
Matahari terlihat hampir tenggelam, di dalam masjid yang ada di pondok pesantren itupun, sudah terdengar jelas suara merdu seorang santri yang bersholawat, dan mungkin dalam beberapa menit lagi akan terdengar suara Adzan magrib.
Setelah selesai melihat-lihat rumah, Reyhan terlihat berjalan pulang memasuki area pondok, ia pun berjalan menuju kediaman Nazwa yang berada di belakang bangunan pondok pesantren dengan tersenyum-senyum.
Marasa ada yang aneh dengan putranya, papa Reyhan pun mendekat dan mencoba untuk bertanya kepada putranya.
"Rey, darimana kamu? Kenapa senyum-senyum sendiri begitu?" Tanya papanya.
Reyhan yang terkejut dengan kedatangan papanya yang tiba-tiba datang dari sampingnya itupun berbalik dan menjawab pertanyaan papanya dengan mengelus dada.
"Reyhan habis dari lihat-lihat rumah Nazwa dan Rangga pa." Jawabnya.
"Kalau begitu cepatlah masuk, sebentar lagi Adzan magrib." Sambung papanya sambil melihat jam yang ada di tangan kirinya.
"Iya pa." Reyhan bergegas masuk dan mandi karena ia tidak ingin ketinggalan sholat berjamaah di masjid.
***
Pagi hari, matahari tampak masih malu-malu memperlihatkan dirinya, namun sudah terlihat dengan jelas hari ini suasana akan begitu cerah. Usai berpamitan dengan keluarga Nazwa, Reyhan dan kedua orang tuanya terlihat menaiki mobil mereka dan kembali menuju Jakarta.
Sebelumnya kedua orang tua Reyhan terlebih dahulu berjanji kepada kedua orang tuanya Nazwa, bahwa mereka akan sering datang dan terus membiayai pengobatan Nazwa selama masih dijalaninya, mereka juga berkata akan memberi kabar selalu tentang ke adaan Rangga, dan meminta orang tua Nazwa untuk tidak ragu-ragu menghubungi mereka jika terjadi sesuatu atau mereka membutuhkan apapun itu.
Mobil melaju meninggalkan kediaman Nazwa, namun mata Reyhan terlihat mengitari beberapa rumah warga yang ia lewati, dengan sangat pelan ia membawa mobilnya, sampai sampai ia tertinggal cukup jauh oleh mobil ke dua orang tuanya.
Siiittt.. Mobil Reyhan terlihat berhenti mendadak di samping seorang gadis yang terlihat mengayuh sepedanya, membuat gadis itu sedikit terkejut dan menghentikan sepedanya.
Gadis itu nampak bingung dengan mobil yang berusaha menghalanginya, namun ia masih menunggu seseorang yang terlihat membuka pintu mobilnya itu untuk keluar.
"Hey nona." Reyhan turun dengan tersenyum menyapa gadis yang kemarin ia temui di rumah baru Nazwa dan Reyhan.
"Assalamu'alaikum." Jawab gadis itu sambil menganggukkan kepalanya, membuat Reyhan merasa malu dan salah tingkah karena salah mengucap dalam menyapa orang muslim saat bertemu.
"Wa alaikum salam." Jawab Reyhan dengan malu-malu."
"Ada apa tuan?'' Tanya gadis itu, ia masih bingung dengan tujuan Reyhan menghalangi jalanya.
Yang di tanya pun semakin salah tingkah, karena ia sendiri pun bingung dengan maksud dan tujuannya menghentikan gadis itu. Tapi karena sudah terlanjur basah, akhirnya Reyhan pun memberanikan diri untuk berkenalan.
" Nama saya Reyhan, kalau saya boleh tahu siapa nama nona?" Reyhan terlihat menjulurkan tangannya bermaksud untuk berjabat tangan, seperti orang-orang lain berkenalan secara umumnya.
Gadis itu hanya menatap tangan Reyhan dengan tersenyum, lalu ia pun menjawab pertanyaan pria di hadapannya namun tidak untuk menyambut uluran tangan Reyhan.
"Maaf, nama saya Aisyah." Jawabnya sambil menganggu kan kepalanya.
Sadar dengan kesalahannya, Reyhan pun dengan cepat menarik kembali tangannya, ia lupa bahwa seorang perempuan muslimah tentunya tidak akan mau bersentuhan saat berkenalan, seperti halnya Zahwa dan Nazwa dulu saat pertama bertemu dengannya.
Merasa bingung dan malu, Reyhan terlihat semakin salah tingkah ia pun jadi bicara tidak karuan.
