Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 128


__ADS_3

Sinar pagi mulai telihat terang, cahayanya menyinari hamparan dunia. Di dalam rumahnya, Zahwa terlihat memeluk ibunya dengan erat juga dengan perasaan yang terasa sedih, seperti yang telah disampaikan orang tuanya kemarin, bahwa hari ini kedua orang tua Zahwa berniat untuk pulang kerumahnya di kampung.


Karena memang mereka sudah cukup lama meninggalkan rumah, keadaan Zahwa pun terlihat sudah pulih seperti sedia kala, hingga tidak ada lagi hal yang perlu mereka khawatirkan.


"Bu, ibu dan ayah hati hati ya dikampung, jaga kesehan." ujar Zahwa, yang masih dalam peluukan ibunya.


"Iya sayang, kamu juga hati hati ya nak, jaga dirimu baik baik." ucap bu Ningsih.


"Ayah juga, jangan terlalu capek capek ya, aku tidak mau ayah sampai kelelahan dan jatuh sakit." ujar Zahwa yang terlihat mendekati ayahnya.


"Iya nak, kalau begitu ayah dan ibu pamit dulu ya sayang." ujar pak Rahmat.


"Iya yah, hati hati ya, beri kabar Zahwa yah, kalau ayah dan ibu sudah sampai di rumah." ucap Zahwa.


"Iya sayang. Na, wak titip Zahwa ya ndok, tolong jaga dia." ujar bu Ningsih kepada keponakannya itu, mereka berbicara sambil berjalan menuju mobil.


"Iya wak, kalian jangan khawatir, aku pasti menjaga Zahwa." jawab Nazwa dengan tersenyum.


"Terima kasih Na, kalau begitu wak pulang dulu ya. Assalam mualaikum." ucap bu ningsih.


"Waalaikum Salam." Zahwa dan Nazwa bergilir menyalami bu Ningsih dan pak Rahmat. Lalu mereka pun segera masuk kedalam mobil Anton.


"Mas.!" Zahwa terdengar memanggil suaminya.


"Iya sayang.?" jawab Anton.


"Hati hati ya." ujar Zahwa.


"Hmm, kamu tenang saja ya, nanti mas langsung ke kantor setelah dari terminal, mas usahakan pulang cepat." jawab Anton, ia mendekati istrinya lalu mencium kening Zahwa.


"Iya mas." Zahwa mencium punggung tangan suaminya.


"Assalam mualaikum."


"Waalaikum salam." jawab Zahwa.

__ADS_1


Anton menaiki mobilnya dan segera melaju meninggalkan halaman parkir rumahnya, dan Zahwa masih terlihat melambaikan tangannya hingga mobil yang dikendarai suaminya tidak lagi terlihat di matanya.


"Ayo masuk Za." ucap Nazwa.


"Hmm." Zahwa pun memutar tubuhnya dan segera masuk kedalam rumah.


"Za, kamu tidak apa apa kan kalau aku tinggal sendiri dirumah.?" tanya Nazwa.


"Tidak apa apa Na, lagi pula aku dirumah tidak sendiri, ada bibik yang bisa membantuku kalau aku membutuhkan sesuatu." jawab Zahwa.


"Syukurlah kalau begitu. Aku harus kekantor hari ini, ada pekerjaan yang harus aku selesaikan sebelum besok berangkat ke kota XX." jelas Nazwa.


"Na, apa kamu akan pergi bersama laki laki yang bernama Rangga itu lagi.?" tanya Zahwa.


"Ya, aku dengar mas Anton ingin mengutus salah satu orang kepercayaan yang lain, tapi Rangga memaksakan diri untuk tetap pergi." jelas Nazwa.


"Kenapa begitu Na.?" Zahwa terlihat melipat kedua tangannya didadanya.


"Aku juga tidak tahu, tapi yang aku dengar ia merasa ingin bertanggung jawab saja atas pekerjaan yang telah sejak awal ia kerjakan." jawab Nazwa lagi.


"Waaahh..kalau begitu dia laki laki yang penuh dengan tanggung jawab dong." ujar Zahwa dengan penuh ke kaguman.


"Aku merasa dia laki laki yang cocok buat mu Na." ucap Zahwa dengan tersenyum.


"Ah mama mungkin Za, aku yakin seleranya pasti tinggi, mana mau dia dengan gadis kampung seperti ku." jawab Nazwa.


