Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 86


__ADS_3

Setelah menempuh perjalan sekitar setengah jam dari rumah menuju bandara, kini Anton dan Zahwa pun sudah tiba di bandara, Anton memarkirkan mobilnya dan segera mengajak istrinya turun dari dalam mobil.


"Ayo kita turun sayang." ajak Anton, membuyarkan lamunan Zahwa, yang masih saja memikirkan tentang perjalanannya nanti.


"Eh, iya mas." jawabnya, rasa dihati Zahwa makin tidak menentu, aliran darahnya seakan akan mengalir lebih deras dari biasanya saat melihat besarnya gedung bandara penerbangan itu.


"Tunggu sebentar sayang." ucap Anton lagi, ia menghentikan langkah mereka saat telah keluar dari dalam mobil dan berdiri tepat di depan mobil mereka yang terparkir.


"Ada apa mas.?" tanya Zahwa bingung.


"Mas sedang menunggu orang dari kantor untuk menyerahkan kunci dan membawa mobil kita." jelas Anton.


"Ohh." mengangguk mengerti


Dan hanya dengan waktu kurang dari lima menit, orang yang di maksud Anton pun telah tiba. Anton segera memberikan kunci mobilnya, dan orang kantor itu pun segera membawa mobilnya pergi. Mengerti dengan perasaan yang sedang di rasakan oleh istrinya, Anton pun menggandeng dan menggenggam tangan Zahwa. Mereka terlihat berjalan dan segera memasuki gedung bandara tersebut.


Saat akan dilakukan pemeriksaan Zahwa merasa sedikit kebingungan dan takut, namun Anton selalu berusaha untuk menenangkan istrinya. Pemeriksaan identitas pun dilakukan, tapi karna belum memiliki paspor dan hanya akan melakukan perjalanan Domertik, maka Zahwa hanya di minta untuk menunjukan KTP nya.


Siapa yang tidak mengenal Anton Putra Wijaya.? Bahkan hampir semua karyawan bandara mengenalnya, bukan karna nama besar ayahnya saja, namun karna Anton yang juga sering melakukan perjalanan ke luar mau pun di dalam negeri. Tapi bukan berarti mereka bisa sembarangan masuk, dan tidak lagi mengikuti aturan pemeriksaan bandara. Setelah selesai di periksa, Anton dan Zahwa di persilahkan masuk dan segera menaiki pesawat, karna memang tidak lama lagi pesawat yang mereka tumpangi akan lepas landas.


Anton menggenggam erat tangan istrinya saat akan menuju lapangan tempat pesawat mereka, ia tau benar bagaimana sekarang perasaan Zahwa, karna ia dapat merasakan tangan istrinya yang tampak mulai dingin. Anton pun menarik dan merangkul istrinya, dan perlahan mereka mulai menaiki anak tangga pesawat, Zahwa berusaha keras mengusir rasa takut dan ke khawatirannya, namun entar mengapa rasa cemas itu masih saja ia rasakan.


Saat berada di dalam pesawat, Anton segera mempersilahkan istrinya untuk duduk di tempatnya, dan Anton memasang seat belts istrinya karna tahu istrinya tentu belum mengerti cara memakainya, lalu setelahnya ia duduk di kursi yang ada disamping istrinya, dan ia pun memasang seat belts nya sendiri.


Anton selalu berusaha mengajak istrinya berbicara dan bercanda, hal itu ia lakukan agar rasa takut yang ada di hati Zahwa bisa sedikit menghilang. Pesawat pun mulai perlahan berjalan sebelum akhirnya lepas landas di udara, perasaan khawatir Zahwa kini sedikit berkurang, karna dia sudah bisa merasakan bahwa terbang dengan pesawat bukanlah suatu hal yang begitu buruk dan menakutkan. Di dalam hati Zahwa selalu berdo'a, agar mereka bisa mendarat dengan selamat sampai di tempat tujuan.


***

__ADS_1


Sementara itu, di perusahan milik kakak iparnya, Nazwa mulai menyibukkan diri dengan beberapa lembar kertas kerja dan juga komputernya, sedikit pengalaman menguasai komputer sangat membantunya dalam mengendalikan alat kerja itu. Saat merasa sedikit kesulitan, Nazwa pun meminta bantuan kepada Rina, yang dengan senang hati membantunya.


"Maaf ya Rin, aku merepotkan mu." ucap Nazwa saat Rina berada disampingnya dan terlihat sedang membantunya.


