
Adzan subuh berkumandang dengan sangat merdu, bahkan sebelumnya terdengar lantunan ayat ayat suci Al-Qur'an yang dibacakan oleh anak anak santri juga sangat indah, membuat siapa pun yang mendengarnya merasakan ketenangan dan kedamaian.
Rangga, Reyhan, dan juga papanya terlihat telah berada di dalam masjid itu sejak sebelum adzan berkumandang, mendengar lantunan ayat suci Al-Qur'an membuat mereka merasa ingin pergi menuju masjid dengan cepat. Mereka pun melaksanakan sholat subuh dengan anak anak santri, dan tidak ketinggalan juga mama Rita, Nazwa dan juda uminya.
Matahari mulai terlihat meninggi dengan teriknya yang menyinari semesta, usai sarapan bersama, kedua orang tua Reyhan pun memutuskan untuk berpamitan kepada kedua orang tua Nazwa, dan meski masih menyimpan kerinduan di hati, namun Nazwa terpaksa harus ikut kembali ke Jakarta, karena ia pun harus kembali bekerja, meski pun tempatnya bekerja adalah prusahaan milik kakak iparnya, namun Nazwa tidak ingin bersikap semena mena, dan lari dari tanggung jawabnya sebagai karyawan.
"Kami permisi dulu pak ustad, terima kasih atas jamuannya dan sudah mengizinkan kami bermalam disini." ujar papa Reyhan sambil menyalami abi Nazwa.
"Sama sama pak itu tidak sebera, kami senang kalian mau berkunjung kemari, jangan sungkan sungkan untuk mampir kemari lagi." jawab abi Nazwa.
"Pasti, terima kasih pak ustad." jawab papa Reyhan lagi.
"Umi, Nazwa pergi dulu." pamit Nazwa kepada ibunya itu.
"Iya sayang, kamu hati hati ya nak, jaga dirimu baik baik." ujar uminya.
"Iya umi." ia pun memeluk ibunya itu dengan erat.
"Abi, Nazwa pamit dulu ya." ucap Nazwa yang kini telah berada di hadapan abinya.
"Iya, hati hati nak dan ingat pesan abi." jawab abinya.
"Iya abi, Nazwa akan ingat itu." ucap putrinya.
Setelahnya Rangga dan Reyhan pun ikut bergilir untuk berpamitan kepada kedua orang tua Nazwa, lalu mereka pun segera menaiki mobil, dan mulai melaju meninggalkan halaman rumah kedua orang tua Nazwa, lambaian tangan uminya masih terlihat jelas oleh Nazwa dari balik kaca mobil, hingga menimbulkan kesedihan lagi dihatinya karena harus kembali berjauhan lagi dari kedua orang tuanya.
"Mas." panggil Nazwa yang duduk di kursi bagian belakang, sedangkan Rangga dan Reyhan duduk di kursi bagian depan.
"Hmm." jawab Rangga, lalu menoleh melihat Nazwa yang duduk di belakanya. Sedangkan Reyhan terlihat melirik dari kaca sepion yang ada di hadapanya, lalu kembali fokus mengemudikan mobil.
"Aku sudah bicara kepada abi tentang rencana kalian ingin membangun rumah di desa, dan abi mengizinkannya bahkan abi bilang akan mengurus surat surat tanahnya." jelas Nazwa.
"Apa kamu serius Nazwa? Kamu tidak sedang bercandakan?" tanya Reyhan dengan antusias, ia terlihat begitu bersemangat mendengar ucapan Nazwa.
"Iya mas Rey, aku serius dan tidak sedang bercanda." jawab Nazwa dengan tersenyum.
"Alhamdulillah." jawab Rangga.
"Syukurlah kalau begitu, terima kasih Nazwa." ucap Reyhan lagi.
"Sama sama mas." jawab Nazwa.
"Mas Reyhan kan jago menggambar, jadi bagaimana kalau desainnya mas Reyhan saja yang buat." ujar Rangga.
__ADS_1
"Oke, aku akan buat rumah yang seindah mungkin, pokoknya siapa pun yang tinggal di rumah itu akan merasa nyaman dan betah disana." jawab Reyhan dengan penuh keyakinan.
"Kalu begitu aku minta dibuatkan segera mungkin mas, agar aku dan Nazwa bisa segera berbulan madu disana." ucap Rangga dengan tersenyum tipis, berusaha untuk menggoda kakak sepupunya itu.
"Oh..jadi itu tujuan mu minta dibuatkan rumah di sana secepatnya? Tidak bisa, mas yang harus pertama kali berbulan madu disana." ucap Reyhan dengan berpura pura kesal.
"Kalau begitu mas harus menikah terlebih dahulu sebelum kami." jawab Nazwa dengan tertawa kecil.
"Kamu sedang menyindir ku Nazwa?" ujar Reyhan lagi dengan cemberut.
"Tidak mas." jawab Nazwa dengan tertawa.
"Oke, aku kalah kali ini, aku akui aku memang tidak pintar dalam mencari pasangan." jawab Reyhan dengan wajah sedihnya.
"Jodoh, Rezeki, dan maut itu sudah Allah tentukan mas, aku yakin kalau mas akan segera mendapatkan jodoh." ujar Nazwa.
"Aamiin. Aku yakin mas pasti mendapatkan perempuan baik dan sholeha." jawab Rangga.
"Aamiin, terima kasih atas doa kalian." jawab Reyhan dengan tersenyum.
