
Mereka semua tiba di tempat pesta pernikahan diadakan, Anton dan Zahwa turun dan melangkah menuju tempat pesta terlebih dahulu, lalu di belakang mereka menyusul langkah Sarah dan Rudi yang juga terlihat jalan beriringan bersama.
Mereka pun memasuki gedung yang terlihat besar, dan telah disulap menjadi tempat yang sangan indah, dengan hiasan bunga bunga di mana mana. Anton pun berusaha mencari tempat agar bisa duduk, karna ia tidak ingin membiarkan Zahwa yang tengah hamil berdiri dalam waktu yang cukup lama.
Setelah acara pembukaan selesai dengan kata kata sambutan dari pihak keluarga, Anton pun mengajak Zahwa menemui pasangan pengantin yang ada diatas pelaminan untuk memberikan ucapan selamat.
Sesaat Anton terlihat berbicara dengan rekan bisnisnya itu, hingga akhirnya terlihat Sarah dan Rudi yang juga mendekati mereka untuk memberikan ucapan selamat. Anton segera menyudahi obrolannya dan mengajak Zahwa untuk pergi dari pelaminan setelah memberikan ucapan selamat kepada sepasang pengantin itu, disaat itu Zahwa dapat melihat raut wajah yang tampak berbeda dari suaminya.
"Sayang, apa kamu mau minum.? Mas akan ambilkan jika kamu menginginkan sesuatu." ujar Anton kepada Zahwa setelah mereka kembali pada tempat duduk mereka.
"Iya mas, aku merasa sedikit haus." jawabnya.
"Baiklah kamu tunggu disini biar mas ambilkan minuman untukmu." lalu Anton pun pergi meninggalkan Zahwa.
Tak lama berselang Anton pun kembali dengan membawakan Zahwa minuman dan sedikit makanan ditangan, yang dia ambil dari prasmanan. Anton memberikan minumat itu kepada istrinya dan menyuruh Zahwa memakam makanan yang telah ia ambil untul sekedar mengganjal perut istrinya, Anton tahu kalau kini samakin perut istrinya membesar maka Zahwa semakin merasa mudah sekali lapar.
"Boleh kami duduk disini.?" tiba tiba terdengar suara pertanyaan itu dari arah samping Zahwa. Anton dan Zahwa pun segera menolehkan kepala mereka secara bersamaan.
"Sarah.! Silahkan ayo duduk." ucap Zahwa, lalu Sarah pun duduk disamping Zahwa dan Rudi memutar arah untuk duduk disamping Anton.
Sarah dan Zahwa saling melempar senyuman manis, namun berbeda dengan Anton yang terlihat raut wajahnya kembali murung saat Sarah berada dihadapannya, Zahwa pun menyadari perubahan sikap suaminya hingga ia buru buru mengajak Sarah berbicara agar Sarah tidak menyadari sikap yang ditunjikan suaminya itu, karna tak ingin membuat Sarah merasa tidak nyaman.
Anton sendiri terlihat lebih banyak diam dan hanya sekali kali menjawab pembicaraan yang dimulai oleh Rudi, dan memilih untuk tidak memperdulikan Sarah. Namun Anton kadang menatap wajah istrinya, memastikan bahwa istrinya itu masih merasa nyaman berada di samping Sarah.
Setelah berbincang bincang sekitat satu jam bersama Rudi, Anton pun mengajak Zahwa untuk kembali ke hotel mereka, ia beralasan bahwa istrinya tidak boleh terlalu lelah dan harus banyak banyak beristirahat. Sarah dan Rudi pun mengerti dengan apa yang di ucapkan oleh Anton karna melihat kondisi perut Zahwa yang makin kian terlihat membesar, mereka pun membiarkan Zahwa dan Anton kembali ke hotel terlebih dahulu, dan tidak melakukan basi basi untuk menahan sepasang suami istri itu.
Di dalam mobil wajah Anton masih terlihat tidak bersemangat, bukan karna ia melihat kedekatan Sarah dan Rudi, tapi karna ia merasa bahwa kehadiran Sarah di dekat istrinya akan membuat Zahwa merasa tidak nyaman, meski sebenarnya Zahwa merasa baik baik saja dan tidak mempermasalahkan hal itu, tapi Anton tetap saja berpendapat hal lain.
"Mas kenapa.?" tanya Zahwa yang bisa menangkap raut wajah tidak bersemangat dari suaminya.
__ADS_1
"Tidak apa apa sayang, oh ya apa kamu lapar.?" tanya Anton.
"Iya mas, sepertinya beberapa potongan kue tadi tidak bisa menghentikan nafsu makan ku." ucap Zahwa dengan tawa kecilnya.
"Baiklah kalau begitu kita cari tempat makan yang enak ya." jawab Anton tersenyum lebar, dan raut wajahnya pun mulai kembali berseri.
Tak lama melaju dengan kendaraannya, akhirnya Anton dan Zahwa pun tiba di sebuah restoran, mereka segera masuk dan memesan makanan, lalu mereka mengisi perut yang sebenarnya memang sudah terasa lapar. Selesai dengan urusan makan, mereka pun kembali melaju menuju hotel.