"Tidak apa apa Nazwa, aku senang bisa membantu mu." jawabnya.


"O, ya boleh aku bertanya Na.?" ucapnya lagi sambil mengajari Nazwa.


"Iya boleh Rin." jawabnya lembut.


"Apa kamu sudah menikah.?" tanya Rina, dan pertanyaannya itu membuat Nazwa tersenyum.


"Belum Rin." menjawab sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Tapi kamu pasti sudah memiliki calon suami ya.?" tanyanya lagi penasaran.


"Belum juga."


"Aku serius Rin, dan aku juga memang tidak mengenal atau menginginkan istilah pacaran. Kalu sudah ada yang cocok, aku ingin segera menikah saja." jelasnya.


"Wahh, itu tantangan sekali ya Na, karna yang sudah lama berpacaran dan saling mengenal lebih jauh saja, masih bisa berantakan saat setelah menikah, apa lagi yang cuma sekedar saling kenal." ucap Rina.


"Insya allah jika allah berkehendak, maka pernikahan seperti apa pun akan berjalan dengan baik, tidak terkecuali juga dengan perjodohan." jawab Nazwa lagi dengan tersenyum, di pikirannya terlintas ingatannya tentang hubungan buruk Anton dan juga Zahwa yang kini terlihat begitu harmonis.


"Iya benar. Kalau kamu mau aku bisa membantu mu mengenal beberapa pria tampan dan juga berprestasi di kantor ini Na, atau mungkin kamu ingin mencoba mendekati pak Rangga saja.?" ucap Rina tersenyum.


"Sssttt, aku belum punya fikiran kesana." jawab Nazwa lagi sedikit tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Di kepalanya langsung terlintas wajah manajer itu.

__ADS_1


"Ya tidak apa apa to, berkerja sambil mencari jodoh. Tapi Na, pak Rangga itu orangnya sangat dingin dan cuek, banyak perempuan yang berusaha mendekatinya disini, tapi semuanya tidak berhasil." jelas Rina lagi sambil tertawa.


"O ya." tanya Nazwa merasa tidak percaya, karna saat ia sedang berada diruangan pak Rangga, laki laki itu menunjukkan sikap sewajarnya saja, bahkan bersedia mengajarinya. Entah itu karna Nazwa karyawan baru atau karna ia merasa bahwa Nazwa memiliki hubungan dengan bosnya.


Nazwa hanya terlihat tersenyum dan menggelengkan kepalanya mendengar ucapan dan tawa Rina, ia merasa begitu senang baru pertama masuk kerja tapi sudah memiliki teman seperti Rina, awalnya ia berfikiran bahwa hari pertamanya kerja akan terasa sangat sulit, tapi semuanya malah sebaliknya.


***


Setelah menempuh perjalanan dengan penerbangan kurang lebih hampir dua jam, akhirnya Anton dan Zahwa tiba di bandara Denpasar bali. Mereka segera membuka seat belts yang lampunya telah terlihat padam, dan Anton segera mengajak Zahwa untuk segera keluar dan turun dari pesawat.


"Bagaimana sayang, tidak buruk kan.?" tanya Anton saat mereka berjalan dari lapangan parkir pesawat menuju hedung dalam bandara.


"Iya mas, pengalaman yang menyenangkan." jawab Zahwa.


"Setelah ini kamu tidak akan pernah merasa takut lagi, dan kita akan lebih sering menaiki pesawat. Nanti mas akan urus paspor untuk mu, agar kamu juga bisa melakukan perjalanan ke luar negeri." jelas Anton.


"Terima kasih mas." jawabnya tersenyum.


Tak lama pun mereka keluar dari bandara dan menuju parkiran mobil, di sana terlihat ada seseorang yang berjalan mendekati mereka dengan senyuman ramah dibibirnya.


"Selamat siang pak.!" sapanya ramah dengan Anton.


"Siang." Anton pun tersenyum.


"Ini kunci mobilnya pak, dan kami juga sudah menyiapkan kamar hotel untuk bapak dan ibu." jelasnya lagi.


"Baiklah Terima kasih atas bantuan kalian." jawab Anton.

__ADS_1


"Sama sama pak." jawabnya.


Lalu mereka berdua pun terlihat memasuki mobil tersebut, dan berjalan meninggalkan halaman parkir mobil di bandara itu.


__ADS_2