
Rangga kembali dan membawa paperbag ditangannya, dan saat melintasi kamar milik Nazwa, Rangga pun terlihat berhenti dan berniat untuk mengetuk pintu kamar Nazwa. Namun ia pun mengurungkan niatnya lalu pergi menuju kamarnya. Rangga membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur dan terlihat senyum bahagia menghiasi wajahnya.
***
Suara Adzan subuh berkumandang dengan sangat merdu, membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi merasa tenang, dan ingin segera beranjak dari tidur juga segera melaksanakan sholat.
Nazwa segera beranjak dari tempat tidurnya dan segera membersihkan dirinya. Setelah melaksanakan ibadah, Nazwa segera mempersiapkan dirinya untuk pergi menuju lokasi tempat proyek mereka.
Tepat pukul tujuh pagi, bel di kamar Nazwa pun berbunyi, ia segera beranjak dan mendekat menuju pintu, lalu membukakan pintu untuk melihat siapa yang membunyikan bel kamarnya, saat membuka pintu, tampaklah Rangga yang telah berdiri dihadapannya.
Melihat Rangga dengan styli pakaianya, membuat Nazwa merasa terkejut dan tanpa sadar ia pun mematung dengan mulut sedikit menganga melihat Rangga.
Melihat tingkah Nazwa yang sedikit pun tidak berkedip saat melihat dirinya, membuat Rangga merasa heran dengan tingkah stafnya itu, ia pun berusaha membuat Nazwa sadar dengan sedikit melambaikan tangannya kehadapa wajah Nazwa.
"Hey, apa kamu baik baik saja.?" ucap Rangga.
"Ah, iya pak saya baik baik saja, maaf pak." jawab Nazwa sambil menutupi bibirnya dengan tangan, ia baru sadar dengan apa yang ia lakukan.
"Baguslah, kalau begitu ayo kita pergi, kita harus mengejar waktu agar bisa kembali ke jakarta sore ini." ujar Rangga.
"Baik pak, saya ambil tas dulu." jawab Nazwa lalu masuk dan berjalan sedikit terburu buru mengambil tasnya, dan kembali keluar mengikuti Rangga.
Nazwa masih merasa malu dengan tindakannya tadi, namun ia seperti itu bukan tanpa alasan. Nazwa merasa bahwa pakaian yang dikenakan Rangga adalah baju dan celana yang ia pilihkan kamarin saat ditoko. Tapi jelas sekali dalam ingatan Nazwa, bahwa kemarin Rangga mengembalikan semua pakaian itu dan tidak jadi untuk membelinya.
Bukanya itu baju dan celana yang kemarin ditoko, tapi bukannya pak Rangga tidak jadi membelinya. Atau mungkin pak Rangga sudah memiliki baju dan celana yang sama, itu sebabnya ia tidak jadi membelinya kemarin. Tapi aku yakin itu benar benar baju yang sama dengan yang ada ditoko kemarin, dan pak Rangga sama sekali tidak membawa pakaian saat ke kota ini.
"Aduhh kenapa kepala ku jadi pusing." ucap Nazwa dengan sedikit keras.
Karna mendengar uacapan Nazwa, Rangga pun dengan tiba tiba menghentikan Langkah kakinya. Dan karna berjalan dengan sedikit terburu buru tanpa memperhatikan didepanya, akhirnya Nazwa pun menabrak punggung Rangga yang berhenti tiba tiba tanpa ia sadari.
__ADS_1
Brukk..
"Astaghfirullah, aduhhh.. sakitttt..." teriak Nazwa yang terjaduh kelantai, sambil meringis menahan rasa sakit dibokongnya.
"Kamu kenapa.? Apa kamu sedang sakit." ucap Rangga, sambil berusaha membantu mengangkat tubuh Nazwa dengan menarik tanganya.
"Bapak kenapa berhenti mendadak begitu sihh..." ujar Nazwa sedikit kesal.
"Bukannya tadi kamu bilang kalau kepalamu pusing.?" tanya Rangga.
"Ohh itu, ah aku tidak apa apa pak." jawab Nazwa sedikit bingung dan malu karna sebenarnya ia merasa pusing ulah memikirkan Rangga bukan sedang sakit.
"Kalau begitu ayo cepat." ucap Rangga lalu mempercepat langkah kakinya menuju area parkir.
