
Tepat pukul tujuh malam, Zahwa terlihat menatap layar kaca yang ada di dalam kamarnya, untuk memastikan penampilannya yang tampak cantik dengan gaun, hijab yang serasi, dan juga make up di wajahnya.
Anton yang baru saja masuk kedalam kamar merasa terpana dengan penampilan istrinya itu, ia pun mendekati Zahwa lalu perlahan memeluk istrinya dari belakang, tangan Anton berhenti tepat di depan perut buncit Zahwa, lalu terlihat ia menciumi bahu istrinya itu berulang kali.
"Cantik sekali." ucap Anton dengan berbisik di telinga Zahwa, dan istrinya itu hanya menanggapinya dengan tersenyum. "Apa kamu sudah siap?" tanya Anton lagi.
"Sudah mas, tapi aku ragu jangan jangan mas sebenarnya yang belum siap." ujar Zahwa yang merasakan gerak gerik agresif dari suaminya itu.
"Siapa bilang?" tanya Anton, yang langsung mengangkat tubuh Zahwa lalu menggendong istrinya itu dan berjalan membawanya keluar dari dalam kamar.
"Mas turunkan, aku malu mas." Zahwa berusaha meminta Anton untuk segera menurunkannya.
"Malu, memangnya kenapa? Sudah diam, atau kita akan jatuh bersama." ujar Anton yang mulai menuruni anak tangga. Karena merasa takut akhirnya Zahwa pasrah, dan membiarkan suaminya itu menggendongnya hingga sampai mobil, lalu ia pun menurunkan Zahwa dari gendongannya.
"Silahkan masuk tuan putri." ujar Anton, ia membukakan pintu untuk istrinya, lalu sedikit membungkukan tubuhnya, seperti seorang pelayan.
"Terima kasih mas." jawab Zahwa, lalu segera masuk kedalam mobil.
Setelah masuk kedalam mobil dan duduk di belakang kemudi, Anton pun segera menyalakan mobilnya dan melaju dengan kecepatan sedang menuju tempat pesta pernikahan Sarah dan Rudi di langsungkan.
Sesampainya disana, Anton dan Zahwa segera menuju pelaminan, mereka menemui sepasang pengantin baru itu untuk memberikan ucapan selamat.
"Selamat ya Sarah, semoga kalian menjadi keluarga yang Sakinah, Mawaddah, Warahmah, dan segera mendapatkan momongan." ujar Zahwa saat berhadapan dengan Sarah.
"Aamiin..terima kasih Zahwa. Za aku minta maaf atas segala kesalahanku ya." ujar Sarah, entah mengapa Sarah teringat akan kisah kelamnya saat menjadi madu Zahwa, dan kini kesedihan pun tampak diwajahnya.
"Sudahlah Sarah, tidak ada lagi yang perlu dimaafkan, kamu juga tidak pernah bersalah. Lupakan semuanya, dan mulailah hidup mu yang baru, yang lebih baik dari sebelumnya." jawab Zahwa, dan Sarah pun menarik Zahwa kedalam pelukannya.
"Terima kasih Za." ujar Sarah lagi yang kini telah meneteskan air matanya. Zahwa melepas pelukan Sarah dan segera menghapun air mata mantan madunya itu.
"Ini hari bahagia mu Sarah, jangan mengisinya dengan tangisan." ucap Zahwa dengan tersenyum.
Usai memberikan ucapan selamat kepada sepasang pengantin, kini Anton dan Zahwa pun bergeser untuk menyalami kedua orang tua Sarah, dan saat Zahwa tiba dihadapan mama Sarah, perempuan paru baya itu segera memeluk Zahwa dengan sangat erat.
"Terima kasih Za, terima kasih." ujar mama Sarah yang masih memeluk Zahwa, dan air mata pun sudah tidak dapat ia bendung.
"Sudah tante jangan menangis, ini hari yang sangat membahagiakan untuk Sarah, jadi tante tidak boleh menangis." ujar Zahwa.
__ADS_1
Perempuan itu pun melepaskan pelukannya, lalu ia menangkup kedua belah pipi Zahwa dengan tangannya.
"Aku tidak mengerti terbuat dari apa hati mu, tapi bagi tante kamu seperti malaikat sayang, terima kasih atas kebaikan yang selalu kamu berikan untuk Sarah dan juga tante Zahwa." ciuman pun diberikan mama Sarah tepat di kening Zahwa.
"Tante, aku hanya ingin yang terbaik untuk semuanya, dan mungkin selama ini aku tidak bisa melakukan cara yang terbaik, aku juga minta maaf karena pernah membawa Sarah pada kehidupan yang rumit, tapi percayalah aku tidak pernah berniat buruk kepadanya." jawab Zahwa yang kini tampak sedih pula.
"Iya sayang tante percaya itu, sekali lagi terima kasih, dan tante mohon maafkan segala kesalahan tante." ujar prempun itu lagi, dan Zahwa pun terlihat menganggukkan kepalanya.
Usai memberikan ucapan selamat, Anton dan Zahwa pun di minta Sarah dan Rudi untuk foto bersama mereka, senyuman hangat Anton dan Zahwa mereka berikan untuk beberapa jepretan kamere. Malam kian larut, Anton dan Zahwa pun berpamitan untuk pulang, dan segera meninggalkan tempat pesta itu.
