Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 142


__ADS_3

Satu minggu pun berlalu, tanpa harus memberitahu atau mengumbar umbar kemesraan, akhirnya semua karyawan pun tahu tentang hubungan Rangga dan Nazwa. Terutama Rina, ia lah orang pertama yang akhirnya mengatahui hubungan Nazwa dan manajernya itu, karena curiga dengan gerak gerik dan tingkah sepasang kekasih itu, hingga akhirnya semua orang tahu olehnya.


Rangga terlihat menghampiri Nazwa di meja kerjanya, sebelum nazwa keluar dan pergi menuju kantin bersama Rina untuk makan siang. Rangga berniat untuk mengajak Nazwa makan siang diluar, karena ia ingin mengatakan sesuatu kepada kekasihnya itu.


"Bisa temani aku makan siang diluar?" tanya Rangga.


"Makan siang dimana mas?" tanya Nazwa lagi.


"Kita makan siang di restoran, aku ingin membicarakan sesuatu dengan mu." jawab Rangga lagi.


"Iya mas, kalau begitu aku siap siap dulu." ujar Nazwa, lalu ia pun merapikan semua berkas pekerjaannya dan bersiap untuk pergi.


Mereka pergi menuju restoran yang tak begitu jauh dari tempat mereka bekerja, dan saat tiba disana Rangga segera memesan makanan untuk dirinya dan Nazwa. Sembari menunggu pesanan mereka datang, Rangga pun terlihat membuka pembicaraan dan menyampaikan niat dan keinginanya.


"Nazwa! ada hal yang ingin aku sampaikan dengan mu." ujar Rangga.


"Iya, ada apa mas?" tanya Nazwa, wajahnya tampak begitu penasaran.


"Seperti yang pernah aku bilang dengan mu, bahwa aku ingin bertemu dengan kedua orang tua mu, untuk meminta restu mereka atas hubungan kita, dan aku rasa minggu depan adalah waktu yang tepan untuk pergi menuju kampung halaman mu, dan bertemu dengan kedua orang tua mu." jelas Rangga.


"Apa kamu serius mas?" Nazwa tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.


"Serius dong, hal seperti ini tidak mungkin aku bawa becanda." jawab Rangga lagi.


"Tapi apa tidak terlalu cepat mas?" tanya Nazwa lagi.


"Bukanlah lebih cepat lebih baik." jawab Rangga dengan tersenyum.


"Baiklah mas, aku setuju." jawab Nazwa dengan tersenyum, dirinya sungguh benar benar merasa bahagia, ia tak menyangka Rangga akan menepati janjinya secepat ini.


Makanan yang mereka pesan pun tiba, setelah pelayan meletakan makanan dan pergi dari hadapan mereka, Rangga dan Nazwa pun segera memakannya sebelum makanan itu dingin.


"Aku akan membicarakan hal ini dengan om dan tante nanti malam, aku harap mereka bisa meluangkan waktu mereka untuk membantu dan menemaniku menemui orang tua mu." ujar Rangga di sela sela makan mereka.


"Iya mas, aku juga akan beritahu abi dan umi nanti malam." jawab Nazwa.


Kedua orang tua Nazwa memang sudah mengetahui tentang hubungan Rangga dan Nazwa melalui Zahwa, dan mereka tidak keberan atas semua itu asalkan anak mereka bisa menjaga diri dan segera menghalalkan hubungan mereka. Begitu pun dengan kedua orang tua Reyhan, mereka juga telah mengetahui perihal hubungan mereka, dan semua sangat setuju dan mendukung mereka.


Tante Rita pun pernah mengundang Nazwa untuk makan malam bersama mereka, lalu ia pun bercerita tentang kehidupan masa kecil Rangga, dan memberitahu tentang kedua orang tuan Rangga.


***


"Nazwa, kamu jangan sungkan sungkan ya untuk bicara dengan om dan tante kalau terjadi sesuatu, Rangga sudah seperti anak kami, jadi anggaplah kami ini sebagai orang tua mu seperti halnya Rangga ." ujar tante Rita.