"Maaf, kalau begitu saya permisi dulu." Reyhan memutar tubuhnya mengarah mobil, namun lagi-lagi ia berbalik menghadap Aisyah. "Oh ya, terima kasih sudah mengizinkan saya untuk melihat rumah kemarin, dan kuncinya sudah saya serahkan kepada Abi Zakaria." Ucap Reyhan, tapi Aisyah hanya terlihat tersenyum.
"Kalau begitu saya permisi dulu, daa.." Ucap Reyhan mengangkat tangannya sambil membuka pintu mobil berniat masuk kedalam, namun lagi-lagi Aisyah membuatnya malu, karena gadis itu kembali mengucapkan salam untuk perpisahan mereka.
"Assalamu'alaikum." Ujar Aisyah.
__ADS_1
Reyhan pun tertegun lalu membalikan badannya dan menjawab salam Aisyah dengan tersenyum.
"Wa, Wa alaikum salam." Jawab Reyhan sambil bergetar hebat yang ia rasakan ditubuhnya karena rasa malu yang bertubi-tubi menyerangnya.
Dengan perlahan Reyhan masuk kedalam mobil, ia menurunkan kaca mobilnya, lalu menganggukkan kepalanya pelan kepada Aisyah beberapa kali, dan Aisyah pun membalas anggukan kepala Reyhan dengan tersenyum, dan setelah mobil Reyhan melaju ia pun kembali mengayuh sepedanya sambil menggelengkan kan kepalanya pelan beberapa kali.
Sementara itu di dalam mobilnya, Reyhan meluapkan rasa malu dan kesalnya pada setir mobilnya, hal itu terlihat dengan beberapa kali ia memukuli setir mobil itu sambil bergumam sendiri.
"Aaaa, Kenapa aku jadi sebodoh itu si di hadapannya.'' Diam sejenak, lalu mengoceh sendiri lagi.
''Aku tidak pernah terlihat sebodoh ini saat bertemu dengan Zahwa dulu, bahkan aku tahu sekali bagaimana cara bicara kepada Zahwa saat itu, aaaa sial, bodoh, bodoh, kenapa aku sebodoh dan seceroboh itu ya Allah.'' Diam sejenak.
"Tapi dia memang sangat manis, wajahnya begitu menggemaskan saat ingin memarahi ku kemarin." Mulai senyum-senyum sendiri mengingat pertemuannya kemarin dengan Aisyah.
"Aisyah, Aisyah." Berulang kali ia menyebut nama itu.
Sadar dengan dirinya yang sejak tadi menyebut nama itu, Reyhan pun mengusap wajahnya kesal dengan sebelah tangannya. Lalu ia mulai mempercepat sedikit laju mobilnya, karena merasa sudah jauh tertinggal dengan orang tuanya. Sebenarnya Reyhan dilarang untuk menyetir oleh kedua orang tuanya, namun saat ingin berangkat tadi dia terlihat bersi keras ingin menyetir sendiri, karena mempunyai tujuan yaitu berharap bertemu Aisyah.
Ponsel Reyhan nampak berdering, ia pun melihat siapa yang mencoba menghubungi nya, dan ternyata adalah mamanya. Reyhan mengangkat telpon itu menggunakan headset bluetooth miliknya.
"Ya ma."
"Kamu dimana sayang, kenapa mobil mu belum nampak juga?" Mama Rita bertanya dengan cemas.
"Reyhan di belakang ma." jawabnya santai.
"Mama, papa putar balik ya, kamu di setirin sopir aja.'' Ujar mamanya.
"Gak perlu ma, Reyhan baik-baik aja." Tolak Reyhan.
"Iya ma." Lalu menutup telpon.
Setelah melihat kendaraan putranya semakin mendekat, barulah kedua orang tua Reyhan merasa lega, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju Jakarta yang masih memakan waktu cukup lama itu.
***
Waktu terus berjalan, hari demi hari minggu ke minggu pun terlewati, banyak kegiatan dan aktifitas yang dilalui oleh manusia yang ada di muka bumi ini, baik itu kegiatan yang berujung baik maupun buruk dan tak sesuai harapan.
Begitulah juga yang dialami keluarga Reyhan, terutama papa dan mamanya, apapun urusan mereka saat ini semua berjalan dengan baik dan semestinya sesuai harapan, meskipun sepertinya tidak kepada Reyhan.