***
Sementara itu, setelah makan malam, Nazwa kembali masuk kedalam kamarnya, ia meraih ponsel yang ia letakkan di atas nakas, lalu keluar menuju balkon yang ada di kamarnya. Nazwa terlihat mondar mandir di sekitar balkon, ia tampaknya sedang berfikir keras mencari bagaimana cara menyampaikan niatan Rangga menemui orang tuannya kepada abi dan umiya.
Meski abi dan umi nya telah mengetahui kedekatan Rangga terhadap putri mereka, namun Nazwa sendiri belum pernah mengatakannya secara langsung kepada kedua orang tuanya itu, selama ini mereka mengetahunya melalui Zahwa. Maklum saja ini adalah kali pertama Nazwa menyukai seorang pria, dan tentu saja ia masih merasa malu untuk mengatakannya kepada abi dan uminya.
Nazwa akhirnya melakukan panggilan melalui ponsenya, setelah memikirkan bayak hal sebelumnya, ia sudah siap untuk menanggung resiko jika nanti abi dan umi marah kepadanya.
"Assalam'mualaikum Nazwa." terdengar suara dari ibu yang selalu mengkhawatirkannya setiap saat itu, maklum saja ini untuk pertama kalinya mereka berpisah jauh dalam waktu yang cukup lama.
"Alhamdulillah umi sehat nak, bagaimana keadaan mu disana?" tanya uminya.
"Alhamdulillah Nazwa juga baik umi."
"Syukurlah kalau begitu sayang."
"Umi, dimana abi?" tanya Zahwa, yang tak mendengar suara abinya disana.
"Abi sedang berada di luar, apa kamu ingin bicara dengan abi mu?" tanya uminya.
"Iya umi, aku ingin bicara dengan abi dan juga umi." jawab Zahwa.
"Begitu? Baiklah sayang, tunggu sebentar ya, umi panggilkan abi dulu." ucap uminya lalu pergi untuk nemanggilkan suaminya yang sedang berada diluar.
"Iya umi." Nazwa pun menunggu beberapa saat, namun terlihat dirinya semakin gelisah, karena akan berbicara kepada abinya.
"Assalam'mualaikum Nazwa." sapa abinya yang kini telah berada di ruang keluarga bersama dengan istrinya.
__ADS_1
"Waalaikum salam bi, bagaiman kabar abi?" tanya Nazwa.
"Alhamdulillah abi baik baik saja nak, ada apa? Umi bilang Nazwa ingin bicara dengan abi dan juga umi ya?" tanya abinya lagi.
"Iya bi, tapi Nazwa bingung harus mulai dari mana." jawab Nazwa sambil menggigit bibir bawahnya.
"Kenapa bingung Nazwa? Tenangkan dirimu dulu, baru setelah itu bicaralah, apa yang ingin kau bicarakan?" ucap abinya yang berusaha untuk menenangkan putrinya itu.
Nazwa pun menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan, setelah itu ia pun mulai membuka suara lagi untuk berbicara kepada orang tuannya.
"Abi sebelumnya Nazwa minta maaf dengan Abi dan juga umi, karena selama ini Nazwa belum pernah bicara kepada abi dan umi sebelumnya." ujar Nazwa
"Ada apa nak, apa yang sebenarnya terjadi Nazwa? Coba jelaskan benar, agar abi dan umi bisa paham." ucap uminya yang ikut mendengarkan Nazwa berbicara.
"Maaf Umi, sebenarnya Nazwa ingin bilang kalau Nazwa sedang dekat dengan seorang laki laki, dan dia ingin pergi ke kampung kita untuk bertemu dan bicara dengan abi dan ubi, untu meminta restu." jelas Nazwa dengan suara bergetar, ia sungguh merasa takut kepada kedua orang tuannya.
"Apa dia laki laki yang baik Nazwa." meski telah mengetahui semuannya dari Zahwa, namun orang tua Nazwa ingin mendengarnya sendiri darinya
"Insya allah abi." jawab Nazwa lagi.
"Nazwa, kamu sekarang sudah dewasa sayang, kamu tentu sudah bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk untuk mu. Ikuti kata hati mu nak, dan jika dia memang benar benar baik menurut mu, biarlah dia kemari, abi dan umi akan menyambut niat baik darinya." ujar abinya,
Saat mendengar ucapan abinya itu, Nazwa pun terlihat begitu lega, karena apa yang ia takutkan tidak akan terjadi, dan malah sebaliknya, orang tua Nazwa akan menerima kedatangan Rangga dirumah mereka dengan baik.
"Kapan dia akan kemari nak." tanya umi Nazwa.
"Minggu depan mi, Nazwa akan kabari lagi kapan tepatnya." jawab Nazwa.
"Baiklah nak, jaga diri mu baik baik ya." ujar abinya.
"Iya bi, terima kasih abi, umi." ucap Nazwa.
"Iya sayang." jawab ibunya dan abinya.
"Assalam'mualaikum." Nazwa pun mengakhiri teleponya.
"Waalaikum salam."
__ADS_1