
Anton segera menuju kamarnya dan mengganti pakaiannya kerjanya dengan pakaian santai, setelah selesai ia kembali turun dan menemui Zahwa yang telah menunggu.
"Ayo sayang." Anton merangkul pinggul istrinya.
Meski belum mengetahui kemana dirinya akan dibawa oleh suaminya, namun Zahwa terlihat senang karena bisa keluar rumah dan ikut kemana pun suaminya itu membawanya.
Dua puluh menit berlalu, kini Anton dan Zahwa terlihat berada di pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta, Anton pun segera mengajak istrinya masuk dan menuju sebuah toko di sana.
"Kita mau apa disini mas.?" tanya Zahwa, ia belum tahu kemana dirinya akan dibawa karena mereka memang belum sampai di toko yang di inginkan oleh Anton.
"Lihat saja nanti sayang." jawab Anton tersenyum.
Karena keadaan perut Zahwa yang besar, Anton pun berjalan mengikuti langkah istrinya yang pelan dengan sabar, ia juga selalu terlihat merangkul pinggul istrinya, memcoba untuk membuat Zahwa selalu merasa nyaman saat berjalan.
"Nah, kita sampai." ucap Anton, kini mereka berdiri di sebuah toko besar dan terkenal yang menjual berbagai macam perlengkapan bayi bermerk dan terbaik.
"Mas.." bola mata Zahwa tampak berbinar, ia tidak menyangka bahwa Anton akan membawanya kesana. Zahwa tahu benar dengan kesibukan suaminya, hingga ia pun tidak pernah meminta suaminya itu untuk menghantanya membeli perlengkapan bayi, Zahwa berfikir ia akan membelinya nanti dengan meminta Nazwa menemaninya.
"Ayo sayang, kita lihat dulu di dalam." Anton menggenggam tangan Zahwa, lalu melangkah masuk kedalam.
"Selamat siang bapak, ibu. Ada yang bisa saya bantu.?" tanya seorang pegawai toko itu dengan ramah dan tersenyum manis kepada Zahwa dan Anton.
"Mba, saya mau perlengkapan bayi terbaik yang ada ditoko ini." ujar Anton.
"Baik pak, kemari akan saya tunjukan." jawab pegawai itu.
Mereka pun mengikuti langkah prempuan cantik itu, yang membawa mereka pada tumpukan rapi perlengkapan bayi.
"Silahkan bu, ini perlengkapan terbaik yang kami punya." ujar prempuan itu.
"Ayo sayang, silahkan pilih dan ambil yang kamu suka." ujar Anton kepada istrinya.
Zahwa benar benar terpukau dengan perlengkapan bayi yang ada di dalam toko itu, semuanya tampak bagus dan juga cantik, karena merasa kebingungan Zahwa pun tidak tahu mana yang harus ia pilih.
Melihat istrinya yang tampak bingung, Anton pun mendekati Zahwa dan bertanya kepada istrinya itu.
__ADS_1
"Sayang, kenapa belum memilih.?" tanya Anton.
"Aku bingung mas, semuanya bagus bagus dan cantik, jadi aku tidak tahu harus pilih yang mana." jawab Zahwa.
"Hmm.. Kalau begitu, bagaimana kalau kita beli saja sumuanya." jawab Anton dengan tersenyum, membuat Zahwa terkejut mendengarnya.
"Mas..mana bisa seperti itu, kita membeli yang akan di pakai saja, nanti mubazir kalau tidak terpakai." jawab Zahwa, ia tahu benar bahwa suaminya mampu untuk membeli seluruh isi toko itu, namun ia harus bisa memberi penjelasan kepada suaminya.
"Kalau begitu ayo kita cari sama sama." ujar Anton dan Zahwa pun mengangguk setuju.
Mereka terlihat memilih bersama segela perlengkapan mulai dari popo, baju, dan juga segala macam keperluan lainnya.
"Mas.!" Zahwa terdengar memanggil suaminya yang sedikit jauh darinya.
"Iya Sayang." Anton pun menghampiri istrinya.
"Mas coba lihat, kaos kaki dan sepatu ini cantik sekali, aku bingung harus pilih yang mana, yang ini cantik, yang ini juga bagus." ujar Zahwa.