Selama dua bulan belakangan ini, papa Reyhan masih terus bolak balik Taiwan-Jakarta, dan juga sebaliknya, demi untuk kesehatan Rangga yang telah menjadi bagian keluarganya sejak anak itu kehilangan ke dua orang tuanya. Ia rela melakukannya meski pun pastinya sangat melelahkan, namun lelahnya terbayar sudah dengan kesehatan Rangga yang semakin hari semakin meningkat, biaya tak lagi masalah bagi papa Reyhan, bahkan ia sempat berniat menjual separo saham perusahaan nya jika itu di perlukan saat kekurangan biaya untuk Rangga, namun syukurnya, Allah benar-benar sedang bersama mereka, karena nyatanya perusahaan papa Reyhan semakin maju belakangan ini, dan itu pun juga berkat Reyhan yang sudah mulai aktif lagi di perusahaan papanya untuk membantu.
Berbeda terbalik dengan Rangga yang semakin membaik kondisinya, Reyhan malah sedang dirundung ke galauan hatinya. Sudah beberapa kali ia pergi menuju kampung halaman Nazwa bersama kedua orang tuannya untuk menghantarkan obat-obatan Nazwa yang di tebus di ibu kota, namun berulang kali juga ia merasakan patah hati.
Semangat Reyhan pergi jauh-jauh ke kampung halaman Nazwa untuk menghantarkan obat, tentu bukan hanya agar adik iparnya itu cepat pulih dan kembali bisa berbicara lagi tidak diam saja mematuk seperti saat ini, tapi juga dengan harapan dapat kembali berjumpa dengan Aisyah. Namun seperti di telan bumi, gadis itu tidak pernah lagi ia jumpai, bahkan ia pernah sengaja menuju rumah tempat mereka bertemu dan menunggu beberapa jam di sana, tapi hasilnya sama saja, ia tetap tidak bertemu dengan Aisyah lagi.
Reyhan selalu pulang dengan perasaan risau dan sedih, harapannya untuk bisa mendekati Aisyah semuanya sia-sia, karena nyatanya wanita itu menghilang entah kemana. Reyhan pun sering berjalan-jalan sendiri saat berada di kampung Nazwa, berharap dapat melihat gadis itu di salah satu rumah warga, namun usahanya itu juga selalu gagal.
Saat berada di kantor, terkadang Reyhan juga nampak begitu kacau saat mengingat Aisyah, ia kadang terlihat begitu dingin dan cuek kepada karyawan wanita yang bekerja di perusahaannya, walaupun banyak yang terlihat cantik dan menggoda namun tidak ada yang dapat membuatnya tertarik, dia sepertinya benar-benar sudah jatuh hati kepada Aisyah saat pertama kali mereka bertemu.
Sesekali pernah mamanya menanyakan tentang pernikahan kepada Reyhan, namun jawaban Reyhan pasti akan selalu sama, "Belum ada yang cocok ma." Selalu saja begitu, membuat mamanya merasa kecewa, karena sebagai seorang ibu tentu saja ia sudah ingin mempunyai menantu dan mendapatkan cucu dari anak kandungnya di usianya yang sudah tidak muda lagi ini.
***
__ADS_1
Hari ini tepat hari minggu, papa Reyhan kembali harus pergi ke luar negeri, ia mendapat telpon dari pihak rumah sakit dan harus di bicarakan secara langsung, tanpa pikir panjang papa Reyhan segera berkemas dan pergi karena khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk lagi kepada Rangga, karena ia tidak bisa meminta penjelasan kepada dokter lewat telepon.
Di hari yang sama, obat-obatan Nazwa pun harus di hantar kembali ke kampung halamannya, dan seperti biasa tentu saja mama Reyhan mengajak putranya itu untuk menemani menuju kampung Nazwa, sekalian refreshing pikir mama Rita, karena kehidupan di Jakarta sangatlah berisik dan berpolusi.
Pukul sembilan pagi mereka berangkat dari rumah dan hampir petang tiba di kampung halaman Nazwa, perjalanan mereka memang cukup lama, namun bukan karena jarak yang teramat jauh, melainkan mama Rita yang meminta sopirnya untuk berjalan sedikit lebih pelan.
Tiba di kampung halaman rumah Nazwa, Reyhan lagi-lagi kembali melakukan hal yang sama, berjalan mengelilingi kampung dan pergi ke rumah yang baru di bangun untuk Nazwa dan Rangga. Saat mendekati halaman rumah, Reyhan nampak tersenyum gembira karena ia melihat pintu rumah itu tampak terbuka.
"Aisyah." Ucap Reyhan sambil tersenyum, ia pun berlari kecil mendekati rumah itu, berharap sekali menjumpai gadis pemilik senyum manis itu di sana.
Dan sampai di depan pintu, Reyhan terlebih dahulu mengatur nafasnya, ia pun mengingat-ingat hal apa yang harus pertama kali ia ucapkan agar tidak kembali di permalukan oleh Aisyah lagi.
"Assalamu'alaikum." Sambil sedikit mengetuk pintu pelan ia memberi salam.