__ADS_1


"Iya tante." jawab Nazwa yang malam itu terlihat sedang duduk berdua dengan tante Rita di ruang keluarga. Nazwa sengaja di undang untuk makan malam di rumah orang tua Reyhan atas permintaan tante Rita, dan ini semua untuk mempererat hubungan mereka.


"Nazwa, tante juga ingin cerita sedikit tentang kedua orang tua Rangga. Dulu Rangga dan kedua orang tuannya tinggal di Singapura setelah menikah, karena kebetulan papanya bekerja disana. Tapi saat meraka akan pergi menuju ke bandara setelah merayakan hari raya idul fitri di Jakarta, mobil mereka mengalami kecelakaan dan kedua orang tua Rangga meninggal." tante Rita bercerita dengan tampak sedih, karena mengingat kepergian adik kandungnya, yaitu ibu dari Rangga.


"Astagfirullah hal adzim." ucap Nazwa, ia pun terlihat menggenggan tangan tante Rita, dan mengusapnya dengan lembut, mencoba untuk mengurangi kesedihan tante Rita.


"Saat itu Rangga masih berusia tujuh tahun, mengetahui kedua orang tuanya telah tiada Rangga terlihat begitu terpukul, sampai sampai ia sering jatuh sakit. Karena tidak ada yang merawat, akhirnya tante putuskan untuk membawa Rangga dan tinggal bersama kami." ujar tante Rita yang kini tampak telah meneteskan air mata.


"Nazwa, tante sangat berharap dan akan selalu berdo'a untuk hubungan kalian, somoga kalian bisa mengikan janji suci dalam pernikahan, karena tante yakin kamu adalah perempuan terbaik yang bisa membahagiakan Rangga." ujar tante Rita lagi.


"Insya Allah tante, aku akan berusaha untuk membuat Rangga bahagia." jawab Nazwa.


"Terima kasih Nazwa."


"Sama sama tante." tante Rita dan Nazwa pun terlihat berpelukan.


***


Usai menghabiskan makan siang mereka, Rangga dan Nazwa kembali menuju kantor mereka, sebelum masuk ke dalam gedung kantor, Rangga dan Nazwa terlihat menuju musholah terlebih dahulu untuk melaksanakan sholat, lalu setelah selesai barulah mereka masuk, dan kembali bekerja.


"Nazwa!" sapa Rina, yang kini terlihat menghampiri Nazwa di meja kerjanya.


"Iya, ada apa Rin?" tanya Nazwa.


"Makanya cari pasangan dong, biar ada yang ngajain makan di retoran juga." balas Nazwa.


"Jadi ngejek nih, mentang mentang sudah punya pasangan dan aku belum." jawab Rina dengan raut wajah yang di buat seakan akan sedang kesal, membuat Nazwa terkekeh melihatnya.


"Bukan begitu Rin, sudah ah jangan ngambek gitu dong, jelek tau." bujuk Nazwa.


"Iya deh, akhirnya pak Rangga ada yang menaklukan juga." ucap Rina lagi sambil tertawa.


"Ssttt..jangan kenceng kenceng dong ketawanya, malu tau diliatin yang lain." Nazwa meletakkan jari telunjuknya tepat di depan bibirnya, sambil mengedarkan matanya melihat disekelilingnya, karena rekan kerja mereka yang tampak memperhatikan tingkah Rina dan Nazwa.


"Maafff..." ujar Rina sambil menutupi bibirnya dengan tangan.


"Sudah sana kembali ketempat kerja mu, nanti kita dapat teguran lagi." Nazwa mencoba mengusir Rina.


"Iya iya." jawab Rina sambil berlalu pergi meninggalkan meja kerja Nazwa dan menuju meja kerjanya.