Mereka tiba di hotel dan langsung menuju kamar mereka. Sambil membersikan sisa make up nya, Zahwa menatap suaminya yang telah selesai membersihkan diri dan berbaring diatas kasur, sebenarnya ia juga masih menyimpan tanda tanya besar di kepalanya, karna masih belum mendapatkan jawaban yang jelas kenapa sikap suaminya berubah tiap kali melihat Sarah dan Rudi, tapi Zahwa memilih diam dan tidak mau terlalu memaksakan kehendaknya untuk bertanya, karna ia tidak mau membuat Anton marah.
Malam semakin larut, Anton membuka matanya dan membalik tubuhnya menghadap samping tempat istrinya berbaring, namun ia terkejut karna tidak melihat Zahwa ada disampingnya, Anton pun berusaha bangun dan duduk di tepi tempat tidur, tangan mengambil dan melihat jam tangannya yang ia letakkan diatas nakas.
"Jam 12, di Zahwa.?" gumamnya pelan.
Anton pun berdiri dan mulai mencari istrinya, ia membuka kamar mandi berusaha mencari istrinya disana, tapi Anton sama sekali tidak menemukan Zahwa, ia pun menutup kembali pintu kamar dan berusaha mencari istrinya ke tempat lain.
Ia berusaha untuk mendekati Zahwa dengan langkah kaki yang pelan, tapi istrinya pun segera membalikan tubuhnya karna merasa ada kehadiran seseorang di belakangnya.
"Mas." panggilnya dengan tersenyum.
"Kenapa kamu disini sayang, apa yang sedang kamu lakukan, ini sudah malam kenapa belum tidur.?" pertanyaan Anton pun bertubi tubi ia utarakan kepada Zahwa.
"Aku tidak bisa tidur mas, ada sesuatu yang mengganggu fikiran ku." jawab Zahwa.
"Apa sayang, apa yang mengganggu fikiran mu.?" Anton merasa bingung.
"Sarah.! apa kamu masih mencintainya, apakah kamu belum juga bisa melupakannya mas.?" tanya Zahwa.
"Kenapa kamu tiba tiba berbicara seperti itu sayang, mas sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya, karna mas sangat menyayangi mu." ucap Anton.
__ADS_1
"Tapi yang aku lihat tidak begitu mas, dari sikap mu aku meresa kalau kamu masih mencintainya. Aku akan relakan kamu untuknya mas, aku akan pergi dari hidup mu." Zahwa terlihat mendekat kearah pagar penghalang balkon, dan Anton tampak terlihat sangat panik karna merasa Zahwa akan melakukan suatu tindakan.
"Sayang, itu tidak benar, kemari sayang kamu bisa jatuh kalau berdiri disitu." ucap Anton, sebenarnya ia mesara panik, tapi tetap berusaha tenang dan mendekati istrinya yang telah berdiri tepat di pagar pembatas balkon.
Hal yang tak diharapkan pun terjadi, Zahwa berusaha menjatuhkan tubuhnya kebawah, den terlihat melempar senyuman dan melambaikan tangan sebelum melakukan aksinya itu.
Anton berlari menuju pagar pembatas, berharap bisa menyelamatkan istrinya, namun ternyata ia tak mampu menghalau tubuh Zahwa yang dengan cepat terjatuh kebawah.
"Zaaaahhhhhwwwaaaaa." terdengar teriakan yang sangat kuat dari Anton, ia menangis sekuat kuatnya, dan mulai merasa menyesal dengan semua tindakan dan perlakuannya selama ini dengan istrinya itu.
Anton masih terus menangis sambil memanggil manggil nama istrinya, tiba tiba dari arah belakannya, Anton merasa ada tangan seseorang yang menyentuh bahunya dan berusaha memanggil namanya.
"Mas, Mas kenapa, bangun mas." ucap Zahwa terlihat berusaha membangunkan suaminya yang tengah tidur namun terdengar memanggil namanya dengan gelisah.
"Astaghfirullah hal'azim." Anton pun membuka matanya lalu berusaha untuk duduk dari tidurnya.
"Mas kenapa.?" tanya Zahwa masih bingung.
"Mas mimpi buruk tentang kamu sayang." jawab Anton sambil menarik istrinya lalu memeluk Zahwa.
"Istighfar mas, itu cuma bunga tidur, mungkin kamu sedang kelelahan." ucap Zahwa berusaha menenangkan suaminya.
"Astaghfirullah hal'azim." Ucap Anton terdengar berkali kali.
"Kalau begitu bagaimana kalau kita sholat Tahajud saja dulu mas." ucap Zahwa sambil tersenyum.
"Iya sayang." jawab Anton.
Mereka pun segera berwuduk dan melaksanakan sholat tahajud bersama. Setelah selesai melakukan sholat malam dua rokaat itu, Zahwa pun mengajak suaminya untuk kembali tidur.
__ADS_1