Zahwa Istriku

Zahwa Istriku
Bab 132


__ADS_3

Jam menunjukan waktunya untuk pulang, seperti biasa Nazwa dan Rina keluar secara bersamaan, Rina pulang dengan membawa motor meticnya sedangkan Nazwa terlihat menunggu taksi di pinggir jalan.


"Nazwa aku duluan ya." ujar Rina.


"Heem, hati hati Rin." ujar Nazwa.


"Iya, kamu berdoa saja Na, semoga pak Rangga berbaik hati bersedia menghantarkan mu pulang." Rina mencoba menggoda Nazwa lagi.


"Rin.." Nazwa mulai kesal, dan Rina tertawa senang.


"Dah..Nazwa." Rina melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan Nazwa.


Tak lama kemudian terlihat mobil Rangga keluar dan melintas di hadapan Nazwa, namun tidak ada tanda tanda mobil itu akan berhenti menghampiri Nazwa, yang terlihat malah mobil Rangga melaju dengan kencang.


Nazwa membuang wajahnya, seolah tidak memperhatikan laju mobil Rangga, dan hanya dalam waktu hitungan detik sebuah taksi telah berhenti dihadapannya, Nazwa pun segera naik dan meminta sopir untuk menghantarkannya menuju rumah kediaman Zahwa.


***


Setibanya dirumah, Rangga terdengar memberi salam, dan segera masuk dengan raut wajah yang tampak lesu.


"Rangga, kamu kenapa.?" Reyhan yang terlihat duduk di ruangan keluarga bertanya kepada adiknya itu, saat memperhatikan raut wajah tidak bersemangat dari adik sepupunya itu.


"Aku tidak apa apa mas." jawab Rangga dengan nada bicara yang tidak bersemangat, ia bahkan terlihat menghemburkan nafasnya dengan kasar.


"Kalau tidak ada apa apa kenapa wajah mu seperti sedang kesal begitu.?" tanya Reyhan lagi.


"Aku baik baik saja mas, aku mau ke kamar dulu." jawab Rangga.


"Rangga, tunggu." Reyhan memanggil kembali Rangga, dan ia berjalan mengampiri adiknya itu yang terlihat menghentikan langkahnya saat Reyhan memanggilnya lagi.


"Ada apa mas.?" tanya Rangga, saat Reyhan telah berada di hadapannya.


"Kamu cemburu mas Reyhan dekat dengan Nazwa.?" pertanyaan Reyhan membuat Rangga benar benar terkejut, ia tidak menyangka Reyhan akan menanyakan hal seperti itu.


"Kenapa mas Reyhan bisa bertanya seperti itu.?" Rangga kembali bertanya dan ia seperti tidak ingin menjawab pertanyaan kakaknya tadi.


"Kamu tidak perlu berbohong, mas bisa lihat semua itu dari sikap dan raut wajah mu. Mas juga memperhatikan mu saat di kantor dan di restoran. Rangga, kamu jangan khawatir ya, mas janji tidak akan mengulanginya lagi mengajak Nazwa pergi bersama seperti itu." ujar Reyhan, sebagai laki laki dewasa Reyhan tahu benar atas sikap yang di tunjukan oleh adiknya itu, dan hal itu membuat Reyhan merasa bersalah.


"Mas aku tidak cemburu, lagi pula Nazwa bukan siapa siapa aku, jadi dia bebas untuk pergi dengan siapa pun, termasuk dengan mu mas." jawab Rangga, kini perasaan bersalah mulai menghampiri Rangga, karena tak seharusnya ia bersikap seperti itu kepada kakaknya, mengingat Nazwa memang bukan siapa siapanya.

__ADS_1


"Tapi kamu suka kan dengan Nazwa,? Mas tahu itu Rangga, jadi kamu tidak perlu khawatir ya, mas tidak akan mengulanginya." jawab Reyhan.


"Tapi mass.."


"Sudah sudah, sana bersihkan dirimu kamu bau sekali." ujar Reyhan lalu ia pergi meninggalkan Rangga, ia tidak ingin perdebatan mereka menjadi lebih panjang.


"Mass.." Rangga mencoba untuk memanggil kakaknya lagi, namun Reyhan tetap pergi meninggalkannya.


Rangga pun kembali berjalan menuju kamarnya, perasaan bersalah kini menghampiri dan mengahantuinya, ia sadar tidak seharusnya ia bersikan seperti itu kepada kakak yang sangat menyayanginya itu.


"Kenapa aku jadi begini, tidak seharusnya aku bersikap seperti tadi, aku pasti sudah membuat mas Reyhan terluka, aku harus meminta maaf kepada mas Reyhan." gumam Rangga.


Ia terlihat membanting tubuhnya keatas tempat tidur, dan mencoba untuk memejamkan matanya, lalu saat Rangga memejamkan matanya bayangan Nazwa pun hadir di dalam fikiranya.


