Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 126


__ADS_3

Nazwa membuka pintu rumah, dan tampaklah Sarah dengan kedua orang tuanya, Sarah melempar senyumannya, lalu dengan segera berlari memeluk Nazwa, Sarah belum pernah melihat Nazwa sebelumnya, jadi wajar saja kalau ia mengira bahwa yang ada dihadapannya adalah Zahwa.


Sedangkan mama Sarah, ia tampak begitu terkejut melihat Nazwa, rasa bersalah didalam dirinya makin besar, saat ia melihat perut Nazwa yang tampak rata, karna ia mengira bahwa Nazwa adalah Zahwa.


Ia berfikir bahwa Zahwa telah kehilangan bayinya karena kecelakaan yang di sebabkan olehnya, sebelumnya ia bisa membedakan Zahwa dan Nazwa saat mereka bertemu di supermarket, namun karna ia berfikiran hal lain jadi ia mengira bahwa yang sekarang ada dihadapannya adalah Zahwa.


Saat telah melepaskan pelukannya, Sarah baru menyadari satu hal yaitu perut Zahwa yang tampak telah rata, sedangkan saat ia datang untuk meminta maaf ketika Zahwa masih berada dirumah sakit, perut Zahwa masih terlihat besar karna belum melahirkan.


"Za, kenapa perut mu kelihatan rata sekali, apa kamu sudah melahirkan Za.?" tanya Sarah.


"Za, tante minta maaf, ini semua pasti ulah tante kan sayang." ucap mama Sarah yang terlihat mendekati Nazwa, rasa bersalah dihatinya terlihat begitu besar.


Nazwa sebenarnya juga merasa terkejut melihat kehadiran mama Sarah, ia memang tidak mengetahui bahwa mama Sarah adalah pelaku penabrakan Zahwa karna memang Anton, dan juga ayah mertuanya tidak menceritakan hal itu kepada ibu Zahwa maupun Nazwa.


Tapi Nazwa tentu saja tidak lupa dengan peristiwa saat mama Sarah memaki dan menghina Zahwa saat mereka bertemu di supermarket.


"Maaf, kalian salah faham, saya Nazwa bukan Zahwa." ujar Nazwa.


"Nazwa.?" Sarah tampak binging dan tidak mengerti dengan apa yang di ucapan oleh Nazwa.


"Iya, saya Nazwa sepupu Zahwa, dia berada didalam." jawab Nazwa lagi, memberi penjelasan kepada Sarah.


"Ah iya sayang, dulu mama pernah bertemu dengan mereka di supermarket dan mereka memang begitu mirip, maafkan tante ya atas kejadian waktu itu." ujar mama Sarah kepada Nazwa, dan kini akhirnya Nazwa pun tahu, bahwa Sarah adalah mantan istri dari kakak iparnya.


"Tidak apa apa tante, kalian ingin bertemu dengan Zahwa? Dia ada di dalam." jawab Nazwa.


"Kalau begitu, boleh kami masuk.?" tanya Sarah.


"Silahkan, saya akan panggilkan Zahwa." jawab Nazwa, meski sebenarnya ia merasa ragu untuk mempersilahkan mereka masuk, namun karena Anton berada didalam rumah, maka ia tidak begitu khawatir akan terjadi sesuatu dengan Zahwa.

__ADS_1


Mereka pun masuk kedalam, lalu Nazwa mempersilahkan mereka untuk duduk di sofa ruang tamu, setelahnya ia pun berpamitan untuk memanggil Zahwa dan juga Anton.


"Za, ada tamu yang ingin bertemu dengan mu didepan." ujar Nazwa.


"Siapa Na." tanya Zahwa, ia sedikit bingung karena ia merasa tidak mempunyai kepentingan dengan siapapun.


"Kalau tidak salah namanya Sarah, dia datang bersama perempuan yang pernah memarahimu saat kita di supermarket." jelas Nazwa.


Mendengar ucapan Nazwa, Zahwa pun merasa terkejut, ia tahu benar bahwa perempuan yang disebut oleh Nazwa adalah mama Sarah, kedua orang tua Zahwa pun merasa terkejut dengan ucapan Nazwa, mereka juga bisa merasakan kekhawatiran yang tampak jelas dari wajah Zahwa.


"Ada apa nak, Kenapa sepertinya kamu sangat terkejut, dan kenapa dia pernah memarahimu, siapa sebenarnya dia.?" tanya ibu Ningsih.


"Bukan siapa siapa bu." jawab Zahwa, ia tentu harus menutupi siapa mama Sarah dari orang tuanya, karna ia tidak ingin terjadi kesalah pahaman antara kedua orang tuanya dan juga Sarah.


