Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 52


__ADS_3

Di rumah sakit, Anita tampak sibuk meminta para perawat agar menyiapkan segala sesuatu yang mungkin akan di perlukan saat pemeriksaan nanti terhadap Zahwa. Ia terlihat mondar mandir tidak karuan karna ikut mencemaskan keadaan Zahwa dan kandungannya itu.


Tidak berapa lama mobil Anton pun tiba di depan pintu masuk rumah sakit, Anita menyambut kedatangan mereka dan meminta semua perawat yang ada di dekatnya untuk membatu Anton. Anton membuka pintu mobilnya dan mencoba mengankat tubuh Zahwa, para perawat pun segera membantu Anton dan meletakkan tubuh Zahwa pada brankar yang sudah mereka sediakan, sebetulnya Zahwa masih mampu untuk berjalan, namun Anita tidak mengizinkan adik iparnya itu untuk banyak banyak bergerak.


"Za kenapa kita semua sampai tidak ada yang tahu begini sih.?" tanya Anita saat berjalan menuju ruang UGD.


"Maafkan aku kak." ucap Zahwa, air mata penyesalan pun terlihat mengalir dari pelupuk matanya.


"Kak, bagaimana ini,? Tolong selamatkan anak ku kak.” ucap Anton, ia pun terlihat ikut meneteskan air mata dan seperti orang kebingungan.


"Tenang An, kamu harus banyak berdo'a, semoga saja tidak akan terjadi apa apa dengan Zahwa dan anak kalian." Sebenarnya Anita juga sangat khawatir, namun sebagai dokter ia harus professional dan harus menunjukkan ketenangan di wajahnya, memberi semangat terhadap pasiennya, tidak terkecuali dengan adiknya sendiri.


Setelah sampai di ruang UGD, Anita mulai sibuk memeriksa keadaan Zahwa dan juga bayinya dengan segala peralatannya, sedangkan Anton terlihat mondar mandir kabingungan. Anita memintanya untuk sedikit menjauh agar tidak mengganggu dan menghambat dirinya saat pemeriksaan dilakukan.


"An, lebih baik kamu tunggu di luar." Ucap Anita, saat melihat adiknya itu yang mondar mandir tidak karuan, melihat wajah Anton yang tegang membuat Anita jadi khawatir juga.


"Tidak kak, aku mau disini saja mendampingi istri ku." tolak Anton, ia sungguh tidak akan pernah mau diminta meninggalkan istrinya itu sendiri, apa lagi bila melihat keadaan Zahwa yang juga terlihat masih syok.


"Kalau begitu diamlah, jangan mengganggu perkerjaan kami dengan kegusaranmu." ucap Anita dengan masih melakukan berbagai macam pemeriksaan terhadap Zahwa.


Setengah jam pun berlalu, Anita nampak sudah selesai bertarung dengan peralatan dokternya memeriksa Zahwa. Ia terlihat tersenyum, manandakan kalau kondisi yang ada di dalam perut sana baik baik saja.

__ADS_1


"Alhamdulillah, bayi kalian tidak apa apa." ucap Anita, dan ucapan itu mampu membuat wajah Anton dan Zahwa berubah menjadi sangat tenang dan senang, mengusir semua kegundahan dan kekhawatiran yang dari tadi terlihat dengan belas.


"Alhamdulillah, Trima kasih kak." Ucap Anton dan Zahwa. Anton pun segera mendekat dan membelai lembut kepala istrinya itu.


"Tapi Za, kamu masih harus banyak beristirahat, jangan dulu banyak bergerak, atau bila perlu kalian tinggallah dulu di rumah mama untuk sementara waktu, disana banyak orang yang bisa ikut menjaga mu, sampai keadaan mu benar benar membaik." Anita memberi saran bukan tanpa sebab, karna ia mengetahui bahwa dirumah Zahwa tidak memiliki seorang pembantu jadi siapa yang akan menjaganya saat Anton berada di rumah Sarah nantinya.


"Tidak apa apa kak, aku bisa menjaga diriku." ucap Zahwa lagi.