***


Anton dan Zahwa terlihat berada di sebuah toko jam tangan ternama yang ada di dalam pusat perbelanjaan, sepasang suami istri itu berniat membeli sepasang jam tangan yang akan mereka jadikan sebagai kado pernikah Saran dan juga Rudi.

__ADS_1


"Mas, bagai mana kalau yang ini saja." Zahwa menunjukkan sepasang jam tangan berwarna hitam, dengan beberapa berlian melekat di bagian pinggirnya


"Ini bagus." jawab Anton.


"Mba, tolong saya mau lihat yang ini." ujar Anton kepada penjaga toko, yang langsung segera mengambilkannya.


"Wah, pilihan ibunya tepat sekali, ini jam tangan keluaran terbaru dan masih jarang yang memakainya." ujar pelayan itu sambil meletakkan sepasang jam tangan itu ke hadapan Zahwa dan Anton.


"Ini bagus sekali mas." ujar Zahwa yang langsung memegang salah satu jam itu.


"Kalau boleh tau berapa harganya mba?" tanya Zahwa kepada pelayan tadi.


"Karena ini keluaran terbaru, dan masih dalam promosi, jadi jam ini masih cukup murah bu, harga sepasangnya dua ratus lima puluh juta rupiah." jawab pelayan itu.


Sontak saja Zahwa terkejut mendengarnya, matanya langsung membulat sempurna menatap suami yang ada disampingnya, lalu ia pun meletakkan jam itu kembali ketempatnya dengan sangat hati hati, karena tidak ingin melakukan kesalahan apa lagi kalau sampai jam itu rusak.


"Mas, itu mahal sekali untuk harga sepasang jam tangan." bisik Zahwa, dan Anton pun tersenyum mendengar ucapan istrinya itu.


Semenjak menikah dengan Anton, Zahwa memang selalu di kejutkan dengan hal hal seperti itu, ia memang sering melihat beberapa koleksi jam tangan Anton dan yang lainnya, namun Zahwa tidak pernah tahu berapa harga barang barang yang di miliki oleh suaminya itu.


"Itu tidak mahal untuk sepasang jam bermerk sayang." jawab Anton dengan tersenyum dan berbisik di telinga istrinya.


"Untuk warna kami punya banyak pilihan pak, Ada warna Dark brown, Light brown, dan juga Grey." ujar Pelayan itu lagi sambil menunjukkan jam tangan itu dengan warna yang berbeda.


"Mba, saya mau ambil dua pasang ya, dan yang satunya saya mau Light brown ini." ujar Anton sambil menunjuk jam tangan yang ia inginkan.


"Baik pak." jawab pelayan itu, lalu mengambil sepasang jam tangan yang di minta oleh Anton.


"Mas itu untuk siapa?" tanya Zahwa.


"Untuk kita sayang." jawab Anton dengan tersenyum.


"Tapi mas.." Zahwa berniat untul menolak, karena harga jam itu terlalu mahal untuknya.


"Tidak apa apa sayang, kita belum punya jam tangan sepasang bukan?" ujar Anton, dan Zahwa pun tidak bisa lagi menolaknya.


"Ini pak, silahkan selesaikan pembayarannya disana pak." ucap pelayan itu sambil menunjuk pada temannya yang bekerja sebagai kasir.


Anton pun segera menuju kasih, lalu mengeluarkan kartu ATM nya dan membayar dua pasang jam tangan yang ia beli. Sedangkan Zahwa masih diam terpaku sambil memperhatikan suaminya, ia masih memikirkan tentang harga jam itu, dan juga berapa jumblah uang yang harus dikeluarkan suaminya untuk dua pasang jam tangan itu.


"Ayo sayang." Anton meraih dua paperbeg jam tangan yang ada diatas meja kaca, lalu menggandeng tangan Zahwa, membuat prempuan itu tersadar dari lamunanya, merekapun keluar dari toko itu.


"Terima kasih bapak, ibu." ujar pelayan itu lagi sebelum Anton, dan Zahwa keluar dari tokonya.

__ADS_1


__ADS_2