
Di kantor milik kakak iparnya, Nazwa terlihat sedang sibuk dengan pekerjaanya, meski sebenarnya hatinya masih gundah dan terus memikirkan nasib kakak sepupunya Zahwa, namun Nazwa tetap harus menyelesaikan pekerjaannya, karna itu memang sudah menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
Saat sedang sibuk dengan pekerjaannya, tiba tiba telpon kantor yang ada diatas meja kerjanya berbunyi.
"Selamat siang pak." ucap Nazwa yang sudah tau si penelpon pasti adalah manajernya.
"Tolong keruangan saya sekarang." ujar Rangga.
"Baik pak." lalu sambungan telpon pun terputus dan Nazwa terlihat segera menuju ruangan milik Rangga.
Tok tok tok..
"Masuk" ucap Rangga dari dalam.
"Assalammualaikum." ucap Nazwa saat telah membuka pintu ruangan dan ingin segera masuk.
"Waalaikum salam." jawab Rangga tanpa memandang Nazwa.
Nazwa melangkah masuk dan berdiri dihadapan Rangga, yang terlihat sedang membolak balik laporan hasil kerja para karyawan lainnya.
"Ada yang bisa saya bantu pak." tanya Nazwa.
"Silahkan duduk, ada yang ingin saya sampaikan." ujar Rangga. Dan Nazwa pun terlihat segera duduk di kursi yang ada dihadapan managernya itu.
"Dua hari yang lalu, pak Anton telah meminta saya pergi ke kota XX untuk meninjau proyek baru yang ada disana, dan ia menyarankan agar saya membawa mu guna untuk membantu saya disana, tadinya beliau sendiri yang akan berangkat, tapi beliau mengurungkannya dan meminta agar kita berdua yang pergi kesana, saya harap kamu tidak ada kepentingan lain, dan bisa saya andalkan." ucap Rangga tegas.
"Baik pak." Nazwa tidak membantah sedikit pun, karna ini juga adalah perintah dari kakak iparnya, meski sebenarnya Zahwa merasa berat hati untuk berangkat saat kondisi seperti ini, namun mau tudak mau ia harus terima, karna ini semua demi kemajuan prusahaan kakak iparnya, dan juga salah satu caranya berterima kasih atas kebaikan iparnya itu, memberinya kesemptan berkerja di perusahaan ternama itu.
"Besok tidak perlu ke kantor, supir kantor akan menjemputmu, dan kita akan menginap dua hari disana." Nazwa sedikit terkejud mendengar perkataan Rangga, yang mengatakan mereka akan menginap selama dua hari, karna ini kali pertamanya ia akan pergi dengan pria lain yang ia tidak begitu kenali, terlihat jelas dari rauh wajah Nazwa yang sedikit menegang.
"Apakah harus kita menginap pak.?" tanya Nazwa sedikit ragu.
"Kalau kau ingin kembali dengan berjalan kaki, aku akan membiarkan mu kembali sendiri tanpa harus menginap, dan asalkan kau bisa kembali lagi esok harinya dengan tepat waktu." ujar Rangga, tanpa melihat wajah Nazwa, dan hal itu membuat Nazwa semakin takut membayangkan dirinya harus berjalan kaki dari kota XX menuju rumahnya.
"Baik pak, saya tidak mau berjalan kaki." ucap Nazwa dengan cepat.
__ADS_1
"Kalau sudah tidak ada yang ingin kamu tanyakan, keluarlah dan segera selesaikan pekerjaan mu." ucap Rangga dengan acuh.
"Saya permisi pak, Assalammualaikum." ucap Nazwa yang berdiri dengan cepat dan segera keluar.
"Waalaikum salam." gumamnya pelan.
Saat Nazwa sedang berjalan menuju pintu ruanganya, Rangga mengangkat wajahnya dan menatap punggung Nazwa, Rangga tersenyum sendiri membayangkan wajah Nazwa saat ia terkejut karna harus menginap bersamanya di kota lain. Meski tidak melihat wajah Nazwa langsung namun Rangga sudah dapat membayangkannya wajah Nazwa dari nada bicaranya yang gemetaran.
***
Dirumah orang tuanya, Sarah terlihat menangis membayangkan nasib mamanya yang ada di dalam penjara, selain itu ia pun memikirkan Anton dan keluarganya yang mungkin saja makin membencinya karna kejadian itu, hubungan baiknya bersama Zahwa yang selama ini masih ia jalin pun, pasti akan berubah setelah kejadian ini.
"Sarah, ayo makan dulu sayang sejak tadi kamu belum makan." ujar papanya yang menghampirinya di dalam kamar.
"Aku belum lapar pa, papa sendiri sudah makan.?" tanya Sarah yang segera menghapus air matanya dan melempar senyum manisnya kepada papanya itu.
"Papa sudah makan nak." ujar papanya.
"Jangan berbohong pa, Sarah tahu papa sedang tidak bicara jujur." ucap Sarah dan papanya hanya terlihat sedikit menunduk.
"Iya nak." jawabnya lalu mengikuti langkah kaki putrinya menuju meja makan.
Dan setelah makan siang Sarah pun segera menghubungi pengacara yang sudah ia kenal, karna sering membantu apa saja urusan mereka yang menyangkut masalah hukum, dan memintanya untuk bertemu guna membahas permasalahan yang sedang dihadapi mamanya.