"Wa alaikum salam." Terdengar jawaban dari dalam, dan juga langkah kaki yang sepertinya mendekat ke arah pintu.
Reyhan semakin merasakan debaran di dadanya, tak sabar rasanya ia ingin bertemu dengan Aisyah.
Pintu pun terbuka lebar, dan nampak lah seseorang yang berada di dalam sana.
Sayangnya, kehadiran seseorang di hadapan Reyhan ternyata tak membuat hati Reyhan menjadi senang tapi malah semakin bersedih, karena ternyata bukan Aisyah yang berada di dalam sana melainkan umi Salma, adik dari Umi Nazwa.
"Den Reyhan." Sedikit terkejut melihat siapa yang ada di depan pintu. "Kapan tiba den?" Sambung Umi Salma.
"Kurang lebih satu jam yang lalu, Umi." Jawab Reyhan, Reyhan tentu saja mengenal Umi Salma, karena kerap di jumpai nya di rumah Nazwa, apa lagi saat kedatangan keluarganya, Umi Salma pasti akan selalu datang untuk membantu Umi Nazwa.
"Aden mau istirahat di sini? Umi cuma sedang bersih-bersi, sebentar lagi juga selesai. Kalau aden mau istirahat di sini, nanti umi tinggalkan kuncinya." Ujar Umi Salma.
"Saya cuma ingin melihat-lihat Umi." Jawab Reyhan.
"Baiklah, silahkan masuk den."
"Terima kasih, umi." Umi Salma pun hanya tersenyum. "Kalau Reyhan boleh tau, siapa saja yang suka membersihkan rumah ini, Umi?" Tanya Reyhan sambil berjalan masuk.
"Yang paling sering membersihkan ya Umi, tapi biasanya akan ada beberapa santri yang membersihkan jika umi sedang ada urusan. Perintah Umi Maryam, rumah ini harus selalu di bersihkan, agar selalu bersih dan juga nyaman bagi siapa yang menempati nanti." Ujar wanita itu santun.
Yang bertanya pun tidak lagi berbicara, ia hanya berfikir apakah mungkin Aisyah adalah salah satu santri, tapi mana mungkin, karena santri-santri yang ada di pondok kebanyakan gadis-gadis berusia belasan tahun saja, pikir Reyhan. Ia berjalan terus menuju belakang rumah, hingga ia pun berada di halaman belakang, di sana terdapat sebuah tempat duduk yang terbuat dari bambu tepat di bawah pohon rindang, mungkin tempat duduk itu sengaja di buat oleh pekerja yang membuat rumah itu untuk beristirahat.
Reyhan mendekat ke sana, lalu naik dan membaringkan tubuhnya, ia memakai kedua tangannya untuk dijadikan alas kepala. Suasana yang hening, cuaca yang cerah, serta hembusan angin yang lembut menyapa kulit, membuat Reyhan terbuai dan akhirnya ia pun tertidur di sana.
Reyhan merasa baru saja ia memejamkan matanya dan tertidur, tapi tiba-tiba ia merasa tubuhnya di gerakan seseorang yang berusaha untuk membangunkan nya.
"Rey bangun, Reyhan." Suara itu nampak merdu dan lembut.
Karena merasa terjaga, akhirnya Reyhan pun membuka matanya, dan sangat terkejut karena yang membangunkan nya adalah gadis yang selalu ingin ia temui di kampung ini saat menghantar obat-obatan Nazwa.
"Aisyah." Reyhan sedikit berteriak menyebut nama Aisyah yang ada di hadapannya. Namun Aisyah hanya tersenyum, dan nampak menjauh dari tempat Reyhan tertidur, ia berjalan masuk ke dalam rumah, tanpa menghiraukan Reyhan yang terus memanggil namanya.
"Jangan pergi, tunggu." Reyhan berteriak lagi untuk menghentikan langkah Aisyah, namun saat ia ingin turun dari tempat duduknya tiba-tiba Reyhan malah terjatuh dari sana.
"Astaghfirullah hal adzim." Reyhan pun terbangun, ia mengusap-usap wajahnya dengan kedua tangannya "Ternyata aku cuma mimpi." Ucap Reyhan yang ternyata juga masih berada di atas tempatnya tertidur.
"Ada apa dengan ku, aku baru satu kali bertemu dengannya tapi dia sudah menguasai diriku seperti ini." Gumam Reyhan pelan.
__ADS_1
Reyhan melihat jam yang ada di tangannya, lalu bergegas masuk kedalam rumah yang telah tampak kosong, karena Umi Salma ternyata sudah pulang, lalu selesai mengunci semua pintu Reyhan pun kembali pulang menuju pondok.