"Ahhh..kenapa, kenapa aku terus memikirkan Nazwa." Rangga mengacak acak rambutnya sendiri karena merasa sangat kesal, ia pun bangkit lalu segera menuju kamar mandi untuk membersikan dirinya.


Tak terasa Adzan magrib pun berkumandang, Rangga, Reyhan, dan juga papanya terlihat pergi untuk sholat ke masjid yang hanya berjarak beberapa meter dari rumah mereka, dan setelah kembali kerumah, Reyhan juga Rangga segera menuju kamar mereka masing masing.


Di dalam kamarnya, Rangga terlihat begitu gelisah, hatinya terasa tidak tenang dan rasa bersalah kepada Reyhan selalu menghantuinya.


Selama ini Reyhan lah yang ia jadikan sebagai tempatnya untuk berlindung, dan Reyhan lah yang selalu membantunya menyelesaikan masalah, Reyhan benar benar menjadi kakak yang sempurna bagi Rangga, meski ia hanya adik sepupu Reyhan, tapi sikapnya hari ini kepada Reyhan membuat Rangga benar benar merasa bersalah kepada kakaknya itu.


Rangga kembali keluar dari kamarnya dan mencoba memberanikan diri untuk menghampiri Reyhan yang berada di dalam kamarnya.


Tok tok tok..


"Mas, ini aku." ucap Rangga.


"Masuklah pintu tidak dikunci." jawab Reyhan dari dalam kamarnya.


Rangga pun membuka pintu kamar Reyhan, dan masuk kedalam lalu menutup kembali pintu kamar Reyhan, ia menghampiri kakaknya itu yang sedang duduk di sofa dan terlihat sibuk dengan labtobnya.


"Ada Rangga.?" tanya Reyhan, yang tidak memalingkan wajahnya dari layar labtobnya.


"Mas.!" Rangga kembali memanggil kakaknya itu, lalu duduk di sebelah Reyhan, ia terlihat bingung harus mulai bicara dari mana.


"Hemm, ada apa.?" Reyhan menghentikan aktifitasnya dan mencoba melihat keberadaan Rangga.


"Aku ingin meminta maaf.'' ujar Rangga yang terlihat malu, sedangkan Reyhan tersenyum melihat tingkah adiknya itu.

__ADS_1


"Ada apa sebenarnya dengan mu.?" Reyhan mencoba untuk mencari tahu isi hati adiknya.


"Aku tidak seharusnya bersikap seperti itu, aku tidak seharusnya kesal terhadap mas." jawab Rangga, ia benar benar merasa malu dengan Reyhan, raut wajahnya pun terlihat begitu pias.


"Rangga, kamu tidak perlu minta maaf, mas bisa mengerti atas sikap mu itu. Kamu mencintai Nazwa kan.?" tanya Reyhan.


"Entahlah mas, aku bingung dengan perasaan ku." jawan Rangga.


"Bingung, kenapa harus bingung.? Nazwa gadis yang baik dan shaleha, lalu apa lagi yang membuat mu bingung.?" tanya Reyhan.


"Aku tidak ingin membuatnya menyesal di kemudian hari, aku tidak sanggup jika nanti aku menorehkan kesedihan yang mendalam untuknya." jawab Rangga.


"Rangga kenapa kamu berfikir sejauh itu, kamu harus yakin hal itu tidak akan pernah terjadi, ingat Rangga kita tidak boleh mendahului takdir Allah." ujar Reyhan.


"Aku tahu mas, tapi cepat atau lambat semuanya pasti akan terjadi." kesedihan tampak jelas diwajah Rangga.


"Kalian sedang membicarakan apa.?" tanya mama Rieta, karena sedang berbicara serius, Reyhan dan Rangga sampai tidak sadar bahwa mama Rieta memanggil mereka untuk makan malam.


"Mama.!"


"Mama memanggil kalian untuk makan malam, tapi satu pun dari kalian tidak ada yang menjawab, jadi mama masuk saja." jelas mama Rieta.


"Maaf tante, kamu tidak mendengarnya." jawab Rangga.


"Memangnya kalian sedang membicarakan apa.?" tanya mama Rieta penasaran.


"Rangga meminta kita untuk melamar Nazwa untuknya ma." jawab Reyhan.


"Yang benar kamu sayang." tante Rieta terlihat terkejud sekaligus bahagia.


"Masss.. Itu tidak benar tante." jawab Rangga.


"Rangga, kalau kamu memang sudah yakin, tante dan om pasti akan melamarnya untuk mu, lagi pula Nazwa perempun yang sempurna." ujar tante Rieta lagi.


"Sudahlah tante aku belum berfikir sejauh itu." jawab Rangga lalu pergi keluar meninggalkan Reyhan dan juga tantenya dengan raut wajah malu.


"Dia malu tuh ma." ujar Reyhan, membuat mamanya tertawa.


"Ayo kita makan dulu, papa mu sudah menunggu sejak tadi." ujar tante Rieta.

__ADS_1


Lalu mereka pun keluar menuju mejah makan, dan terlihat Rangga telah berada disana bersama papa Reyhan.


__ADS_2