"Kalau menurut mas, ambil saja keduanya sayang." jawab Anton.
Satu jam berada ditoko itu membuat mereka merasa lelah memilih, namun mereka terlihat lega karena semua perlengkapan yang mereka inginkan telah mereka dapatkan, mulai dari popok sampai tempat tidur bayi yang terlihat mewah.
Anton dan Zahwa menuju meja kasir, ia pun meminta pelayan untuk menghitung belanjaan mereka, dan setelah menghitung pelayan pun menyebutkan total belanjaan mereka.
"Total semuanya jadi tiga puluh juta pak." ujar pelayan kasir.
Zahwa pun merasa terkejut dengan ucapan kasir yang memberi tahukan nominal belanjaan mereka, sedangkan Anton terlihat tampak santai, ia mengeluarkan kartu debit yang ada di dalam dompetnya dan menyerahkannya kepada pelayan toko.
Usai membayar tagihan belanjanya, Anton juga memberikan kartu alamat rumahnya, belanjaan yang begitu banyak tidak mungkin ia bawa menggunakan mobilnya, ia pun meminta pegawai toko itu untuk menghantar semua belanjaan kerumah mereka yang ada di dalam kartu alamat rumahnya.
"Sayang, apa kamu sudah lapar.?" tanya Anton.
"Mas, kita sholat dulu ya." ujar Zahwa.
"Iya sayang, kita sholat dulu setelah itu kita cari tempat makan." jawab Anton.
__ADS_1
Zahwa mengangguk dengan tersenyum, lalu mereka keluar dari mall dan menuju masjid yang tidak begitu jauh dari pusat perbelanjaan itu.
Setelah selesai melaksanakan sholat Dzuhur, Anton dan Zahwa kembali masuk kedalam mobil yang terpakir di halaman masjid, lalu Anton pun membawa istrinya menuju restoran.
Saat di dalam perjalanan, Zahwa hanya terlihat berdiam diri, sepatah kata pun tidak terdengar dari bibirnya, dan hal itu membuat Anton merasa khawatir dengan istrinya.
"Sayang kamu kenapa.?" Anton menggenggam tangan istrinya.
"Aku baik baik saja mas." jawab Zahwa.
"Tapi dari tadi mas lihat kamu melamun sayang, apa kamu yakin kalau kamu baik baik saja sayang, atau mungkin kamu lelah.?" tanya Anton lagi, ia benar benar khawatir terhadap istrinya itu.
"Tidak mas, aku baik baik saja." jawab Zahwa dengan tersenyum.
"Syukurlah kalau begitu sayang."
"Mas.!" Zahwa memanggil suaminya.
"Iya sayang." jawab Anton.
"Mas, kenapa kita membeli perlengkapan bayi semahal itu.?" tanya Zahwa.
"Maksud mu sayang, mas tidak mengerti.?" Anton bertanya kembali kepada Zahwa, karena memang ia tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh istrinya.
"Mas, uang tiga puluh juta itu tidak sedikit, itu uang yang sangat banyak, dan mas harus mengeluarkan uang sebanyak itu hanya karena aku, maaf mas aku tidak bisa mengendalikan diriku." Zahwa berbicara dengan raut wajah sedihnya, ia merasa bersalah kepada suaminya.
"Sayang, kamu kenapa berbicara seperti itu, uang segitu tidak ada apa apanya dibandingkan dengan kebahagiaan yang telah kamu berikan untuk mas sayang." jawab Anton.
"Iya mas, tapi.."
"Ssttt..sudah kamu gak usah fikirin lagi ya sayang, semua harta yang mas miliki itu tidak ada artinya, buat mas kalian adalah segala galanya, harta yang paling berharga didalam hidupku, jadi berapa pun nominal uang yang harus mas keluarkan untuk mu dan anak kita, itu tidak berarti apa apa buat mas." Anton membelai lembut perut istrinya, ia juga memberikan senyum hangatnya untuk Zahwa.
"Terima kasih mas." ujar Zahwa.
"Sama sama sayang." Anton menggenggam kembali tangan istrinya, laku menciumnya dengan lembut.
__ADS_1
Kini mereka telah sampai di sebuah restoran, Anton dan Zahwa segera masuk kedalam, mereka segera memilih tempat duduk lalu memesan makanan.