
Anton sudah nampak mengeluarkan mobil dari dalam garasi yang ada disamping rumahnya untuk bersiap siap pergi ke bandara, sedangkan Zahwa terlihat masih berbicara kepada pembantunya.
"Bi Zahwa titip rumah dulu ya, dan ini ada uang, siapa tau ada keperluan mendadak bik." ucapnya kepada salah satu pembantunya.
"Iya non, terima kasih, hati hati dijalan ya non."
"Iya bik, aku pergi dulu bik." ucapnya lalu berjalan keluar rumah.
Zahwa memasuki mobil dan Anton pun mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sesekali Anton menoleh menatap Zahwa, ia dapat melihat dari raut wajah istrinya itu nampak masih ada rasa takut yang ada pada dirinya, Anton tersenyum mengingat kembali semua ucapan istrinya saat masih berada di dalam kamar, yang mengatakan rasa takutnya.
Zahwa yang hanya menatap jalanan yang ada di depannya, bisa merasakan bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh suaminya itu, Zahwa pun menoleh dan menatap wajah suaminya juga.
"Ada apa mas.?" tanya Zahwa yang melihat Anton sedang menatap dirinya.
"Tidak apa apa sayang, apa kamu masih takut." tanya Anton tersenyum.
"Tidak mas." Zahwa berusaha membuang rasa khawatirnya, karna tidak ingin membuat Anton merasa cemas.
Anton pun tersenyum, lalu membelai lembut kepala istrinya, namun pandangannya masih fokus terhadap jalan raya, tangan Anton pun berpindah meraba perut istrinya, dan dengan cepat Zahwa memindahkan tangannya pula ke atas tangan Anton yang berada di perutnya.
"Mas, apa mas sudah menelpon orang kantor yang bernama Rangga, untuk memberikan tentang Nazwa.?" ucap Zahwa bertanya kepada suaminya itu, karna dari tadi Anton tidak terlihat berusaha menghubungi siapa pun.
"Astaghfirullah, mas lupa sayang." jawab Anton dengan sedikit merasa kaget mendengar pertanyaan istrinya.
Ia pun mengambil ponselnya dan berusaha untuk mencari kontak Rangga.
__ADS_1
"Selamat pagi pak.!" ucap Rangga di seberang sana.
"Pagi, Rangga.! tolong kamu cari prempuan bernama Nazwa nanti dikantor. Dia karyawan baru yang akan membantu mu dalam mengerjakan proyek baru kita, tolong nanti kamu neritahu dia apa saja tugasnya." perintah Anton.
"Baik pak, nanti setelah tiba dikantor, saya akan segera mencarinya pak." jawab Rangga.
"Hmm. Apa kamu sudah menyiapkan kendaraan untukku di Bali.?" tanya Anton lagi.
"Sudah pak, salah satu karyawan kita di cabang perusahaan yang ada di Bali, akan segera mengirimkan mobil nanti di bandara pak." jelasnya lagi.
"Baiklah, terima kasih."
"Sama sama pak." lalu mereka memutuskan telponya.
Anton meletakkan kembali ponselnya dan menatap istrinya, pandangan mereka pun bertemu dan saling lempar senyum pun terjadi.
"Terima kasih ya mas, sudah membantu Nazwa." ucap Zahwa.
"Tidak perlu berterima kasih sayang, dia adik mu, jadi sudah seperti adik ku sendiri pula." jawab Anton lagi.
***
Di Kantor, tidak butuh waktu yang lama bagi Nazwa untuk menunggu, kini orang yang dia cari pun sudah tiba. Rangga berjalan melewatinya, namun Nazwa tidak memperdulikan laki laki itu, karna ia belum mengenalnya sama sekali. Saat laki laki itu memasuki ruangannya, saat itu juga Rina mendekati Nazwa dan memberitahu tentang laki laki yang baru saja berjalan dihadapan Nazwa.
"Nah itu tadi pak Rangga, silahkan masuk temui beliau." ucap Rina.