"Huss..kamu tidak boleh bicara begitu, lagi pula jodoh ditanggan tuhan, jadi jangan bicara seperti itu. Buktinya aku saja bisa berjodoh dengan mas Anton, kamu tahu sendirikan bagaimana mertua ku." jelas Zahwa


"Itu mah lain hal Za, memang keluarga mas Anton yang menginginkan kamu, dan itu salah satu keberuntungan yang kamu dapat." jawab Nazwa.


"Kamu tidak boleh bicara seperti itu, kamu harus yakin dengan ketentuan Allah, tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika Allah sudah berkehendak." ucap Zahwa.


"Iya deh, maaf." jawab Nazwa.


"Yang terpenting kamu harus terus berusaha dan berdoa unyuk mendapatkannya Na." Sambung Zahwa.

__ADS_1


"Lho kok jadi aku yang harus berusaha? Aku kan perempuan, malu dong kalau harus mengejar ngejar laki, hiii.." Nazwa terlihat menaikan kedia bahunya, sambil menggeleng gelengkan kepalanya. Dan hal itu membuat Zahwa tertawa senang melihatnya.


"Kamu harus mendapatkannya Na." ujar Zahwa lagi dengan sedikit berteriak karna Nazwa juga terlihat menjauhi dirinya dari Zahwa, untuk mengambil tas kerjanya.


"Aduh Za, kenapa obrolan kita jadi kemana mana begini sih, aku berangkat dulu ya, daa Za. Assalam mualaikum." ujar Nazwa sambil berlalu meninggalkan Zahwa.


"Nazwa dia itu tampan, kamu harus berhasil ya. Waalaikum salam, hati hati Na." jawab Zahwa dengan sedikit berteriak lagi karna Nazwa berlari meninggalkannya dan tak memperdulikan ucapan Zahwa lagi.


Setelah kepergian kedua orang tuannya dan juga Nazwa, Zahwa merasa benar benar kesepian seorang diri dirumah, tiba tiba ia teringat dengan toko kue miliknya.


Zahwa memang sudah cukup lama tidak melihat tokonya itu, tapi walaupun begitu ia selalu mendapat laporan dari karyawanya tentang pemasukan dan pengeluaran mereka. Bahkan tak jarang Zahwa meminta Lina untuk membagi bagikan keutungan kuenya kepada karyawan lainnya, dan tak sedikit pun meminta hasilnya.


"Dari pada aku bengong lebih baik aku cari cari resep kue terbaru." gumam Zahwa, lalu ia pun kembali kedalam kamarnya dan membuka labtobnya.


Zahwa ingin sekali pergi ke toko kuenya, namun hal itu tentu saja tidak mungkin, karena ia tahu bahwa Anton tentu saja tidak mengizinkannya untuk bepergian keluar rumah sendirian. Akhirnya Zahwa selalu mengubur keinginannya itu, dan hanya meminta informasi tentang keadaan tokonya melalui Lina.


***


Setelah menempuh satu jam perjalanan dari rumah menuju terminal, kini Anton dan kedua mertuanya telah sampai di terminal.


Anton dan kedua mertuannya segera menuju loket untuk membeli tiket bus. Lalu mereka segera menuju mobil bus yang menuju kearah kampung mereka, dan Anton ikut menghantar kedua mertuanya hingga didepan pintu mobil.


"Ayah dan ibu hati hati ya, jangan sungkan sungkan memberitahu kami jika ada sesuatu di kampung ya." ucap Anton sambil menyalami kedua mertuanya.


"Iya nak, ayah ucapkan terima kasih banyak ya, kami hanya meminta agar kamu bisa menjaga Zahwa nak." jawab pak Rahmat.


"Ayah ibu tidak perlu khawatir, aku akan menjaga istri dan anak ku dengan sepenuh jiwa ku." ujar Anton dengan tersenyum.


"Terima kasih nak, terima kasih." jawab bu Ningsih yang terlihat terharu dengan ucapan menantunya itu.


"Iya bu."


"Kalau begitu kami pulang dulu nak, Assalam mualaikum." ujar pak Rahmat.


"Waalaikum Salam." jawab Anton.

__ADS_1


Pak Rahmat dan bu Ningsih segera menaiki bus dan mencari tempat duduk mereka, sedangkan Anton segera menuju mobilnya setelah bus yang di tumpangi kedua mertuannya pergi meninggalkan terminal.


Anton segera melajukan mobilnya dan menuju kantornya, ia ingin semua urusannya cepat kelar hari ini agar bisa segera pulang kerumah, karna ia tidak ingin membiarkan Zahwa hanya sendiri dirumah, Anton tahu sekali pasti istrinya itu merasa kesepian.


__ADS_2