"Kalau begitu besok mas akan mencari pembantu untuk membantu mu, kali ini mas tidak mau mendengar penolakan dari mu Za." ucap Anton.


"Baik mas." Zahwa menjawab dengan tersenyum, penekanan suaminya membuat ia merasa sedang sangat di perhatikan.


"Nah gitu dong, otak mu di pakai sedikit, kalau dari kemarin kemarin kamu lakukan itu, mungkin semua ini tidak akan terjadi kepada Zahwa" cerocos Anita kepada adik laki lakinya itu. Dan Zahwa jadi tersenyum mendengar ucapan kakak iparnya itu.


Papa dan mama Anton datang ke rumah sakit, begitu mendapatkan kabar dari Anita, mereka pun bergegas untuk melihat keadaan menantu mereka itu.


"Assalamualaikum." ucap keduannya saat tiba di depan pintu kamar khusus tersebut.


"Waalaikum salam." jawab Anton dan Zahwa.


"Ma, pa." sapa Anton Sambil menyalami tangan kedua orang tuannya.

__ADS_1


Mama mertanya pun mendekati Zahwa, setelah menyalami menantinnya, mama Melinda terlihat memeluk menantu satu satunnya itu.


"Kenapa tidak pernah memberi tahu mama soal kehamilan mu nak.?" tanya mama Melinda setelah melepaskan pelukannya.


"Maafkan Zahwa ma."jawab Zahwa, ia terlihat sedikit memelas, karna bisa tahu kekecewaan yang dirasanak kedua mertuannya itu, yang tidak pernah ia beri tahu tentang kehamilannya.


"Za, asal kamu tahu sayang, mama dan papa sudah lama sekali menantikan ini semua, mama sudah tidak sabar ingin menimang cucu dari kalian." ucap mama Melinda dengan tersenyum dan tangannya membelain lembut kepala menantunya yang tertutup hijabnya itu, ia bisa merasakan kekhawatiran menantunnya saat pendarahan semalam.


"Iya ma, maaf kan Zahwa, aku janji akan menjaga kandungan ku ini dengan baik.'' jawabnya dengan tersenyum, mencoba mengusir ketegangan di hatinya, karna tadinya ia takut sekali akan kemarahah kedua mertuannya.


"An, mulai sekarang kamu harus ekstra memperhatikan Zahwa, jangan sibuk sendiri dengan Sarah, dia harus bisa mengerti kalau Zahwa saat ini butuh perhatian lebih dari mu." ucap mamanya sambil melempar pandangannya menatap ke arah putrannya.


"Iya ma." jawab Anton.


"An, sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ayah, jadi tolong perbaiki semua sikap mu, kau harus bisa mengajarkan dan menunjukkan sikap sebagai seorang ayah yang baik." ucap papanya yang terlihat berdiri disamping putranya itu.


Tak lama kemudian, Anita tiba di ruangan tersebut, ia kembali memeriksa keadaan Zahwa, dan mengatakan kalau Zahwa sudah di perbolehkan pulang, namun tetap meminta Zahwa untuk tidak melakukan aktifitas apapun dan harus lebih banyak beristirahan.


Mama dan Papa Anton pun ikut menghantar kepulangan Zahwa dan Anton ke rumah mereka, kini pendarahan benar benar sudah berhenti, Anita memberikan obat yang paling bagus untuk Adik iparnya tersebut, agar pendarahan itu bisa segera berhenti dengan cepat.


Sementara untuk saat ini Anton pun terlihat selalu setia mendampingi Zahwa, ia meminta semua orang kantor untuk menghandle semua urusan kantornya, Anton pun menghubungi Sarah dan mengatakan bahwa ia belum bisa kembali kerumah istri mudanya itu, serta menjelaskan semua yang terjadi kepada Zahwa.

__ADS_1


Setelah menghubungi Sarah, Anton pun menghubungi agen resmi penyaluran asisten rumah tangga, ia meminta dua orang pekerja untuk di hantarkan kerumah Zahwa secepatnya, karna istrinya itu harus banyak banyak beristirahat jadi Anton benar benar melarang Zahwa untuk tidak melakukan aktifitas apa pun, ditoko maupun dirumah mereka.


__ADS_2