Nazwa pun mengikuti langkah kaki Rangga dengan cepat sambil memukul mukul dahinya pelan.
Ya Allah, kenapa dengan ku ini.. Batinnya dengan kesal.
Satu jam berada dibawah terik matahari membuat Rangga merasa pusing, terlihat dengan jelas dari raut wajahnya ia sedang menahan rasa pusing di kepalanya.
"Pak Rangga kenapa.?" tanya seorang klien padanya.
"Ah tidak apa apa, saya hanya sedikit merasa pusing." jawab Rangga.
Mendengar ucapan Rangga, Nazwa pun terlihat mendekat dan memberikan air mineral kepada atasannya itu, lalu dengan segera Rangga menerima air pemberian Nazwa dan segera meminumnya.
"Kalau begitu mari kita kesana saja." ajak klienya, sambil menunjuk pada tempat yang terlihat lebih sejuk.
Mereka pun segera menuju tempat yang ditunjuk, dan melanjutkan obrolan mereka tentang peroyet itu. Usai berbincang bincang, akhirnya semua pun berpamitan untuk pergi, begitu pun dengan Rangga dan Nazwa.
__ADS_1
Sopir menghantar Rangga dan Nazwa kembali kehotel atas permintaan Rangga, untuk mengambil peralatan mereka yang masih tertinggal dikamar hotel, karna Rangga nemutuskan untuk segera kembali ke Jakarta secepatnya. Rangga tahu benar bahwa Nazwa sebenarnya sedikit merasa tidak nyaman berada di tempat asing dan dengan orang yang baru saja ia kenal, itu sebabnya ia memutuskan untuk segera pulang.
Sebelum menuju bandara, mereka pun memutuskan untuk singgah di sebuah restoran, untuk mengisi perut yang memang sudah terasa lapar. Setelah mendapatkan tempat duduk, mereka pun memesan makanan yang ada didaftar menu.
Nazwa dapat melihat dengan jelas perunahan wajah Rangga yang terlihat pucat, dan hal itu pun membuat Nazwa merasa khawatir dengan keadaan Rangga.
"Apa bapak baik baik saja.?" tanya Nazwa. dengan sedikit ragu ragu.
"Kenapa, ada apa dengan ku.?" ucap Rangga yang malah balik bertanya, dan masih dengan sedikit acuh, ia pun menatap wajah Nazwa membuat perempuan itu menjadi merasa takut.
"Bapak terlihat pucat, apa bapak benar benar baik baik sajakan.?" tanya Nazwa lagi.
"Aku tidak apa apa, kamu tenang saja, aku pasti akan membawa mu pulang dari kota ini." jawab Rangga lagi. Mendengar ucapan Rangga, Nazwa malah terlihat bengong, karna merasa bingung dengan ucapan Rangga.
Sebenarnya pak Rangga ini kenapa sih, aku menghawatirkannya, tapi kenapa malah bicara kemana mana tidak jelas begini. batin Nazwa.
Makanan mereka pun tiba, dan dengan segera mereka menyantap makan yang telah di letakkan oleh pelayan restoran kehadapan mereka. Tidak begitu paham dengan menu yang ia pilih, Nazwa pun tersedak karna rasa pedas yang ia rasakan. Melihat Nazwa yang terbatuk batuk karna tersedak, Rangga segera memberikan jus yang ada di dekatnya dengan Nazwa.
"Tidak perlu terburu buru, makanlah dengan tenang." ucap Rangga.
"Ini terlalu pedas pak." ujar Nazwa.
Tanpa pikir panjang, Rangga terlihat segera memanggil pelayan Restoran, dan meminta untuk mengganti makanan Nazwa, meski Nazwa sudah berusaha mencegahnya dan mengatakan untuk akan tetap memakan makananya itu.
"Tadi kamu bilang itu terlalu pedas." ujar Rangga sambil menunjuk kepada makanan Nazwa.
"Tapi saya masih bisa memakannya pak." jawab Nazwa lagi.
"Lalu bagaimana nanti kalau tiba tiba kau sakit perut.? Aku tidak mau tambah repot karna harus menghantar mu berobat ke klinik." ucap Rangga, dan Nazwa pun diam tak menjawab apa apa lagi.
__ADS_1
Pak Rangga ini kenapa ya.? Kadang dia begitu perhatian, tapi kadang malah menjengkelkan sekali, huh..