"Za, kalau memang dia bukan siapa siapa kenapa dia bisa memarahimu, kamu juga terlihat cemas, tolong jawab ibu dengan jujur nak." ucap bu Ningsih lagi.


"Iya nak, katakan saja siapa dia.?" ayahnya ikut bertanya. Hingga akhirnya tidak ada lagi alasan untuk Zahwa tidak menjawab pertanyaan kedua orang tuanya.


Mendengar ucapan putrinya, bu Ningsih semakin terkejut, sedangkan ayahnya merasa bingung karna ia tahu bahwa perempuan itu sedang berada di dalam penjara, dan ia belum mengetahui bahwa mama Sarah telah bebas.


"Nak, bukan kah perempuan itu.." belum sempat ayahnya menyelesaikan kalimatnya, Zahwa telah memotong pembicaraan ayahnya, karena tidak ingin ibunya menjadi bertambah cemas.


"Hmm, ayah biar aku temui mereka dulu ya, tidak enak jika mereka menunggu terlalu lama. Nazwa, tolong panggilkan mas Anton ya, dan minta bibik untuk buatkan minuman untuk mereka." ucap Zahwa.


"Iya, kamu hati hati Za." ujar Nazwa yang merasa cemas.


"Biar ayah sama ibu temani ya nak." ujar ayahnya dan Zahwa hanya mengangguk.


Nazwa dengan segera menuju kamar Anton yang berada di lantai dua, menyampaikan pesan Zahwa untuk memberitahu tentang kehadiran Sarah dan kedua orang tuanya.

__ADS_1


"Ada apa Na, dimana Zahwa.?" tanya Anton yang melihat Nazwa dengan raut wajah nampak cemas.


"Maaf mas, Zahwa ada di bawah, bersama Sarah dan kedua orang tuanya." ujar Nazwa.


"Apa!" Anton sedikit berteria karena merasa terkejut, ia masih belum bisa melupakan hal yang menimpa istrinya, dan kini orang yang pernah mencelakai istrinya berada dirumahnya.


"Iya mas, Zahwa meminta saya untuk memberitahu mas Anton." jawab Nazwa yang makin terlihat cemas karna melihat reaksi Anton.


"Ya sudah." Anton segera berlari menuruni anak tangga, secepatnya ia ingin segera sampai di ruang tamu untuk menemui istrinya.


"Assalam mualaikum." ucap Zahwa saat menemui Sarah dan kedua orang tuanya di ruang tamu.


"Waalaikum Salah, Zahwa." mama Sarah yang terlihat sedang duduk, seketika segera berdiri saat melihat Zahwa, ia mendekati dan memeluk perempuan yang pernah ia celakai itu sambil meneteskan air mata.


Zahwa sedikut terkejut dengan tindakan mama Sarah, namun karena yang dilakukan mama Sarah bukanlah hal yang menyakitinya, akhirnya Zahwa membiarkan mama Sarah memeluknya.


"Zahwa, tante kesini karena tante ingin meminta maaf kepada mu nak." ucap mama Sarah dengan menangis, lalu tiba tiba mama Sarah merebahkan tubuhnya dan ingin bersujud dihadapa Zahwa.


"Astaghfirullah hal azim, tante jangan seperti itu, tante tidak seharusnya bersujut dihadapan aku." Zahwa dengan segera berusaha mengangkat tubuh mana Sarah.


"Tidak apa apa Zahwa, tante bersalah selama ini dengan mu, bahkan tante hampir saja membuat mu kehilangan nyawa." ujar mama Sarah.


"Apa.?" tanpa sadar bu Ningsih begitu terkejud mendengar ucapan mama Sarah.


Zahwa yang tersentak dengan teriakan ibunya, dengan segera menghampiri bu Ningsih, ia merangkul wanita yang telah melahirkan dan membesarkannya itu, berusaha untuk menenangkan hati ibunya.


Zahwa tentu tahu persis bagaimana perasaan seorang ibu saat melihat anaknya terluka, apa lagi jika ada seeeorang yang dengan sengaja ingin melukai anaknya, hati seorang ibu tentunya akan sangat terluka, oleh sebab itu Zahwa berusaha membuat ibunya tenang, dan tidak marah.


Sarah pun melakukan hal yang sama, ia segera mendekati mamanya, dan merangkul malaikat tak bersayapnya itu, Sarah sangan memahami dan mengerti dengan sikap yang ditunjukan bu Ningsih saat mendengar ucapan mamanya.

__ADS_1


Disaat yang tepat, Anton pun tiba dan langsung membuat suasana jadi sedikit tenang, ia menghampiri istrinya untuk memastikan bahwa tidak terjadi apa apa kepada Zahwa.


__ADS_2