Anton.


"Iya Nak. Kami titip Zahwa ya."ucap ayah Zahwa


"Tolong jaga dia dengan baik ya nak." sambung ibunya.


"Iya yah, insya allah aku akan menjaga istriku dengan baik." ucap Anton dengan tersenyum.


Lalu setelah mereka semua berpamitan, ketiganya pun masuk kedalam mobil dan Anton segera melajukan kendaraanya dengan kecepatan sedang.


Semuanya terlihat mengobrol dan bercanda ria saat dalam perjalanan, Zahwa dan Nazwa bercerita dengan mengenang masa kecil mereka, tanpa terasa perut Anton sudah terasa sangat lapar karna memang sudah lewat waktunya untuk sarapan, mereka pun mampir ke warung pinggir jalan yang mereka lewati. Namun saat memarkirkan mobilnya Zahwa sedikit terkejut karna suaminya memilih tempat pinggiran seperti itu.


"Mas, mas yakin mau makan disini.?" tanya Zahwa sedikit ragu.


"Iya, kenapa sayang, apa kamu tidak suka dengan tempatnya ya,? kalau begitu kita cari tempat lain saja ya.?" tanya Anton.


"Tidak apa apa sayang, bukannya dulu mas pernah membeli rujak buah dipinggiran, dan rasanya tidak buruk bukan." ucap Anton dengan tersenyum.


"Iya mas." jawab istrinya dengan mengangguk pelan.


Dan akhirnya mereka pun turun dari mobil lalu segera memasuki tempat makan pinggiran itu. Setelah memesan makanan mereka segera menyantapnya, dan baru kali ini Anton bisa merasakan ternyata makanan pinggiran juga tidak kalah enaknya dengan makanan yang ada di restoran.


"Hmm, ternyata enak juga ya." ucap Anton.


"Mas suka ya.?" tanya Zahwa.


"Iya, rasanya enak juga." jawab Anton lagi.


"Kalau mas suka, aku bisa masakin seperti ini dirumah." ucap Zahwa dengan tersenyum.


"Boleh, sepertinya akan lebih nikmat kalau kamu yang masak sayang, kamukan pinter memasak." puji Anton. Zahwa pun terkekeh mendengar ucapan suaminya.


"Jangan memuji sesuatu yang belum kamu rasakan mas, karna belum tentu rasanya bisa seenak ini." ucap Zahwa. Melihat tingkah keduanya Nazwa hanya tersenyum dengan mengelengkan kepalanya pelan.

__ADS_1


Mereka melanjutkan perjalanan setelah selesai sarapan, dan setelah berjalan dalam waktu beberapa jam, mereka pun tiba dirumah orang tua Anton. Orang tua Anton yang telah mendapat kabar dari Anton akan kepulangan dirinya dan Zahwa merasa sangat bahagia, mereka pun terlihat menyambut kedatangan anak dan menantu mereka di depan rumahnya.


"Assalamualaikum." ucap Zahwa yang segera mendapat pelukan dari mama mertuanya.


"Waalaikum salam." jawab papanya dan juga terlihat memeluk Anton.


"Sayang bagaimana kabar mu, apa cucu mama baik baik saja." tanya mama Melinda saat ia telah melepaskan pelukannya, dan terlihat matanya yang mulai berkaca kaca.


"Alhamdulillah baik ma, cucu mama pun sehat." ucap Zahwa tersenyum. Lalu mamanya memalingkan wajahnya, menoleh ke arah Nazwa.


"Siapa ini nak, kenapa dia." ucap mamanya terhenti katna Zahwa segera menjawab pertanyaan mertuanya.


"Eh, Dia Nazwa ma sepupu Zahwa, dan kebetulan dia dapat panggilan dari sebuah perusahaan di Jakarta, jadi kita berangkat bareng." jawabnya dengan tersenyum.


"Oh ya, kebetulan sekali ya." jawab mamanya dengan tersenyum.


"Assalamualaikum tante." ucap Nazwa lalu menyalami kedua orang tua Anton.


"Waalaikum salam." jawab mereka dengan tersenyum.


"Ayo kita masuk, kalian pasti lelah." ucap papanya.


Mereka pun segera masuk dan menuju ruang keluarga, terdengar obrolan ringan dari mereka sambil bercanda dan melepaskan rindu, Nazwa pun bisa melihat, betapa sayang kedua mentua Zahwa kepada sepupunya itu. Setelah membersihkan diri, mereka pun berkumpul di meja makan untuk melakukan makan siang.


Mendengar kepulangan iparnya Anita, Anisa, beserta suami mereka pun mendatangi rumah orang tuanya, untuk melihah keadaan Zahwa. Dan semua juga ikut merasa terkejut melihat kemiripan Nazwa dengan iparnya itu.


Setelah makan malam bersama dengan keluarga besar Anton, Zahwa pun meminta Anton agar segera pulang kerumah mereka. Meski masih menyimpan rindu tapi kedua mertuannya harus membiarkan anak anak mereka pulang kerumahnya.


Sesampainya dirumah, mereka segera masuk kedalam kamarnya dan pembantu Zahwa pun menghantarkan Nazwa ke kamarnya untuk beristirahat, sungguh mereka sangat merasa lelah dengan perjalanan yang cukup jauh, dan juga obrolan yang panjang dirumah orang tua Anton.


"Mas, apa besok mas bisa menghantar ku kerumah Sarah.?" tanya Zahwa.


"Mas dengar dia sudah tidak tinggal disana, dan kembali ke apartemen nya." jawab Anton.


"Kenapa mas.?" tanya Zahwa heran.


"Mas juga tidak tahu sayang. Besok mas akan menghantar mu kesana, tapi malam ini kamu harus istirahat segera, karna anak kita pasti sangat lelah setelah melakukan perjalanan jauh." ucapnya tersenyum dan mengelus lembut perut istrinya. Zahwa menganggu pelan dengan tersenyum, lalu ia pun membaringkan tubuhnya dan Anton menarikan selimut untuk menyelimuti tubuh istrinya.

__ADS_1


__ADS_2