Pengacara itu pun bersedia membantu Sarah untuk mendampingin mamanya di persidangan nanti, meski ia tidak berjanji bisa membuat mama Sarah terbebas dari hukuman, karna dari cerita yang Sarah berikan memang mamanya lah yang salah, mungkin ia hanya bisa membantu meringankan hukuman yang akan diterima oleh mamanya.
***
Anton tak henti hentinya mengaji disamping istrinya, ia hanya terlihat berhenti sejenak karna melaksanakan sholat Ashar yang ia lakukan di dalam ruangan Zahwa, karna tidak ingin meninggalkan istrinya sendiri, lalu ia pun kembali melanjutkan bacaan ayat sucinya.
Ia kembali berhenti, saat terdengar Adzan magrib berkumandang, lagi lagi Anton hanya melaksanakan sholat didalam ruangan Zahwa, karna masih dengan alasan yang sama tidak ingin meninggalkan istrinya sendiri. Saat telah selesai melaksanakan sholat magrib, Anton kembali duduk di samping istrinya, ia menggenggam tangan Zahwa dan menciuminya denga lembut.
"Aku sangat berharap kamu bisa segera membuka matamu sayang, agar anak kita bisa diselamatkan tanpa harus melakukan operasi terhadap mu." Anton mengusap wajah istrinya.
Tiba tiba Anton pun merasakan ada gerakan dari tangan Zahwa yang masih ada didalam genggamanya, ia segera menoleh melihat gerakan tangan Zahwa untuk memastikan bahwa itu benar garakan dari tangan istrinya. Anton sangat merasa terkejut sekaligus senang, ia pun kembali mendekatkan wajahnya kepada wajah Zahwa dan memanggil lembut nama istrinya berusaha membuat Zahwa sadar dan membuka matanya.
__ADS_1
"Sayang, Zahwa, kamu bisa dengarkan mas kan sayang." ucapnya bersemangat.
Dan Zahwa terlihat menggerakkan kepalannya pelan, perlahan lahan Zahwa kembali menggerakkan tangannya, nampaknya ia belum mampu untuk membuka matanya. Tangis haru terlihat jelas dari wajah Anton, rasa senang menghampiri dirinya, hingga ia terlupa untuk memanggil dokter untuk memeriksa keadaan istrinya.
Buliran air mata Anton pun jatuh tepat diatas pipi Zahwa, membuat istrinya bisa merasakan adanya sentuhan aliran air dipipinya, Zahwa mencoba membuka matanya perlahan lahan meski ia merasakan berat dikelopak matanya. Akhirnya Zahwa berhasil membuka matanya hingga benar benar dapat melihat Anton dihadapannya, yang terlihat tengah tersenyum dalam tangisannya.
Anton kembali memegang kedua belah pipi istrinya, dan menghujani ciuman kepada Zahwa.
"Kamu sudah sadar sayang." ucap Anton dan Zahwa hanya terlihat tersenyum kecil.
Tangan Zahwa berusaha memegang kepalanya, karna merasakan pusing dan juga sedikit sakit, melihat wajah istrinya yang meringis menahan sakit, Anton pun membunyikan tombol Nurse call guna memanggil dokter.
Tak perlu menunggu lama, dokter Anwar yang memang diminta bertugas hingga malam guna memantau keadaan Zahwa pun, tiba bersama seorang perawat.
"Pak Anton." sapanya yang baru saja masuk kedalam ruangan Zahwa, ia terlihat terburu buru karna khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan kepada Zahwa.
"Dokter, Zahwa siuman." ucapnya tanpa meninggalkan istrinya.
"Alhamdulillah, biar saya periksa dulu pak." ucapnya lalu segera memeriksa keadaan Zahwa, dokter Anwar merasa sedikit lega, karna bukan hal menggawatirkan yang terjadi.
Anton tidak henti hentinya mengucap syukur, bahkan ia sedikitpun tidak ingin bergeser dari tempatnya berdiri, karna ia ingin selalu mendapingi istrinya dan juga tidak mau kehilangan momen kebahagiaannya itu.
Dokter Anwar pun selesai memeriksa Zahwa, dan ia sangat merasa terkejud dengan kondisi Zahwa yang terlihat sangan membaik secara drastis, bahkan Zahwa sama sekali tidak tampak menunjukan adanya hal hal aneh seperti perkiraannya sebelumnya.
"Alhamdulillah ini sungguh sungguh keajaiban yang luar biasa pak, ibu Zahwa bisa sadar secepat ini bahkan tidak terjadi apapun terhadapnya, seperti lupa ingatan atau apapun itu, ini sungguh keajaiban luar biasa atas izin Allah pak." ucap dokter Anwar.
"Alhamdulillah syukurlah, terima kasih ya allah terima kasih." Anton kembali mendekat dan menciumi wahah istrinya.
"Kalau begitu saya permisi dulu pak, suster akan mempersiapkan kamar perawatan untuk ibu Zahwa, besok sepertinya ia sudah bisa pindah ke kamar perawatan." ujar dokter itu lagi.
"Baiklah, lakukan saja yang menurut kalian baik untuk istri ku." jawab Anton.
"Kalau begitu saya permisi pak." ucap dokter Anwar.
"Trima kasih dok." ucap Anton tersenyum.
__ADS_1
"Sama sama pak." dokter Anwar keluar meninggalkan ruangan Zahwa.