__ADS_1
"Jadi itu yang namanya pak Rangga ya.?" tanya Nazwa tidak percaya dan Rina terlihat hanya mengganggukan kepalanya.
Nahwa merasa sedikit terkejut, karna ia berfikiran bahwa orang yang bernama Rangga dan bersetatus sebagai manager itu akan memiliki perawakan yang sedikit lebih tua, karna pasti sudah lama berkerja dalam perusahaan tersebut, hingga menyandang jabatan sebagai manager, namun ternyara apa yang ia fikirkan itu salah, karna pak Rangga yang baru saja melintas dan ia lihat itu berpenampilan cool dan jauh lebih muda.
Nazwa pun berdiri dari duduknya, berusaha menenangkan hatinya yang terasa sedikit gugup, lalu mencoba melangkah mendekati ruangan milik Rangga. Dan setelah tepat berada di depan ruangan itu, lagi lagi ia terlihat menarik nafas dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
Tok tok tok...
"Masuk." terdengar suara dari dalam sana.
Nazwa pun mencoba membuka pintu ruangan itu, dan setelah terbuka ia mencoba untuk menyapa dan masuk ke dalam.
"Selamat pagi pak.!" Ucapnya terlihat lebih tegas.
"Pagi." jawab Rangga, ia terlihat sedang ingin menghubungi seseorang, mungkin berniat untuk meminta dicarikan orang yang bernama Nazwa kepada karyawan lainnya, tapi karna dia melihat prempuan yang sedang ada di hadapannya dan terasa asing karna belum pernah ia lihat, akhirnya ia meletakkan kembali telpon kantor tersebut. Ia berfikir bahwa mungkin inilah prempuan yang di maksud oleh atasannya, namun setelah melihat Nazwa ia sedikit terkejut, namun berusaha untuk tetap terlihat cool
Nazwa pun berusaha terus masuk dan mendekati meja kerja yang ada dihadapan Rangga.
"Maaf mengganggu bapak, nama saya Nazwa karyawan baru disini, saya di minta oleh pak Anton untuk menemui bapak." ucap Nazwa lagi.
"Iya, beliau pun sudah menghubungi dan memberitahu saya, silahkan duduk." ucapnya mempersilahkan.
"Terima kasih pak." jawab Nazwa, lalu duduk di atas kursi yang ada di hadapan Rangga.
Cukup lama Nazwa berada di dalam ruangan itu, karna Rangga berusaha menjelaskan apa perkerjaannya, dan sedikit memberitahu dan mengajarkan cara kerjanya. Setelah ia merasa bahwa Nazwa sudah lebih mengerti dan bisa ia andalkan, maka ia pun menyuruh Nazwa keluar dan segera memulai perkerjaannya. Setelah Nazwa keluar dari ruangannya, Rangga pun mulai bertanya tanya lagi dalam pikirannya.
__ADS_1
Siapa sebenarnya Nazwa, kenapa sepertinya aku mengenalinya, apa mungkin dia adalah istri dari pak Anton.? Karna jelas jelas aku melihatnya dulu sebagai mempelai perempuan yang bersanding di samping pak Anton saat pesta pernikahan mereka. Tapi pak Anton bilang ia akan pergi ke Bali bersama istrinya, dan tidak mungkin pula ia membiarkan istrinya berkerja di perusahaan miliknya sendiri.? Rangga berfikir keras untuk mencari tahu, namun karna tidak ingin terlalu memperdulikannya ia pun memilih untuk memulai pekerjaannya, hal yang jauh lebih penting menurutnya, dan berusaha melupakan segala pertanyaan yang ada di dalam kepalanya.
Sedang Nazwa, setelah keluar dari Ruangan pak Rangga, ia kembali pada ruangan terbuka itu kembali, disana terdapat sebuah meja kosong yang pemiliknya baru saja mengeluarkan diri dari perusahaan karna harus ikut dengan sumainya, dan Rina memberi tahu dirinya untuk menempati meja kosong tersebut.