Perjalanan yang hampir memakan waktu empat jam itu pun, akhirnya bisa dilalui Nazwa dan yang lainnya dengan selamat dan tampa hambatan, setelah memasuki kota Jakarta Reyhan, Rangga, juga paman dan bibinya terlihat singgah di sebuah Restoran untuk mengisi perut mereka, dan setelah semuanya keluar dari dalam mobil, mereka pun segera masuk kedalam restoran.
Mereka memesan makanan sesuai yang mereka inginkan, lalu saat makanan telah datang mereka pun segera makan siang. Karena waktu telah menunjukkan waktunya untuk sholat dzuhur, mobil mereka pun kembali terlihat singgah di sebuah masjid untuk melaksanakan sholat, lalu kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah Anton dan Zahwa.
Nazwa terlihat turun dari dalam mobil yang di kendarai Reyhan, lalu ia pun sempat menghampiri mobil yang di kendarai oleh orang tua Reyhan untuk mengucapkan terima kasih kepada tante Rita dan suaminya.
"Tidak Nazwa, om dan tante titip salam saja ya untuk Zahwa." jawab tantenya dengan tersenyum.
"Baiklah tante, nanti akan Nazwa sampaikan. Terima kasih tante, dan om, sudah mau repot repot menghantar Nazwa ke kampung." ucap Nazwa lagi.
"Sama sama sayang, tante tidak merasa di repotkan, tante senang kamu bisa berjodoh dan menerima Rangga. Kalau begitu tante dan om pulang dulu ya sayang." pamit tante Rita.
"Iya tante." jawab Nazwa
Lalu mobil mereka pun melaju meninggalkan halaman rumah Zahwa. Setelah mobil mereka tidak lagi terlihat oleh Nazwa, ia pun segera menuju pintu utama rumah Zahwa dan Anton.
"Assalam mualaikum." ucap Nazwa saat mengetuk pintu.
"Waalaiku salam." terdengar jawaban pembantu yang berkerja di rumah itu dari dalam, dan hanya hitungan detik pintu pun terbuka.
"Non Nazwa, sudah sampai ya." ucap pembantunya.
"Iya bik, Zahwa nya ada bi?" jawab Nazwa sambil melangkah masuk kedalam rumah.
__ADS_1
"Ibu ada di dalam non. " jawab pembantunya, yang telah mengubah panggilannya dari nyonya menjadi ibu kepada Zahwa, hal itu karena Zahwa merasa enggan dan tidak mau di panggil berlebihan, apa lagi usia pembantunya jauh lebih tua darinya.
"Ini ada sedikit oleh oleh dari kampung." ujar Nazwa sambil menyodorkan kotak berisi makanan yang sengaja dibuatkan oleh uminya untuk Zahwa.
''Iya non." jawab pembantunya.
"Di bagi dua saja bi, sebagian unyuk bibik ya." ucap Nazwa lagi.
"Baik non. Mau bibik ambilkan minum non?" tawar bibik kepada Nazwa.
"Iya bi." jawab Nazwa lalu ia pun terlihat mengikuti langkah pembantunya menuju dapur.
Pembantunya itu pun dengan cekatan membuatkan minuman untuk Nazwa, lalu segera menghantarkan minuman itu kepada Nazwa yang duduk di kursi meja makan.
"Ini non." meletakan minuman di hadapan Nazwa.
"Terima kasih bik." jawab Nazwa dengan tersenyum.
"Sama sama non. Non mau makan, biar bibik siapkan ya?" tanya bibik itu lagi.
"Tidak bik Nazwa sudah makan, bibik tinggalkan saja aku, nanti aku bisa sendiri jika perlu sesuatu." ujar Nazwa.
"Kalau begitu bibik ke dapur dulu ya non." jawabnya.
"Iya bi, terima kasih minumannya seger banget." ucap Nazwa dengan tersenyum lagi.
"Sama sama non." lalu pergi meninggalkan Nazwa.
Karena merasa lelah, Nazwa pun terlihat menyandarkan kepalanya di kursi, ia menatap langit lagit rumah itu, lalu sejenak memejamkan matanya.
"Nazwa!" Zahwa yang terlihat turun dari lantai dua rumahnya tampak terkejut melihat kehadiran Nazwa yang sudah kembali sampai dirumahnya. Nazwa pun membuka matanya dan melempar senyuman kepada Zahwa.
"Za." sapa Nazwa lalu ia pun berdiri untuk menghampiri Zahwa.
"Kamu sudah sampai?" tanya Zahwa.
"Baru saja, oh ya ada sedikit oleh oleh dari kampung, umi yang buatkan untuk mu." ucap Nazwa.
"Wah, terima kasih." ucap Zahwa dengan tersenyum.
"Wak, dan umi juga menitip salam untuk mu." ucapnya lagi.
"Waalaikum salam." jawab Nazwa.
__ADS_1
Mereka pun terlihat kembali duduk bersama di meja makan, dan tak begitu lama terlihat pembantunya datang membawakan kue dari kampung yang dibawakan oleh Nazwa. Sambil mencicipi kue yang di kirim untuknya, Zahwa pun mulai bertanya tanya tentang perjalanan Nazwa.
Ucapan syukur dan selamat pun tak henti hentinya terucap dari Zahwa saat mendengarkan perihal pernikahan Nazwa yang akan di selenggarakan satu bulan lagi.